Takdir Alina

Takdir Alina
Aku mencintai mu..


__ADS_3

Biru kembali membawa pulang Alina. Namun kali ini tidak kerumahnya yang ia tinggali selama ini. Ia membawa Alina ke sebuah rumah yang dekat dengan pantai. Rumah yang sengaja ia beli untuk Alina. Setelah ia tahu Alina menyukai pantai waktu itu. Biru diam diam membeli rumah di kawasan itu.


Dan Biru terngiang akan perkataan Bagus tadi. Biru berjanji pada dirinya sendiri,, bahwa akan menciptakan bahagia untuk Alina. Dan ia akan memulainya hari ingi.


" sayang,,kita mau kemana." tanya Alina heran karna jalan yang ia lalui berbeda dengan arah jalan ke rumah Biru.


" tentu saja pulang." jawab Biru santai tersenyum pada Alina dan kemudian kembali fokus pada kemudinya.


" tapi jalannya?? ini seperti ke arah pantai." ucap Alina masih bingung.


Biru hanya diam dan sesekali tersenyum melihat Alina. Merasa tak mendapat jawaban Alina memilih diam dan menikmati pemandangan laut di sepanjang jalan. Beberapa menit kemudian Biru membawa mobilnya masuk ke sebuah halaman rumah sederhana dengan pagar berwarna putih itu.


Alina yang masih berada di dalam mobil itupun masih di buat bingung. Sedangkan Biru dengan diam bergegas turun dari mobil membukakan pintu untuk Alina.


" terimakasih." ucap Alina lembut,, ketika Biru membukakan pintunya.


Alina baru saja hendak menurunkan kakinya. Namun tiba-tiba saja Biru mengangkatnya. Menggendong Alina dan membawanya masuk. Tentu saja Alina terkejut dengan perlakuan Biru itu.


" eh,,sayang turun kan aku,,aku bisa jalan sendiri. Aku malu jika pemilik rumah itu melihatnya nanti." ucap Alina memukuli pelan dada Biru dan berusaha memberontak ingin turun.


Biru tak bergeming dan terus berjalan. Hingga akhirnya sampai di depan pintu rumah itu.


" sudah sampai." Biru dengan perlahan menurunkan Alina ketika sampai di depan pintu. Sedangkan Alina menjawab salah tingkah di buatnya.


" Tuan Biru,, eh maksud ku. Sayang,, ini rumah siapa. Dan untuk apa kita datang kesini." Tanya Alina bingung.


" bukalah dan ayo masuk." Biru menyodorkan sebuah kunci pada Alina. Membuat Alina semakin bingung.


" maksudnya buka rumah ini??" ucap Alina heran namun tetap menerima kunci itu setelah mendapat anggukan dari Biru.


Alina pun menuruti kata Biru. Ia membuka pintu itu dengan kunci yang ia pegang. Dan setelah pintu terbuka,, Biru membawa Alina masuk dengan mendorong pelan bahu Alina.


" selamat datang di rumah kita sayang." ucap Biru yang tiba-tiba memeluk Alina dari belakang setelah mereka masuk ke dalam rumah itu.


Alina melongo dan tak menyangka dengan apa yang Biru katakan.


" maksudnya ini???,,," Alina masih tidak menyangka dengan ucapan Biru barusan. Ia tidak tahu harus berkata apalagi. Ia bahkan tidak mengira bahwa Biru akan membawanya pindah dari istana megah milik Biru yang selama ini ia tempati.


" mulai sekarang kamu akan tinggal di sini sayang,, rumah ini hadiah untuk mu istriku." ucap Biru melepas pelukannya,, dan membalikkan badan Alina,, meraih kedua tangannya untuk ia genggam. Setelahnya ia mencium kening Alina dengan mesra.


" Mari kita ke atas sayang,, aku akan menunjukan sesuatu padamu." Ajak Biru yang langsung menarik tangan Alina.


Saat sampai di lantai atas,,, Alina di buat terkejut dan tak menyangka. Ia bahkan berjalan mendahului Biru. Ia benar-benar dibuat terkejut dengan pemandangan di depannya saat itu.


" kamu pasti menyukai pemandangan ini. Dari sini kamu bisa melihat laut dan pantai sayang." ucap Biru yang kian berdiri di samping Alina.


Alina melihat Biru di sampingnya. Dan tersenyum begitu manis. Ia tak menyangka akan di berikan kejutan seindah ini.


" Terimakasih sayang. Terima kasih banyak." ucap Alina menatap Biru dengan tersenyum.


Sesaat kemudian Alina tersadar dan berkata.


" apa ini tidak berlebihan sayang??,,,maaf bukan maksud ku tidak menyukai nya. Jujur aku sangat menyukainya. Tapi,, aku rasa aku tidak pantas mendapat ini semua. Aku,,,aku kan hanya istri ke..." belum selesai berkata Biru sudah menghentikannya dengan menaruh satu jarinya di bibir Alina. Membuat Alina kembali menatap ke arah Biru.


" semua yang aku miliki boleh kamu minta. Jangan berkata apa apa lagi. Terima saja rumah ini dan jangan merasa sungkan atau tidak pantas menerimanya." ucap Biru meraih dan kemudian menggenggam tangan Alina membuat mereka saling menatap satu sama lainnya. Biru mengecup sekilas bibir Alina yang selalu membuatnya candu.


" hemm,,, terimakasih sekali lagi,,, dan maaf kan aku." ucap Alina mengalihkan pandangannya kembali ke lautan. setelah melepas genggaman Biru.


" jangan selalu minta maaf." ucap Biru menarik pelan kepala Alina agar bersandar di bahunya.


Sore itu mereka menikmati indahnya matahari tenggelam dari balkon rumah dengan segelas teh dan kopi yang tentunya mereka pesan dari aplikasi online tadi.


Dan tanpa terasa hari sudah mulai gelap. Biru harus pulang ke istana sekarang. Sebelum pulang ia memberitahukan beberapa hal pada Alina.


" Sayang,,,nanti akan ada seseorang yang menemani dan membantu kamu di rumah ini." ucap Biru yang berjalan menuruni tangga bersama Alina.


" hmm,," Alina hanya mengangguk. Lagipula mana mungkin Alina bisa menolak jika Biru sudah berkehendak.

__ADS_1


" aku pergi dulu ya. Besok sebelum ke kantor aku akan mampir kesini." ucap Biru mengusap sayang kepala Alina saat mereka sampai di teras.


Sebenernya berat untuk Biru meninggalkan Alina sendirian. Tapi ia harus pulang.


" Kami tidak apa-apa kan sendirian dulu." Ucap Biru khawatir.


" Tenang saja aku berani. Kan udah biasa sendiri." Jawab Alina dengan tertawa kecil. Membuat Biru gemas dan mengacak rambutnya.


" Iya dech nona Alina yang tangguh." Goda Biru.


" Baiklah sayang,,, sampai jumpa besok ya. Nanti aku akan menelfon mu." Biru mengulurkan tangannya pada Alina.


" ya,,,hati hati di jalan." ucap Alina mencium punggung tangan Biru.


" jaga diri baik baik,,kalau ada apa apa segera hubungi aku." Sebelum pergi Biru mencium kening Alina dan mengecup bibirnya sekilas. Kemudian masuk ke dalam mobil.


Setelah Biru berlalu,Alina mengunci pagar dan kembali masuk kedalam rumah. Mengunci rapat pintu rumahnya. Alina baru beberapa jam di sini. Ia belum mengenal lingkungannya jadi untuk jaga jaga ia mengunci rapat semua pintu di rumahnya. Terlebih ia tinggal di rumah sendirian. Alina menyusuri isi dalam rumah barunya itu. mengamati bagian-bagian ruangan rumahnya.


🌼🌼🌼🌼🌼


Biru sampai di rumah utamanya. Dengan wajah bahagia dan bersiul ia memasuki rumah. Membuat bik Darmi yang membukakan pintu ikut tersenyum melihat majikannya itu bahagia. Tidak seperti saat sebelum keluar rumah tadi ia melihat majikannya ini begitu kacau.


Namun yang membuat bik Darmi heran,,kemana sumber bahagianya sang majikan. Ia tak melihat Alina yang ia yakini sebagai penyebab Biru tampak bahagia itu.


" Sepertinya tuan Biru sedang bahagia malam ini." Ucap Bik Darmi yang berjalan di belakang Biru.


" Tentu saja bik. Alina sudah ketemu jadi apalagi yang aku cari." Aku Biru senang.


" Syukurlah nonya mudah sudah ketemu. Tapi dimana nonya muda tuan. Kenapa tidak ikut masuk kerumah." Tanya bik Darmi lagi dengan melihat ke belakang memastikan dimana Alina.


" Ada bik. Tapi dia tidak ikut pulang ke sini." Jawab Biru yang hanya di balas anggukan oleh bik Darmi.


" o iya bik dimana Violet dan anak anak." tanya Biru menaiki tangga yang masih di ikuti bik Darmi di belakangnya.


" nyona ada di kamar tuan den Damar dan non Dinar juga." jawab bik Darmi sopan.


" hmm baik lah,,tidak usah menyiapkan apapun untuk ku bik, aku sudah mandi dan makan. Jadi aku akan menemui Violet sekarang." ucap Biru berhenti berjalan karna ia telah sampai di depan kamarnya.


" Biru,,,kamu udah pulang." sapa Violet menghampiri Biru yang baru saja membuka pintu kamar.


" hemmm,,, kamu sudah makan Vi." tanya Biru berdiri di depan Violet dengan kedua tangan di masukan dalam saku celananya.


" udah sama anak anak." Violet bergelayut manja pada lengan Biru.


" aku seneng kamu perhatian gini." kembali Violet berkata dengan melihat ke arah Biru yang tampak diam saja.


" aku itu,, gimana kamu ke aku Vi." berjalan dan kemudian duduk di sofa di ikuti Violet di belakangnya dan ikut duduk di samping Biru.


" apa selama ini kamu cuek juga karna aku cuekin??" tanya Violet menyandarkan punggungnya di sofa.


" sejak awal menikah apa pernah kamu memperhatikan urusan ku keperluan ku. Dan perasaan ku sebagai suami. Sejak awal menikah kamu sibuk dengan dirimu sendiri Vi." ujar Biru menyunggingkan bibirnya.


" udah ada pelayan kan yang mengurusi semuanya. Biru di luar negeri sana itu hal biasa. Cinta tumbuh seiring berjalannya waktu dengan selalu bersama walau tanpa harus mengurus satu sama lain kan." Violet tak mau kalah dari Biru. Ia tak mau di salahkan saat ini.


" kalau kamu maunya aku kayak Alina gitu. Aku nggak bisa Biru. Aku nggak biasa melakukan pekerjaan pembantu. Dari kecil semua keperluan ku di urus oleh pelayan di


rumah." lanjut Violet mengangkat punggungnya dari sandaran.


" itu lah kenapa tidak ada cinta di antara kita Vi. Kamu sibuk dengan dirimu sendiri. Kamu nggak pernah bisa di larang. Sekali aku menegurmu selalu beribu alasan kamu keluarkan dan menganggap ku kuno. Dan aku? aku sadar sebagai suami aku tak pernah mencoba melakukan hal hal se romantis seperti belakangan ini. Bagaimana aku bisa melakukan itu kalau kamu saja susah di dekati. Kamu sibuk dengan teman teman sosialitamu dan bisnis bisnismu." ucap Biru tak kalah kesal.


" harusnya kamu senang Biru aku bisa berbisnis sendiri. Itu tandanya aku wanita mandiri. Dan kamu tahu Biru sejak daddy memberitahu ku dulu kalau kita di jodohkan, sejak hari itu aku mulai menyukai mu. Sikap diam mu selama kita menikah aku pikir itu karena kamu mencintai ku,maka kamu beri aku kebebasan. Dan apa mau ku selalu kamu wujudkan. Bagaimana aku tidak mencintai mu Biru. Kamu memperlakukan ku dengan baik selama kita menikah." ucap Violet dengan emosi ia mengeluarkan isi hatinya.


" Vi,,sudah seharusnya aku memperlakukan istriku dengan baik kan. Lagi pula apa lagi yang bisa aku lakukan selain diam membiarkan mu bertindak sesuka hatimu. Saat aku melarangmu justru kamu bilang aku mengekang mu." jelas Biru.


" kita mulai dari awal lagi Biru. Aku yakin kamu bisa mencintai ku. Lihat lah akhir akhir ini kamu selalu romantis dan perhatian pada ku." ucap Violet melembutkan bicaranya.


" Aku coba Vi,, tapi untuk memberikan hati ku sepenuhnya,, mungkin itu mustahil. Hati ku di miliki orang lain." ucapan yang menyakitkan bagi Violet.

__ADS_1


" tega kamu bilang begitu Biru. Baiklah kita lihat saja. Aku yakin suatu hari nanti hati mu itu akan sepenuhnya untuk ku." ucap Violet menatap tajam Biru.


" sudahlah Vi,,kita jalani seperti ini saja. Yang terpenting aku akan selalu adil sama kamu. Dan perlakuan ku ke kamu nggak akan pernah sama seperti dulu." ucap Biru berdiri meninggalkan Violet yang masih duduk di sofa.


(aku pulang ke sini bukan untuk berdebat Vi,, tapi entah kenapa jadi seperti ini.) batin Biru yang kini berjalan ke kamar mandi di kamarnya.


(Baiklah Biru aku akan bersikap lebih manis lagi agar kamu bisa mencintai ku dan membuang cintamu untuk Alina. Dan kamu Alina,,tunggu saja balasan sakit hati ku ini.) batin Violet dengan senyum licik nya.


Pagi ini Biru mendatangi Alina di rumah barunya. Sebelum berangkat ke kantor ia sempatkan untuk datang menemui Alina. Ia bahkan membawakan sarapan untuk Alina.


" seharusnya kamu nggak perlu repot repot begini sayang." ucap Alina membuka makanan yang di beli Biru tadi.


" untuk kamu aku nggak repot sayang. Makanlah." jawab Biru sambil menyeruput teh buatan Alina.


" Baiklah terimakasih. Tapi apa kamu sudah makan?." Tanya Alina sembari mulai menyuapkan makanan kedalam mulutnya.


" Aku sudah makan tadi." Entah mengapa jawaban Biru ini sedikit membantu hati Alina perih.


" Ngomong-ngomong semalam kamu ada pergi keluar rumah?." Tanya Biru yang kemudian membuat Alina menghentikan makannya.


Alina mengangguk pelan mengiyakan. Ia takut Biru marah karena Alina pergi tanpa ijin darinya.


Malam tadi Alina merasa sangat lapar. Padahal sebelum Biru pulang semalam, mereka sudah makan malam bersama.


Namun entah kenapa perutnya tiba tiba kembali merasa lapar. Ia mencoba keluar rumah dan berjalan jalan di sekitar rumah. Ia menemukan banyak pedagang kaki lima berjualan aneka makanan. Setelah membeli makanan ia mampir ke mini market untuk membeli beberapa bahan makanan.


" Nggak jauh kok cuma ke minimarket dan beli makanan karena aku lapar." Aku Alina dengan rasa takut jika tiba-tiba Biru marah.


" lain kali jangan nekat keluar malam sendiri ya." ucap Biru mengelus pipi Alina. Di luar dugaan Alina. Biru justru mengelus pipinya lembut dan tidak memarahinya.


" heemm,,semalam aku benar benar merasa lapar jadi aku pergi. Lagi pula nggak jauh kan." jawab Alina kembali menyuapkan makanannya.


" apa uangnya masih ada?? kalau habis,, pake saja kartunya." ucap Biru karna semalam ia merasa hanya meninggalkan sedikit uang untuk Alina. Ia memang tak pernah membawa banyak uang cash. Ia hanya meninggalkan sedikit uang untuk Alina dan kartu kredit.


" ppfffffttt.." Alina menahan tawanya.


" kenapa??. Biru heran melihat tingkah istrinya.


" kamu aneh,,aku hanya membeli makanan kaki lima dan membeli beberapa barang saja. Mana mungkin uangnya habis." jawab Alina tersenyum.


" jadi istriku ini meledek ku,, hmm,," Biru mulai mencubit hidung Alina gemas.


" aw...sakit." Alina sedikit berteriak dan membuat Biru melepaskan tangannya.


" kamu lucu,jadi aku gemas." Biru menatap Alina yang mengerucutkan bibirnya dengan mengusap hidungnya yang kini merah.


" Alina,,jangan tinggalkan aku, aku sungguh mencintai mu. Aku mungkin bisa gila jika benar benar kehilangan kamu." ucap Biru yang tiba-tiba memandang manik Alina dengan kedua tangan yang menangkup pipi Alina.


Alina hanya mengangguk pelan. Ia bisa melihat kejujuran di mata suaminya. Ia bahkan melihat sendiri betapa kacaunya Biru kemarin saat mencarinya di apartemen Bagus. Ia memejamkan matanya merasai desir darahnya dan merasakan gejolak di hatinya ketika Biru mencium bibirnya.


Ia merasakan sesuatu memang terjadi pada dirinya. Perasaannya pada Biru, sudah tak sekaku dulu saat awal menikah. mungkin perlakuan Biru selama ini yang membuat hatinya melunak sedikit demi sedikit.


"Berjanjilah sayang,,jangan pergi dari ku." ucap Biru setelah melepaskan ciumannya. Dan di jawab dengan senyum juga anggukan oleh Alina.


" Aku ke kantor dulu kalau gitu,, kamu baik baik ya dirumah." lanjut Biru berdiri dan berjalan keluar rumah dengan di ikut Alina.


" Hati-hati di jalan." Ucap Alina setelah Biru masuk ke dalam mobil.


Biru berlalu dengan iringan lambaian tangan Alina juga senyumannya.


Alina bimbang dengan perasaannya sendiri. Ia merasakan getaran yang dulu ia rasakan seperti saat bersama Bagus dulu.


Dan itu terjadi pada Biru sekarang. Saat bersama Biru ia merasakan kenyamanan di hatinya. Alina belum berani mengungkapkan isi hatinya yang sebenarnya pada Biru. Sebagai istri ia bahagia bisa memberikan hatinya untuk suaminya tidak lagi untuk mantan kekasihnya.


Namun jika mengingat statusnya. Alina merasa takut mencintai Biru. Terlebih saat mengingat tentang kejadian malam itu di cafe. Alina tajut kecewa jika mencintai Biru.


Sedangkan Biru pun kini mulai merasakan perubahan sikap Alina yang mulai mau bermanja dengannya membuatnya merasa bahagia. Tidak seperti sebelum-sebelumnya. Biru berharap bahwa kini Alina bisa memberikan hatinya untuk dirinya. Sehingga bisa sama-sama memiliki rasa yang sama.

__ADS_1


πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’


Terimakasih sudah membaca. Jangan lupa setelah membaca tinggalkan LIKE nya ya. Kritik saran di komen. Terimakasih banyak untuk dukungannya pada tulisan saya ini. TerimakasihπŸ™πŸ™πŸ˜‰πŸ˜‰


__ADS_2