
Alina merasa lapar karna pikirannya yang kacau ia mendadak lapar. Memang akhir akhir ini Alina sering merasa lapar ketika tengah malam begini. Ia mengintip keluar kamar. Melihat apa bik Sita di sana. Ia akan meminta tolong bik Sita untuk mengambilkan makanan. Namun bik Sita sama sekali tak nampak. Alina mencoba keluar kamarnya berjalan perlahan melihat sekeliling. Memastikan tidak ada orang yang akan melihatnya saat ia turun nanti. Di bawah sana hanya cahaya redup menyinari. Dengan mengendap endap Alina berjalan menuruni tangga dan menuju dapur. Mencari makanan yang bisa mengganjal perutnya. Setelah merasa cukup kenyang ia meninggalkan dapur berjalan pelan agar tak terdengar oleh orang lain langkah kakinya itu. Namun tiba tiba,,, bruk seseorang menabraknya dan membuat tubuh kecil Alina tersungkur.
"aw,,," sepontan Alina berteriak kecil saat kepalanya terbentur lantai.
"oh,,maaf maaf." ucap seseorang yang menabraknya itu.
Alina bisa melihat dengan jelas orang yang menabraknya itu. Lelaki dengan perawakan tinggi tegap dengan jas rapi. Alina sudah menduga bahwa itu pasti salah satu tamu undangan pesta.
" maaf,,mari sini aku bantu berdiri." Pria itu mengulurkan tangan pada Alina yang masih diam di lantai.
"nggak usah aku nggak apa apa." Alina menolak dan berusaha berdiri sendiri.
"hei,,kau benar benar tidak apa apa?" lelaki itu mengamati Alina dari atas hingga bawah.
"ia aku baik baik saja,permisi." Alina berusaha menghindari orang itu dengan segera.
"tunggu." pria itu justru malah memegang tangan Alina yang tadi sempat melewatinya. kini ia meraih tangan gadis itu dan membuat Alina terpaksa menghentikan langkahnya.
" kening mu memar, ayo kita obati dulu." lelaki itu bisa melihat memar di kening Alina walau di bawah cahaya lampu yang redup.
" tidak usah tuan,saya bisa sendiri nanti. Tolong lepaskan tangan saya." Alina meminta dengan sopan.
"sudah sekarang saja lagi pula aku yang membuatmu seperti itu,jadi aku harus bertanggung jawab." ucap lelaki itu yang langsung menarik tangan tangan Alina membawanya duduk di kursi meja makan yang saat itu letaknya paling dekat dengan mereka. Seakan sudah terbiasa di rumah ini,lelaki itu hafal di mana tempat kotak obat berada. Membuat Alina bertanya tanya siapa lelaki di depannya ini. Bahkan pria itu juga tahu dimana letak saklar lampunya.
(siapa gadis ini,wajahnya membuat ku nyaman saat memandangnya seperti ini. Parasnya menenangkan, manis sekali.) lelaki itu bergumam dalam hatinya sambil mengoleskan salep penghilang memar di kening Alina dan tersenyum memandang wajah Alina.
(kenapa dia menatap ku seperti itu. Aku bisa mengoles salepnya sendiri,tapi dia memaksa ku untuk mengoleskannya. Tapi lihat sekarang dia memandangku seperti itu. Siapa sebenarnya tuan ini,,huft.) Alina mendengus kesal dan bergumam dalam hatinya.
" hey,,apa ini sakit." tanya lelaki itu mendengar lenguhan nafas kasar Alina.
" iya sangat sakit, jadi tuan biar saya saja sendiri yang mengobatinya." Alina menjawab dengan nada geramnya.
"oh,, ini sudah selesai." menarik tangannya dari kening Alina dan merapikan kotak P3K di depannya.
"baiklah saya permisi." pamit Alina yang langsung berdiri hendak melangkah sebelum akhirnya tertahan karna pergelangan tangannya yang di cekal oleh laki laki tadi.
"tunggu,,kita belum kenalan." ucapanya sembari menarik tangan Alina agar kembali duduk.
(aku harus bagaimana,aku tidak mungkin menyebutkan nama ku,kalau nanti dia bertanya siapa aku dan kenapa di rumah ini,aku harus jawab apa,,haduh aku harus segera pergi dari sini.) gumam Alina dalam hatinya yang tampak khawatir karna takut identitasnya di ketahui orang. Karna statusnya di rumah ini tersembunyi dari banyak orang jadi ia harus berhati hati dalam bertindak.
"hey,,,kenapa diam,,siapa namamu,aku teman Biru dan aku kesini tadi mencari kamar mandi. Dan tidak sengaja menabrak mu karna terburu buru." ucapnya yang hanya di balas lirikan dari Alina.
"tuan tolong lepas kan tangan saya. Tuan bilang tuan akan ke kamar mandi bukan. Jadi silahkan tuan lanjutkan. Maaf telah mengganggu dan merepotkan tuan. Permisi." Alina menghempaskan pegangan tangan Juno yang melonggar dan berlari segera meninggalkan tempat itu.
" hey,,kenapa lari seperti itu,siapa namamu." Juno sedikit mengeraskan suaranya melihat Alina berlalu menjauh darinya.
"huft,,lucunya dia,tapi siapa dia,kenapa Biru tidak pernah bercerita bahwa di rumahnya ini ada gadis semanis dia. Tapi kenapa dia tampak takut takut begitu ya. Apa dia mau maling di sini. Tunggu kalau dia mau maling masak kok maling cantik begitu ya. Lalu siapa dia,dia lari ke tangga. Itu berarti dia tinggal di atas sana. Siapa dia ya?" berbicara sendiri penasaran dengan sosok Alina. Ia tersenyum mengingat kejadian tadi.
πππππ
Di area kolam renang pesta masih berlangsung. Jam menunjukan pukul dua dini hari saat kedua orang tua Violet dan Biru pamit undur diri dari pesta untuk beristirahat. Para tamu undangan memang banyak yang juga mengenal kedua keluarga pebisnis ini. Jadi banyak yang dengan asyiknya mengobrol dengan mereka. Saling sapa saling berbagi info dunia bisnis. Sehingga membuat mereka lupa waktu.
" Vio,Biru kami permisi dulu ya,kalian lanjutkan saja pestanya." pamit bu broto mami Biru.
"ya Mi, beristirahatlah." Violet menjawab dengan tersenyum tipis.
" ini hadiah kecil untuk mu Vi dari kami." Mami Biru memberikan satu kotak kecil pada Violet sebagai hadiah ulang tahun pernikahan.
"wah,,makasih mi,,nanti Vio buka ya." dengan senang hati menerima hadiah dari sang mertua dan kemudian mencium kedua pipi mami mertuanya itu.
Setelah kedua orang tua mereka masuk rumah. Mereka melanjutkan pestanya dan pesta baru benar benar selesai pukul tiga dini hari. Tamu pun sudah sepi,tinggal tuan rumah yang kini mulai memasuki kamar untuk membersihkan diri dan beristirahat sebelum hari benar benar pagi.
__ADS_1
" Biru,,kamu mau kemana." Ucap Violet melihat Biru membuka handle pintu hendak keluar kamar dengan setelan piyamanya.
" istirahatlah," Biru menjawab melihat ke arah Violet.
" ya sudah kau juga harusnya beristirahat Biru,bukan malah menemui istri mudamu yang pasti sudah terlelap tidur." Violet berkata dengan nada tidak suka karna tau Biru pasti akan menemui Alina. Sedangkan malam ini Violet ingin bersama Biru.
" kau tidak adil Biru,harusnya kau buat aku bahagia juga,bukan hanya memikirkan kebahagian Alina. Baru saja kita merayakan ulang tahun pernikahan kita,lalu dengan teganya kau meninggalkan ku begitu saja." Violet melanjutkan bicaranya dengan wajah sendu memelas berharap agar Biru tidak menemui Alina dan bersamanya.
" baik lah." Biru mengunci kembali pintu kamar dan berjalan ke tempat tidur menghampiri Violet.
" ayo tidur,,aku lelah." Biru menaiki ranjang dan berbaring menyelimuti dirinya sendiri.
Malam itu mereka terlelap dengan rasa lelahnya masing masing.
Di dalam kamar,, Alina sudah bangun seperti biasa menjelang subuh. Setelah membersihkan diri di kamar mandi Alina merasa haus dan gelas di kamarnya yang biasanya berisi air,kini kosong. Ia menuruni tangga dengan pelan agar tidak ada seorang pun yang melihatnya. Ia berpikir mungkin saat ini semua orang sedang terlelap karna ia tahu pesta baru usai dini hari tadi. Gelas Alina sudah terisi penuh ia kembali kekamarnya untuk sholat shubuh. Ketika Alina selesai menutup pintu kamar. Tiba tiba ia di kejutkan oleh sebuah pelukan dari belakang.
" pagi sayang." sapa Biru dengan menciumi pipi kiri Alina dari samping dengan tangan melingkar di pinggang Alina.
" huft....kamu membuat ku terkejut." Alina menghembuskan nafasnya kasar setelah mendengar suara Biru ia sedikit tenang. Tadinya ia takut yang menyusup masuk ke dalam kamarnya adalah orang lain.
"maaf kan aku,aku rindu,,sangat rindu." bisik Biru di telinga Alina yang sontak membuat Alina bergidik geli.
" baru juga sebentar ga bertemu." jawab Alina datar,ia teringat adegan dansa Biru dan Violet malam kemarin. Dan itu membuat hatinya kembali pilu.
"iya sehari itu sudah sangat menyiksa buat ku." kembali Biru mencium pipi Alina.
" aku sholat dulu." ucap Alina agar Biru melepas pelukannya.
" ayo,kita sholat bersama." Biru melepas pelukannya dan kemudian berjalan di depan Alina menuju kamar mandi.
πππππ
" sayang,,aku akan membeli sesuatu dulu,kamu tunggu di sini ya." Biru membuka matanya dan memandang ke atas tepat di manik indah milik istrinya.
"he'em." jawab Alina tersenyum dan menganggukan kepala pelan.
" baiklah, tunggu sebentar." Biru bangun dari pangkuan Alina dan kemudian meninggalkan Alina sendiri. Tak lupa sebelum meninggalkan Alina. ia memberi satu kecupan manis di pipi sang istri.
Setelah Biru pergi Alina memainkan ponselnya untuk mengusir jenuh saat menunggu. Sedang asyik dengan ponselnya. Tiba tiba Alina di kagetkan dengan seorang pria yang duduk di sampingnya.
" pagi nona manis." sapa pria berbadan tegap dengan setelan baju olahraganya.
Sontak Alina melihat ke arah pria itu. Dan ia membelalakkan matanya. Ia terkejut dengan kedatangan pria itu.
"kenapa anda di sini." Alina menjawab dengan juteknya karna ia tahu,pria di sampingnya ini adalah pria semalam yang menabraknya.
" seperti yang kau lihat aku sedang berolahraga. Kamu sedang apa di sini." tanyanya santai sembari melihat ke arah Alina yang tak memperdulikannya.
Dari kejauhan Biru melihat seorang pria yang duduk di samping istrinya. Hal itu membuatnya geram dan dengan segera ia berjalan mendekati bangku tempat duduk Alina.
" bagaimana dengan kening mu apa sudah baikan. Coba aku lihat." pria itu mendekat ke arah Alina namun sebelum ia benar benar dekat Alina menghentikannya.
" Stop di situ tuan. Saya baik baik saja jadi tolong tinggalkan saya." ucap Alina mengusir pria itu. Ia takut Biru melihatnya.
" kita belum kenalan, setidaknya beri tahu dulu siapa nama mu." masih dengan memandangi Alina ia mengulurkan tangannya.
" Herjuno!!" teriak Biru dari jarak dekat ketika ia sadar yang di samping Alina adalah teman dekatnya. Ia pun berlari kecil ke arah mereka.
" hai bro loe di sini juga." Ucap Juno pada Biru yang kini telah berada di depannya.
" loe ngapain di sini, sendirian??" ucap Biru.
__ADS_1
" gue sama dia." menunjuk bangku di sebelahnya yang ternyata sudah kosong. Tanpa sepengetahuannya Alina telah pergi dari sampingnya.
" mana siapa dia?" Biru duduk di tempat Alina tadi. Seraya meledek Juno.
Juno yang bingung dengan kepergian Alina hanya bisa clingukan mencari sosok Alina.
" kenapa,nyari apa sih lo bro." Biru bertanya dengan santai dan terkesan meledak.
" tadi tu di sini ada cewek bro,manis banget dan cewek itu yang gue lihat semalem di rumah loe." Juno berkata dengan gelagapan karna masih bingung kemana Alina pergi.
(apa!! jadi semalam ia bertemu Alina. Apa apaan ini.) gumam Biru dalam hatinya dan melotot ke arah Juno di sampingnya.
" loe kenapa bro melototin gue begitu." tanya Juno heran melihat Biru begitu.
" nggak nggak, tadi loe bilang elo lihat cewek di rumah gue??" Biru bertanya dengan penasaran.
" iya, cewek dia manis sekali. Aku nggak sengaja menabraknya semalam karna terburu buru." jelas Juno tersenyum mengingat kejadian semalam. Dan tanpa ia tahu hal itu membuat Biru cemburu.
" kamu nabrak dia??!" Biru semakin geram dengan cerita Juno.
" iya,keningnya memar tapi aku langsung memaksanya untuk mengobatinya." menjawab dengan santainya.
" kau menyentuhnya?!" Biru semakin geram mendengar penuturan Juno.
" hey kenapa kau seperti marah gitu sih. Tenang bro. Gue nggak yakin dia manusia. Lihat buktinya dia tiba tiba menghilang. Padahal jelas jelas tadi tu gue lihat dia sini. Gue ajak ngobrol malah." ucapan Juno ini membuat Biru sedikit berkurang emosinya. Karena ternyata Juni menganggap Alina makhluk halus. Ya memang benar Alina adalah makhluk halus. Halus tutur katanya. Begitu batin Biru.
(setidaknya Juno tidak tahu bahwa dia adalah wanita ku. Dia memang bukan manusia Jun, dia adalah bidadari.) gumam Biru dalam hatinya.
" gue rasa dia bidadari yang nyasar di rumah elo semalam." kata Juno yang langsung mendapat pukulan kecil dari Biru di pundaknya.
" udah elo kenapa jadi mikirin dia sih." tanya Biru penasaran dengan tujuan Juno.
" nggak gue cuma penasaran aja bisa bisanya elo sembunyiin bidadari gitu.kalau bener dia nyata,mau gue kenalin ke adek gue." Juno menjawab dengan menaik turunkan kedua alisnya.
" Dasar,mana buktinya,ada juga nggak loe tu halu tahu nggak. Wujudnya aja nggak ada." kembali Biru memukul kecil pundak Juno.
" Iya juga sih,,mungkin gue emang terlalu mikirin gadis manis yang cocok buat adek gue." Juno berkata seperti menerawang sesuatu.
" Eh,,,loe ngapain di sini?? sendirian aja." tanya Juno pada Biru.
" Gue?? gu gue nggak bisa tidur pules di rumah jadi gue menghirup udara segar di sini." Jawab Biru mencari alasan.
" Alasan aja, loe pasti lari dari Violet,udah deh gue apal gimana loe itu. Gue duluan ya,lanjut jogging." Juno malas mendengar keluhan Biru tentang sikap Violet. Maka ia memilih berdiri dan menepuk nepuk bahu Biru yang masih duduk di bangku.
"Hem....ati ati." Biru sennag Juno hendak pergi. Ia pun tersenyum dan melambaikan tangannya.
Setelah Juno menjauh darinya,Biru dengan segera memutar matanya mencari Alina. Tadi saat dia datang dan bicara dengan Juno,matanya memberi kode pada Alina agar Alina bersembunyi untuk mengelabuhi Juno.
Tentunya agar hubungan mereka tidak di ketahui Juno,itu tujuan Biru meminta Alina bersembunyi. Di sisi lain Alina kini berdiri menyender di samping mobil Biru menunggu Biru. Saat tengah menunggu,lagi lagi pria misterius bagi Alina itu datang dan menghampirinya.
(haduh ngapain lagi sih ini orang.) batin Alina geram.
" Hai nona manis,aku yakin kamu manusia,buktinya kita bertemu lagi." sapanya mendekati Alina.
" kenapa tadi lari,aku nggak gigit lo padahal." Juno masih saja menggoda Alina.
Tanpa permisi Alina pergi menjauhi Juno tanpa sepatah kata pun. Bagi Alina Juno adalah pria asing yang mencoba mendekatinya. Alina tidak nyaman dengan itu,terlebih Alina melihat cincin yang melingkar di jari manis Juno dan juga statusnya sebagai istri. Dari kejauhan Biru yang melihat kejadian itu di bikin kesal karna Juno tak hentinya berusaha mendekati Alina. Juno sendiri masih penasaran dengan sosok Alina dan bertekad akan mencari tahu tentangnya.
πππππ
Terimakasih sudah membaca. Jangan lupa setelah membaca tinggalkan LIKE nya ya. Kritik saran di tunggu di kolom komen. Terimakasih banyak untuk dukungannya pada karya ini. Terimakasihπππ€π€
__ADS_1