
Sudah empat hari semenjak kejadian hari itu, Alina tidak di ijinkan keluar kamar oleh Biru. Sita pelayan yang tugasnya mengurusi keperluan Alina selalu menemani Alina berjaga di luar kamar. Meskipun Alina selalu meminta Sita untuk masuk dan duduk bersamanya.
Namun Sita selalu menolaknya. Alina merasa sangat bosan sekali. Bahkan sebenarnya kakinya itu sudah sembuh dan bisa kembali berjalan. Entah kenapa Alina masih saja di kurung seperti tawanan.
Hari itu di lantai bawah sedang sangat ramai sekali. Banyak orang berlalu lalang. Mereka sibuk mendekor lantai bawah yang nantinya akan di gelar pesta megah untuk ulang tahun pernikahan Violet dan Biru.
Ya tentu saja tanpa Alina ketahui.
Malam itu Biru datang ke kamar Alina. Tidak seperti yang biasanya,Biru sepulang kerja langsung menemuinya. Namun kali ini saat hari sudah malam Biru baru mendatanginya.
"suami ku,,apa pekerjaan di kantor begitu banyak??,kau terlihat lelah sekali." ucap Alina saat melihat wajah Biru yang lesu tidak seperti biasanya. Yang selalu sumringah saat masuk ke kamar Alina.
"bisakah kau memanggil ku sayang." pinta Biru masih dengan memejamkan matanya dan bersandar pada sofa.
" sa,,,, sayang??." tanya Alina mengulangi permintaan Biru yang membuatnya canggung.
"iya,,sayang,,kau keberatan??." Biru membuka mata dan bangun dari bersandarnya kemudian menatap Alina.
"S**AYANG,,jelas kan,, S A Y A N G,, aku mau di panggil sayang. Bukankah sudah hampir satu tahun kamu menjadi istri ku. Kenapa manggil sayangnya jarang jarang**." lanjut Biru dengan menggerak gerakan ke dua alisnya. Ia protes karena Alina masih merasa canggung untuk memanggilnya dengan sebutan itu. Biru merasa bahwa Alina masih belum sepenuhnya menerima dia sebagai suaminya. Bahkan terbersit di benak Biru bahwa Alina belum bisa mencintai Biru seperti Biru mencintai dirinya.
" Please,,, aku mau kamu memanggil ku dengan sebutan itu. Sekarang aku mau dengar." Ucao Biru merajuk.
Melihat hal itu Alina mencoba menuruti maunya Biru.
"hmmm,,, baiklah akan aku coba. Sa,,,,, sa,, sayang." ucap Alina terbata. Dan sepertinya merasa berat mengatakan hal itu. Hal yang mudah dilakukan nya dulu saat bersama Bagus.
Mendengar hal itu Biru sangat bahagia dan ia ingin Mendengar nya sekali lagi dari Alina. karena Biru ingin Alina terbiasa memanggilnya dengan sebutan sayang.
"sekali lagi dan harus jelas." pinta Biru menggoda Alina.
" iya sa,,,, sayang..." dengan senyum tipis Alina mengucapkannya. Meskipun terasa canggung bagi Alina. Biru kemudian merengkuh Alina. Mendekapnya begitu erat. Dan berulang kali menciumi seluruh wajah Alina.
"mulai hari ini dan seterusnya,,selalu panggil aku dengan sebutan itu ya." ungkap Biru dengan binar bahagia di wajahnya. Ia begitu bahagia malam itu.
"sayang,,hentikan,,sudah cukup. Alina merasa geli dengan perlakuan Biru yang terus menciuminya tanpa henti.
Dan akhirnya Biru melepaskan dekapannya juga berhenti menciumi Alina. sebagai penutup ia mengecup bibir istrinya.
Alina teringat dengan Biru yang tiba-tiba meminta nya memanggil sayang. Dan juga Biru yang masuk kamarnya dengan wajah lesu. Alina ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi. Maka dengan memberanikan diri ia berkata.
"kira-kira apa yang mengganggu pikiran suami ku ini." melihat Biru yang seperti menyembunyikan sesuatu darinya. Alina memang pintar dalam membaca raut wajah seseorang.
" tidak ada,," jawab Biru berbohong menutupi ke khawatirannya.
"ya sudah kalau tidak mau bercerita." balas Alina cuek dan kembali menonton Tv. Ia tak ambil pusing dengan hal itu.
Hening diantara mereka. Alina lebih memilih diam dan asyik menonton Tv sehinggga lupa rencana awalnya tadi yang ingin meminta Biru untuk mengijinkannya keluar kamar.
Karna kini kakinya sudah sembuh.
Sedangkan Biru hanyut dalam pikirannya sendiri. Ia gelisah setelah tadi berdebat dengan Violet tentang pesta yang di gelar di rumah.
Ia tak ingin menyakiti hati Alina saat nanti Alina tahu jika di bawah sana akan ada pesta. Sebenarnya bukan hanya itu. Biru takut jika kedua orang tuanya nanti mengetahui tentang Alina.
Dan bukan tidak mungkin kedua orang tuanya itu akan memisahkan ia dengan Alina dan sudah pasti mereka juga akan menyakiti Alina. Violet tidak biasanya menggelar pesta di rumah. Entah kenapa kali ini ia justru kekeh menggelarnya di rumah.
Walaupun tanpa persetujuan dari Biru. Padahal ia tahu kedua orang tua mereka pasti akan datang saat perayaan ulang tahun pernikahan mereka. Apalagi pesta kali ini di gelar sekaligus merayakan ulang tahun Dinar yang ke tujuh belas.
🍎🍎🍎🍎🍎
FLASH BACK,,
Beberapa jam yang lalu. Saat pulang dari kantor tadi Biru di kejutkan dengan banyaknya orang yang berlalu lalang mengerjakan hiasan di rumahnya. Dengan bingung dan sedikit emosi Biru menemui Violet di kamarnya.
" Violet,,apa apain ini." ucap Biru dengan emosi.
"apa sih Biru,kamu ini baru datang langsung marah marah." jawab Violet cuek dan masih duduk di sofa kamar sambil membaca majalahnya.
" kenapa di bawah sana banyak orang menghias rumah,, seakan mau ada pesta besar di rumah ini ." Biru dengan nada tinggi dan merebut majalah dari tangan Violet kemudian melemparnya.
" oh...astaga Biru." Violet berdiri dan bersidekap menatap Biru.
__ADS_1
"iya,,aku memang akan menggelar pesta di rumah ini. pesta besar malah." jawab Violet santai.
" pesta besar apa maksud mu." tanya Biru masih belum paham.
"kau lupa Biru,,minggu depan adalah ulang tahun putri kita,dan dua hari lagi pernikahan kita genap sembilan belas tahun!!." Violet mengatakan dengan sinis pada Biru yang kemudian mematung di depannya. Biru tidak menyangka bahwa Violet akan menggelar perayaan itu dirumah.
"jadi aku mempersiapkan pesta nya untuk merayakan dua hal yang istimewa." Violet melanjutkan dengan santai.
"kenapa kau menggelarnya di rumah." tanya Biru terlihat tidak suka.
"karna aku ingin." Violet menjawab dengan santainya kemudian ia duduk kembali di sofa.
" oh..astaga Vi,,kau bisa menggelarnya di hotel seperti biasa. Kau tinggal pilih hotel yang mana yang mau kau pakai." ucap Biru frustasi dan menjatuhkan dirinya di sofa di sebrang Violet. Ia mengacak rambutnya dengan kasar.
" sudah ku katakan,,aku ingin menggelarnya di rumah. Aku bosan selalu di hotel." Violet memang sengaja melakukan hal itu. Tentunya ada tujuan tertentu.
"tapi Vi,,," belum selesai Biru bicara sudah di potong Violet.
" kenapa Biru,,kau keberatan karna Alina ada di sini??. tanya Violet dengan nada seperti mengejek Biru.
" o ya,,aku sudah menelfon kedua orang tua kita." lanjut Violet tenang. Semakin membuat Biru meradang.
" APA!!!!!!" Biru berdiri karena terkejut dengan ucapan Violet barusan. Ia semakin bingung sekarang apa yang harus ia lakukan untuk Alina.
" kenapa Biru,,apa kau takut kelakuan bejatmu itu di ketahui kedua orang tua mu?? Hah?!!!" Violet menatap Biru dengan penuh kemenangan. Karena memang itu yang ia inginkan
"kau sengaja Vi,,kau sengaja melakukan ini,kau ingin aku dan Alina berpisah kan. kau tahu kedua orang tua ku tidak akan membiarkan aku mendua dengan gadis biasa." ucap Biru dengan emosi yang meledak ledak.
"aku tidak seperti itu,,aku hanya ingin pesta ini di rumah agar aku dan Dinar tidak perlu jauh jauh ke hotel dan bila kami lelah,,bisa langsung masuk kamar dan tidur." jawab Violet dengan santainya. Padahal memang itulah alasannya.
Yaa,, setelah usahanya dulu untuk membuka pernikahan Biru dengan Alina di depan mertuanya gagal. Kini Violet akan kembali melakukan hal itu. Tentu saja tujuannya tidak lain untuk menyingkirkan Alina.
Biru sungguh kesal malam itu. Berulang kali iya sudah meminta Violet untuk membatalkannya acara dirumah. Dan menggelar pesta di hotel atau gedung. Namun Violet tetap tidak mau mendengarnya.
Setelah di rasa perdebatan ini tak akan pernah selesai Biru meninggalkan Violet ke kamar mandi berniat membersihkan dirinya. Sedangkan Violet tampak sekali puas setelah membuat Biru merasa gelisah dan kebingungan.
" Tunggu saja Biru,, aku akan melakukan apa yang seharusnya aku lakukan." Ucap Violet dengan tersenyum sarkas.
🍎🍎🍎🍎🍎
Biru masih menatap Alina dengan rasa khawatirnya. Sedangkan Alina mulai mengantuk dan mematikan TV nya. Tanpa melihat Biru yang masih mematung di tempatnya.
" sayang,,kamu kenapa." tanya Alina melihat Biru yang diam saja dari tadi. Tidak seperti biasanya.
"eh,,,ti tidak sayang,,tidak kenapa napa." Biru menjawab dengan sedikit terkejut.
" lalu kenapa diam saja,,aku mengajak mu bicara sedari tadi. Tapi kamu diam saja." merasa aneh dengan sikap Biru yang tidak biasa.
"oh,,maafkan aku,,apa kau mau tidur." Biru melihat Tv yang sudah di matikan.
"he'em,," Alina mengangguk.
"baiklah,ayo kita tidur." Biru berdiri bersiap untuk menggendong Alina.
"eh,,tunggu." Alina berdiri dan menahan tangan Biru.
"sayang,,kaki ku sudah sembuh,,aku bisa berjalan sendiri." Alina bermaksud memperlihatkan pada Biru. ia berjalan menjauhi Biru dan menuju ke ranjang meninggalkan Biru yang masih diam di tepian sofa.
"oh,,,kau nakal ya.." Biru berjalan mengejar Alina dan kemudian menganggkat Alina kemudian membawanya seperti karung beras.
Mereka tertawa bersama,,, dalam gendongab Biru Alina memukuli pelan punggung suaminya. Berulang kali meminta Biru menurunkan nya.
Setelah mereka membersihkan diri di kamar mandi. Kini mereka duduk bersandar di ujung ranjang.
"sayang,,karna kaki ku sudah sembuh,,apa aku boleh keluar dari kamar,aku sudah bosan tidak melakukan apapun beberapa hari ini." keluh Alina dengan di bumbui senyum manisnya agar mendapat ijin dari Biru.
"sayang,," Biru menjeda bicaranya.Berfikir sejenak dan memilih kata yang pas untuk memberitahu Alina tentang pesta yang akan di gelar Violet.
"sayang,,kamu boleh turun kebawah dan melakukan apapun sesuai keinginanmu,seperti yang kamu lakukan sebelumnya. Tapi sayang,,di bawah sedang ramai orang. Sedang ada persiapan pesta di bawah sana jadi kamu harus berhati-hati saat berjalan karena kaki mu belum terlalu sembuh benar." jelas Biru dengan berat hati akhirnya ia mengatakannya pada Alina.
"wah,,akan ada pesta di rumah ini???" tanya Alina antusias.
__ADS_1
"iya pesta." Biru masih bingung dengan respon Alina yang terlihat senang ketika mendengar akan ada pesta. Namun setelah itu,,,
"pesta ulang tahun Dinar dan.....pesta ulang tahun pernikahan ku dengan Violet." Biru menggenggam tangan Alina merasa sangat bersalah pada Alina. Dan menatap ke langit langit kamar. Tidak berani melihat wajah Alina. Ia takut membuat Alina bersedih.
"oh...." Alina menatap Biru dan kemudian merasa sedikit kecewa. Entah mengapa ada perasaan yang aneh mendengar Biru mengucapkan hal yang terakhir tadi.
"mmm kalau begitu,,selamat ya. Kapan acaranya." tanya Alina dengan senyumnya yang ia paksakan. Ia harus berusaha bersikap biasa saja.
" sayang kamu tidak marah,." Biru mengalihkan pandangannya pada Alina setelah mendengar ucapan Alina barusan.
"untuk apa,,emmmm,,,, aku bahagia kok asal itu juga bahagia untuk kalian semuanya." Alina menutupi kecewanya dengan menatap lembut Biru.
(aku sadar posisi ku,,jadi untuk apa aku kecewa,lagi pula,,apa ini kenapa hati ku merasa aneh begini mendengarnya akan menggelar pesta dengan kak Violet. Bukankah itu wajar mereka kan suami istri sah,dan sudah lama menikah.Ayo Alina jangan seperti ini.) gumam Alina dalam hatinya.
"lalu kapan acaranya,,aku akan mencari kado untuk Dinar,,,dan,,,,dan juga untuk kalian." Alina mengatakan itu dengan senyum tipisnya.
" lusa sayang,,kalau kamu mau kamu bisa tidak menghadirinya. Karna aku takut terjadi hal buruk untuk mu nanti,karna,,," Biru menjeda ucapannya.
"karna???" Alina mencari jawaban dari ucapan Biru yang menggantung.
"karna,,, kedua orang tua ku dan orang tua Violet akan datang." ucap Biru pelan takut menyinggung perasaan Alina.
Bagai tertusuk jarum,,hati Alina tiba tiba merasa sakit mendengar Biru mengatakan itu. Seolah ia adalah selingkuhan atau wanita simpanan Biru yang statusnya harus di sembunyikan dari banyak orang.
Ia mengulum senyumnya yang sedari tadi ia tampilkan. Menahan air matanya yang sudah ingin menerobos keluar,, ia menguatkan hatinya. Menerima kenyataan bahwa memang seperti itulah adanya. Entah kenapa akhir akhir ini ia mudah sekali terbawa suasana dan gampang sekali ingin menangis.
"sayang maafkan aku,,aku tidak bermaksud untuk membuat mu sedih,aku mohon,." ucap Biru melihat Alina yang diam saja.
"untuk apa meminta maaf,,aku tidak bersedih,aku bahagia untuk kalian." Alina berkata dengan memandang sayu pada Biru. Sebisa mungkin ia harus menutupi rasa kecewanya di depan Biru.
"sayang,,,,aku sangat mencintai mu. Sangat besar,,,, dan aku takut kehilanganmu. Andai aku bisa memilih aku tidak ingin terlahir dari keluarga yang memandang kasta sebagai ke agungan. Agar aku bisa memilih dan hanya menikah dengan wanita yang aku cintai." ucap Biru sambil mendekap Alina. Ia merasa bersalah memperlakukan Alina seperti ini.
"kau tahu,,orang tua ku tidak sebaik yang terlihat,ia akan memisahkan kita jika ia tahu aku menikah dengan gadis yang tidak sesuai dengang keinginan mereka,dan aku tidak mau itu terjadi. Aku juga tidak mau mereka menyakiti diri mu. Itulah sebabnya aku menyembunyikan mu selama ini,agar tidak ada yang mengusik kebahagian kita." Biru berusaha membuat Alina yakin dan mengerti bahwa ia hanya tidak ingin berpisah dari Alina.
" sayang aku tidak apa-apa,,aku tahu posisi ku." Alina berkata dalam dekapan Biru menahan kemelut hatinya. Meskipun ia adalah istri sah Biru juga. Namun ia adalah istri yang di sembunyikan oleh Biru. Alina sadar akan hal itu.
"jadi,,lepaskan aku,,aku tidak bisa bernafas." lanjut Alina mencoba menetralkan perasaannya dengan menjauhi Biru.
"aku mengerti suami ku,,aku tidak akan hadir di pesta nanti. Dan aku juga tidak akan menampakan diri di depan siapapun." ucap Alina setelah lepas dari pelukan biru. Ia tidak ingin menyusahkan Biru.
"terimakasih sudah mengerti keadaan ini sayang." Biru menangkupkan kedua telapak tangannya di kedua pipi Alina dan menciuminya berkali kali. Ia bersyukur Alina mengerti dan tidak menuntut lebih. Terlebih Alina terlihat tidak ingin menyusahkan Biru.
🍎🍎🍎🍎🍎
Pagi hari,,seperti biasa Alina memasak di dapur karna semalam Biru bilang ingin sarapan dengan makanan yang ia masak. Namun kali ini berbeda entah kenapa saat mencium aroma telur ia merasa sangat mual,ia menahan itu dan menyelesaikan memasaknya.
Di meja makan semua sarapan bersama seperti biasa. Hari itu selesai sarapan dan mengantar Biru untuk bekerja. Alina ingin ke taman melihat bunga bunga yang beberapa hari ini ia tinggalkan. Ia melihat lalu lalang banyak orang di rumah itu keluar masuk membawa perlengkapan pesta yang akan di adakan di pinggir kolam sebagai tempat utama pesta.
Violet melihat Alina berada di taman dan menghampirinya.
"Alina,," Violet memanggil Alina dengan jutek.
"iya kak Vio." Alina menjawab Violet dengan ramahnya.
"Biru pasti sudah mengatakannya bukan,besok akan ada pesta di rumah ini. Dan lihat rumah ini sudah sangat indah kan. Hiasan pesta menempel di mana mana. ucap Violet memamerkan keadaan rumah yang sudah berhias pernak pernik di setiap sudutnya.
"oh,,iya,,indah sekali. Selamat ya kak Vio." ucap Alina tulus.
" Selamat untuk apa maksudmu ??" Tanya Violet menelisik.
" untuk ulang tahun pernikahan Kak Vio dan tuan Biru." jawab Alina tulus. Dan hanya di tanggapi senyuman sinis Violet.
" Nah,,, baguslah kalau kamu tahu. Alina bukankah lebih baik kamu pergi dari sini saat pesta nanti." Ucap Violet membuat Alina membulatkan matanya melihat Violet.
Sadar akan tatapan Alina Violet pun melanjutkan ucapannya.
" Ya,,, kamu tentu tahu kan. Pesta ini akan banyak orang. Dan sudah pasti kedua orangtua kami akan datang. Jadi sebelum mereka semua tahu keberadaan kamu yang tidak di anggap ini. Saran aku ya,,, lebih baik kamu pergi." Violet dengan angkuhnya dan percaya diri mengatakan hal itu. Membuat Alina sedikit tercengang.
🍒🍒🍒🍒🍒
Terimakasih sudah membaca,, jangan lupa tinggal kan LIKE nya ya. Juga saran nya di tunggu di kolom komentar. Terimakasih.
__ADS_1