Takdir Alina

Takdir Alina
Betemu keluarga..


__ADS_3

Tiga tahun, menjalani hari hari tanpa keluarga yang selalu ia rindukan. Bahkan mengunjungi makam kedua orang tuanya pun tak bisa sesering yang ia inginkan. karna tempat tinggal Alina yang sekarang berjarak lebih jauh dari kota kampung halamannya.


Hari ini Alina kembali melakukan perjalanan pulang ke kampung halamannya. Yang berbeda kali ini Alina membawa Kirana. Setelah Kirana lahir Alina selalu berusaha menyembunyikannya. Semata mata untuk melindungi Kiran dari orang yang mengancamnya dulu. Itulah sebabnya ia selalu datang sendiri ke sini.


Kedatangan Alina ke kampung halamannya seolah selalu membuatnya teringat banyak kenangan yang tertinggal. Sesak rasanya jika mengingat semua kenangan yang ia simpan itu. Pernikahannya dengan Biru yang terjadi begitu cepat dan hanya bertahan seumur jagung, sungguh Alina merasa semua itu seperti sulit untuk di lupakannya. Dadanya selalu merasa sesak saat semua kilas balik itu berputar dalam ingatannya. Tanpa terasa air matanya menetes begitu saja.


"mama angan anis lagi Kiran nggak akal ma." begitu ucap bocah kecil yang megusap airmata Alina. Yang saat itu mereka berada di pusara ayah Alina.


" mama sedih??" tanya Kiran dengan lucunya ia yang kini berada di pelukan Alina. Melihat sang mama tak bisa menghentikan air matanya yang terus mengalir.


Alina memang tak pernah bisa menyembunyikan air matanya saat berada di pusara kedua orang tuanya. Entah sampai kapan ia akan terus seperti itu. Seolah merasa masih tak ikhlas kehilangan kedua orang tuanya. Terlebih mereka meninggal karna dirinya. Ya karna Alina menikah dengan Biru, Alina selalu menyalahkan dirinya untuk itu. Selalu beranggapan andai ia tak bersama Biru pasti ini semua tak akan terjadi.


" mama nggak papa sayang. Mama hanya rindu nenek sama kakek saja. Kiran tau,, ini adalah makam nenek dan kakek Kiran." ucap Alina setelah melepaskan pelukannya dari Kiran dan mengusap lembut kepala anaknya itu. Selama ini memang Alina hanya bercerita tentang kakek nenek Kiran pada bocah kecil itu. Namun ia tak pernah memberitahu Kiran bahwa kakek neneknya sudah tiada. Alina rasa anak se kecil Kirana belum mengerti tentang hal seperti itu.


Kiran hanya tersenyum dan kembali memeluk mamanya. Seolah tahu apa yang mamanya rasakan itu.


" mbak Alin!" suara seseorang dari belakang Alina. Membuatnya terkejut,,, Alina mengenali suara itu.


" Amran?!" Alina menoleh dan melihat adiknya berada di sana. Ia pun segera berdiri dan langsung menghampiri Amran.


Sungguh betapa bahagianya Alina melihat Amran adiknya. Sudah beberapa tahun kehilangan kontak mereka dan bahkan tidak tahu keberadaan mereka karna selalu berpindah pindah tempat tinggal. Dan hari ini akhirnya mereka dipertemukan kembali.


" Amran,, ini bener kamu kan?" Alina memeluk adiknya itu setelah mendapat anggukan dari Amran.


" mbak,, mbak baik baik aja kan??" tanya Amran masih dalam pelukan Alina. Tak kalah khawatir seperti Alina mengkhawatirkan dirinya.


" iya,,, mba,,, aku baik." Alina melepaskan pelukannya dan mengusap sayang kepala adiknya yang sangat ia rindukan itu.


Setelah Amran selesai berziarah di makam kedua orang tua mereka. Alina membawa Amran ke sebuah rumah makan yang tidak terlalu jauh dari pemakaman. Saat sedang bercerita tadi perut Amran tiba tiba merasa lapar dan bahkan suara protes perutnya itu bisa di dengar Alina. Sehingga Alina membawa Amran untuk makan sambil berbincang.


" mbak,, aku senang mbak baik baik aja." celetuk Amran di sela makannya. Tidak rasa bahagia melebihi rasa bahagianya kembali bertemu Alina.

__ADS_1


" ya,, mbak juga sangat senang bisa bertemu kamu. Mbak mencari kalian tapi belum pernah berhasil. Jadi dimana kalian tinggal sekarang." tanya Alina pada Amran. Selama ini ia selalu mencari tahu keberadaan keluarganya. Melalui sosial media dan juga bertanya pada teman-teman Alina.


Alina lalu melanjutkan,,


" bagaimana keadaan kakak dan juga kakak ipar. Anak anak mereka apa bersekolah dengan baik." Meskipun pernah berdebat hebat dengan sang kakak. Namun Alina tetap menyayangi kakaknya dan selalu mengkhawatirkan mereka.


" ya,, begitulah, nanti mbak lihat sendiri saja. Kalau mbak mau." jawab Amran santai.


" tentu saja,, mbak sudah sangat lama mencari kalian." Lagi,,, Alina mengusap sayang kepala adiknya.


Selesai makan Amran mengajak Alina pergi ke tempat tinggal ia dan keluarga kakaknya. Memang tempat tinggal baru mereka sedikit lebih jauh dari kampung halaman mereka. Meskipun masih berada dalam satu kota. Dan di sinilah Alina sekarang. Di sebuah rumah sederhana dengan halaman yang tidak begitu luas namun cukup untuk mobil Alina parkir.


Amran turun lebih dulu dan berjalan menuju rumah. Sedangkan Alina mengikuti dengan berjalan menggendong Kirana putrinya di ikuti bik Tini di belakangnya.


Saat Alina datang kebetulan sang kakak ipar sedang berada di depan rumah. Melihat Amran turun dari sebuah mobil. Membuat Anita kakak iparnya mengerutkan keningnya. Ia tak mengenali mobil itu Terlebih saat ia mengamati nomor mobil itu bukan berasal dari kota ini.


" Alina?!." Teriak sang kakak ipar ketika melihat Alina turun dari mobilnya dan berjalan mendekatinya sembari menggendong Kiran.


Dengan senyum mengembang mereka saling berpelukan dengan air mata yang tak dapat di bendung. Mereka tidak bersedih, namun inilah air mata kebahagian mereka. Air Mata yang saling mewakili pertemuan mereka.


Walaupun Anita hanya kakak ipar Alina. Namun ia begitu peduli dan menyayangi Alina seperti adik kandungnya sendiri. Oleh sebab itu saat ini ia merasa sangat bahagia sekali melihat Alina datang dalam keadaan baik baik saja. Akas sang kakak yang melihat istrinya memeluk seorang wanita muda itu mulai bertanya-tanya dalam hatinya. Siapa gerangan yang dipeluk sang istri. Akas dengan seksama memperhatikan wanita itu. Dan ia yang baru sampai dari ladang itu pun langsung berteriak memanggil nama Alina. Kemudian memeluk erat sang adik. Akas terlihat bahagia melihat adik perempuannya itu.


Sungguh drama yang mengharukan pertemuan di antara saudara itu. Akas mengajak Alina masuk kedalam rumah untuk berbincang-bincang.


" kakak senang kamu baik baik saja Alin." tutur Akas menepuk pundak Alina yang kini duduk di sebelahnya.


" Alin juga senang melihat kalian baik baik saja." Alina tersenyum melihat satu persatu anggota keluarganya itu. Ia bersyukur semua keluarganya baik-baik saja.


" kami sempat berfikiran bahwa kau telah tiada. Karna Amran bilang ia sama sekali tak melihat mu ketika ia menyelinap mengawasi rumah tuan Biru." Ucap Anita yang membuat Alina membulatkan matanya tak menyangka adiknya senekat itu.


" maafkan aku mbak, aku begitu takut setelah dua tahun mbak Alin nggak ada kabar. Aku nekat menyamar dan sama sekali tidak menemukan apapun tentang mbak Alin dirumah tuan Biru." aku Amran yang melihat sorot mata Alina mengkhawatirkannya.

__ADS_1


" aku baik baik saja, dan saat ini keadaan ku sudah lebih baik dari sebelumnya. Aku dan putri ku hidup berdua dan kami bahagia kak, jangan khawatirkan kami lagi." Alina mengusap tangan akas kakaknya seolah meyakinkan bahwa ia benar baik baik saja. Meskipun ia sampai saat ini masih di hantui bayang bayang ancaman masa lalu itu.


" ya,, itu terlihat dari penampilanmu saat ini Alin. Sepertinya kau mendapat harta gono gini dari tuan Biru." celetuk Akas yang langsung mendapat pukulan di pundaknya dari Anita istrinya.


" maaf kan ucapan kakak mu Alina. Dia hanya bercanda. Kau tahu, dia begitu risau sejak kau tak pernah memberi kabar. Siang malam ia selalu berkata. Alina apa dia baik baik saja. Bahkan saat makan pun dia selalu mengingat mu. Ia tak bisa tidur tenang sejak saat itu." Anita dengan menggenggam tangan Alina menjelaskan keadaan mereka yang begitu khawatir dengannya.


" ya,, aku tahu kak,, sebenarnya kak akas juga tahu awal aku meninggalkan rumah tuan Biru." Alina melirik akas yang menyembunyikan tawanya.


" maksudnya?" tanya Amran dan Anita bersamaan. Ia tak mengerti apa maksud perkataan Alina. Karena selama ini Akas tidak pernah menceritakan apapun soal Alina.


" beberapa hari setelah aku terusir dari rumah Biru. Aku mengaktifkan ponsel lama ku dan bersyukur nomor ponsel kak akas masih aktif. Aku menghubungi nya dan memberi tahu keadaan ku. Saat itu aku bilang untuk tidak usah terlalu mengkhawatirkan ku." jelas Alina.


" lalu kenapa pria ini diam saja,, dasar." Anita memukul kecil pundak suaminya.


" tapi setelah itu ponsel ku hilang Alina dan aku tidak lagi tahu kabar mu. Itulah yang membuat ku begitu khawatir. Aku takut kamu tidak baik-baik saja di sana. Bagaimanapun kita di sini tidak bisa melakukan apapun untuk mu." jelas Akas.


Mereka berbincang sangat lama saling berbagi rasa rindu dengan bercanda dan sesekali tawa menyertai. Tiga bersaudara yang kini tidak lagi memiliki orang tua. Kehilangan orang tua karna keegoisan seseorang. Memang sedih sekali rasanya. Namun itulah takdir yang harus mereka terima. Setidaknya kini mereka jauh lebih bisa saling dekat dan saling menjaga. Akas yang dulu arogan nyatanya bisa berubah menjadi lebih peduli pada adik adiknya juga pada keluarga.


🍎🍎🍎🍎🍎


Biru baru saja selesai makan malam dan duduk di taman dengan menatap layar monitor kala Violet datang menghampirinya.


" Biru,, mau sampai kapan kamu mendiamkan ku begitu." ucap Violet berdiri di depan Biru namum tetap tak di lihat Biru sedikitpun.


" apa Alina mu itu akan kembali dengan kau mendiamkan ku begini?" Violet semakin di buat kesal karna Biru tetap acuh padanya.


Hari itu setelah bertemu Abimanyu Biru pulang dan menunggu Violet. Menuntut penjelasan Violet yang dengan sengaja membuat cerita buruk tentang Alina kala itu.


🍒🍒🍒🍒🍒


Terimakasih sudah membaca. Jangan lupa tinggalkan LIKE nya ya setelah membaca. Krisan silahkan di koment. Terimakasih 🙏🙏😊

__ADS_1


__ADS_2