
Sudah hampir dua minggu terkurung di dalam kamar Alina merasa sangat bosan. Sejak kejadian di taman kota Biru benar benar melarang Alina keluar kamar. Bilangnya agar kedua orang tua dan mertuanya yang masih di sana tidak tahu keberadaan Alina di rumah ini.
Agar jika tak sengaja bertemu dengan orangtua maupun mertuanya Alina tak lagi di sangka pelayan seperti tempo lalu.
Hari ini Alina merasa sangat bahagia. Karna setelah sekian lama ia bisa menghirup udara bebas di luar seperti saat ini. Setelah susah payah membujuk Biru pagi tadi,kini Alina bisa menikmati kebebasannya yang sementara ini. Untuk mendapat izin dari Biru seperti ini tidak mudah bagi Alina. Berjalan menyusuri pantai yang tak jauh dari kota membuat Alina merasa kembali segar setelah berbulan bulan lamanya menjadi tawanan cinta Biru.
Hembusan angin yang menerpa wajahnya sangat menyejukkan. Kapan lagi ia bisa berjalan bebas seperti ini. Tanpa Biru tanpa di awasi pengawal pula. Lelah berjalan Alina duduk bersila di tepi pantai menghadap ke lautan luas.
Memejamkan matanya menikmati suasana pantai yang selalu ia rindukan. Sebuah kecupan di pipinya membuatnya membuka matanya melihat siapa gerangan yang tiba tiba dengan berani mencium pipinya itu. Seketika Alina terkejut ketika menoleh dan melihat siapa yang kini tengah berada di sampingnya.
" Bagus!!" Sontak Alina membelalakan matanya terkejut dengan kehadiran lelaki di sebelahnya itu. Yang kini duduk berdampingan dengannya.
" Iya,,ini aku." Bagus mengusap lembut pipi Alina dan tersenyum manis. Ia bahagia bisa kembali bertemu Alina.
" Apa kabar Lilin ku, aku sangat merindukan mu." Masih dengan santainya bertanya pada Alina dengan senyum yang mengembang di bibirnya. Dan terus memandangi Alina.
" Ba gus,,,,,tolong menjauh dari ku." Pinta Alina dengan terbata menahan isak,matanya mulai berkaca kaca melihat pria di di sampingnya itu. Saat ini perasaannya sungguh tak menentu. Melihat pria yang pernah menjadi bagian dari hidupnya.
" Tidak bisa Lin,, aku sangat merindukan kamu,, jadi aku tidak akan menjauh bahkan pergi." Bagus menjawab dengan tegas dan bahkan kini semakin mendekati Alina. bersiap untuk mendekap gadis itu.
" Bagus,,aku sudah menikah,aku istri orang, kamu nggak boleh begini." jelas Alina dengan air mata yang sudah mengambang. Saat ini Bagus sudah mendekapnya dengan erat. Membuat Alina bergejolak. Menahan rasa di hatinya.
" Biar saja,toh suami mu nggak ada kan." Bagus tetap menolak. Semakin erat mendekap Alina.
" Ada,,suami ku ada." Alina berbohong dengan mendorong Bagus agar melepaskan dekapannya.
" Aku sudah mengawasimu sedari kamu sampai di pantai ini tadi Lilin. Jadi kamu nggak usah bohong." Bagus melepaskan dekapannya dan kini mencubit gemas hidung Alina.
" Kamu masih sama,kebiasaan mu,setelah lelah berjalan di tepi pantai,kamu pasti duduk seperti ini." Bagus duduk di samping Alina dan mengingatkan masalalu mereka.
" Kamu mau minum? aku akan membelinya dulu. Kamu pasti haus. Sama seperti dulu saat kita duduk seperti ini selalu ada satu kelapa muda yang menemani kita." Bagus masih melanjutkan kisah romansa mereka dulu.
" Gus,," panggil Alina pelan.
" Heem???" Bagus menjawab dengan tersenyum pada Alina.
" itu dulu dan jangan di bahas lagi." Alina berkata dengan lembut agar Bagus tidak tersinggung.
" Semua masih sama Lin, nggak ada yang berubah." Bagus memandang sendu wajah Alina.
__ADS_1
" Rasa ini masih ada,belum berubah sama sekali." Bagus menarik tangan Alina dan meletakan di dadanya. Membuat Alina terpaksa mengikuti arah pandangan mata Bagus.
" Kamu masih menjadi ratu di dalam sana." Bagus tersenyum manis pada Alina.
" Semua udah nggak sama Gus." Alina Menarik paksa tangannya dari dada bidang bagus.
" Semua berbeda,aku istri orang,dan,,dan kamu lupakan lah aku." lanjut Alina dengan air mata mulai menetes. Hatinya pedih mengucapkan itu pada Bagus.
" Jangan menangis Lin." Bagus mengusap air mata Alina lembut. Membuat Alina mengalihkan pandangannya ke laut.
" Carilah wanita lain,aku yakin di luar sana masih banyak wanita yang jauh lebih baik dari ku dalam segala hal." ucap Alina masih dengan mata berkaca kaca.
" Kamu yang terbaik Lin, aku nggak akan pernah bisa untuk mencari pengganti mu. Kamu tak kan terganti. Percayalah." Ucap Bagus yang memang masih mencintai Alina.
" Tapi aku istri orang Bagus!" dengan nada di naikan dan melihat ke arah Bagus. berharap Bagus mengerti.
" Aku tahu,,aku tahu kamu hanya di jadikan istri kedua, dan aku tahu kamu nggak bahagia Alina." ucapan Bagus ini sangat menyesakan bagi Alina. Karena memang kenyataannya begitu.
" Tahu dari mana kamu,,aku istri kedua." tanya Alina datar. Ia tak menyangka Bagus mengetahui hal itu.
" Aku datang ke kampung halaman kamu,mencari rumah mu dan kemudian bertemu dengan adik mu.Aku memintanya untuk menceritakan semua,, semuanya Alina." penjelasan Bagus yang membuat Alina terkejut.
" Sudah dua bulan aku mengambil cuti,aku di kampung halaman kamu dua minggu mencari alamat kamu.Dan udah berminggu minggu aku mendatangi pantai ini. Lihat hasilnya, nggak sia sia kan. Aku bisa menemui kamu sekarang." Bagus berkata dengan nada tinggi mengekspresikan kecewanya namun ia juga bahagia karna bisa bertemu Alina.
" Aku akan pergi saat aku benar benar yakin bahwa kamu memang bahagia bersama suami kamu." Bagus masih di posisi duduknya melihat Alina yang berdiri di sampingnya.
" Aku,,aku bahagia Bagus,,aku bahagia." dengan air mata yang tiba tiba meluncur Alina mengucapkan itu. Ia sendiri tidak yakin apa benar dia bahagia saat ini dengan keadaanya yang seperti sekarang.
" Bohong." Bagus berdiri mendekat ke Alina dan kini memegang kedua telapak tangan gadis itu.
" Kamu bohong, jelas sekali itu. Kamu emang belum berubah Lin,kamu nggak pernah bisa bohong sama aku." Bagus menatap lekat manik mata milik Alina yang kini mulai berair.
" Tahu apa kamu Bagus,, aku bahagia itu sudah aku katakan, sekarang di antara kita tidak ada lagi ikatan. Jadi jangan ikut campur urusan ku." Alina dengan sendu menatap Bagus dengan tersenyum tipis sekali.
" Aku sudah menikah,aku bahagia itu sudah cukup,lupakan aku tinggalkan aku. Maaf kan aku sudah membuat hatimu kecewa. Aku mohon lupakan semua tentang kita." Pinta Alina masih dengan sekuat tenaga menguatkan diri juga hatinya.
" Bohong! kamu bohong Lilin. Matamu mengatakan sebaliknya. Ya kamu memang benar kita udah nggak ada ikatan. Dan aku,,aku memang sangat kecewa kamu memutus hubungan begitu saja. Tapi aku bisa apa karna hati ku tetap saja memilih mu." ungkap Bagus dengan nada mulai merendah ia kembali merengkuh tubuh Alina dalam dekapannya. Mendekapnya erat sejenak memejamkan matanya. Seperti yang selalu ia lakukan dulu saat masih menjadi kekasih Alina.
Alina diam membiarkan Bagus memeluknya. Karna sesungguhnya ia juga merindukan itu. Pelukan Bagus yang selalu menenangkannya. Dulu saat pikirannya kacau dengan berbagai masalah di keluarganya Bagus selalu bisa memberi ketenangan baginya. Hari ini setelah sekian lamanya tidak berjumpa dan sejak Alina memutuskan hubungan dengannya. Bagus bisa kembali merasakan ketenangan jiwanya saat memeluk Alina.
__ADS_1
Sesaat kemudian wajah marah Biru muncul dalam bayangan Alina dan seketika itu pula Alina memberontak pelukan Bagus.
" Sebentar saja Lin,biarkan seperti ini. Sebentar saja. Aku mohon." Bagus memaksa Alina diam dan mengeratkan pelukannya. Alina kembali diam dan membiarkan itu untuk sebentar. Dan benar saja Bagus melepas pelukannya sesaat kemudian.
Setelahnya Alina memutuskan untuk pergi dari sana. Meninggalkan Bagus dengan luka di hatinya.
πππππ
Biru dengan mengendap menaiki tangga membawa buket bunga lily kesukaan Alina. Pelan ia mengetuk pintu kamar istrinya sambil matanya mengawasi sekitar. Takut ada yang melihatnya. Setelah lama tidak ada jawaban dari dalam,Biru memutuskan untuk masuk dan duduk di sofa.
" Sayang,,kamu sejak kapan di sana." Alina baru saja keluar dari kamar mandi dengan handuk di kepalanya membungkus rambut basahnya. Kini berjalan menghampiri suaminya itu.
"Belum lama,,aku mengetuk pintu tapi tak ada jawaban." Biru menjawab dengan senyum manisnya.
" maaf aku sedang mandi tadi." Alina mencium tangan Biru yang tadi di ulurkan dan kini duduk di samping Biru.
" jam segini baru mandi,,pulang jam berapa tadi? kamu nggak macam macam kan." cerca Biru dengan curiga setelah mencium kening Alina.
" Tadi jalanan macet jadi sedikit terlambat sampai di rumah." Alina Menjawab dengan hati hati agar tidak membuat Biru marah jika tahu bahwa tadi ia bertemu mantan kekasihnya.
" Lagi pula memilih naik kendaraan umum kamu ini." mencubit gemas hidung Alina dan kemudian merengkuh tubuh istrinya itu.
" Sayang,ini untuk mu." Biru memberikan buket bunga lyli pada Alina setelah melepas pelukannya.
" Wah,,,makasih sayang." dengan bahagia Alina menerima bunga dari Biru dan menciumi wanginya.
" suka??" tanya Biru dengan masih memandang Alina.
" iya,,, sangat suka." Alina dengan senyum manisnya melihat ke arah Biru.
" syukurlah." Biru senang Alina menyukai bunga yang ia bawakan.
" apa kerjaan di kantor banyak, jam segini baru sampai rumah." tanya Alina
" Ya begitulah, aku akan mandi dulu. Setelah itu baru turun. Mama dan daddy Violet sudah pulang sore tadi. Besok mami sama papi juga akan pulang." sebelum pergi Biru memberi tahu Alina.
" he'em." Alina menanggapi hanya dengan senyum dan menganggukan kepalanya.
Setelah mandi Biru turun untuk makan malam bersama keluarganya di bawah. Meninggalkan Alina sendiri di kamar. Sore tadi di perjalanan pulang kerumah Biru mendapat kiriman foto dari seseorang yang ia tugas kan mengawasi Alina diam diam. Sebuah foto yang menampilkan Alina sedang berjalan di tepi pantai bersama seorang lelaki. Biru meradang melihat foto itu dan berniat mendatangi pantai. Namun ketika sampai di pantai Biru tidak mendapati mereka. Hanya informasi tentang keberadaan dimana lelaki yang bersama Alina tadi. Tanpa sepengetahuan Alina,,Biru mendatangi Bagus. Itulah sebabnya ia pulang terlambat.
__ADS_1
πππππ
Terimakasih sudah membaca. Jangan lupa setelah membaca tinggalkan LIKE nya ya. Kritik saran di tunggu di kolom komen. Terimakasih banyak untuk dukungannya pada karya ini. Terimakasihπππ€π€