Takdir Alina

Takdir Alina
Bukan teman biasa??


__ADS_3

Hari ini Alina pulang kerumah bersama Amar adiknya. Akas dan istrinya akan menyusul nanti setelah anak anak mereka libur sekolah. Amar sudah memutuskan untuk ikut tinggal bersama Alina. Karna Alina ingin Amar mewujudkan cita citanya menjadi dokter. Maka untuk itu Amar harus melanjutkan untuk kuliah. Selama ini ia setelah lulus sekolah hanya membantu Akas berkerja di ladang.


" mbak,, benarkah ini rumah mbak Alin?" tanya Amar ketika mereka sampai di rumah Alina. ar masih tidak menyangka sang kakak memiliki rumah bagus seperti yang ia lihat.


Alina mengangguk pelan dengan tersenyum.


" ayo kita masuk Amar,," Alina kemudian menggandeng tangan Amar yang sedang menggendong Kirana.


Dua hari menginap di rumah Akas, Kiran sudah sedikit dekat dengan pamannya itu. Bahkan sepanjang perjalanan mereka, Kiran begitu betah berada di pangkuan Amar. Hingga tertidur di pangkuan Amar.


Amar yang masih terheran heran itu membuat Alina geli sendiri. Bukankah sebelumnya ia juga sudah melihat mewahnya rumah Biru. Kenapa masih tetap saja heran melihat rumah Alina yang tidak ada apa apanya di banding dengan istana megah Biru.


" udah deh Amar nggak usah norak begitu." ledek Alina yang melihat Amar beberapa kali menggeleng gelengkan kepalanya meski mereka sudah berada di dalam rumah saat ini.


" Amar masih heran aja mbak. Mbak Alin bisa sesukses ini. Punya rumah yang begini bagusnya, trus punya mobil bagus juga. Kata mbak Alina restoran yang mbak kelola baru tiga tahun tapi sudah begitu banyak hasilnya. Aku jadi penasaran dengan restoran mbak Alin. Pasti restorannya besar ya mbak." Amar tanpa jeda berkata dan bertanya pada Alina. Membuat Alina menggelengkan kepalanya melihat tingkah adiknya itu.


" mbak kan sudah bilang, ada seseorang yang membantu mbak mendapatkan semua ini. Restoran mbak nggak begitu besar hanya saja setiap harinya selalu ramai. Itu juga berkat teman mbak yang selalu mempromosikan restoran mbak kepada teman juga koleganya." jelas Alina yang membuat Amar menganggukkan kepala.


" teman mbak Alin baik banget ya." Ucap Amar dengan polosnya.


" iya dia memang baik, kantin di kantornya juga selalu memesan makanan dari restoran mbak, jadi setiap hari kirim kesana. Juga saat ada acara wedding atau pesta lainnya tak jarang catering nya dari restoran mbak Mar, dan itu semua juga karna bantuan dari dia. Dia yang mempromosikan semuanya." ucap Alina yang tiba tiba dapat sahutan dari seseorang. Yang baru datang di belakangnya.


" nggak semua juga, itu karna mbak nya kamu, dia begitu giat dalam membesarkan usahanya. Masakan yang di buatnya enak jadi ya sudah sepantasnya banyak pelanggan yang suka. Dan selalu ingin memakai jasa catering nya." sahut Candra yang tiba tiba datang itu. Berjalan mendekati Alina dan Amar.


Alina menoleh kebelakang dan yakin itu adalah Candra.


" oh,, kamu ini Can,, sejak kapan di situ. Kebiasaan menguping pembicaraan orang." celetuk Alina dengan memanyunkan bibirnya seperti biasa saat Candra tiba tiba datang ketika ia sedang berbicara dengan seseorang.


" sejak tadi lah, kamu nya aja cerewet mulu jadi nggak lihat ada orang di sini." jawab Candra yang kini sudah berada di samping Alina.


" hallo Kiran,, kamu pergi nggak ajak ajak uncle sih. uncle kan lindu Kiran." Candra berjongkok dan menggendong Kirana yang tengah asyik bermain di tengah tengah Alina dan Amar.


" udah ih Can, lihat dia sampai ke gelian begitu." ucap Alina dari duduknya yang melihat Candra dengan gemas menciumi pipi Kiran.


" biarin aja,, dua hari kalian pergi nggak ngasih kabar udah gitu ponsel nggak bisa di hubungi. Bikin orang khawatir aja." jawab Candra yang kini sudah berhenti menciumi Kiran dan duduk di samping Alina di tepi sofa dengan tangan yang masih menggendong Kiran.


Amar yang melihat mereka begitu dekat dan akrab tampak heran. Karna sejak tadi kakaknya itu tak memperkenalkannya siapa lelaki yang tiba tiba datang dan tampak begitu menyayangi Kiran juga begitu perhatian pada Alina dan Kiran. Bahkan Amar melihat mereka seperti sebuah keluarga. Ada ayah,, ibu dan juga seorang anak.


" mbak,," panggil Amar yang langsung di toleh oleh Alina.


Alina baru sadar ada Amar di sana dan belum ia kenalkan oada Candra.


" oh,, iya,, emmmmm Candra kenalin, ini Amar adik ku." ucap Alina setelah menoleh dan melihat mata Amar yang melihat Candra seakan memberi kode bertanya ingin tahu siapa pria di depannya itu.

__ADS_1


" hallo Amar,, aku Candra." Candra mengulurkan tangannya dengan begitu ramahnya dan di sambut oleh Amar dengan tersenyum tipis.


" Jadi kemarin menghilang dua hari itu mencari seseorang yang selama ini hilang gitu?" kata Candra yang kini menurunkan Kiran dari gendongannya dan duduk kembali di samping Alina namun tidak di pinggiran sofa lagi.


" kamu ini ngomongnya ribet banget." Alina menyenggol pelan lengan Candra dengan lengannya.


Candra hanya tersenyum dan mengacak rambut Alina.


Alina kemudian menceritakan pada Candra kemana ia kemarin.


" oh,,,,, jadi gitu ceritanya,, syukur lah,,, aku ikut senang mendengarnya." ucap Candra setelah mendengar cerita Alina tentang pertemuannya dengan Amar kemarin dan juga kejadian setelahnya.


" he'em Cand,,, akhirnya aku menemukan keluarga ku." Alina tersenyum manis sekali. Membuat Candra juga mengembangkan senyum di bibirnya.


" baiklah,, aku pamit kalau gitu. Aku tadi hanya mampir, ingin memastikan kalian baik baik aja. Aku ada rapat penting di kantor." ucap Candra memakai kembali jasnya. Dan bergegas ke kantor.


Seperti biasa Alina selalu mengantarkan Candra sampai di depan pintu.


🍎🍎🍎🍎🍎


Satu bulan sudah Amar tinggal bersama Alina. Ia juga sudah mulai mengikuti test untuk masuk ke perguruan tinggi. Dan sedang menunggu hasilnya. Selama itu pula ia melihat Candra yang sering mengunjungi kakaknya baik di rumah maupun di tempat kerja kakaknya. Ia sesekali ikut ketempat kerja Alina jadi tahu bahwa hampir setiap hari Candra menemui Alina. Dan datang kerumah saat sore hingga malam hari untuk menemani Kiran bermain.


Hal itu menimbulkan sebuah pertanyaan dalam benak Amar.


" hemm,,, mau nanya apa sih?" Alina tanpa menoleh Amar menjawab dengan santai.


" tentang hubungan mbak Alin dengan tuan Candra." bisik Amar pelan yang membuat Alina melihat ke arahnya. Dan mengehentikan aktifitasnya.


" jangan marah mbak, aku hanya bertanya. Di jawab syukur nggak juga nggak papa." Amar merasa takut jika kakaknya itu benar benar marah. Melihat tatapan sang kakak padanya. Membuat ia mengurungkan niatnya.


" kami berteman Amar, tidak ada yang lain." jawab Alina tersenyum dan kembali melakukan pekerjaannya.


" benarkah hanya teman?" Amar ingin memastikan. Karena ia melihat kedekatan Alina dan Candra.


" tentu saja, dia sudah sangat baik pada kakak mu ini. Jadi sudah seharusnya mbak juga membalas kebaikannya dengan baik kan." Alina berdiri dan masuk ke ruang kerjanya di ikuti oleh Amar di belakangnya.


" tapi mbak, perhatian tuan Candra sama mbak Alin itu beda lo dan lagi kedekatannya dengan Kiran. Kayaknya aneh aja kalau kalian hanya teman biasa." Amar masih mendesak kakaknya ingin tahu lebih.


" Amar, mbak dan dia hanya teman dekat. Dia yang membantu mbak menjadi seperti sekarang ini. Dan sejak Kiran masih bayi memang tuan Candra sudah mengenalnya. Itulah sebabnya mereka dekat." jelas Alina.


" kenapa mbak nggak mencoba menjalin hubungan yang lebih dekat saja." Amar tersenyum meledek Alina dan berhasil membuatnya mendapat cubitan di pinggangnya.


" dasar nakal, sudah nggak usah berfikir yang aneh aneh, ini kasih alamat ini sama kakak kakak yang di depan itu. Biar mereka yang tempel nanti." Alina menyodorkan kertas bertuliskan alamat para pemesan bunganya pada Amar.

__ADS_1


" mbak, ngomong ngomong kalian cocok lo." lagi sebelum keluar dari ruangan Alina Amar menggoda sang kakak.


" Amar! dasar nakal kamu ya." Alina berdiri hendak mencubit Amar namun ia kalah cepat. Amar sudah dulu lari darinya.


Tanpa Alina tahu bahwa Candra yang berdiri di luar ruangan Alina sejak tadi mendengar percakapan mereka dan hanya senyum senyum sendiri melihat tingkah Alina yang terus di goda oleh adiknya. Kini tanpa Candra sadar bahwa Amar sudah keluar dari ruangan Alina. Karna pintu yang sejak tadi tidak di tutup membuat Candra dengan sangat jelas melihat Alina yang kini berlari kecil mengejar adiknya.


Tunggu,,Alina justru terpeleset daun yang berceceran di lantai di depan ruang kerjanya. Sepatu nya menginjak daun basah yang langsung membuatnya terjatuh. Beruntung Candra segera menyadari itu. Dan dengan sigap menangkap tubuh Alina. Sehingga Alina tidak terjatuh di lantai tapi terjatuh di pelukan Candra. Karna Alina jatuh kedepan jadi Candra yang di depannya segera menangkapnya dan membuat mereka berpelukan.


Sungguh Alina bersyukur ia tidak jatuh ke lantai. Lega rasanya ia melihat Candra menangkapnya. Berbeda dengan Candra yang merasakan aneh pada dirinya. Ini adalah kali pertama mereka berpelukan dan sedekat ini. Walaupun mereka sudah lama berteman. Namun Alina selalu menjaga kontak fisik diantara mereka.


" Candra,, thanks ya." ucap Alina yang masih berada di pelukan Candra. Tangannya yang tadi berada di leher Candra kini sudah ia longgarkan berpindah ke dada Candra dan berusaha melepaskan diri.


Berbeda dengan Candra yang masih erat memeluk Alina. Sepertinya tangannya itu enggan lepas dari pinggang ramping Alina.


Merasa tak ada jawaban dan reaksi dari Candra, Alina memukul kecil dada lelaki itu. Dan berhasil membuat Candra yang tadi memejamkan matanya tersadar dan melonggarkan pelukannya.


" kamu nggak apa apa Li?" tanya Candra dengan tangan masih berada di pinggang Alina. Dan matanya menatap Alina.


" nggak,, thanks ya." Alina tersenyum manis sekali. Sehingga membuat Candra berbinar. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Bahkan ia bisa melihat manik Alina yang bening itu saat tersenyum.


" Candra,, udah,, lepasin dong. Nggak enak di lihatin mereka." ucap Alina pelan melihat ke arah para karyawannya yang tadi sempat berteriak khawatir karna ia akan jatuh justru kini mereka melongo melihat adegan mesra di depan mereka ini. Membuat Alina malu dan salah tingkah.


" oh,, sorry Li." Candra melepaskan pelukannya dan justru menjadi salah tingkah di depan Alina juga para karyawan yang berada disana.


" mm,, thanks Can, coba tadi nggak ada kamu, udah malu aku sama anak anak karna jatuh." ucap Alina memecah rasa canggung yang tiba tiba terjadi diantara mereka.


" Sofi tolong beresin ya daun daunya. Biar nggak ada yang terpeleset lagi." titah Alina pada salah satu karyawannya.


" baik mbak Lili,," Sofi mengangguk dan segera mengambil peralatan untuk membersihkan daun daun itu.


" Candra,, kita bicara di resto aja, di sini sedang berantakan. Biasa pesanan." ucap Alina dan berjalan meninggalkan Candra yang masih terdiam itu.


" mbak,, maaf ya karna ngejar aku jadi mau jatuh." ucap Amar ketika Alina melewatinya.


" hemm." Alina hanya mengangguk. Dan meninggalkan Amar.


" tapi mbak,, kayaknya memang bener deh kalian bukan hanya teman biasa, kelihatan mesra banget gitu tadi." lagi lagi Amar menggoda Alina dengan tawa kecilnya dan membuat Alina sedikit geram.


" Amar,, sudahlah,, kamu ini ngledek aja trus." Alina mencubit kecil lengan adiknya itu. Dan berlalu meninggalkan toko bunganya dan berpindah ke restorannya yang berada di sebelahnya.


Candra bergegas menyusul Alina ke restoran. Karna sebenarnya kedatangannya itu mau menyampaikan sesuatu pada Alina.


🍒🍒🍒🍒🍒

__ADS_1


Terimakasih sudah membaca. Jangan lupa tinggalkan LIKE nya ya. Krisan silahkan di kolom koment. Terimakasih,,, 🙏🙏🤗


__ADS_2