Takdir Alina

Takdir Alina
Sebuah Keputusan,,


__ADS_3

Biru benar benar membuktikan ucapannya malam itu. Ia kini menghadiri sidang perceraiannya dengan Alina. Dan di setiap agenda sidang ia juga hadir. Bahkan Biru cukup kooperatif. Sehingga sidang bisa segera di putuskan dalam waktu singkat.


Kini setelah semua rangkaian persidangan selesai. Alina dan Biru resmi menyandang status mantan suami istri. Menyesakkan memang bagi mereka,,, namun inilah jalan yang harus Alina pilih. Agar tak menimbulkan korban lagi jika mereka tetap bersama.


Alina dan Biru sama sama bersepakat membesarkan putri mereka bersama sama meskipun tidak sebagai suami istri lagi. Alina memberi kebebasan pada Biru bertemu Kirana kapanpun Biru mau.


Alina menjalani harinya seperti biasa mengurus Kirana dan juga resto beserta toko bunganya. Bedanya kali ini Alina lebih santai dan tenang menjalani hari harinya. Tidak seperti sebelumnya yang begitu penuh beban ketakutan. Takut jikalau terjadi sesuatu pada Kirana.


Eh,, ada yang berbeda, sudah beberapa bulan terkahir Candra tak pernah lagi menemui Alina. Bahkan ponsel nya saja sulit di hubungi.


Bila Alina berkirim pesan hanya ia balas dengan singkat saja. Tidak seperti biasanya ia lah yang selau setiap saat menghubungi Alina. Bahkan saat Alina mendatangi rumahnya, Candra sengaja meminta asisten rumah tangganya untuk berbohong pada Alina bahwa ia sedang di luar kota. Entah ada apa dengan Candra ini. Hal itu membuat Kirana merindukannya.


Candra sendiri, semenjak melihat kejadian malam itu di rumah Alina, Ia memutuskan untuk menjauhi Alina sementara memberi ruang pada diri dan hatinya untuk membiasakan diri menjalani hari tanpa Alina.


Walau kenyataannya, ia tak bisa. Setiap hari ia selalu melihat Alina dari kejauhan. Setiap pagi sebelum berangkat kerja dan setelah pulang kerja. Begitu setiap hari, hanya saja saat ini ia belum siap bertemu Alina. Di sisi lain, Candra senang akhirnya Alina memiliki status yang jelas sehingga membuatnya memiliki banyak peluang untuk bersama Alina.


" Candra,,, apa kau sedang sibuk." ucap Biru yang tiba tiba mendatangi kantor Candra adiknya.


" sedikit,, kenapa kak,, apa ada yang penting kenapa sampai datang kesini." Candra sebenarnya terkejut dengan kedatangan Biru yang tanpa memberitahunya ini. Tapi di sisi lian Candra juga kesal melihat Biru. Ia teringat kejadian malam itu dirumah Alina.


" tidak hanya merindukan adik ku ini. Lama tak menemui mu. Candra,, pulang lah sebentar. Mungkin akan membuat suasa menjadi lebih baik jika kamu mami dan papi bertemu." ucap Biru yang kini duduk di sofa bersama Candra.


" nanti aku akan pulang,, tunggu saja. Hari itu akan ku bawa bidadari ku ke depan mereka." Candra tertawa garing.


" kau sudah punya kekasih." tanya Biru sedikit terkejut dengan pernyataan adiknya.


" belum,,." jawab Candra santai.


" Candra,, aku ingin pergi meninggalkan nama Wiratmadja seperti mu. Aku ingin membawa seseorang. Membawanya pergi jauh. Jauh dari orang orang yang selalu ingin merusak kebahagian ku. Tapi kenapa sulit sekali." Biru berkata dengan menghela panjang nafasnya seolah menahan sebuah rasa sakit.


Candra yang mendengar itu tidak heran dengan siapa yang di maksud sang kakak. Sontak hal itu membuat hatinya perih.

__ADS_1


" aku sudah memutuskan untuk berpisah darinya saat ini. Untuk kebaikan dia dan putri kita." Biru menjeda ucapannya karna Candra tiba tiba tersedak.


" ah,, kau ini,, pelan pelan jika minum." Biru menepuk pelan punggung adiknya.


" maksudnya kak?". Candra masih drama pura pura tidak tahu tentang hubungan Biru dan Alina.


" baiklah Candra karena, kau adik ku, maka aku akan menceritakan semuanya." Biru mulai menceritakan awal pertemuannya dengan Alina. Hingga akhirnya ia rela melepaskan Alina.


Candra hanya diam mendengarkan Biru. Selama ini Alina tidak pernah secara detail menceritakan padanya tentang awal hubungannya dengan Biru. Dan hari ini Candra mendengar semua dari Biru. Dengan di selipi senyuman bahagia,, Biru menceritakan bagaimana awal ia bertemu Alina dan langsung jatuh hati padanya. Biru menceritakan itu dengan mengingat setiap kenangan bersama Alina.


" Candra,, aku harus melakukan ini agar dia baik baik saja dari kak Sekar. Dan aku sedang menyusun rencana untuk membawa mereka pergi. Namun aku tak tahu bagaimana cara tepatnya. Aku masih membutuhkan pekerjaan ku tapi aku juga ingin bahagia dengannya." lagi lagi Biru menghembuskan nafasnya kasar.


" kau selalu gila kerja kak,,, sebab itulah disaat hatimu sakit karna di tinggalkan olehnya, kau bukan berusaha mencarinya namun kau menghabiskan waktumu untuk bekerja. Wanita yang mana yang mau sama laki laki yang mencintai pekerjaannya di banding wanitanya." ucap Candra mencela kakaknya.


" kau benar Candra,, entah lah mungkin karna sejak usia muda aku selalu di tuntut untuk bekerja keras jadi selama ini aku jadi menggila dengan pekerjaan ku." Biru membenarkan ucapan adiknya.


" kak,, kau punya kak Violet Damar dan juga Dinar. Jangan egois,, jika kau pergi bersama wanitamu, apa yang akan terjadi pada putrimu Dinar. Mungkin saja dia bisa mengalami hal yang sama karna terkena karma dari ayahnya ini." Candra memukul pelan bahu Biru. Padahal sejujurnya Candra tidak rela jika Biru membawa pergi Alina.


" dia juga meminta ku seperti itu, tapi hati ku sudah terpatri padanya." Aku Biru.


" kak,, takdir manusia siapa yang tahu, kau bisa memilih memberikan cintamu padanya. Tapi jika tuhan tidak mentakdirkan kalian untuk bersama apa daya." Ucap Candra lagi.


" kita bisa mengubah takdir kita bukan,, dan aku ingin itu. Ingin mengubah takdir menjadi berpihak padaku yang mencintai dia agar kita bisa bersama selamanya." Kekeuh Biru.


" jangan di paksakan, toh nyatanya kalian sudah berpisah bukan. Kalian tidak bisa bersama lagi. Pengadilan sudah ketuk palu kak. Kecuali dia menikah dulu dengan orang lain dan bercerai lagi. Tapi apa kau tega mempermainkan takdirnya." Candra dengan segala upaya berusaha mengurungkan niat kakaknya untuk kembali mengambil Alina darinya.


" lihat nanti saja,, mungkin saja aku melakukan itu jika memang di perlukan. Saat ini aku hanya melindunginya dari kak Sekar yang terus berusaha menyakitinya jika kami bersama. Jadi setelah semua normal, mungkin aku akan kembali menemuinya dan membawanya pergi." Sungguh ucapan Biru kali ini membuat Candra susah menelan ludahnya sendiri.


🍎🍎🍎🍎🍎


Hari itu setelah bertemu Biru di kantornya. Candra semakin bimbang dengan hatinya. Bimbang untuk membuat keputusan, menentukan akan bagaimana ia dan Alina. Alina sudah terlanjur masuk kedalam hatinya. Dan bahkan Candra sudah terbiasa bersamanya. Beberapa minggu tak bertemu dengannya saja sudah membuat Candra susah bernafas. Tidur tak tenang makan tak enak bekerja pun selalu susah berkonsentrasi.

__ADS_1


Hari ini Candra memutuskan untuk kembali menemui Alina. Ia sudah tak betah jika hanya melihat senyuman manis itu dari kejauhan. Ia rindu Alina saat mereka duduk bersama. Ia rindu senyuman hangat Alina yang selalu ia lihat saat ia datang menemui Alina. Candra rindu bercanda tertawa bersama Alina. Mungkin benar kata orang jika cinta akan tumbuh seiring berjalannya waktu ketika sering bersama.


Dan Candra merasakan hal itu. Awalnya ia hanya ingin melindungi Alina dan Kirana dari ancaman keluarganya. Dan semakin lama bersama, dengan sikap ramah dan juga hangat yang di miliki Alina, justru membuatnya semakin tidak ingin jauh dari Alina. Terlebih ia sudah sangat menyayangi Kirana keponakannya seperti anaknya sendiri.


" malem Li,, baru pulang yaaa. " sapa Candra yang melihat Alina baru masuk rumah.


" Candra??!" Alina yang baru datang itupun di buat terkejut dengan adanya Candra di rumahnya. Ia segera menghampiri pria itu.


" iya ini aku,, siapa lagi memangnya,,," ucap Candra dengan senyumnya melihat Alina. Tanpa aba-aba tiba-tiba Candra meraih tubuh Alina dan memeluknya. Melepaskan rindu yang selama ini ia rasakan.


Sesaat kemudian Candra sadar akan perbuatannya. Ia pun melepaskan pelukannya. Terjadi salah tingkah di antara mereka berdua. Mungkin karna lama tak berjumpa. Entah kenapa terjadi kecanggungan dipertemuan mereka ini.


" Emmmmm,,, kamu sudah makan?" tanya Alina yang kemudian memecah keheningan di antara mereka.


" sudah,, bersama Kirana tadi." Candra tak kalah canggung.


" hmm,,, syukurlah. Kalau gitu,, aku ke atas dulu,, aku bersih bersih dulu." ucap Alina berlalu di depan Candra.


Candra hanya tersenyum melihat Alina yang kini telah menaiki tangga menuju kamarnya.


Kirana sudah tertidur dari tadi setelah makan malam dan bermain bersamanya. Bahkan Candra menemani Kiran belajar. Ya Kirana memang sudah mulai masuk sekolah di sebuah sekolah atau kelompok belajar, setara dengan PAUD. Awalnya Alina belum ingin menyekolahkannya. Namun putrinya itu begitu antusias ingin sekali sekolah.


Candra masih berkutat dengan segala rasa dan fikirannya. Ia ingin menyatakan perasaannya pada Alina. Namun di sisi lain ia takut justru dengan ia menyatakan perasaanya, Alina akan menjauhi nya.


Setidaknya ia harus membuat sebuah keputusan. Akan di bawa kemana perasaannya ini. Akan di labuhkan atau hanya akan ia simpan dan tetap menjalani hari hari seperti biasanya sebagai teman.


Candra teringat perkataan Biru yang masih ingin membawa Alina dan Kirana. Hal ini semakin membuatnya dilema saja. Biru memang sudah membuat keputusan untuk bercerai dengan Alina. Semata mata hanya untuk melindungi Alina dan juga putrinya. Dari Sekar yang terus saja berulah mengancam keselamatan Alina juga Kirana putrinya. Sedangkan untuk benar benar melepasnya Candra rasa Biru belum benar benar melakukannya.


πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’


Terimakasih sudah membaca,,, jangan lupa tinggalkan LIKE nya ya setelah membaca. Krisan silahkan di koment. Tunggu kelanjutan cerita Alina selanjutnyaπŸ˜‰πŸ˜‰. Terimakasih πŸ™πŸ™πŸ€—

__ADS_1


__ADS_2