Takdir Alina

Takdir Alina
Liburan....


__ADS_3

Setelah melakukan perjalanan beberapa jam dengan pesawat. Mereka sampai di tempat tujuan mereka. Sebuah negeri empat musim yang terkenal dengan keindahan salah satu kotanya. Damar merasa tidak bersemangat liburan kali ini sebelum akhirnya ia melihat Alina. Dan membuat senyuman terbit dari bibirnya itu. Saat di pesawat tadi Alina tidak bersama mereka. Alina mendapat bangku penumpang yang cukup jauh dari Biru dan yang lainnya.


Saat turun dari pesawat pun Alina juga terpisah dari mereka. Sehingga Biru harus menjemput Alina terlebih dulu.


" Biru,, kenapa dia di sini." tanya Violet sinis dengan menatap Alina tidak suka.


" tentu saja Vi, dia istri ku juga jadi aku pun mengajaknya." Biru masih dengan menggandeng Alina menjawab dengan santainya.


" ah papa,, ini kan liburan keluarga." Dinar merengek bak anak kecil.


" dia juga anggota keluarga kita" tegas Biru menatap sejenak Alina di sampingnya. Dengan senyum bahagianya.


" pa,, apa hotelnya jauh??" tanya Damar yang sudah tidak sabar ingin rebahan itu. Yang pasti ia juga ingin mengobrol dengan Alina yang telah lama ingin ia temui.


" tidak terlalu." jawab Biru berjalan mendorong koper miliknya dengan satu tangan masih menggandeng Alina. Membuat Violet kesal saja.


" Biru,, ini tempat umum. Nggak seharusnya kamu gandeng dia. Aku ini istri mu Biru. Harusnya aku yang kamu gandeng begitu." Violet berjalan cepat menggeser tubuh Alina. Alina hanya menggeleng dan tersenyum simpul.


" Vi,, kamu asyik selfi selfi dari tadi. Jadi ya aku gandeng Alina lagi pula nggak akan ada yang melihat aku bersama Alina di sini." ucap Biru datar.


" ya sudah, Alina jalan aja duluan atau nggak di belakang. Aku mau di sini, agar tak ada lagi masalah ketika ada yang melihat kita." Violet mencari alasan agar bisa berjalan dengan Biru. Dengan cepat ia meraih tangan Biru dan menariknya berjalan bersama. Meninggalkan Alina di belakang.


Kesempatan untuk Damar mendekati Alina.


" hai,, jangan jauh jauh jalannya. Nanti kamu ilang." Damar mendekati Alina yang masih diam di tempatnya. Ia mengajak Alina berjalan bersama. Namun sayangnya Dinar lebih dulu berhasil menarik tangan Damar dan berjalan lebih dulu. Dinar tidak suka sang kakak dekat-dekat dengan Alina.


Alina mengikuti mereka dari belakang. Pandangannya tak lepas dari empat orang di depannya. Ia merasa takut kehilangan jejak orang orang itu. Karna bandara saat itu sangat ramai. Berulang kali Alina bertabrakan dengan orang yang berlalu lalang dan membuatnya terkena umpatan dalam bahasa asing. Alina tak peduli ia hanya menunduk dan mengucapkan sorry. Namun matanya tetap fokus ke depan. Ini adalah pertama kalinya Alina keluar negeri tentu saja Alina merasa kesulitan.


" Dimana Alina." Tanya Biru yang tak melihat Alina di belakangnya. Ia sedikit panik kala itu.


" Ada pah tadi di belakang kita." Jawab dinar santai.


Biru memperhatikan sekeliling mencari Alina. Sedangkan Violet dan Dinar asyik berfoto-foto.


Hingga akhirnya ke khawatiran Biru mereda ketika melihat Alina muncul dari kerumunan orang-orang di sana.


" Sayang,, kamu baik-baik saja?." Tanya Biru khawatir. Ia melihat Alina dan mendekatinya.


" Yaaa,,, aku baik-baik saja. Hanya sedikit kesulitan menemukan jalan. Membelah kerumunan banyak orang." Jelas Alina.


" Syukurlah,,, kita tunggu mereka sebentar yaa. Setelah itu kita ke hotel." Ucap Biru menunjuk Dinar dan Violet.

__ADS_1


Setelah beberapa lama menunggu Violet dan Dinar mengambil banyak foto di luar bandara tadi, kini mereka melanjutkan perjalanan ke hotel. Sampai di hotel, sesuai kesepakatan tadi bahwa Biru satu kamar dengan Violet.


Apalah daya meskipun Biru ingin bersama Alina, namun demi menjaga citranya ia harus tetap menyembunyikan Alina.


Terlebih banyak juga rekan bisnisnya yang menginap di hotel ini. Empat kamar berjejer, pilihan Biru agar tidak jauh jauh jika ingin menemui Alina. Namun tetap saja kamarnya dengan Alina terhalang satu kamar yang di tempati Dinar. kamar Damar sendiri berada di samping Alina. Hari itu,, setelah menyegarkan badan Alina memilih tidur untuk menghilangkan lelahnya. Ini adalah kali pertamanya terbang dengan pesawat yang menamakan waktu berjam-jam. Dan itu cukup membuatnya kelelahan. Sedangkan yang lain lebih pun sibuk dengan kegiatan masing masing.


Tok tok tok


pintu kamar Alina ada yang mengetuk, Alina pikir mungkin itu Biru. Ia pun bergegas membukakan pintu. Namun dugaan Alina salah. Dan yang datang adalah


" Damar,, ada apa??" Alina heran kenapa Damar mengetuk pintunya.


" apa kau sedang bersama papa?" tanya Damar mengintip ke dalam.


" tidak,," Alina menjawab singkat.


" sedang sibuk tidak." kembali Damar dengan ragu bertanya pada Alina.


" tidak juga." Alina menggelengkan kepala.


" bagaimana kalau kita berjalan jalan di sekitar hotel." ajak Damar.


" sayang,, kamu sakit." Biru tiba tiba saja datang dan mendekati Alina menggeser Damar begitu saja. Ia begitu khawatir ketika mendengar perut Alina mual tadi.


" papa,, main tubruk aja, sakit bahu Damar." Ucap Damar kesal. Ia memegangi bahunya yang tersenggol Biru.


" maafkan papa Damar." mengusap bahu Damar yang langsung di hindari oleh Damar.


" lagian papa lebay banget,, dia tu cuma bilang mual aja segitu paniknya." Damar kembali ke mode juteknya. Dan pergi begitu saja kekamarnya menutup pintu dengan keras. Membuat Alina dan Biru menatap heran.


Setelah Damar masuk kamar, Biru pun membawa Alina masuk ke kamarnya.


" sayang,, dimana kak Vio." tanya Alina ketika mereka sudah duduk bersandar di ujung ranjang.


" tidur." Biru menjawab singkat dengan mata terpejam.


" apa yang menganggu pikiran mu." Alina melihat Biru seakan sedang memikirkan sesuatu.


" tidak ada,, sayang apa perutmu masih mual." tanya Biru membuka matanya dan melihat Alina seakan mengalihkan pertanyaan Alina.


" sedikit,, mungkin aku mabuk perjalanan. Saat di pesawat tadi aku baik baik saja. Hanya perut ku sedikit merasa aneh, seperti kram." Aku Alina

__ADS_1


" sekarang gimana?" tanya Biru khawatir.


" tidak apa-apa sayang,,. mungkin karena ini pertama kalinya aku naik pesawat,, jadi itulah sebabnya perut ku merasa tidak nyaman." Alina meyakinkan Biru.


" sayang,, kau kurusan tapi sepertinya perutmu sedikit berbeda, apa kau menyembunyikan sesuatu dari ku." Biru seakan mengira bahwa Alina menyembunyikan kehamilannya. Ia mengamati perut Alina yang membuncit.


" emmm,,,, sayang,, aku tidak tahu, aku belum memeriksakannya bahkan mengeceknya sendiri pun belum. Ya aku memang sudah beberapa bulan tidak datang bulan. Dan kau tahu, belakangan ini aku sering sekalli merasa lelah tanpa sebab." Alina dengan bingung berkata pada Biru.


" mmm,,, apa di dalam sana ada junior papa?" Biru tiba tiba merosot kan tubuhnya dan meletakan telinganya di perut Alina. Membuat Alina merasa aneh.


Tentu saja Biru mengira bahwa Alina sedang mengandung. Ia sedikit banyak mengetahui tentang tanda tanda kehamilan seperti saat dulu saat Violet mengandung Damar.


Sampai usia kandungannya memasuki lima bulan Violet baru sadar bahwa ia sedang mengandung. Jika perutnya tidak membuncit dan ada yang bergerak di dalamnya mungkin Violet tidak akan tahu bahwa di rahimnya ada kehidupan.


Sebagai suami Biru diam diam mengingat perilaku Violet beberapa bulan belakangan waktu itu.


Dan hal yang sama terjadi pada kehamilan kedua Violet. Violet begitu cueknya tidak menyadarinya. Sehingga Biru membawanya ke dokter kandungan. Dan benar saja saat itu Violet sudah hamil empat bulan.


Biru tidak mau Alina seperti itu karna itu akan menyakiti bayinya.


" sayang, pulang dari sini kita ke dokter ya." ajak Biru setelah ia kembali duduk di sebelah Alina.


" hmm,,, baiklah." Jawab Alina tersenyum tipis dan menganggukan kepalanya. Ia bahagia ternyata Biru seantusias itu. Tapi ia juga takut mengecewakan Biru.


🍎🍎🍎🍎🍎


Sudah dua hari di sini Alina tidak melakukan apapun dan hanya diam di kamar. Bagi Alina itu hal biasa. Sendirian di kamar sudah biasa Alina jalani sebelumnya. Biru sudah meminta Violet mengajaknya berjalan jalan bersama Dinar dan Damar selama ia bekerja. Namun Violet menolak dengan alasan menjaga citranya sebagai istri Biru. Takut takut jika di jalan bertemu istri relasi bisnis Biru atau bahkan bertemu teman sosialitanya.


Awalnya Damar sudah menawarkan diri untuk menemani Alina. Namun Violet melarangnya. Dan membawa Damar bersamanya.


Sedangkan Alina tentu saja ia tidak berani keluar sendiri. Ia benar benar asing di sini. Ingin berjalan jalan keluar namun takut tersesat. Itulah sebabnya saat ini ia memilih diam di kamar. Alina hanya menikmati pemandangan di luar sana lewat balkon kamarnya.


Violet dan kedua anaknya benar benar menikmati liburan mereka dengan menjelajah berbagai tempat wisata di negeri ini.


Di musim gugur seperti saat ini, udara terasa sedikit dingin dari biasanya. Alina hari ini memberanikan diri keluar kamarnya. Melihat lihat pemandangan di sekitar hotel. Daun daun berguguran dan pemandangan alam lainnya.


Alina menikmati itu, senyuman manisnya diam diam di abadikan oleh Damar dengan ponselnya. Ia baru kembali dari mengikuti mama dan adiknya tadi, dan saat hendak masuk ke dalam hotel ia melihat Alina di taman hotel. Setelah melihat Alina dan mengabadikan senyuman manis Alina. Damar masuk kedalam hotel dengan senyuman yang tak hilang dari wajahnya.


🍒🍒🍒🍒🍒


Terimakasih sudah membaca,, jangan lupa tinggalkan LIKE nya ya,,,,biar makin semangat nich nulisnya,, hehehehehe. Krisan silahkan di kolam koment. Terimakasih semua atas dukungannya. Nantikan kelanjutan kisah Alina selanjutnya ya. Terimakasih 🙏🙏🙏🤗

__ADS_1


__ADS_2