
⛓️⛓️⛓️⛓️⛓️
" kegagalan bukan alasan untuk berhenti berusaha."
🔗🔗🔗🔗🔗
🎄🎄🎄🎄🎄
Candra masih menenangkan Alina yang terus saja menangis di kamar Kirana. Walaupun Alina sudah berulang kali mengusirnya dan meminta Candra untuk pergi. Namun Candra tetap di sana menjaga Alina sepajang malam.
Semenjak kehilangan Kirana, Alina tak pernah lagi bisa tidur dengan baik. Bahkan Alina hanya menangis sepanjang malam. Kali ini ia bisa memejamkan matanya walau hanya sekejap.
Mungkin karna kelelahan menangis, jadi ia tertidur.
Dunia Alina seakan hancur tanpa adanya Kirana yang selama ini ia jaga mati matian. Alina tak pernah serapuh ini sebelumnya. Sengaja ia jauhkan Kirana dari segala keramaian yang melibatkan keluarga Wiratmadja di dalamnya. Namun nyatanya masih saja terjadi hal yang tidak di inginkan. Lagi-lagi keluarga Wiratmadja mengacaukan hidupnya.
" Candra,,, apa aku tidak boleh bahagia??" ucap Alina dengan suara parau akibat banyak menangis. Kepada Candra yang duduk di sofa kecil kamar Kirana.
" hust,,, tidak sayang,, bukan begitu,, kamu berhak bahagia,, sangat berhak,,." Candra berjalan menghampiri Alina dan duduk di sampingnya, merengkuh Alina kedalam pelukannya seakan memberi ketenangan pada Alina dengan mengusap lembut bahu wanita yang lima tahun belakangan ini mengisi hari-harinya.
" lihatlah,, aku baru ingin menata kembali kehidupan ku dengan Kirana bersama kamu,, aku baru ingin memberikannya keluarga yang sempurna seperti yang selalu ia inginkan. Tapi seseorang mengambilnya dari ku. Bagaimana jika kejadian yang menimpa kedua orang tua ku terjadi padanya." Alina kembali menangis di pelukan Candra.
" percaya pada ku,, aku akan menemukan gadis kecil kita,, dan dia akan pulang dalam keadaan baik baik saja. Tenanglah sayang,,, jangan bersedih lagi." Candra melepaskan sejenak pelukannya dan mengusap air mata Alina dengan kedua tangannya.
" sekarang beristirahatlah,, kamu bisa sakit jika terus begini. Kamu harus sehat-sehat jadi saat gadis kita pulang nanti kita bisa membawanya berlibur bersama seperti yang di inginkannya." Candra perlahan menuntun Alina untuk merebahkan dirinya. Dan kemudian menyelimutinya. Memintanya untuk beristirahat.
🍐🍐🍐🍐🍐
Pagi ini,, Candra sudah bersiap menuju rumah kakaknya. Sebelum ia berangkat, ia melihat Alina yang subuh tadi baru terlelap. Sejak semalem Alina terus mengigau memanggil nama Kirana. Dengan terus menangisi sang putri.
Ia perlahan mendekati Alina yang tertidur memeluk guling kesayangan Kirana. Candra mengusap sayang kepala Alina dan perlahan bibirnya mendarat di kening Alina.
" aku janji akan membawa gadis kita pulang dalam keadaan baik baik saja. Aku akan segera menemukannya." gumam Candra pelan.
" Candra,,, kamu mau pergi?." ucap Alina yang tiba tiba bangun dan bersandar di ujung tempat tidur. Ia melihat Candra yang saat itu sudah siap membuka pintu kamar untuk keluar.
Sebenarnya Alina sudah bangun sejak tadi, namun ia malas membuka matanya ia masih ingin merasai aroma tubuh Kiran melalui guling itu.
" oh,,, pagi sayang,, kamu sudah bangun?,,, tidurlah lagi,, dan beristirahatlah hari ini." Candra kembali berjalan menghampiri Alina dan ikut duduk di samping Alina. Ia meraih satu tangan Alina menggenggamnya. Menautkan jari mereka.
" kamu mau kemana??" tanya Alina dengan mata sembabnya melihat Candra yang sudah berpakaian rapi dengan kemeja berwarna tosca warna favorit Alina.
" aku ada urusan sebentar,, kamu tidur saja lagi. Aku ingin menemui seseorang. Barang kali ia tahu informasi tentang kawanan yang menculik Kirana." ucap Candra memberi alasan.
" apa aku boleh ikut??" tanya Alina yang langsung mendapat jawaban gelengan kepala dari Candra.
" di rumah saja ya,,, istirahat,, lihat mata ini,, dan lagi wajah ini. Bagaimana jika kita bertemu Kirana nanti. Saat ia melihat mamanya sudah seperti panda begini. Nanti bisa bisa ia tidak lagi mengenali mamanya yang cantik ini." ucap Candra sambil menunjuk mata Alina juga lingkar mata Alina dan wajahnya yang tampak lelah.
" hmmm,,, ya sudah,, kamu berhati hatilah,, aku percaya padamu. Kamu pasti akan melakukan yang terbaik untuk ku juga Kirana." ucap Alina tersenyum tipis dengan tatapan mata yang penuh harap.
Candra tanpa permisi tiba tiba mengecup bibir Alina yang tersenyum itu,, sejenak dia letakan di sana bibir yang dingin itu bertemu,, hingga akhirnya Candra benar benar mencium bibir Alina.
Meskipun sempat terkejut dengan perlakuan Candra, namun Alina tidak menolak. Ia hanya berfikir membalas kebaikan Candra padanya. Meskipun saat berciuman seperti ini, jantung Alina terasa berdetak tak beraturan. Ia merasakan hal aneh, ini kali pertama mereka berciuman, selama menjalin hubungan serius, Candra hanya selalu mencium kening dan pipinya saja.
Tiba-tiba Candra teringat kejadian malam dimana ia melihat Alina dan Biru berciuman mesra di taman belakang rumah Alina. Dan hal itu seketika membuatnta melepaskan pagutan bibirnya. Entah mengapa kejadian itu membuat perasaannya tak menentu. Ada rasa sakit dan juga rasa bersalah.
" terimakasih sayang,,," ucap Candra setelah melepaskan ciumannya. Ia mengelap mesra pinggiran bibir Alina dengan satu jarinya.
" hmm,," Alina hanya tersenyum membalasnya. Saat ini hatinya sungguh merasa aneh.
" aku berangkat dulu yaa,, jaga dirimu sementara aku tidak ada." Candra kembali mencium kening dan kedua pipi Alina, kemudian berdiri dari duduknya dan berlalu pergi.
__ADS_1
🍎🍎🍎🍎🍎
Setelah menempuh perjalanan beberapa jam dari kota B ke kota D. Kini Candra sudah duduk di ruang tamu rumah kakak pertamanya. Setelah sebelumnya kehadirannya membuat sang kakak amat terkejut. Bagaimana tidak hal yang ia kira tidak bakal terjadi. Nyatanya kini Candra,, sang adik benar-benar datang menemuinya.
" kakak benar benar senang melihat mu baik baik saja seperti ini Candra." sang kakak yang terus tersenyum melihat adiknya yang lama tak ia jumpai itu.
" dimana kak Sekar, aku ingin bertemu dengannya. Di rumahnya kosong, sudah beberapa hari ia tak pulang kerumahnya itu" ucap Candra serius dan langsung pada tujuannya. Ekspresinya yang saat itu berbeda dengan kakaknya yang senang saat kembali bertemu dengannya. Sedangkan Candra justru memasang wajah biasa saja.
" Candra,, ada apa dengan mu,, kamu datang datang menanyakan Sekar dengan marah seperti itu." sang kakak heran dengan sikap adiknya.
" katakan saja dimana dia, bukankah kalian sering bertemu!." Dengan memaksa Candra bertanya.
" ya memang kami sering bertemu. Dan pagi tadi dia di sini, tapi entahlah kemana lagi setelah dari sini. dia baru saja pergi. Dan tak lama kamu datang." jelas sang kakak dan membuat Candra langsung berdiri dan pergi begitu saja.
" Candra,, kamu mau kemana kita belum selesai bicara. Candra." Sang kakak terus berteriak memanggil Candra. Namun tak di hiraukannya.
Candra mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh membelah jalanan kota yang saat itu cukup ramai.
Candra meminta salah seorang temannya untuk melacak keberadaan mobil Sekar. Dan, di sinilah Candra sekarang,, di sebuah rumah di pinggiran kota D.
Ia melihat mobil Sekar terparkir di halaman rumah berlantai dua itu. Ya sebelumnya ia mendapat kabar dari temannya yang melacak plat mobil Sekar. Dan mengikuti jalan yang telah di kirim padanya.
Candra masuk dengan segera. Memperlihatkan kilatan amarahnya. Tanpa basa-basi ia langsung menerobos masuk. Dan benar saja Sekar ada di sana.
" Lihat,,, siapa yang datang." Sekar dengan bertepuk tangan seakan meremehkan Candra yang kini berhasil masuk kedalam rumah setelah berkelahi melawan beberapa anak buah Sekar yang berjaga di depan tadi.
" adik ku yang lama menghilang,, lihat kini ia ada di sini." Sekar dengan jumawa bersidekap tangannya melihat Candra.
" diman Kirana??!!!" tanya Candra dengan amarahnya setelah dari tadi diam mendengar ocehan Sekar.
" apa?? siapa?? Kirana?? siapa dia?? kau ini datang kesini tidak mengunjungi kakak mu ini ya ternyata. Dan kamu justru mencari siapa itu tadi." Sekar masih dengan santainya menjawab dan berpura pura tidak tahu siapa Kirana.
" jangan banyak membual kak,, aku masih menghormati mu sebagai kakak ku,, jangan memaksa ku bertindak tidak baik." Ancam Candra.
" apa maksudmu,, katakan saja dimana dia." Candra semakin geram di buatnya.
Sekar,, ia awalnya menculik Kirana untuk membuat Biru menandatangi surat pengalihan salah satu perusahaan keluarganya yang masih di kelola Biru. Agar jatuh ke tangannya. Ia tak menyangka justru Candra juga datang dan mencari anak itu. Sedangkan Biru masih belum mengiyakan permintaannya.
" tunggu,,, Candra,,, kau mengenal Kirana?? atau jangan jangan yang selama ini menjadi orang di belakang kesuksesan ****** itu adalah kau?!! " ucap Sekar yang cukup pintar menerka itu.
Mendengar hal tidak baik yang di katakan sang kakak pada Alina. Candra naik pitam.
" jaga bicara mu kak Sekar!,,, dia bukan wanita seperti itu. Sekarang katakan saja dimana kak Sekar menyembunyikan Kirana." Candra semakin kesal pada kakaknya itu.
" lalu,, seperti apa dia,, benar kan dia itu ****** yang hanya menginginkan harta keluarga Wiratmadja dengan merayu Biru dan sekarang kamu. Kau ini ya Candra, kau benar-benar tidak kapok ya Candra,, menjalin hubungan dengan kaum jelata seperti di masa lalu mu dan kau mengulanginya lagi untuk masa depan mu,, dan kau lupa,, bahkan di masa lalu mu, kau gagal melindungi dia yang kau bilang sangat kau cintai itu. Dan sekarang,, kau ulangi lagi hal seperti itu."
" kau dan Biru sama saja Candra,, sama sama berselera rendah dan juga kalian tidak bisa menjaga nama baik keluarga." lanjut Sekar melebarkan matanya menatap tajam Candra.
" seharusnya memang aku bunuh saja ****** itu sejak dulu,, lihat lah,, karna aku berbaik hati membiarkannya hidup, justru dia kembali masuk ke kehidupan keluarga Wiratmadja lagi." lagi lagi Sekar terus merendahkan Alina. Membuat Candra semakin geram, dan Biru yang sejak tadi di belakang Candra ikut geram.
Iyaaa Biru memang sengaja datang karena Sekar menghubunginya.
" kak Sekar,,,!!!!!" teriakan Biru menggema di ruangan itu. Dengan penuh amarah,, ia berjalan mendekati kakaknya itu.
" katakan dimana putri ku sekarang!!,,, lepaskan dia,, kembalikan padaku!!" ucap Biru dan membuat Candra sedikit kebingungan dengan hadirnya Biru disana.
" oh,,,, apa ini,, lihatlah,,, dua adik ku yang berusaha melindungi putri dari seorang wanita ******. Sungguh memalukan." ucap Sekar.
" Kak,,, katakan dimana putri ku.!!!" bentak Biru sekali lagi. Namun hanya mendapat balasan senyuman licik Sekar.
Merasa tak mendapat jawaban dari Sekar. Biru berteriak memanggil nama putrinya.
__ADS_1
" Kirana,, Kiran,,, di mana kamu sayang,, ini papa nak,, Kirana." Teriak Biru berjalan kesana kemari berusaha menemukan Kirana. Satu persatu pintu di ruangan itu ia buka namun tak mendapatkan aoa yang ia cari.
Candra masih terdiam di sana, sambil terus menatap tajam ke arah Sekar yang masih berdiri di depannya. Tanpa sedikitpun rasa khawatir. Padahal di luar sana semua anak buahnya sudah di lumpuhkan oleh Candra. Dan di dalam pun hanya tinggal dua orang berbadan kekar di belakang Sekar.
" terus saja berteriak Biru. Kau tidak akan menemukannya. Kecuali jika kau setuju menandatangani surat surat yang telah aku berikan." ucap Sekar pada Biru yang masih mencari Kirana di dalam rumah itu.
" kembalikan dulu Kirana." tawar Biru, setelah ia berdiri di depan Sekar.
Tiba tiba dari lantai atas tampak Kirana yang kini berada di gendongan Abimanyu. Dan berteriak memanggil
"" Papa ""
Meski sakit mendengar Kirana menyebut nama papa bukan untuknya. Namun Abimanyu tetap senang karna ia berhasil menemukan Kiran dalam keadaan baik baik saja.
Sekar yang melihat hal itu menjadi geram sendiri. Darimana Abimanyu datang dan tiba tiba membawa Kirana menuruni tangga.
Candra dan Biru,, tentu saja mereka sangat terkejut. Seorang Abimanyu, membawa Kirana dengan tiba-tiba. Apa mungkin Abimanyu berkomplot dengan Sekar?. Begitu pikir mereka. Sebelum akhirnya Candra melihat beberapa anak buahnya berada di balik badan Abimanyu.
Dari mana Abimanyu tahu Kirana di culik. Dan sejak kapan Abimanyu beserta orang orang Candra itu berada di lantai atas. Candra bahkan tidak mengetahui jika Abimanyu bisa bekerja sama dengan orang orangnya. Candra sempat memberi perintah pada orang orangnya untuk segera melacak keberadaannya tadi setelah ia mendapat kiriman lokasi mobil Sekar. Candra khawatir jika sang kakak berbuat lebih jauh sehingga membuat nyawanya ataupun Kirana terancam. Oleh sebab itu ia meminta orang-orang kepercayaannya untuk segera menyusulnya.
Abimanyu menurunkan Kirana dari gendongannya. Seketika Kirana lari berteriak memanggil papa. Namun sesaat kemudian semua yang berada di sana merasa heran ketika Kirana justru memeluk Candra, dan bukan Biru.
Semuanya yang berada di saja tercekat. Bahkan Biru tak kuasa menahan perih di dadanya. Ia yang sudah membentangkan kedua tangannya menyambut sang putri, justru Candra lah yang menerima pelukan putrinya.
Sedangkan Abimanyu menarik nafas dalam-dalam. Menerima kenyataan bahwa Kirana sudah begitu dekat dengan Candra.
" papa,,, ayo kita pulang,, Kiran nggak mau di sini. Aku rindu mama. Dimana mama?." ucap Kirana memeluk kaki Candra yang masih terkejut dengan ucapan gadis kecil di depannya.
Biru tak kalah terkejut,, ia tak pernah tahu jika Kiran mengenal Candra adiknya. Lebih heran lagi kenapa Kiran tampak begitu akrab dengan Candra. Bahkan putrinya itu memanggil Candra dengan sebutan papa. Candra kemudian menurunkan badannya membawa Kirana di gendongannya.
Dengan senyuman mengembang Candra mendekap gadis kecil itu. Candra lega Kirana dalam keadaan baik-baik saja.
Tepukan tangan dari Sekar membuat Candra dan semua yang berada di situ tersadar dari lamunan mereka masing².
" pertunjukan yang bagus,, dan asal kalian tahu,, di rumah ini ada beberapa peledak. Jadi Biru,, sebelum kau benar benar kehilangan putri mu,, segera tanda tangani ini. Atau kita akan mati bersama sama disini." ucap Sekar mengancam. Membuat Biru sedikit panik.
" tuan Candra." Abimanyu memberi kode pada Candra yang menggendong Kirana untuk segera membawa Kirana pergi. Membuat Candra mengerti. Namun Biru justru mencekal tangan Candra.
" Biru,, tunggu apa lagi,, aku sudah menekan tombol waktunya. Tinggal menunggu beberapa detik saja." ucap Sekar melihat raut geram adiknya.
" kak Biru,, persetan dengan surat surat itu, Kiran sudah berada padaku. Semakin cepat kita pergi. Semakin cepat pula kita terhindar dari ledakan itu. Yang terpenting saat ini adalah menyelamatkan Kirana. Karena Alina sudah menunggunya." ucap Candra memperingatkan kakaknya yang hampir menerima map dari Sekar.
" dasar kalian adik adik sialan. Dan kau bocah ingusan,, kau menggagalkan semua rencana ku. Siapa kau ini, ikut campur saja dengan urusan ku." ucap Sekar yang menatap tajam Abimanyu. Ia sudah tak lagi mempunyai anak buah,, dua orang di belakangnya tadi sudah di ikat dengan tangan oleh orang orang Candra yang tadi berada di belakang Abimanyu.
Sekar menembakan pistol ke atas,, memberi peringatan pada kedua adiknya dan juga Abimanyu.
Candra segera bergegas melindungi Kirana. Dan Biru,, ia bergerak cepat berusaha merebut pistol dari tangan kakaknya itu. Sekar semakin brutal menembaki kesana sini.
Karna kini tubuhnya di dipegangi oleh Biru sehingga ia hanya bisa menarik pelatuknya saja. Candra dengan mengendap menyelamatkan Kirana. Berusaha membawanya keluar.
Tak berapa lama kemudian terdengar suara tembakan di belakang Candra. Dan Sekar yang melihat itu tampak puas dengan hasilnya. Dalam satu kali tembakan Sekar bisa melumpuhkan dua orang sekaligus.
Ruangan seketika menjadi gelap karna kepulan asap dari bahan peledak yang salah satunya sudah berhasil di ledakan.
Tak terlihat dengan jelas siapa dua orang yang terkapar di lantai itu.
" sudah dua yang meledak,, selamat menjemput ajal mu Biru." Ucap Sekar yang menendang kaki Biru sebelum akhirnya ia melarikan diri meninggalkan Biru.
Sekar tentu saja geram karna rencananya memaksa Biru menandatangani surat itu gagal. Namun senyum jahat Sekar masih bisa terlihat ketika ia sudah berhasil keluar dari rumah itu. Se ingatnya Biru masih berada di dalam dan ia yakin Biru tidak akan selamat karna rumah itu sebentar lagi akan hancur karna ledakan. Dengan begitu perusahaan yang selama ini di kelola Biru bisa jatuh ke tangannya.
🍒🍒🍒🍒🍒
__ADS_1
Terimakasih sudah membaca,, jangan lupa tinggalkan LIKE nya ya setelah membaca. Krisan silahkan di kolom koment. Terimakasih 🙏🙏🤗🤗