
Biru memang benar benar sibuk, bahkan sekarang Alina juga jarang bertemu dengannya. Violet dan Dinar masih asyik dengan kegiatannya berbelanja kesana kemari.
Damar hanya sesekali ikut mamanya. Sedangkan Alina, semenjak bertemu Abi, ia semakin bersemangat liburannya. Karna Abi menepati janjinya. Ia mengajak Alina menjelajahi wisata yang ada di kota itu.
Ini bahkan sudah hari ke lima Alina berlibur di sini. Dan baru tiga hari mengenal Abi, namun mereka sudah tampak akrab. Meskipun Alina terlihat sedikit menjaga jarak dengan Abi.
Hari ini Damar melihat Alina berjalan bersama Abi, tertawa bersama. Membuat Damar geram saja. Saat bersama Abi, Damar melihat tawa Alina.
Dan Malam ini saat Biru belum kembali ke hotel. Dengan berani Damar masuk ke kamar Alina yang kebetulan tidak terkunci. ia langsung menerobos masuk.
" Alina,, siapa laki laki itu " tanya Damar ketika melihat Alina sedang memainkan ponselnya.
" Damar,, kamu bisa masuk kamar ku." Alina heran melihat Damar yang tiba tiba ada di kamarnya dan datang dengan marah marah seperti itu. Alina lupa bahwa ia tak mengunci pintu.
" jawab saja Alina, siapa laki laki itu." Damar menarik tangan Alina dan mencengkram pergelangan tangan Alina.
" Damar lepasin ini sakit," Alina meronta ingin melepaskan cengkraman Damar.
" kamu main belakang ya dari papa ku." ucapan Damar yang membuat Alina membulatkan matanya tidak terima.
" dia bukan siapa siapa. Dia hanya teman ku, dia yang menunjukan aku tempat tempat wisata di sini." jelas Alina datar.
" apa dia lebih kaya dari papa jadi kamu mau dekat dengannya, dengan dalih menunjukan tempat wisata." Damar menuduh Alina yang bukan-bukan.
" tidak ada modus apapun antara aku dan dia Damar. Mengertilah, aku tidak tahu apapun tentang kota ini. Dan dia datang menawarkan pertemanan pada ku. Itu saja,," Alina masih berusaha meyakinkan Damar. Namun sepertinya Damar tersulut emosi ia kini justru semakin kuat mencengkram pergelangan tangan Alina.
" kenapa tidak pergi saja dengan ku, aku sudah menawarkan mu untuk berjalan jalan bukan hari itu." Damar meninggikan suaranya.
" Damar, maaf kan aku,, kamu pergi dengan mama dan juga adik mu. Mana mungkin aku mau mengganggu kebersamaan kalian." Alina terlihat mengaduh menahan sakit.
" nyatanya sudah sejak lama kan kamu mengganggu kebersamaan keluarga ku." Damar masih menyeringai.
" itu beda cerita Damar, tolong lepaskan tangan ku." Alina masih berusaha melepaskan tangannya.
" Alina,, tinggal kan ayah ku dan pergi bersama ku sejauh mungkin." perkataan Damar membuat Alina membelalakkan matanya.
" ya Alina aku suka kamu,, dan akan lebih baik jika kita bersama bukan. Kamu tidak akan di cap pelakor lagi, kamu tidak akan menjadi istri simpanan. Jadi tunggu apa lagi Alina, tinggalkan papa ku dan biarkan ia bahagia bersama mama ku. Kamu akan bahagia bersama ku." Damar melembutkan sedikit suaranya. Meyakinkan Alina tentang perasaannya.
Alina tak menyangka Damar akan berkata seperti itu. Dan lagi Alina bingung harus bersikap seperti apa dan bagaimana.
Ia benar benar terkejut dengan pernyataan Damar barusan. Sedang kan Damar,, entah sejak kapan dia menyukai Alina. Namun baginya sikap ramah Alina membuatnya nyaman. Saat ia sakit dan Alina merawatnya dulu, saat itu Damar mulai merasa ingin selalu dekat dengan Alina.
Selama ini ia berusaha mengatakan itu pada Alina. Namun gadis itu justru semakin menjauhi nya dan semakin mesra dengan papanya. Hari ini Damar tak bisa menahan lagi perasaanya. Setelah melihat Alina bersama pria lain Damar semakin tidak tahan untuk segera mengungkapkan perasaannya. Damar takut jika Alina jatuh ke tangan pria lain.
Bukan tanpa alasan Damar berfikir seperti itu. Selama ini Damar tahu jika Alina menikah dengan sang papa karena perjodohan. Dan ia juga tahu bahwa sang papa yang memaksa Alina. Dan kini saat ia melihat Alina dekat dengan pria lain. Ia takut Alina akan jatuh pada pria itu. Dan membuatnya patah hati.
__ADS_1
Alina hanya diam tak bergeming. Karna itulah Damar membanting tangan Alina dan pergi begitu saja meninggalkan Alina. Damar ternyata merasa malu setelah mengungkapkan isi hatinya pada Alina. Sebab itulah ia memilih untuk pergi.
Tanpa Damar ketahui bahwa Biru melihatnya keluar dari kamar Alina dengan raut wajah yang sulit di tebak.
Takut terjadi sesuatu pada istrinya. Biru yang baru kembali ke hotel itupun segera masuk kamar Alina dan melihat Alina terduduk di ranjang dengan raut wajah tak biasa bahkan Alina tak menyadari Biru berada di kamarnya.
" sayang,, kamu kenapa?" tanya Biru mengusap lembut pipi Alina. Membuat Alina terhenyak dan segera menetralkan perasaannya yang sempat di buat bingung oleh Damar.
" oh,,, eh,,, sayang,, sejak kapan di situ. Maaf aku sedikit melamun tadi." Alina berusaha tersenyum seperti biasa.
" apa Damar melakukan sesuatu padamu." tanya Biru melihat Alina yang seperti menyembunyikan sesuatu.
" tidak,, tentu saja tidak,, Damar hanya mencari mu tadi." kilah Alina. Ia tahu pasti Biru melihat Damar keluar dari kamarnya.
" oh begitu,, o iya bagaimana liburan kamu hari ini." Biru mengalihkan topik agar Alina tak merasa tertekan dengan pertanyaan barusan.
🍎🍎🍎🍎🍎
Setelah semalam menceritakan pada Biru bahwa ia menikmati liburannya bersama teman yang baru ia temui. Hari ini Alina kembali berjalan jalan bersama Abi. Daripada tetap di hotel dan bertemu Damar lagi. Lebih baik Alina berjalan jalan. Tentu saja semalam Alina tidak memberi tahu Biru bahwa temannya itu adalah pria. Jika Biru tahu, maka Alina tidak akan lagi bisa bebas seperti ini.
" Alin,, istirahat yuk, capek." keluh Abi yang langsung duduk di kursi panjang di ikuti Alina.
" Abi, makasih ya, udah nemenin aku beberapa hari ini." Alina bersyukur mengenal Abi karna Abi, Alina bisa menjelajahi kota ini selama lima hari ini.
" tentu saja,, oh iya Lin,, suami kamu dimana? masih sibuk juga." tanya Abi dan belum sempat di jawab oleh Alina karna perut Alina yang lebih dulu menjawab.
Abi dan Alina berjalan menyusuri jalan dan mereka memasuki sebuah restoran yang menjual makanan Indonesia.
" Alina pesan saja apa yang ingin kau pesan aku akan mentraktir mu." ucap Abi saat mereka hendak memilih menu makanan.
" beneran nich,, nanti kalau uang kamu habis buat traktir aku bahaya lo." Alina kemudian tertawa bersama Abi.
" tenang aja ntar aku kasbon sama bos aku." Abi tak kalah terbahak dengan Alina.
Setelah menunggu beberapa saat akhirnya makanan pesanan mereka pun datang. Alina dan Abi tampak menikmati makanan mereka.
" kamu badannya kecil makannya banyak ya Lin." ucap Abi sambil mengelap pinggiran bibir Alina yang sedikit belepotan. Membuat Alina merasa canggung.
" hehe,, ya gitu lah. Makasih Abi, biar aku sendiri aja." ucap Alina mengambil tisu dari tangan Abi.
Tiba tiba saja Violet dan Dinar datang. Dan terjadilah salah padam di sini.
" oh,,, jadi gini ya Alina tingkah kamu di belakang Biru. Kamu punya pacar ternyata." tuduh Violet.
" eh nyonya,, saya bukan pacarnya." Abi berusaha membela Alina yang tampak diam ketakutan saat itu.
__ADS_1
" diam kamu,, kalian sama saja. Asal kamu tahu ya, wanita di depan kamu ini sudah bersuami dan kamu tahu, dia itu pelakor." ucap violet menggebu dan terus mencaci. Membuat Abi terkejut membulatkan matanya menatap Alina tak percaya. Yang di tatap hanya diam saja.
" Alina,, aku akan melaporkan ini pada Biru dan tunggu nasib mu selanjutnya. Biru sangat membenci perselingkuhan." ancam Violet dan kemudian pergi meninggalkan Alina dan juga Abi.
Dinar yang berada dibelakang Violet hanya menjulurkan lidah meledek Alina seakan menertawakannya.
" Lin,, tenang lah," Abi berusaha menenangkan Alina. Namun Alina justru diam seolah baik baik saja.
" Abu,, lanjutkan makan mu. Mubazir tahu kalau nggak habis,,,, ini udah di bayar mahal." Alina berkata seolah tidak terjadi apa apa. Membuat Abi semakin kagum dengan ketegaran wanita di depannya itu.
(mungkin dengan begini tuan Biru akan meninggalkan ku, dan aku tidak perlu susah mencari alasan untuk berpisah. Dan membuat keluargaku aman.) Batin Alina, dia tetap tersenyum menghabiskan makanannya.
" Alina,, aku turut prihatin dengan kisah mu. Aku nggak nyangka gadis periang seperti mu ternyata menyimpan cerita pelik begitu." ucap Abi setelah mendengar Alina bercerita bahwa ia adalah istri ke dua. Abi memaksa Alina untuk bercerita jadi Alina pun dengan terpaksa menceritakan semuanya. Dan wanita tadi adalah istri pertama dan juga anak dari suaminya.
" Abi,, terimakasih untuk lima hari ini. Semoga kebaikan mu di balas setimpal oleh yang maha kuasa. Mungkin esok kita tidak akan bertemu lagi. Jadi sorry ya kalau selama beberapa hari ini aku selalu ngrepotin kamu. Thanks untuk waktunya Abi. Dan see you." Alina masuk kedalam hotel setelah berpamitan pada Abi. Abi sengaja mengantarkan Alina sampai di hotel. Tidak seperti biasanya. Alina memasuki kamarnya dengan ragu ragu. Takut jika ternyata Biru sudah berada di kamarnya dan siap memberinya hukuman.
Dan benar saja,,, Biru sudah berada disana. Menunggunya di dalam kamar.
" baru pulang?!," ucap Biru mengagetkan Alina yang baru saja menutup pintu kamarnya.
" i ya,," meskipun gugup Alina tetap tersenyum menutupi ke kegugupannya.
" siapa pria itu Alina." Biru langsung menghampiri Alina. Dan menatap tajam dirinya.
" dia hanya teman, teman yang kebetulan bertemu di sini." jelas Alina gemetar melihat Biru yang sudah emosi di depannya.
" teman??!!" Biru semakin mendekati Alina dan mencengkram kedua lengannya dengan geram
" iya teman." Alina semakin ketakutan melihat amarah Biru.
" teman,, kenapa kalian mesra begitu, kenapa jalan bersama makan bersama bahkan kalian mesra di rumah makan itu, di tempat umum. Katakan Alina, teman macam apa yang bermesraan di hadapan umum begitu." Biru tiba tiba mendorong tubuh Alina hingga Alina jatuh tersungkur di lantai.
" aku tidak bermesraan,, kami hanya makan biasa." Alina matanya sudah berkaca kaca. Baru kali ini Biru memperlakukan Alina sekasar itu.
" bohong kamu Alina!! jelas-jelas Violet dan Dinar melihat semuanya, kalian bahkan saling menyuapi kan di sana dan kamu membiar kan dia menyentuh pipimu, apa begitu seorang teman. hah!!!" Biru semakin tersulut emosi. Ia menjambak rambut Alina kuat sehingga membuat Alina kesakitan.
" tidak,, tidak seperti itu, tidak ada saling menyuapi,, aku mohon percayalah." Alina menahan sakit di kepalanya. Bahkan satu tamparan sudah mendarat di pipi mulusnya. Meninggalkan bekas di pipinya.
Violet dan Dinar telah mengadu pada Biru tentang Alina yang bersama Abi tadi. Namun mereka mengarang cerita bahwa Alina bermesraan bersama Abi. Mereka memang sengaja ingin membuat Biru memarahi Alina dan kemudian membenci gadis itu. Karna Biru akan mengira Alina mengkhianatinya. Begitulah rencana Violet.
Biru kalap dan terus menyakiti Alina. Sedangkan Alina hanya diam, ia berfikir mungkin setelah ini Biru akan meninggalkannya. Bukankah itu inginnya, walau perih hatinya. Namun demi keluarganya, mungkin memang harus begini. Di saat Alina sudah memberikan hatinya untuk Biru, namun justru hal lain terjadi. Membuatnya harus meninggalkan Biru. Ancaman itu benar benar mengoyak hatinya. Alina sangat ingin tahu siapa dalang yang selama ini selalu mengiriminya ancaman dan teror itu.
🍒🍒🍒🍒🍒
Terimakasih sudah membaca,, jangan lupa tinggalkan LIKE nya ya setelah membaca.
__ADS_1
Krisan silahkan di kolom koment. Tunggu kisah Alina selanjutnya. Terimakasih 🙏🙏😊