
Damar sudah kembali pulih seperti biasa. Walaupun kakinya masih sedikit terasa sakit saat berjalan.
Namun kini ia sudah kembali kuliah.
Pagi itu semua berkumpul di meja makan untuk sarapan. Dinar tampak tidak selera makan walaupun menu makanan di depannya itu tampak menggoda.
Berbeda dengan Damar yang lahap menyantap makanan di depannya sambil sesekali tersenyum pada Alina. Ketika tak sengaja Alina melihat ke arahnya.
" Damar, kamu berangkat di antar supir untuk sementara jangan bawa motor sendiri." ucap Biru yang telah selesai sarapan dan hendak berdiri.
"ok pah,," jawab Damar sembari mengacungkan jempolnya.
" Dinar juga, berangkat sekalian sama Damar." Titah Biru lagi
"Kalau begitu papa berangkat duluan." Pamit Biru yang kemudian berjalan meninggalkan meja makan dengan di ikuti Alina di belakangnya.
Alina masih seperti biasa,, masih tetap setia mengantar Biru sampai di depan pintu rumah.
Setelah sampai di depan pintu,, Damar menghentikan langkahnya dan menghadap ke Alina di sampingnya.
"sayang,, sepertinya aku akan sedikit pulang terlambat. Pekerjaan sedang banyak di kantor. Kamu jaga diri baik baik ya di rumah kabari aku kalau terjadi sesuatu." pesan Biru pada Alina dengan mengusap lembut pipi istrinya itu.
"baiklah,,aku akan menunggu dirumah, dan tenang saja aku akan baik baik saja." Alina tersenyum manis pada Biru. Meyakinkan suaminya untuk tidak mengkhawatirkannya.
"aku akan sangat merindukan mu Alina." Ucap Biru memeluk Alina. setelahnya ia mengulurkan tangannya dan disambut Alina dengan ciuman di punggung tangan Biru. Setelah itu seperti biasa Biru mengecup kening Alina. Pemandangan yang sudah biasa di lihat supir Biru beberapa bulan belakangan ini.
" Bye sayang,,,." Biru melambaikan tangan dari dalam mobil. Setelah mendapat balasan lambaian tangan Alina, barulah mobil Biru melaju.
Setelah keberangkatan Biru,,Alina hendak masuk ke dalam rumah. Dan sebelum ia benar benar masuk, di pintu ia berpapasan dengan Damar dan juga Dinar. Alija melihat sorot mata tajam Dinar padanya.
"minggir parasit,,aku mau lewat!." ucap Dinar mendorong Alina dengan bahunya dengan sengaja.
" Dinar,, ati ati napa sih jalannya." tegur Damar yang berada di belakang Dinar. Dan melihat adiknya itu mengintimidasi Alina.
Berbeda dari biasanya Damar lebih ramah hari ini pada Alina. Membuat yang melihatnya merasa heran. Termasuk Violet yang saat itu berjalan di belakang Damar.
"aku kampus dulu ya." pamit Damar mengedipkan satu matanya pada Alina. Dan di balas senyuman juga anggukkan dari Alina.
" Kalian hati-hati ya di jalan. Semoga sekolah dan kuliahnya lancar." Ucap Alina sebelum Dinar san Damar berlalu. Sayang hal itu mendapat respon kurang baik dari Dinar. sedangkan Damar sendiri justru merespon dengan kembali mengedipkan satu matanya tak lupa sebuah senyuman tipis Damar.
Melihat perilaku Damar pada Alina membuat Violet terganggu. Dengan segera ia menghampiri Alina.
"Alina,,kamu kasih apa Damar. " tuduh Violet di depan Alina saat mobil yang membawa anak anaknya sudah melaju meninggalkan halaman rumah.
"maksud kak Vio apa ya?." Alina bingung dengan tuduhan Violet.
"hah,,,,,, kamu ini sok polos banget." Violet menatap sinis pada Alina dan kemudian berjalan ke mobilnya. Ia pergi meninggalkan rumah dengan perasaan kesal pada Alina.
🌷🌷🌷🌷🌷
Sementara itu di mobil yang mengantar Damar dan juga Dinar.
"emmmmm,,,,bang kamu kenapa sih?." tanya Dinar melihat kakaknya itu bersenandung ria dari tadi.
"apa???." Damar bingung dengan pertanyaan Dinar.
"itu hih,,,dari tadi bersenandung ria begitu." terang Dinar merasa kakaknya aneh.
"oh.......aku hanya merasa bahagia." jelas Damar.
"bahagia??" tanya dinar penasaran.
"ya aku lagi bahagia. Jelas saja aku bahagia. Aku senang karena hari ini aku kembali kuliah setelah hampir dua bulan nggak ketemu teman teman ku di kampus." Jawab Damar dengan senyum simpul nya.
"yakin karna itu??" Dinar merasa hal itu bukan alasan yang sebenernya. Dan ia pun masih penasaran.
"he'em..." jawab Damar mengangguk meyakinkan adiknya itu
"lalu tadi di rumah, kenapa abang belain pelakor itu." Dinar bertanya sedikit malas membahasnya.
"emmmm,,,aku tidak membelanya, aku hanya takut bahu mu itu sakit jadi aku menghawatirkan mu" kilah Damar yang tak ingin sang adik terlalu jauh membahas itu.
"jangan bilang karna dia telah merawat abang jadi abang baik-baikin dia." ucap Dinar penuh selidik. Dan kesal.
"hist,,,,,y nggak lah." Damar berkilah namun terlihat salah tingkah.
"bang,,,awas aja kalau abang baek baek trus ama itu parasit." ancam Dinar dengan menatap tajam Damar.
"apaan sih ah, bawel,," Damar menghindari tatapan adiknya itu dengan mengalihkan pandangan ke jalanan.
🌷🌷🌷🌷🌷
Di rumah,,Alina sedang sibuk membuat kue di dapur bersama para pelayan. Alina mulai suka membuat aneka kue sekarang. Menurutnya waktu akan terasa cepat berlalu saat ia melakukan banyak hal. Saat semua pergi dengan urusan masing masing Alina menyibukkan diri dengan merawat tanaman dan baru baru ini ia selalu berkreasi di dapur.
Menjelang sore Damar dan Dinar pulang,,setelah mengganti pakaian Dinar menuju meja makan.
"bik Darmi...." Dinar berteriak memanggil bik Darmi.
"iya non Dinar ada apa??" tanya bik Darmi menghampiri Dinar.
"aku mencium wangi kue coklat, aku mau,,bawakan untuk ku." titah Dinar dengan tetap asyik bermain ponsel tanpa sedikitpun melihat pada bik Darmi.
"nich kue.." Damar tiba-tiba datang membawa dua mangkok kue dan meletakan di depan adiknya.
"wawwwww,,,abang selalu tau yang aku mau.." Ucap Dinar dan langsung mengambil kemudian menyendokan kue itu ke mulutnya.
"ini enak banget kuenya bang." lanjut Dinar dengan terus memakan kue di depannya.
"jelas dong." jawab Damar yang juga menikmati kue nya.
Alina datang membawa dua gelas jus jeruk untuk mereka dan meletakkannya di meja bersama sisa potongan kue yang di bawa Damar tadi. Tanpa melihat Alina Dinar langsung mengambil jus itu dan meminumnya. Bahkan ia mengambil potongan kue lagi.
"uhuk uhuk uhuk.." Dinar tiba tiba terbatuk karna makan tanpa jeda.
"Dinar,,,pelan pelan,,ini minum." Alina sigap saat Dinar tersedak ia langsung mengambilkan air untuk anak tirinya itu.
"udah deh ganggu orang makan aja." sahut Dinar setelah ia merasa lebih baik dan kembali memakan kue nya.
"Din jangan judes gitu,, dia udah bikinin kue enak ini loh buat kita,, jus jeruknya jg. Masak masih kamu judesin aja makasih kek gitu.." tutur Damar kepada adiknya. Yang membuat Dinar sontak menghentikan makannya.
GUBRAK!!!!!!! Dinar seketika berdiri dan menggebrak meja sehingga membuat gelas jus di depannya tumpah. Alina dan Damar juga bik Darmi terkejut melihat sikap Dinar itu. Dengan mata melotot ia menatap Alina. Tanpa berkata apapun ia menyiram Alina dengan jus yang berada di gelasa Damar dan kemudian ia pergi begitu saja meninggalkan meja makan.
"Din,,,Dinar..." teriak Damar memanggil adiknya.
"emm....maafkan Dinar, aku akan menenangkannya.Kamu bersihkan dulu wajah kamu dan baju kamu juga,, berganti lah." ucap Damar mengusap lembut punggung tangan Alina yang masih duduk di depannya. Seolah menguatkannya. Setelah itu ia berlari kecil menaiki tangga mengejar Dinar.
"non,,nona nggak apa apa." bik Darmi menghampiri Alina dan tampak khawatir dengan nonya mudanya itu.
"aku ga apa apa bik,,tolong minta pelayan bereskan meja aku akan membersihkan diri " Alina segera berlalu dengan menahan air matanya yang sudah menggenang di pelupuk matanya.
__ADS_1
🌷🌷🌷🌷🌷
Semenjak kejadian itu Dinar selalu cuek dan ketus bila bertemu atau berpapasan dengan Alina. Terlebih saat kakaknya membela Alina sewaktu itu. Dinar telah mengadukan hal itu pada Violet. Dan kini Violet tengah berada di ruang tengah berdua dengan Alina.
"Apa sesunguhnya mau mu." tanya Violet pada Alina dengan ketus.
"maksud kak Vio apa?" tanya Alina polos.
"dulu kamu merawat Damar dan selalu memasak makanan untuknya,, sehingga Damar menjadi baik padamu. Dan sekarang Dinar kamu mau taruh obat apa untuk nya??apa kamu juga mau membuat dia baik pada mu??hah?!!!. cerca Violet dengan nada tinggi. Menuduh Alina yang bukan-bukan.
"aku nggak pernah ngasih yang aneh aneh kok kak..aku hanya memasak itu saja." jawab Alina jujur. Karena memang itu yang ia lakukan.
"nggak mungkin,,nggak usah pura pura polos,,kamu ingin merebut hati mereka kan.!!!!" Violet berapi api mencerca Alina. Ia tak akan rela Alina dekat dengan kedua anaknya.
"aku hanya ingin memiliki hubungan baik dengan kalian kak. Kita tinggal satu atap tapi kita seolah bermusuhan. Kita keluarga dan aku ingin hubungan layaknya keluarga. Itu saja." Alina berkata pelan namun Alina jujur.
"halah,,,ga ada ceritanya pelakor itu baik. Nyatanya kamu sudah merusak rumah tangga ku." Violet menatap Alina dengan kesal.
"ingat ya Alina,,kalau kamu berani sekali lagi membuat Dinar seperti kemarin. Menangis dan kelaparan sampai malam. Kamu akan nyesel." ancam Violet dengan jarinya menunjuk tepat di muka Alina.
Ya kemarin memang Dinar mogok makan malam sehingga pagi tadi ia makan sangat banyak. Seusai menceramahi Alina dengan bumbu ancaman,Violet berlalu pergi meninggalkan rumah. Sepeninggalan Violet Alina hanya diam meratapi nasibnya yang selalu di hakimi setiap ia membuat kesalahan sedikit saja. Padahal niatnya baik. Hanya selalu di salah artikan dan di salahkan.
🌷🌷🌷🌷🌷
Sejak hari itu Alina tak lagi memasak di dapur ia hanya memasak ketika Biru menginginkan makanan yang di masak Alina.
Dinar masih seperti biasa tampak selalu ketus saat melihat Alina.
Sedangkan Damar makin hari selalu berusaha dekat dengan Alina dengan cara selalu menyapa Alina saat mereka bertemu di rumah.
Siang itu Dinar melihat Alina sedang berjalan menuju taman samping rumah. Ia ingin kembali mengerjai Alina,, ia bermaksud mencelakai Alina untuk memberinya pelajaran. Begitu pikir Dinar. Ia pun memasang jebakan tikus di taman tempat Alina biasa mengisi waktunya merawat tanaman.
Alija berjalan menyiram i tanamannya. Tanpa di sadarinya,, kakinya menginjak sesuatu. Dan membuatnya memekik kesakitan.
"aww,,,aduh." pekik Alina yang kemudian berjongkok melihat kakinya.
"Alina,," Damar yang mendengar Alina mengaduh kemudian berlari menghampiri Alina.
"Alina,,kamu kenapa?" Damar panik melihat Alina yang meringis kesakitan. Sambil memegangi kakinya
"kaki ku,,aduh sakit.." pekik Alina sambil berusaha melepaskan kakinya dari jepitan alat jebakan tikus itu. Terlihat Alina menahan sakit itu dengan sesekali meringis
"sini aku bantu,,kok bisa gini sih." Damar,, perlahan membuka jepitan yang menjepit kaki Alina.
"aww....sakit." pekik Alina yang kini matanya berkaca kaca menahan sakit dan tangannya mengusap kakinya yang kini memar.
"ayo aku bantu kamu masuk,,kita obati kaki kamu." Damar berdiri kemudian membungkukkan sedikit badannya. Ia siap menggendong Alina.
" bang Damar!!!" teriak Dinar melihat kakaknya memegang tangan Alina saat hendak membantu Alina.
"abang ngapain,,lepasin ga!" Dinar berjalan menghampiri Damar dan kemudian memukuli tangan kakaknya agar melepaskan tangan Alina. Dinar tidak suka melihat sang kakak baik pada ibu tirinya.
" apaan sih Din, aku hanya ingin bantuin dia masuk." Damar menepis tangan Dinar yang menariknya untuk menjauh dari Alina.
"Dinar Damar,,ada apa ribut ribut." ucap Violet yang tiba tiba datang bersamaan dengan Biru di belakangnya. Dari depan mereka mendengar keributan dan langsung menuju taman. Dimaa sumber suaranya dari sana.
"Alina?!" Biru melihat Alina yang sedang terduduk di bawah dengan matanya yang berkaca kaca. Sembari memegangi kakinya.
Biru berlari kecil menghampiri istrinya itu. Ia terlihat sangat khawatir melihat keadaan Alina. Di ikut Violet di belakangnya. Yang juga penasaran apa yang terjadi.
" sayang,,,kamu kenapa??." Biru panik melihat Alina memegangi kakinya dengan wajah menahan sakit. Biru mengikuti pandangan Alina yang masih memegangi kakinya. Di sana Biru melihat kaki Alina yang memar.
"astaga,,,kenapa bisa sampai begitu sih. " Biru semakin khawatir dan menyentuh pelan kaki memar Alina. Ia mengusap lembut kaki sang istri.
"aw,,,jangan di pegang lagi. Itu sakit,,, aku akan mengobatinya,,bisakah aku minta tolong,bantu aku masuk ke dalam rumah." ucap Alina kepada Biru. Dan langsung di iyakan Biru dengan anggukan kepalanya. Biru bersiap menggendong Alina.
Namun tiba-tiba Violet dengan ketus nyeletuk.
"halah Alina,, nggak usah manja gitu lah,, itu hanya terjepit saja kenapa sampai seperti itu. Kamu bisa bangun sendiri kali. " ucap Violet mencemooh Alina. Tanpa tahu bagaimana sakitnya yang Alina rasakan.
Alina hanya diam mendengar itu.
" mah,,lihat lah kakinya memar seperti itu,,pasti lah sakit. " ucap Damar membela Alina,yang kemudian mendapat tatapan tajam dari mamanya.
Tanpa bicara Biru membopong Alina masuk membawanya ke kamar Alina. Alina mengalungkan tangannya di leher Biru dan menyandarkan kepalanya di dada bidang Biru. Merasa mendapat perlindungan air mata Alina tiba tiba meluncur begitu saja membasahi kemeja Biru.
"sayang,,,duduk lah di sini dulu aku akan mengambilkan obat. " ucap Biru setelah sampai di kamar dan perlahan menurunkan Alina di sofa.
" hei,,,kau menangis,,tidak,,jangan menangis sayang ada aku di sini tenang lah. " ucap Biru lagi saat Alina sudah turun dari gendongannya dan ia melihat ada air mata di pipi istrinya. Ia mengusap lembut air mata itu dengan kedua tangannya.
Tok tok tok
Suara ketukan pintu di luar membuat Biru beranjak dan membukanya. Melihat siapa gerangan yang ada di luar.
" Damar,,ngapain kamu di sini." ucap Damar saat melihat putranya berada di depan kamar Alina.
" aku membawakan ini pah." ucap Damar memperlihatkan kotak obat di tangannya.
Damar mengerutkan keningnya. Ia merasa aneh dengan sikap putra sulungnya itu. Yang tiba-tiba saja menjadi baik dan perhatian pada Alina. sampai-sampai mau membawakan obat ke kamar Alina.
" Oh,,, iyaaa,, kalau begitu terimakasih Damar,, sekarang pergilah dan jangan mendekati kamar Alina. Papa sudah pernah bilang itu kan dulu. " Biru menerima kota obat dari Damar dan langsung menutup pintu dan menguncinya. Biru tidak suka Damar mendekati kamar Alina. Karena ia takut putranya akan mencelakai Alinam begitu pikir Biru.
" lihat saja pa besok besok aku bahkan akan masuk ke kamar itu,, bukan hanya sekedar berdiri di depannya camkan itu. " ucap Damar pelan dari balik pintu dengan tersenyum sarkas.
Di dalam kamar,, Biru mengobati kaki Alina. Dengan berhati hati ia mengoleskan salep pada kaki Alina agar berkurang rasa sakitnya. Setelah itu Biru meminta Alina menceritakan kejadian yang menimpanya tadi.
" terima kasih suami ku,," ucap Alina tersenyum manis pada Biru. Setelah Biru selesai mengobati kakinya.
" hmmm,, sama-sama Istri ku..." balas Biru mencium kening Alina. Dan kini duduk di samping Alina.
" aku sudah lebih baik,,jadi suami ku,, kamu bisa kembali menemani kak Vio. " ucap Alina lagi setelah Damar melepas ciuman di keningnya.
" tidak aku di sini saja. " jawab Biru dengan malas ia bersandar di sofa.
" ini hari sabtu,, harinya kak Vio, jangan buat dia jadi kecewa nanti,, lagi pula aku benar benar sudah lebih baik. " Alina mengingatkan dengan senyum masih menghiasi bibirnya.
" ya ya ya ya,, baik lah istri ku tercinta, aku akan ke bawah. " berdiri dan dengan malasnya meninggalkan Alina. Jika bukan karena takut Alina kembali di salahkan maka biru enggan meninggalkan istrinya itu.
Biru dan Violet tadi memang pulang karna mengambil barang Violet yang tertinggal di rumah. Memang seperti biasa setiap hari sabtu Biru akan menghabiskan hari dengan Violet.
Setelah menuruni tangga dan bertemu kedua anaknya, ia ingin menanyai kedua anaknya itu perihal kejadian yang menimpa Alina.
Terlebih ia ingin menanyai Damar yang entah kenapa sikapnya itu aneh menutut Biru.
Tadi Biru sempat melihat putranya itu memegang tangan Alina. Tentu saja hal itu membuat Biru merasa aneh karna selama ini Damar selalu bersikap cuek pada Alina.
Belum sempat Biru menanyai kedua anaknya Violet datang menghampirinya dan menarik lengan Biru untuk mengantarkannya lagi ketempat yang tadi mereka tuju.
Setelah Biru pergi dengan segera Damar mendatangi Alina di kamarnya.
__ADS_1
"Hai Damar,,ada apa?? " Alina melihat Damar yang tiba tiba masuk kamarnya membuat Alina bingung karna setelah mengetuk beberapa kali Damar langsung masuk tanpa persetujuan Alina.
"hai...aku hanya ingin melihat keadaanmu." jawab Damar berjalan mendekati Alina di sofa.
"oh,,,aku sudah baikan kok. " Alina menjawab dengan tersenyum simpul.
" syukurlah.. " Damar berjalan mendekati Alina dan bersiap duduk di sampingnya.
" kalau kamu butuh sesuatu bilang saja,, aku akan membantu mu." tawar Damar yang kini telah duduk di samping Alina. Sembari melihat Alina lebih dekat.
" terimakasih Damar,, tapi saat ini belum, hanya aku ingin beristirahat saja." Alina menolak dengan santun. Agar tak menyinggung perasaan Damar yang sudah baik padanya.
" o iya Damara,,kamu ke sini apa papamu tahu? maaf karna papa mu selalu berpesan pada ku untuk tidak memasukan orang ke kamar tanpa ijinnya." tanya Alina khawatir Biru marah mengetahui Damar masuk ke kamarnya.
" oh.... ten,, tentu saja tahu. " jawab Damar gugup,karna dia berbohong.
(kalau aku meminta ijinnya mana mungkin dia menginjinkan..Entah lah kenapa dia sampai se protektif itu padamu.) gumam Damar dalam hatinya.
" Damar,,,aku akan beristirahat,,bisa kah kamu meninggalkan ku." pinta Alina dengan nada lembut agar tidak melukai perasaan Damar. Ia tak ingin hubungan yang sudah baik itu rusak lagi jika sampai Damar tersinggung dengan ucapannya.
"baiklah,,, aku akan membantumu ke tempat tidur. " Damar berdiri hendak menggendong Alina.
"eh Damar,,, tidak usah." Alina langsung menolak dengan halus.
" aku biasa istirahat siang di sofa." lanjut Alina berbohong. Ia tak ingin merepotkan Damar.
"baiklah kalau gitu aku keluar ya. kalau kamu butuh sesuatu panggil aku.." ucap Damar sebelum kemudian berlalu pergi.
🌷🌷🌷🌷🌷
Jauh di sana di tempat Biru berada. Ia tengah menerima telfon dari seseorang dengan muka yang tampak kesal. Entah siapa itu.
Malam hari setelah seharian Biru menemani Violet menghabiskan waktu bersama. Saat tiba di rumah ia segera manaiki tangga menuju kamar Alina. Membuka pintu dan menutupnya dengan kasar. Membuat kaget Alina yang sedang bermain ponselnya dengan bersandar pada ujung tempat tidur.
" tu tuan Biru,,, mmm maksud ku suami ku,ada apa???" Alina sedikit merasa takut dengan sikap Biru yang mendekatinya dengan tatapan matanya yang tajam. Tidak seperti biasanya. Ini kali pertama Biru seperti itu padanya.
" siapa yang membantumu naik ke ranjang." tanya Biru dengan nada tinggi dan dan tangan bersidekap di dadanya.
"aku,,,aku di bantu Sita. " terbata bata mengucapkannya karna takut melihat amarah Biru.
"katakan yang benar,,siapa!!!." Biru tidak mempercayai ucapan Alina dan justru membentak Alina.
"Sita sayang,,Sita yang membantu ku." berusaha setenang mungkin agar amarah Biru berkurang. Karena memang Sita sang asisten yang membantu Alina.
"kamu kan yang bilang bahwa ga boleh sembarangan orang masuk ke sini, jadi aku meminta tolong Sita saat ia mengantar makan malam ku tadi.." sambung Alina lemah lembut mencoba meredam emosi Biru.
" lalu,,,untuk apa Damar masuk ke kamar. " Cerca Biru masih dengan amarahnya.
"Dam..mar??Damar tadi hanya ,,hanya melihat keadaan ku." terbata bata menjelaskan pada Biru. Alina paham jika Biru marah karena itu.
(Bukankah Damar bilang,, papanya sendiri yang mengizinkannya masuk kesini. Lalu kenapa dia marah sekarang??.) gumam Alina dalam hatinya.
" benarkah hanya itu." Biru berjalan dan kini duduk di ujung ranjang menatap Alina dengan tajam.
" iya sayang,,apa lagi emangnya. Lagi pula dia kan putra mu. Dia hanya menghawatirkan keadaan istri dari papanya ini. " Ucap Alina lembut dan menampilkan senyum manisnya pada Biru. Ia berusaha meredam emosi suaminya.
Biru terdiam sejenak memandang netra istrinya mencari tahu kebenaran dari ucapan istrinya itu.
Sore tadi saat menemani Violet di sebuah caffe.
orang yang Biru tugaskan mengawasi Alina memberi tahunya bahwa Damar masuk kamar Alina.
Selama ini Biru memang meminta orang mengawasi Damar dan Alina. Ia merasa curiga dengan Damar yang belakangan ini perhatian dan semakin dekat dengan Alina. Tidak seperti perhatian seorang anak pada sang ibu.
Biru memang sangat tidak suka melihat Alina dekat dengan pria lain apalagi pria itu berusia lebih mudah darinya. Biru takut kalau kalau Alina berpaling darinya dan meninggalkan nya. Biru pencemburu bila menyangkut Alina. Bahkan pada putranya sendiri.
Malam itu ia benar benar emosi karna info yang ia dapat melalui sambungan telefon sore tadi.
"hmmm apa suami ku ini sedang cemburu??" goda Alina menghilangkan salah tingkahnya karna di tatap Biru seperti itu.
"maafkan aku sayang,,,aku bisa apa punya istri cantik dan muda seperti ini membuat ku takut. " ucap Biru mendekati Alina dengan tatapan yang sudah berubah tidak setajam tadi.
"hmm,,,jangan seperti itu lagi,,membuat ku takut. " Alina berkata dengan senyum tipisnya. Ketika melihat emosi Biru mulai mereda.
" iya,,maafkan aku. " Biru meraih tubuh Alina dan memeluk Alina dengan hangat.
"sekarang udah malem,,apa tidak bersih bersih dulu. Bajunya sudah mau keringat tau. " goda Alina yang berhasil membuat Biru tersenyum gemas.
" Iya iya,, aku akan mandi dan tidur." Biru melepas pelukannya dan mengusap pipi Alina sebelum ia pergi ke kamar mandi.
Sebelum tidur,,, Biru dan Alina terlibat obrolan hangat. Biru banyak bercerita pada Alina. Sedangkan Alina dengan seksama mendengarnya. Biru merasa nyaman saat Alina berada di sampingnya. Meletakkan kepalanya pada bahu Biru dan saling menautkan kedua tangannya.
" Suamiku,,, boleh kan aku bertanya? Tapi janji jangan marah." Meski ragu,,, tapi Alina ingin menanyakan sesuatu pada Biru.
" Apa sayang??." Biru menggeser posisi duduknya dan menghadap Alina yang sudah lebih dulu mengangkat kepalanya dari bahu Biru.
" Maaf aku hanya ingin tahu,, kenapa kamu semarah itu tadi saat tahu Damar masuk ke kamar ku. Bukankah kamu sendiri yang bilang bahwa kamu ingin membiasakan anak-anak bersikap baik pada ku. Lalu kenapa sekarang kamu marah saat Damar baik padaku." Tanya Alina memberanikan diri ingin tahu kenapa sikap suaminya seperti tadi.
"Bukan begitu sayang,, aku hanya takut Damar,,,,," Biru tidak mungkin mengatakan bahwa ia takut Damar mengambil hati Alina.
" Belakangan ini aku melihat Damar memberikan perhatian lebih padamu. Aku tajut jika ia jatuh hati padamu. Jadi aku tidak suka saat mendengar dia masuk ke dalam kamar kamu." Begitu aku Biru. Dan hal itu membuat Alina tertawa memekik. Ia tak menyangka Biru berpikir sampai ke arah itu.
Merasa di tertawakan sang istri,, Biru dengan gemas memcubit hidung Alina.
" Eh,,, berani yaa menertawakan ku." Ucap Biru.
" Bukan begitu. Maaf kan aku. Tapi Damar itu putra kamu. Jadi aku rasa tidak mungkin dia seperti itu. Dan bahkan jika dia mau jatuh hati. Masih banyak teman-teman kuliahnya yang seumuran dengannya." Alina mencoba menenangkan Biru yang kini memiliki rasa khawatir.
" Yaaa,,, semoga saja begitu. sudahlah lupakan hal itu." Biru mulai menarik kembali Alina dalam dekapannya.
" Mari kita tidur." Biru membaringkan Alina di sampingnya.
" Sayang,, apa kaki kamu sudah lebih baik." Tanya Biru.
" Yaaa lumayan." Jawab Alina.
" Berarti aku akan tetap meminta hak ku malam ini." Biru yang tanpa menunggu persetujuan Alina itu sudah mulai bergerilya menjamah bagian tubuh Alina dari balik selimut.
Ya,, Biru memang tidak pernah melewatkan satu kali pun kesempatan untuk melakukan itu saat bersama Alina. Hasratnya memang selalu menggebu saat bersama Alina.
Malam itu akhirnya terjadi bergolak di atas ranjang Alina dan biru. Dan berakhir setelah keduanya benar-benar merasa lelah. Tak lupa Biru selalu mencium kening Alina setiap kali selesai melakukan hal itu. Baru kemudian mereka mandi bersama. Biru masih tetap menggendong Alina ke kamar mandi. Sama seperti saat pertama kali dulu.
Semenjak hari itu Biru semakin protektif mengawasi Alina. Dan Alina semakin menjaga jarak dengan Damar agar Biru tak marah lagi sepeti malam itu. Meski ke depannya nanti pasti akan ada kesalah pahaman selanjutnya. Setidaknya Alina sudah berusaha.
🍒🍒🍒
Terima kasih sudah membaca. Jangan lupa tinggalkan LIKE juga komennya ya.
TERIMAKASIH..🙏🙏🙏
__ADS_1