Takdir Alina

Takdir Alina
Dia bukan pembantu,,,


__ADS_3

Pagi ini di kediaman Biru ramai sekali orang tidak seperti biasanya yang hanya sesekali terdengar langkah seseorang bergantian. Hari ini istana megah Biru ini begitu riuh,,suara orang orang yang sedang mempersiapkan pesta malam nanti.


Hilir mudik bergantian orang keluar masuk rumah Biru. Semua orang bisa melihat dan merasakan kebahagian dan keramaian itu.


Namun tidak bagi Alina. Ia memang bisa melihat keramain dari atas sini. Dari jendela kamarnya terlihat jelas banyak orang berlalu lalang memaksimalkan persiapan pesta malam nanti.


Di sini Alina berdiri di jendela kamarnya. Yang hanya bisa ia lihat,,bukan ia tak ikut berbahagia,namun andai dia bisa ikut andil dan berada di tengah tengah mereka menyiapkan pesta itu. Pastilah ia akan merasa lebih senang.


Namun apa lah daya ia hanya ikut bahagia dalam diamnya. Terlihat Violet dan Dinar di sana di aula pesta seperti sedang melakukan gladi resik bersama beberapa orang untuk pesta malam nanti.


Alina tidak melihat Biru disana. Bahkan sedari pagi tadi Biru belum menemuinya. Tidak seperti biasanya yang pagi pagi selalu menemuinya untuk sholat bersama. Kali ini Alina bahkan belum melihat Biru. Jam di dinding menunjukan sudah saatnya makan siang saat Violet dan Dinar terlihat meninggalkan aula pesta.


(mungkin mereka akan makan siang bersama jadi mereka pergi,,bukan karna aku yang ketahuan mengintip dari sini kan.) gumam Alina dalam hati yang kemudian tersenyum sarkas,seolah menertawakan dirinya sendiri. Ia takut ada yang melihatnya dari bawah sana.


"lebih baik aku bersiap siap untuk sholat." Alina berkata sendiri dan menuju kamar mandi.


Di bawah sana setelah semua selesai makan siang Violet mengumpulkan semua pelayan dan penjaga rumah bahkan tukang kebun. Violet sedang memberi arahan untuk para pekerjanya ini agar nanti saat pesta mereka membantu sesuai tugas masing masing yang telah Violet bagi.


Di saat Violet selesai memberi arahan dan sesaat sebelum para pekerja itu membubarkan diri. Tiba tiba papi Biru menyela menghentikan langkah para pekerja.


" kalian yakin semua sudah kumpul." tanya papi Biru meragukan jumlah mereka. Dan merasa ada yang kurang.


" iya tuan,,saya sudah mengumpulkan semuanya." bik Darmi menjawab dengan kepalanya yang menunduk.


"ada apa pi,," tanya Violet bingung dengan perkataan papi mertuanya itu.


" tidak,,tapi papi rasa ada yang kurang dari mereka. Bukan apa-apa Violet. Papi hanya tidak ingin pelayanan dirumah ini tidak tertib tidak mengikuti arahan majikannya. daripada kamu harus mengulang arahan kamu. Coba cek lagi apa dari mereka ada yang belum datang kesini." Papi Biru memperhatikan semua pelayan wanita. Satu persatu ia lihat.


"isht,,,maksud papi apa sih,,coba Biru hitung." sahut Biru yang baru datang dari belakang papinya.


"udah kok pi bener,,Biru yang setiap bulan gaji mereka dan jumlahnya benar." jawab biru kemudian setelah menghitung jumlah pekerjanya. Dan memastikan bahwa mereka semua sudah berkumpul di sana.


"tidak Biru,,pembantu yang semalam papi lihat di dapur dan papi minta untuk bikin kopi, tidak ada di barisan mereka." papi Biru tetap kekeh. Merasa ada yang kurang. Karena tidak melihat Alina.


"o iya besan benar,,pembantu kamu kurang ini Vi," daddy Violet menyahut seperti mengingat sesuatu. Ia ingat ada Alina kemarin saat dirinya baru datang.


"siapa lagi sih dad??,," Violet mengerutkan dahinya bingung. ia tak mengingat Alina kemarin di panggil pembantu oleh orangtuanya.


"itu Vi yang kemarin bantuin bawain barang barang daddy,yang sama bik Darmi." Daddy Violet menjawab dengan meyakinkan,membuat Violet teringat Alina. Dan kini ia tampak gusar melirik ke arah Biru.


(astaga itu Alina,mati aku kalau Biru tahu Alina di perlakukan seperti pembantu.) gumam Violet dalam hati terlihat gelisah.


(aduh,,jangan di sebutin di sini tuan besar bisa bisa pesta malam nanti hancur sebelum waktunya) batin bik Darmi. ia juga takut jika Biru murka. jika saja Biru tahu kejadian kemarin.


(ayo ma jawab,,biar papa tahu kalau yang di maksud opa adalah dia. Alina) Damar bersuara dalam hatinya. Berharap status Alina terungkap di sinim agar papanya itu kena sentil sang kakek. Dan meninggalkan Alina,, itu adalah harapan Damar.


"kalau yang besan lihat yang mana,,mungkin sama seperti yang kemarin membantu ku itu." lanjut daddy Violet. menanyai papi Biru.


"dia cantik masih muda dan kulitnya putih rambutnya juga panjang. Kira kira hampir seumuran Damar dia punya lesung pipi dan dia tidak pakai baju seragam seperti ini." papi Biru menjelaskan dan sontak membuat Biru membulatkan matanya,mendengar penjelasan papinya menyebutkan ciri ciri yang identik dengan Alina. Biru benar-benar tidak menyangka mereka telah melihat Alina.


"dia bukan pembantu pi." Biru yang tiba tiba berkata dengan geram menatap ke arah Violet.


(kacau,,tuan Biru jangan buka sekarang atau semua akan kacau.) batin bik Darmi.


(papa geram dan tidak pada situasi yang tepat.lanjutkan saja pa, buka semuanya dan papa akan kehilangannya. Dan itulah yang aku tunggu.) gumam Dinar bersorak dalam hatinya. ia ingin Alina enyah dari keluarganya.


"maksud kamu apa Biru." tanya papi Biru heran melihat anaknya seperti menahan emosi.


"emmm pi mungkin maksud Biru,mm" Violet berusaha menjelaskan tapi bingung memilih kata. Ia juga takut dengan tatapan Biru sekarang.


"Biru,jawab papi!!." sentak pak broto papi Biru. Yang langsung menyadarkan Biru.


"mungkin maksud Biru dia bukan pembantu,tapi pelayan. Kami menyebut mereka begitu pi." kilah Violet memberi alasan berharap jawabannya membuat Biru tidak marah padanya.

__ADS_1


"ya maksud papi pelayan,pelayan kamu kurang satu." Papi Biru masih kekeh mencari Alina.


" Pi,,papi lihatnya kan malem jadi mungkin sedikit berbeda. Sekarang mereka memakai seragam jadi pasti terlihat berbeda." Violet mencoba mengelabuhi mertuanya agar percaya.


" Vi saat daddy datang kemarin dia juga tidak sedang memakai seragam. Dan itu siang hari." ucap daddy Violet mengelak pernyataan Violet.


"sudah sudah,,memperdebatkan yang nggak penting aja. Keburu sore kita nggak jadi perawatan nanti." mami Biru yang dari tadi hanya mendengar dan menyaksikan mulai ikut bicara dan menyudahi perdebatan itu.


"kalian pergilah dan lanjutkan tugas masing masing." titah mami Biru. Dan langsung di iyakan oleh para pekerja dengan membubarkan diri.


Meskipun begitu masih tampak raut wajah murk dari Biru. Ia yakij bahwa yang mereka maksud tadi adalah istri. Alina. Saat ini ingij rasanya Biru menemui Alina dan menanyakan kejadian itu. Namun keadaan tak memungkinkan.


Kini para wanita telah masuk di satu kamar untuk melakukan perawatan. Agar penampilan mereka maksimal malam nanti. Di bantu orang orang dari salon ternama di kota ini yang telah Violet panggil untuk datang kerumah. Sedangkan di ruang tengah menyisakan para lelaki berbincang santai di sana.


"pa,aku ke atas dulu." bisik Damar pada Biru saat ia melihat bik Sita sedang menaiki tangga membawa baki makanan.Damar tahu,itu pasti untuk Alina. Dan ia ingin mengambil kesempatan itu.


"ya,, beristirahatlah." Biru menjawab santai. Tanpa ia tahu bahwa sesungguhnya Damar ingin menggunakan kesempatan lengah sang papa.


"baiklah,,Damar permisi dulu opa dan grandfa." Damar pamit dan di balas anggukan oleh semua yang di sana.


"sebaiknya kita semua juga beristirahat. Biru pasti lelah sudah dari pagi menemani kita." Daddy Violet berdiri hendak ke kamar.


" iya kamu benar,ayo lah aku juga merasa mengantuk,aku akan tidur siang sebentar,sepertinya aku kekenyangan ini,hahahaha" pak broto tertawa menepuk bahu Biru dan kemudian berlalu pergi.


Biru hanya tersenyum tipis menanggapinya. Ia sudah tak sabar ingin segera menemui Alina. Sedari bangun tidur tadi saat hendak ke kamar Alina,pak broto memanggilnya memintanya untuk menemani berolahraga keliling komplek. Namun saat Biru baru akan menaiki tangga ia melihat bik Darmi sedang memarahi Sita di sisi tangga yang hampir tak terlihat oleh orang.


"ada apa bik,," Biru yang sudah di belakang bik Darmi bertanya dengan penasaran,karna Sita adalah pelayan yang mengurus Alina.Biru tau itu pasti berhubungan dengan Alina. Makanya bik Darmi memarahi Bik Sita.


" tuan!!!" serentak bik Darmi dan Sita melihat ke arah Biru dengan terkejut.


"kenapa??kenapa kaget seperti itu,apa terjadi sesuatu dengan istri ku,katakan." Biru bertanya tanpa jeda khawatir dengan Alina.


"Tidak tuan,,nyonya muda baik baik saja,Sita baru turun dari mengantar makan siang untuk nonya muda." jawab bik Darmi mencari alasan. Dengan menundukkan kepalanya.


(haduh gimana ini,,tuan Biru akan sangat marah kalau tahu den Damar merebut paksa makanan nona Alin.Dan memaksa untuk mengantarkannya.) Bik Darmi terlihat cemas dan bergumam dalam hatinya.


"baiklah aku akan menemuinya,aku merindukannya." dengan santainya Damar berjalan meninggalkan bik Darmi yang masih merasa cemas itu.


"eh,,bentar bik." Biru berhenti dan kembali menoleh bik Darmi.


"iya tuan ada apa??" tanya bik Darmi gelagapan.


"siapa yang bilang bahwa Alina adalah pelayan di rumah ini. Katakan dengan jujur." Biru bertanya dengan serius. Ia teringat kejadian tadi.


(masalah yang satu belum kelar ini ada lagi.) batin bik Darmi.


"bik,,kenapa diam saja." tanya Biru lagi dengan menaikan suaranya.


"mmm itu,,kemarin,,maaf tuan apa tidak sebaiknya tuan Biru melihat sendiri dari cctv agar lebih jelas," bik Darmi mencoba membuat Biru agar tak jadi ke kamar Alina dulu,karna kalau tidak begitu,maka akan ada pertengkaran ayah dan anak hari ini. Bik Darmi mengalihkan tujuan Biru.


"iya,,bik Darmi benar,kenapa aku nggak kepikiran ya,," Biru manggut manggut dan kemudian berlalu ke ruang kerjanya. Membuat Bik Darmi dan Sita merasa sedikit lega.


"Sita,lain kali jangan sampai sekalipun kamu ulangi kesalahan fatal seperti ini!!" bik Darmi memperingatkan bik Sita setelah Biru menjauh dari mereka.


"iya bik Darmi,,maaf, lain kali aku tidak akan mengulangnya." Sita berkata penuh penyesalan.


Di ruang kerjanya,,Biru fokus menatap layar monitor di depannya. Memeriksa kejadian seharian kemarin. Tak butuh waktu lama Biru telah melihat semua kejadian kemarin. Kini Biru tampak marah jelas terlihat dari raut wajahnya. Dengan penuh emosi dia meninggalkan ruang kerjanya dan menemui Violet.


Setelah membawa paksa Violet dari ruang perawatan tadi,kini mereka telah berada dalam kamar pribadinya.


"Biru,,kamu ini apa apaan sih,,main tarik paksa tangan aku jadi sakit." Violet mengusap usap tangannya yang merah karna cengkraman Biru tadi.


"Violet!!!! keterlaluan kamu!" Biru membentak Violet setelah menghempaskan cengkeramannya.

__ADS_1


"apa??keterlaluan apa??" kilah Violet bingung dengan amarah Biru.


"Alina,dia itu bukan pembantu Vi!" masih dengan emosinya Biru membuat Violet sempat terlihat seperti maling yang ketahuan.


"oh,,masalah kemarin." Violet menjawab dengan sedikit gemetar. Ia taku jika Biru sudah murka begini.


"aku,,aku hanya melindunginya." Violet masih berusaha membela diri di depan Biru.


"melindungi??! dengan mengatakan dia pembantu begitu??! itu merendahkan Vi,bagaimanapun dia istri ku,istri sah ku, tidak ada yang boleh menyamakan nya dengan pembantu!" Biru masih dengan amarahnya menatap tajam Violet. Ia benar-benar murka.


"Biru,,kamu berlebihan,,ini masalah sepele tapi kamu sebegitu marahnya. Dengar, aku bilang seperti itu kemarin karna aku tidak mau orang tua ku tahu kebusukan kamu,aku nggak mau mereka tahu kalau dia adalah maduku, dan harus nya kamu tu berterimakasih padaku,,bukannya malah marah marah." Violet kesal Biru memarahinya,,, ia pun menjawab dengan nada tinggi karna merasa Biru tidak adil padanya ia pikir Biru hanya mementingkan Alina.


"jelas aku marah,,kamu bisa bilang dia teman Damar atau yang lain asal tidak menyebutnya pembantu!" menggertakan giginya kesal dengan ulah Violet yang seolah memanfaatkan keadaan dengan merendahkan Alina.


"kalau kamu ngajak aku kesini cuma bahas masalah itu,,aku permisi,perawatannya belum selesai." Violet berlalu pergi dan menutup pintu kamar dengan keras. Ia tak peduli lagi dengan amarah Biru. Ia malas kareha Biru terus saja membela Alina.


(sial,,kenapa dia tahu semuanya,dan Alina,pasti parasit itu yang ngadu,dasar pelakor awas aja kamu,akan aku tunjukan bahwa Biru hanya mencintai ku,bukan dia. Tunggu nanti malam,kau akan menyaksikan pertunjukan yang bagus.) Gumam Violet dalam hatinya dengan senyum kesalnya.


Biru masih terpaku di kamar,membayangkan bagaimana perasaaan Alina kemarin. Biru terlalu berlebihan mencintai Alina,padahal Alina tidak mempermasalahkan kejadian kemarin.


Dan saat ini di kamar Alina, Damar yang berhasil masuk dengan dalih membawakannya makan siang sedang duduk santai di sofa kamar Alina. Membuat Alina cemas,,bila tiba tiba Biru datang nanti dan melihat Damar di sana.


Alina sudah mengusirnya sedari tadi. Berulang kali Alina mengusirnya namun Damar justru tak bergeming sedikitpun.


"Damar,,aku mohon keluar lah." pinta Alina mengatupkan kedua tangannya di dada. Setelah lelah sudah mengusir Damar sedari tadi.


"sudah,makan saja aku temani di sini,papa nggak akan ke sini papa tu sibuk." Damar masih terus saja menolak dengan santai. Dan memainkan alisnya. Memandang Alina dengan tatapan aneh bagi Alina.


"baiklah,,aku beri penawaran,kamu mau apa dari ku agar kamu mau keluar dari kamar ku sebagai imbalannya." mencoba opsi terakhir meski Alina tau itu beresiko untuknya. Karena bisa saja Damar meminta yang tidak wajar dari Alina. Mengingat tatapan Damar seperti itu.


"hmm,,benarkah aku boleh minta apapun?" Damar bertanya dengan manggut manggut menatap Alina. Kesempatan besar baginya. Ia berdiri dan berjalan mendekati Alina. semakin dekat.


"tidak di luar batas kemampuan ku." Alina menjawab dengan berhati-hati. Ia harus jaga diri jika Biru meminta yang bukan-bukan. Mengingat sekarang Damar yang begitu dekat dengannya. Membuat Alina merasa takut.


Belum sempat Damar menjawab,tiba tiba pintu di buka dan membuat Damar berlari bersembunyi di balik pintu yang di buka. Alina sempat gugup melihat pintu di buka dan terdengar suara Biru.


"sayang,,,kamu kenapa??" melihat Alina yang tampak terkejut. Berdiri di dekat sofa.


"oh,,itu,,nggak,,,, nggak kok,,, aku,, aku baik baik saja." Alina berjalan mendekati Biru,dan berhambur ke pelukannya agar Biru tidak berbalik menutup pintu dan melihat Damar di sana.


"aku sangat merindukan Kamu sayang ku." ucap Biru memeluk Alina dan menciumi pucuk kepalanya.


"ya,,,aku tahu." Alina masih dalam pelukan Biru memberi kode dengan tangannya untuk Damar agar dia keluar dari sana. Sebelum sang papa melihatnya.


(sial,,papa harusnya tidak datang agar aku bisa meminta sesuatu pada Alina.) gumam Biru sebelum keluar kamar ia mendecak kesal dan kemudian pelan pelan meninggalkan kamar Alina. Sebelumnya ia sempat mengedipkan satu matanya pada Alina.


"oh,,jadi hanya aku saja yang rindu?" Biru melepas pelukannya dan bertingkah merajuk pada Alina.


"bukan begitu," Alina tersenyum manis pada Biru.


"kalau sudah tersenyum seperti ini,aku mana bisa merajuk pada mu." Biru mencubit pipi Alina gemas dan kemudian menangkupkan kedua tangannya di pipi mulus Alina.


"sayang,,aku mencintai mu,sedari pagi aku belum melihatmu,kamu membuat ku rindu." Biru menatap lembut Alina dan kemudian mencium mesra bibir Alina yang sedari tadi menggodanya itu. Tidak lama dan Biru kemudian melepaskannya.


" dengar kan aku Alina." Biru meraih kedua tangan Alina.


" sayang jangan biarkan siapapun orangnya memanggil atau menganggap kamu pembantu,walau itu sandiwara,karna kamu tidak bisa di samakan dengan pembantu." Ucap Biru lembut menjelaskan pada wanita yang amat ia cintai itu.


Alina paham apa yang di maksud Biru. Mungkin Biru sudah mengetahui kejadian beberapa hari ini. Sehingga ia berkata seperti itu. Alina pun mengangguk tanda mengerti.


🍎🍎🍎🍎🍎


Biru pun memeluk erat Alina,seolah tak ingin ia lepaskan. Alina melupakan makan siangnya di atas mejanya itu karna Biru kini dengan intens menciuminya lagi. Bahkan Biru sudah menggendong Alina dan membawanya ke ranjang dan melanjutkan ciuman panas mereka. Setelahnya,, tentu saja Biru meminta hak nya. Setelah semalaman tak bersama Alina. Membuat Biru begitu menginginkan wanita itu. Tak peduli bahwa saat itu siang hari dan banyak sekali orang dirumah ini.

__ADS_1


🍒🍒🍒🍒🍒


Terimakasih sudah membaca. Jangan lupa tinggalkan LIKE nya ya setelah membaca. Silahkan kritik dan sarannya di kolom komentar. TERIMAKASIH


__ADS_2