
Sembari menunggu Biru Alina merapikan tempat tidurnya mengganti sprei yang terkena noda darah Alina. Melihat itu Alina merasa malu sendiri.membayangkan bahwa kini ia benar benar telah menyerahkan semuanya pada Biru suaminya.Walaupun kini hatinya masih terpaut nama Bagus.
Alina selesai memasang sprei baru saat Biru tiba tiba datang dan menghampirinya.
"sayang jangan lakukan itu,di rumah ini banyak pelayan yang akan melakukannya." Biru melarang Alina dan menarik lembut tangan Alina untuk duduk di sofa.
"aku sudah terbiasa melakukan itu di kost,,jadi ini bukan masalah,, lagi pula aku akan merasa malu jika pelayan yang membereskannya,di sana ada beberapa noda." Alina mengatakannya dengan malu malu.
"ya sudah,,jangan lakukan lagi,urusan membersihkan semua ruangan rumah ini sudah ada yang bertugas sendiri.bik Darmi sudah mengaturnya." mengecup pucuk kepala Alina.
"aku akan bersiap ke kantor,,kamu turun lah,tunggu di ruang makan." titah Biru yang kemudian berdiri hendak keluar kamar.
"apa baju kerjanya tidak ada di sini?kalau boleh aku akan menyiapkannya." pinta Alina yang kini berdiri di belakang Biru.
Biru hanya tersenyum berbalik dan memegang kedua pundak Alina.
"sayang,,sekarang belum,,nanti biar bi Darmi memindahkannya kesini ya." mengusap lembut pundak Alina dan pergi meninggalkan Alina di kamar.
Alina hanya diam dan kembali membereskan sprei yang masih ada di lantai membawanya ke kamar mandi dan menaruhnya di keranjang kotor.Setelah itu Alina turun ke bawah menuju meja makan.Disana ia melihat kedua anak tirinya sudah duduk dan bermain ponsel dengan Dinar yang berpakaian seragam lengkap sedangkan Damar dengan baju rapi ala anak kuliahan.Alina mulai merasa ragu dan gugup saat ia sudah dekat dengan Damar dan Dinar.
"selamat pagi Dinar,,Damar." Alina menyapa mereka dengan ramah. Berharap mendapat sambutan yang baik dari keduanya.
"selamat pagi nona," bi Darmi yang menjawab karna melihat wajah Alina yang terlihat kecewa karna Damar dan Dinar tidak beralih dari ponsel mereka.
"pagi bik Darmi." tersenyum pada bi Darmi yang berada di dekatnya.
Alina duduk di kursi tempatnya makan semalam.Diam mencoba menerima keadaan mungkin dia akan mencoba nya lagi nanti untuk bisa ngobrol dengan kedua anak tirinya itu.Selama menunggu yang lain Alina kembali mencoba mengajak mereka berbicara namun bukan jawaban yang di terima Alina melainkan tatapan sinis dari Damar.
"non Alina,,saya permisi sebentar,,menyiapkan keperluan tuan Biru." pamit bik Darmi dengan membungkukan badan dan berlalu pergi.
Alina hanya mengangguk dan tersenyum.Setelah bik.Darmi menghilang dari pandangan mereka.Tiba tiba Dinar menginjak kaki Alina dari bawah meja.
"aw...Dinar ada apa??" kesakitan karna injakan Dinar yang cukup keras di kakinya.
"hei pelakor,,jangan pura pura baik sama kita,,elo itu udah ngerusak kebahagian kita dengan masuk di kehidupan kita." Dinar dengan tatapan sinisnya mencela Alina yang sedang menunduk mengusap kakinya.
"kau ini masih muda kenapa ga nyari yang seumuran dengan mu saja." timpal Damar yang juga melihatnya dengan sinis.
Alina sudah menduga bahwa ia akan mendapat makian dari orang orang terdekat Biru.Ia sudah menyiapkan hati juga diri untuk menerima segala makian itu.Tapi saat mendengarnya langsung seperti saat ini,, entah kenapa Alina merasa perih di hatinya.Ini bukan maunya,,menikah dengan Biru adalah paksaan bukan murni keinginannya.
__ADS_1
" maaf Damar,,Dinar aku tidak bermaksud merusak kabahagian kalian,percayalah kalian akan tetap bahagia,jadi ayo kita berteman agar kalian tahu seperti apa diriku dan kalian tidak akan lagi merasa bahwa aku adalah pelakor." mengulurkan tangannya dan tersenyum mencoba tetap baik baik saja di depan mereka.
"kau gila ya,,untuk apa kita berteman denganmu." Dinar menyunggingkan bibirnya keatas dan mendorong tangan Alina keras merasa malas bersikap baik pada Alina yang saat ini ia anggap telah mengambil kebahagian mamanya.
Alina tetap tersenyum di depan mereka sehingga membuat kedua orang di depannya merasa lebih membencinya dengan sikap Alina yang tetap ramah itu.
Violet datang menggandeng tangan Biru menuruni tangga dengan penuh senyum seolah mengejek Alina bahwa pagi ini ia bersama dengan Biru.Lain dengan Biru yang tampak biasa saja tanpa ekspresi.Setelah berganti pakaian tadi memang Biru bertemu Violet dan kemudian berjalan bersama ke ruang makan.
"selamat pagi semua." sapa Biru yang duduk di kursinya dengan posisi Alina di sebelah kanannya dan Violet disebelah kirinya.Anak anaknya di sebelah Violet.
"pagi pa..." Damar dan Dinar menjawab serentak.
Alina tersenyum melihat Biru yang juga tersenyum ke arahnya berbeda dengan Violet yang hanya diam saja dan mulai mengambil makanannya.
"Alina,,aku ingin itu." menunjuk salah satu makanan yang ada di meja.
Alina dengan sigap mengambilkannya dan memberikannya pada Biru.Violet hanya diam karna yang biasa melayani Biru di meja makan adalah bik Darmi ia dan anak anaknya hanya duduk menikmati makanan masing masing.
Hening di meja makan,,mereka berkutat dengan makanan masing masing,Alina lebih dulu menghabiskan makanannya.Namun ia tetap diam di sana menunggu yang lain.
"ehem..aku sudah selesai,,aku berangkat kerja dulu." Biru berdehem setelah menghabiskan makannnya dan meminum air putih di depannya.
"hmm,,hati hati." Violet seperti biasa menjawab tanpa melihat Biru dan tetap fokus pada makanannya begitu pula Damar dan juga Dinar.
"bolehkah aku antar sampai depan?" bertanya pada Biru yang di balas anggukan oleh Biru.
"hust,,,kau ini,,Biru sudah ada bik Darmi yang memunggu di pintu." sahut Violet yang tidak suka dengan sikap Alina.
"tak apa,ayo Alin." tersenyum pada Alina dan menggandeng tangannya.setelah mencium kening Violet tentunya.
Sampai di depan pintu Biru mengulurkan tangannya dan di sambut Alina dengan mencium tangan Biru,,setelahnya Biru mencium kening Alina.Biru sudah terbiasa dengan hal ini saat akan berpisah dengan Alina seperti saat pertama menikah dulu saat ia harus berpisah dari Alina yang memilih tinggal di kostnya dulu untuk membereskan beberapa hal.Dan Biru merasa bahagia melakukannya.Jika dengan Violet ia hanya sesekali mencium keningnya di meja makan saat akan berangkat ke kantor,namun dengan Alina Biru bahagia bisa melakukan ini.Impiannya yang terpendam selama belasan tahun menikah dengan Violet.Dulu Biru pernah meminta pada Violet namun Violet yang telah lama tinggal di luar negeri menganggap hal seperti itu kuno jadi ia tak mau melakukannya.
Dan kini bersama Alina Biru bisa merasa benar benar di hormati sebagai suami.Dari dalam mobil Biru melambaikan tangan pada Alina dan di balas oleh Alina sambil tersenyum ke arah Biru
Setelah mobil yang membawa Biru ke kantor keluar gerbang dan menghilang dari pandangan,,Alina dan bik Darmi masuk ke rumah.Alina bermaksud membantu membereskan meja makan jadi ia berjalan kembali ke meja makan.Disana masih ada Violet dan kedua anaknya,,mereka baru selesai dengan sarapannya.
"mam,,kita berangkat dulu" ucap Dinar mencium pipi Violet kemudian berdiri dan berjalan di belakang Damar yang sudah siap dengan tasnya.
"hati hati di jalan." begitu ucap Violet yang masih duduk di kursinya.
__ADS_1
Alina melihat kedua anak tirinya semakin dekat dengannya.Ia bermaksud menyapa namun belum sempat ia menyapa.Tiba tiba Damar menabrakan sebelah badannya saat melewatinya begitu pula Dinar dengan tatapan kebenciannya ia menjulurkan lidah pada Alina setelah melewati Alina.Melihat itu Alina hanya tersenyum sambil memegangi pundaknya yang terasa sakit.
Violet berdiri dan dengan sinis berjalan kearah Alina.
"jangan harap kau akan menjadi nyonya dirumah ku ini." ucap Violet sinis yang kini berhenti di sebelah Alina.
"huft....kan semua juga tahu mbak,,di rumah ini mbak Violet nyonyanya." menjawab dengan santai.
"apa???!!!kau memanggil ku mbak??!!" menghadap Alina dan menunjuk dirinya dengan telunjuknya.
"iya mbak,," jawab Alina polos dan dengan senyum mengembang di bibirnya.
"jangan sok akrab!!" balas Violet dengan tatapan sinisnya.
"lama lama juga nanti kita akan akrab mbak." Alina dengan santai menimpali.
"tinggal membiasakan diri saja." lanjut Alina yang melihat Violet masih membeku di depannya.
"kita perlu bicara,ikut aku" titah Violet yang kini berjalan menyeret tangan Alina.
Disini mereka saat ini,di ruang tengah tempat pertama Alina semalam saat pertama kali datang.
Violet sudah duduk menyilangkan kakinya dengan Alina duduk di sofa depannya. Setelah beberapa menit hanya saling pandang.
"apa mau mu??!!" tanya Violet masih dengan nada sinis.
"apa maksudnya mbak??" tanya Alina bingung.
"kenapa kau mau begitu saja menikah dengan Biru,,apa kau tidak tahu bahwa Biru sudah memiliki keluarga." jelas Violet dengan nada emosi.
"aku tahu." masih dengan mode santainya.
"lalu kenapa kau tidak menolaknya,,hah?!!!! dasar pelakor." semakin emosi.mengatai Alina.
"sudah aku lakukan,," diam menjeda kalimatnya.
"tuan Biru punya kuasa,itu sebabnya aku berada di sini sekarang." jelas Alina simple,berharap Violet mengerti penjelasannya.
"kalau begitu,,kenapa kau bersikap manis padanya." sudah ingin menjambak rambut Alina.
__ADS_1
Belum sempat Alina menjawab,ponsel Violet berbunyi.Violet kemudian mengangkat panggilan di ponselnya.Sesaat kemudian pergi meninggalkan Alina begitu saja. Setelah kepergian Violet,Alina kembali kekamarnya meratapi nasib nya kini.
Terima kasih telah membaca..Mohon jangan lupa tinggalkan Like nya ya setelah membaca ceritanya. Terimakasih..