Takdir Alina

Takdir Alina
Keputusan 2


__ADS_3

Sudah dua minggu Alina di rumah ini. Rumah yang jauh berbeda tentunya dari rumahnya sebelumnya. Rumah yang ia tinggali beberapa tahun belakangan. Dan rumah itu,, adalah hasil keringatnya menjalankan restorannya dan juga toko bunga. Meskipun andil Candra juga banyak dalam membantu mengembangkan usahanya.


Duduk di teras depan rumah melihat anak anak bermain dengan riangnya sambil menikmati udara sore dan secangkir teh di atas meja. Hemmm,,, rasanya indah sekali bagi orang yang melihatnya. Namun siapa sangka bahwa ada banyak luka dalam hatinya. Luka yang sedang ia coba obati.


Sejak memutuskan untuk pulang ke kampung halamannya. Alina benar benar memutus kontak dengan orang orang yang sebelumnya mengelilinginya. Terutama Candra dan juga Biru,, ia benar benar ingin memulai hidup baru. Alina mungkin egois,, telah membuat seseorang patah hati. Namun,, apa Alina salah jika ia ingin merasa sedikit saja bahagia damai dan tenang. Saat ini hanya itulah yang Alina inginkan, bahkan ia mematikan ponselnya untuk menghindari siapapun menghubunginya.


Malam semakin larut,, di bawah sinaran rembulan malam ini,, Alina mengadukan nasibnya. Di saat yang lain sudah terlelap dari tidurnya. Alina diam diam menangis sendiri tanpa suara di balik pintu kamarnya. Ya Alina memang rapuh,, inilah dia yang sebenarnya. Sekuat kuatnya ia menyimpan semua masalahnya sendiri namun ia tetap akan menangis saat sendiri dan mengingat semua kejadian itu.


Dari awal,, masa depannya yang telah ia rencanakan sedemikian rupa, hingga akhirnya di hancurkan begitu saja oleh seseorang. Dan di saat dia mulai bisa memberikan hatinya untuk orang itu. Dia di hempaskan begitu saja dengan kenyataan yang ada. Alina bukan sosok yang mudah untuk melupakan cintanya. Mungkin itulah yang membuat ia tak bisa membuka hatinya untuk Candra meskipun mereka telah bersama bertahun tahun.


Dan di saat ia memutuskan untuk hidup dengan Candra dan melupakan semuanya. Nyatanya ia harus kembali menelan pil pahit. Candra adalah salah satu orang yang harus ia hindari. Karna Candra adalah adik Biru Wiratmadja. Alina tidak ingin hubungan kakak adik itu menjadi kacau karenanya. Belum lagi Sekar,, Sekar yang selalu mengancamnya jika ia masih saja berhubungan dengan keluarga Wiratmadja.


Kejamnya takdir Alina, Alina sedari dulu selalu saja melakukan pengorbanan yang ujung ujungnya tidak ada bahagia yang sebenarnya untuk dirinya. Dengan membuat keputusan ini,, Alina berharap semua akan baik baik saja. Dan tentunya menemukan kebahagian yang sesungguhnya seperti yang ia harapkan.


" mbak,, aku akan ke rumah kak Akas,, semalam kak Akas menelfon banyak pekerjaan di sana." ucap Amran sambil menyeduh kopinya.


" apa kamu akan menginap di sana?" Alina masih fokus dengan masakannya bertanya tanpa melihat ke arah adiknya.


" mungkin saja,, lihat bagaimana nanti. Apa mbak Alin takut jika aku tinggal." Tanya Amran sedikit mengolok sang kakak.


" emmm,,,, nggak juga sih,, hanya saja,, ya sudahlah. Sarapan dulu sebelum berangkat." Kilah Alina yang sepertinya mengkhawatirkan sesuatu.


" mbak Alin ikut saja, biar nggak sendiri di rumah, siapa tahu ketemu cowok ganteng gitu mbak." Amran tertawa terbahak menggoda sang kakak yang sedang mengambilkan nasi untuknya. Alina pun menghadiahi adiknya itu dengan cubitan di pinggangnya.


" aw,, sakit mbak,, sakit,, ampun deh ampun." Amran mengaduh karena cubitan Alina memang sakit kali ini.


" mau lebih keras lagi,, hemm?? sini." Alina masih tampak geram ingin kembali mencubit sang adik yang masih mengusap usap pinggangnya itu.


" nggak ah,, sakit tahu mbak." Amran sepontan mengelak dan menjauh dari Alina.


" makanya,, jangan godain mbak terus." Ucap Alina sedikit kesal.


" mama lucu sama om Amran." ucap Kirana dengan imutnya ia yang sejak tadi duduk di kursi makan dan melihat tingkah mama dan om nya di depannya.


" Kirana,, ini sakit tahu,, masak di katain lucu kamu ini." dengan wajah kesal Amran mengacak lembut rambut keponakannya itu.


Alina hanya tersenyum pada putrinya dan duduk di samping Kirana. Baru akan menyuapi Kirana,, terdengar suara ketukan pintu dari luar sana.


" assalamualaikum,,,." Seseorang mengucapkan salam dan membuat Alina juga Amran saling menatap bingung.


" waalaikumsalam.." jawab pelan Amran dan Alina bersamaan,, kedua kakak beradik ini saling menatap bingung.


" siapa pagi pagi begini dateng. Amran,, kamu ada janji sama orang." Alina sambil menyuapi Kiran melihat Amran heran.


" nggak sih,,,." Amran menggelengkan kepalanya.


" kayak nggak asing suaranya,, mbak kayak kenal." Alina sambil mengingat ingat sesuatu.


" ya udah,, Amran bukain dulu ya mbak, takut penting." Amran berdiri dan bergegas berjalan ke depan dan membukakan pintu.


" sayang,, ayo makan lagi,, setelah ini kita main lagi." titah Alina pada Kiran sambil menyodorkan makanan pada Kiran setelah Amran pergi.


Alina masih duduk di kursi makan dan melanjutkan menyuapi putrinya. Saat Amran menghampirinya dengan ragu ragu. Seolah bingung menyampaikan sesuatu.


" mbak,,." panggil Amran ragu ragu setelah berada di depan Alina.


" apa Amran,,, siapa yang dateng??." tanya Alina ikut bingung melihat adiknya yang tiba tiba kaku di depannya itu. Perasaannya sudah tidak enak saat itu.


" emm,,,,,,, mbak,,, mbak lihat aja deh sendiri." Amran merebut makanan di tangan Alina dan menarik sang kakak untuk berdiri.


" Amran.." Alina menatap adiknya dengan perasaan gelisah.


Amran hanya diam saja dan mulai menyuapi Kirana. Ia mengacuhkan Alina agar Alina segera ke depan dan melihat siapa yang datang.


Dengan perasaan tak karuan Alina melangkah ke depan dan melihat siapa yang datang sehingga membuat sang adik enggan memberitahunya.


Dan setelah ia sampai di ruang tamu. Alina benar benar terkejut dengan yang ia lihat saat ini.


Sontak Alina membelalakan matanya ketika pandangannya saling bertatap dengan orang yang duduk di kursi tamu itu. Dan kini ia hendak berbalik kembali ke meja makan enggan menemuinya.


Namun sayangnya, ia kalah cepat karna tangannya sudah di cekal membuatnya terpaksa diam di sana.


" apa kamu membenci ku,, sehingga kamu benar benar menghindari ku." Ucapnya.


" lepaskan aku dan pulanglah." ucap Alina dingin tanpa melihat ke belakang ke arah lawan bicaranya.


" Li,, beri aku kesempatan. Setidaknya,, mari kita bicara. Sebelumnya kita teman baik bukan?." Ucapnya lagi memohon.

__ADS_1


" Candra,,, tidak ada yang harus kita bicarakan lagi." Dengan segera Alina menolak.


" tapi Li,, aku,, aku ingin kita kembali seperti dulu. Aku nggak bisa Li,, aku nggak bisa jika harus seperti ini." Candra meratap.


" hiduplah seperti sebelum aku hadir." Alina mengucapkan dengan berat dan menahan tangisnya. Jujur saja hatinya teriris sakit.


" Li,, aku mohon,, lihatlah aku, sebentar saja." Candra memutar tubuh Alina untuk menghadapnya. Dan benar saja kini mereka saling menatap membuat Candra semakin tak kuasa menahan perasaannya dan ia merengkuhnya tubuh Alina. Mendekap erat.


" lepasin Candra,,." Alina berusaha berontak namum tangan Candra begitu kuat memeluknya.


" biarkan seperti ini,, sebentar saja Li." pinta Candra memejamkan matanya. Meletakkan kepalanya di bahu Alina. Membenamkan wajahnya pada ceruk leher Alina.


" aku mencintai mu Alina,, sangat,, dan aku nggak bisa jika kamu terus begini." Ucap Candra masih memeluk Alina.


Aluna sejenak diam,, membiarkan Candra memeluknya. Hingga akhirnya ia sadar jika saat ini ia sedang berjuang menjauhi Candra dan juga Biru.


" stop,,, lepas Candra." Alina mendorong kuat tubuh Candra yang sudah mulai melonggarkan pelukannya.


" maaf kan aku Candra,, aku udah ngambil keputusan ini. Dan,, dan kita,, kita tidak akan bisa bersama." Alina kembali mengatakan hal itu.


" kenapa Li ?? karna aku Wiratmadja,, karna aku adik Biru?!. Apa karna itu?, aku sudah bilang bukan aku akan meninggalkan semua itu,, aku akan membawa mu jauh dari mereka." Candra mulai meninggikan suaranya. Berharap Alina mengerti dan kembali memberinya kesempatan.


" bukan,, bukan hanya karna itu Candra." elak Alina. Ia sendiri bingung akan memberi alasan apa. Karena memang kenyataannya adalah karena Candra bagian dari Wiratmadja.


" lalu,, karna apa Li." Tanya Candra mencari jawaban atas keraguan Alina


" karna aku,,,." Alina menjeda ucapannya mencari alasan yang tepat agar Candra berhenti memintanya untuk bersamanya lagi.


Alina berjalan duduk di kursi dengan gelisah memikirkan alasan yang tepat. Candra yang melihat Alina duduk itupun mendekati Alina dan duduk di sampingnya.


Candra memegang tengkuk Alina dan tanpa Alina duga Candra menyerangnya dengan ciuman. Alina tak bisa berontak. Tangannya di kunci oleh Candra dan Candra memegang erat tengkuknya. Dengan kasar Candra mencium bibir Alina. Alina bahkan tak memberi balasan. Sejujurnya hatinya memang sakit melihat Candra senekat ini. Namun ia tidak boleh egois lagi dan kembali mengorbankan keselamatan keluarganya.


Candra masih saja memaksa Alina dengan terus menciumnya. Dan kini ciuman yang tadi kasae dan terpaksa itu. Mulai melembut dan terus membawa mereka hanyut dalam suasana pagi itu.


Tanpa Alina juga Candra sadari. Biru tiba tiba datang dan menarik baju Candra dari belakang dengan kasae. Sehingga membuat Candra menjauh dan tersungkur di lantai.


Tak sampai di situ. Biru masih memukuli adiknya itu. Alina yang melihatnya berusaha melerai kedua kakak beradik itu.


" kurang ajar kau Candra,, beraninya kau mencium Alina." Biru terus mengeluarkan kata kata umpatan pada Candra yang berada di bawahnya itu sambil terus memukulinya.


" hentikan tuan Biru,, aku mohon hentikan semua ini." Alina berusaha terus menarik tangan Biru. Agar berhenti memukuli Candra.


" biarkan saja Li,, biarian dia memukul ku, biar dia puas." Candra berdiri di depan Biru dan malah menantang sang kakak. Biru masih ingin maju dan kembali memukul Candra tangannya sudah mengepal siap kembali menghantam Candra. Namun Alina dengan sigap menahannya dengan memeluk pinggang Biru.


Mendadak emosi Biru yang tadi meledak ledak kini mulai turun hanya dengan pelukan Alina. Ya Biru merasakan kenyamanan dalam pelukan Alina. Hatinya yang tadi berapi-api kini menghangat karena pelukan dari Alina.


" baiklah,, aku tidak akan memukulnya lagi." ucap Biru mengusap sayang kepala Alina. Yang saat itu bersandar di dadanya.


" Li,, apa yang kamu lakukan,, lepaskan dia." Candra dengan geram menarik tubuh Alina dari Biru. Candra cemburu melihat Alina memeluk Biru di depan matanya.


" Candra,, duduklah,, aku akan mengambil kotak obat.". ucap Alina melihat ke arah Candra dan melepaskan pelan pegangan tangan Candra di lengannya.


Biru dan Candra duduk menunggu Alina di kursi tamu. Mereka duduk berlawanan dengan meja di tengahnya. Saling menatap kesal .


" Candra,, sejak kapan kau menyukai wanita ku." Biru dengan kesal bertanya pada adiknya.


" bukan urusan mu." Candra menjawab tak kalah kesalnya. Sambil mengusap pipinya yang tadi di pukul Biru.


" lagi pula apa urusan mu kesini, dia bukan wanita mu, ingat itu." lanjut Candra menatap sinis pada sang kakak.


" tentu saja aku ingin mengunjungi putri ku." aku Biru.


" Candra,,." panggil Alina yang berjalan mendekati Candra. Kini ia duduk di samping Candra. Ia mulai mengompres dan mengobati luka di wajah Candra. Membuat Biru yang melihatnya kembali geram.


" Alina,, biar aku saja sini,, dia adik ku." Biru berusaha merebut obat obatan dari tangan Alina.


" apaan sih kak,, udah biar Lili saja." Candra memukul tangan kakaknya yang sudah siap mengambil obat dari tangan Alina.


Alina yang geram melihat itu pun bereaksi.


" sudah cukup,, ini sudah selesai Candra,." Alina membereskan kotak obatnya.


" kalian pulanglah,, jangan temui aku lagi." Pinta Alina setelah membereskan kotak obat.


" kenapa??." ucap Candra dan Biru serentak.


" Karena,, karena aku akan menikah dengan seseorang." jawab Alina asal, berusaha membuat dua orang ini menjauhi nya.

__ADS_1


" menikah??!" kembali Candra dan Biru serempak. Mereka melihat heran ke arah Alina. Merasa tak percaya dengan yang mereka dengar.


" iya,, menikah,, jadi kalian sudah tahu kan. Itulah keputusan ku." jawab Alina berusaha meyakinkan.


" kamu bohong Li,,." Candra masih tak percaya. Candra merasa Alina hanya mencari alesan.


" untuk apa aku berbohong. Aku benar akan menikah." Ucap Alina lagi masih berharap kedua kakak beradik itu akan percaya.


" kalau memang benar dengan siapa memangnya kamu akan menikah." tanya Biru penasaran.


" ya dengan siapa Lili,, jawab." Candra yang juga penasaran ikut menimpali.


Alina kali ini bingung dengan pernyataannya sendiri. Sebab ia tak tahu harus menjawab apa. Dan entah apa yang tiba tiba membuat Alina membawa Abimanyu kedalam masalahnya. Ia melihat Abimanyu baru datang dan berada di ambang pintu. Ia lalu berinisiatif untuk berdiri dan menghampiri Abimanyu. Menyambut Abimanyu.


" Dengan Abi." jawab Alina melihat ke arah Abimanyu yang tampak bingung karna Candra dan Biru menatapnya heran.


" hai,, Abi,, masuklah,, kamu telat sekali datangnya. Sarapannya sudah akan terlewat." ucap Alina sembari berjalan menghampiri Abimanyu dan menggandengnya untuk duduk. Tentu saja hal ini membuat Abimanyu heran dan bingung.


" jadi sudah jelas bukan,, aku dan Abi akan segera menikah. Benarkan Abi" ucap Alina masih dengan tangan melingkar di lengan Abimanyu meskipun kini mereka telah duduk.


Alina mengedipkan sebelah matanya pada Abimanyu agar ia paham dan berharap Abimanyu membantunya.


( ayo Abi, pliss,,, aku mohon bantu aku,, ayo mengertilah.) batin Alina. Dengan mata masih menatap Abimanyu dengan sesekali mengedip


( astaga ,, Alina bilang mau menikah dengan ku,, oh,, benarkah ini.) batin Abimanyu senang,,, tak percaya. Ia tersenyum kecil.


" Bima,, apa itu benar?!" tanya Biru yang membuat Abimanyu tersadar dari lamunannya.


" em,,, eh,, i,,, iya,,, iya,,, itu benar." jawab Abimanyu gelagapan gugup.


" Alina,,, apa apaan ini." Biru terlihat tak menerima pernyataan Alina dan Abimanyu.


" apa?? ini memang sudah keputusan ku. Suka atau tidak ya memang kalian harus menerimanya." ucap Alina masih berusaha meyakinkan.


" Li,, aku tahu ini hanya sandiwara. Baiklah,, aku pamit,, lain waktu aku akan datang dan langsung meminang mu. Bisa ku pastikan itu." Candra berdiri dan berkata dengan senyuman tipisnya melangkah pergi. Candra yakin bahwa Alina hanya bersandiwara. Karena Candra paham bahwa tidak mudah bagi Alina membuka hatinya untuk pria lain. Terlebih mengingat kejadian beberapa waktu belakangan ini. Rasanya tak mungkin secepat itu Alina memutuskan untuk menikah.


" ini bukan sandiwara tuan Candra, aku dan Alina memang akan menikah. Meskipun hubungan kita kalian tentang,, tapi itulah faktanya. Lihat saja nanti." ucap Abimanyu dengan lantang. Namun Candra tak bergeming, meskipun terlihat ia mengepalkan tangannya. Candra kecewa sudah pasti. Cemburu apalagi.


" Bima,, kau sudah seperti adik ku. Lalu mengapa kau tega melakukan ini." Biru menatap Abimanyu dengan tatapan kecewa.


" jelas karna aku mencintainya maka aku akan menikahinya. Memangnya kenapa kak,, toh Alina tidak lagi menjadi istri kak Biru." ucapan Abimanyu membuat Biru mengepalkan tangannya.


" sudah jelas bukan,, lebih baik kak Biru pulang dan urus saja istri juga anak anak kak Biru. Itu lebih baik, dan tunggu undangan dari kami." lanjut Abimanyu dan berhasil membuat Biru pergi dari rumah Alina. Penuh rasa kesal.


Hari yang sulit untuk Alina, pagi pagi sudah mendapat sarapan tak terduga. Setelah Biru dan Candra menjauh. Tinggal Abimanyu dan dirinya.


Jika tadi ia begitu terlihat akrab dengan Abimanyu kini ia justru tampak canggung. Setelah sebelumnya melepas tangannya dari lengan Abimanyu. Ia jadi bingung sendiri akan bersikap. Alina menggeser posisi duduknya sedikit menjauh dari Abimanyu.


" huft,,, Abi,, maaf membawa kamu ke dalam masalah ku. Dan terimakasih sudah membantu ku bersandiwara tadi." ucap Alina menyandarkan tubuhnya pada kursi. Kini ia bingung harus bagaimana bersikap pada Abimanyu.


" Tidak Alina,, tidak perlu berterimakasih. Dan aku tidak bersandiwara." ucap Abimanyu yang membuat Alina kembali bangun dari sandarannya dan melihat bingung ke arah Abi di sebelahnya.


" ya Alina,, semua yang aku ucapkan tadi bukan sandiwara." seakan tahu arti tatapan bingung Alina, Abimanyu meyakinkan Alina dengan meraih kedua tangan Alina dan menautkan jari mereka.


" Alina oktavia,, mau kah kamu menikah dengan ku, menjadi istri ku Abimanyu permana. Menjadi ibu dari anak anak ku kelak." lanjut Abimanyu yang membuat Alina terkejut dan membulatkan matanya.


" Abi,,." Dengan mata berkaca kaca Alina ingin menjawab.


" Alina,, kamu tahu,, jika aku sudah sangat mencintaimu. Mari kita menikah,, dan aku berjanji setelah kita menikah, kedua Wiratmadja itu tidak akan bisa mengganggumu lagi. Dan bahkan seluruh keluarganya." Ucap Abimanyu menatap Alina dalam,, meyakinkan.


" Abi,, aku,, aku terlalu hina untuk mu, itulah sebabnya selama ini aku tidak bisa bersamamu. Biarkan aku menghadapi masalah ku ini sendiri. Lama lama nanti juga mereka akan lelah terus mengejar ku." Alina masih enggan memulai sebuah hubungan karna masih ingin beristirahat sejenak dari perasaan perasaan aneh itu.


" sampai kapan?? Candra dan Biru,, mereka tidak akan pernah berhenti mengusik kamu. Jika kamu masih sendiri. Kamu lari ke ujung dunia pun mereka pasti akan kejar."


" aku tulus mencintai mu Alina,, sangat tulus,, jadi percayalah,, mari menikahlah dengan ku, kita besarkan Kirana bersama sama jauh dari mereka." lanjut Abimanyu terus meyakinkan Alina.


Sejenak Alina diam menatap manik Abimanyu sambil terus berfikir. Alina tahu, Abimanyu selalu baik padanya selama ini. Tapi bagaimana dengan keluarganya, apa ia akan di terima dengan baik. Dengan statusnya saat ini.


" Alina,, percayalah,, keluarga ku sudah tahu mengenai kamu. Dan mereka mendukung ku untuk segera meminang mu." ucap Abimanyu seolah tahu kegelisahan yang di rasakan Alina.


" Baiklah Abi,, mari kita menikah." ucap Alina yang membuatnya langsung masuk kedalam pelukan Abimanyu.


" terimakasih Alina,, terimakasih. Kamu mau menerima ku." Abimanyu begitu bahagia mendengar jawaban Alina.


Alina hanya terdiam, ia merasai perasaannya. Ini adalah keputusan besar yang harus ia ambil. Berharap keputusan ini tidak salah dan akan membuatnya kembali mengalami kejadian di masa lalunya. Abimanyu benar,, jika mereka menikah, maka Candra dan Biru tidak akan lagi memaksanya untuk tetap menjalin hubungan dengan mereka. Meskipun saat ini Alina belum mencintai Abimanyu. Namun Alina akan mencobanya. Karna saat ini ia telah mengambil keputusan untuk hidup bersama lelaki di depannya ini.


πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’

__ADS_1


Terimakasih sudah membaca,,, jangan lupa tinggalkan LIKE nya ya setelah membaca. Krisan silahkan di koment. Tunggu kelanjutan cerita Alina selanjutnyaπŸ˜‰πŸ˜‰. Terimakasih πŸ™πŸ™πŸ€—.


__ADS_2