
πππππ
" *Masalah terbesar wanita adalah mengingat terlalu banyak. Sedangkan masalah terbesar pria adalah melupakan terlalu cepat." * QOTD**
πππππ
πππππ
Di luar ruangan ICU,, Violet dan Biru terus saja beradu mulut. Membuat Candra dan Damar muak dan pusing mendengarnya.
Candra yang geram karna kakaknya yang tak bersikap tegas pada istrinya itu akhirnya memilih pergi menjauh. Sedangkan Damar yang sudah terbiasa itu tetap cuek duduk disana.
" Sekarang juga kau harus pulang Biru,, apa jadinya jika banyak orang yang tahu kau ada di sini untuk wanita itu." Violet masih terus memaksa.
" aku akan pulang setelah Alina sadar." ucap Biru menghempaskan tangan Violet yang tadi memegang pergelangan tangannya.
" ok,,, baiklah,, jika itu mau mu. Maka aku akan menghubungi papi kalau begitu. Akan aku beritahukan semua kelakuan anak kebanggaannya ini." ancam Violet dan merogoh ponsel dari tasnya.
" silahkan Vi,, ayo kasih tahu papi. Biar sekalian semua tahu. Tapi setelah itu aku akan pergi jauh bersama Alina dan putri kami. Dan kalian tidak akan bisa menemukan kami. Lagipula aku juga sudah muak selama ini selalu menjadi kambing congek orang tua itu. Apapun yang aku mau tidak pernah bisa aku dapatkan karna dia terus menggagalkan semuanya. Dan aku,,, aku yang katanya anaknya bahkan selama ini tidak di perlakukan layaknya seorang anak." ucap Biru yang kemudian membuat Violet beranjak pergi dan di ikuti Damar.
Setelah Violet pergi Biru terduduk di kursi. Ia mengacak kasar rambutnya. Ingin rasanya ia berteriak jika saja ini bukan di rumah sakit. Beban yang ia tanggung selama ini tak pernah ada yang bisa memahami. Dulu saat bersama Alina ia masih bisa membagi semua pada Alina. Karna selama ini Biru tak pernah bisa mempunyai teman berbagi dan bahkan orang yang bisa ia percaya. Berkali kali ia mempunyai orang kepercayaan. Namun berkali kali pula orang itu berkhianat. Hanya demi uang,, semua tergiyur bayaran berkali kali lipat yang di tawarkan papi Biru. Sehingga apapun yang di lakukan Biru dan semua rahasia Biru akan bocor karna di ketahui papinya.
Candra melihat kakaknya yang terlihat frustasi itu. Ia pun mendekati sang kakak dan duduk di sampingnya.
" apa seberat itu beban kakak." ucap Candra bersandar pada sandaran kursi.
" hemmm,,, kau pasti tahu lah. Bagaimana papi." Biru dengan senyum getir melihat kearah adiknya itu.
" ya,, dan aku nggak nyangka, kak Sekar bisa selicik papi." Candra mendecak kesal.
" iya Candra, Dan kau tahu,, sejak dia mengetahui hubungan ku dengan Alina. Dia bahkan memberi bayaran berkali kali lipat untuk membayar orang orang ku. Demi untuk memisahkan ku dengan Alina." Biru merasa miris mengingat selama ini orang orang yang di bayar untuk menjaga Alina dan Kirana, ternyata berkhianat padanya dengan selalu membantu Sekar.
" Dan papi,, papi selalu membayar berkali lipat para bodyguard ku untuk selalu melaporkan semua yang ku lakukan. Termasuk pernikahan ku dengan Alina. Hingga akhirnya aku memilih untuk sendirian tidak lagi mempercayai sembarang orang." lanjut Biru.
" miris sekali,, kau tahu kak,, itulah sebabnya aku memilih tidak kembali pada keluarga itu. Aku ingin bahagia dengan hidup ku sendiri. Tidak ingin di jadikan kacungnya hanya untuk memperkaya dirinya." Candra berdecak prihatin pada kakaknya itu.
Selama ini memang kebanyakan orang mengenal Biru sebagai pengusaha sukses dan terkenal dimana mana. Namun sayangnya tidak banyak yang tahu di balik itu semua. Kehidupannya di kendalikan oleh sang papi. Sehingga Biru tidak leluasa untuk bisa melakukan yang ia inginkan.
Berbeda dengan Candra yang memilih untuk lepas dari keluarganya. Biru tidak memiliki keberanian sebanyak Candra yang tanpa berfikir takut kekurangan materi asal bisa menjalani hidup tidak di bawah tekanan orangtuanya. Dan Candra membuktikan itu semua. Candra memang lebih luas dalam berfikir di banding sang kakak. Kakaknya itu terlalu patuh pada orangtuanya. Sehingga membuat batinnya selalu sengsara seperti saat ini misalnya.
Dari dalam ruang ICU Abimanyu dan Kirana keluar. Candra yang melihat mereka bergegas menghampiri Abimanyu mengambil alih Kirana dan menggendongnya.
__ADS_1
" bagaimana keadaan Alina." tanya Biru langsung saat melihat Abimanyu. Sambil matanya melihat ke arah dalam di ruang ICU itu.
" baik,, dia sudah membuka matanya. Tunggu saja sebentar lagi pasti dia bisa di pindah ke ruang rawat." jawab Abimanyu dengan tersenyum.
" syukurlah,,, akhirnya,, dia bisa melewati masa kritisnya." Biru tampak sedikit lebih tenang saat mendengar ucapan Abimanyu.
" dimana kakak ku,, aku ingin keruangan ku." Abimanyu celingukan mencari sang kakak.
" oh,, dia pergi setelah kau masuk keruangan itu." jawab Biru.
" Kak,,, antarkan saja tuan Abimanyu ini ke ruangannya. Aku akan membawa Kirana pulang." ucap Candra yang di iyakan Biru.
Pagi yang indah,,, semalam setelah Alina di pindahkan ke ruang rawat. Ia meminta suster untuk tidak memperbolehkan siapapun masuk. Ia ingin sendiri, Alina tak ingin bertemu Biru ataupun Candra.
Saat sadar dari komanya semalam. Alina sempat melihat Candra dan Biru di depan ruang ICU. Dan entah kenapa Alina tidak ingin menemui mereka berdua. Sebab itulah Alina memilih bersama suster di dalam ruang rawatnya.
Alina sudah melewati masa kritisnya. Saat ini hanya menunggu keadaannya kembali stabil.
Sejak semalam Biru menunggui Alina di depan ruang rawatnya ini. Pagi ini ia sudah tak bisa menahan diri untuk melihat keadaan Alina. Biru memaksa masuk keruangan itu. Dan berjalan mendekati ranjang Alina.
Biru bisa melihat Alina yang masih memejamkan matanya itu. Biru duduk di kursi samping ranjang Alina. Ia mengambil tangan Alina dan kemudian ia genggam.
" huft,,,, akhirnya aku bisa melihatmu lagi. Terimakasih sudah bertahan. Kamu tahu,,, aku hingga tak bisa berfikir jernih melihat mu terluka seperti kemarin." Biru berbicara sendiri. Dengan senyum yang terbit dari sudut bibirnya.
" ehem,, lepaskan tangan ku." Alina berdehem pelan,, membuat Biru terkejut karna Alina tiba tiba terbangun dan kini berbicara padanya.
" ayo lepaskan tangan ku." ucap Alina kembali dengan dingin,, dan menarik narik tangannya dari genggaman Biru.
" kenapa diam saja,,," Alina mulai geram melihat Biru yang tak bereaksi dan hanya menatap dirinya.
" oh,,, maaf,, aku terlalu senang melihat mu kembali membuka mata dan berbicara padaku." ucap Biru masih dengan menggenggam tangan Alina.
" pulanglah,,, tak seharusnya tuan ada di sini. Istri dan anak anak tuan lebih membutuhkan anda." ucap Alina dengan dingin, tak peduli dengan Biru yang tadi berbinar senang kini tampak pias.
" kenapa?? kenapa kamu mengusir ku." Biru terkejut dengan ucapan Alina barusan.
" aku mohon pulanglah,, aku ingin beristirahat. Lagi pula dengan anda selalu di sini, pasti akan ada hal yang tidak baik terjadi. Dan satu lagi, bawa adik anda pergi. Jangan menemui ku lagi." ucapan Alina kini menyentak Biru.
" maaf,, maafkan aku Alina,, selama ini selalu membuat mu dalam kesulitan. Namun sejujurnya aku sungguh tidak ingin itu terjadi. Kamu tahu kan bagaimana diri ku ini. Aku mohon jangan seperti ini pada ku." Biru semakin erat memegang tangan Alina.
" tuan Biru Wiratmadja dan juga adik anda Candra Wiratmadja,,, saya tidak ingin kalian berada di sini. Saya mohon keluarlah,, saya tidak ingin keluarga Wiratmadja menyakiti keluarga saya lagi." ucap Alina tegas yang saat itu melihat Candra yang berdiri di dekat pintu.
__ADS_1
( apa ini,, apa aku tidak salah dengar,, Lili,, dia menyebut nama asli ku,, dia,, apa dia mengetahuinya. Oh,,, astaga.) Batin Candra dengan tatapan bingungnya melihat Alina. Ia terkejut ketika mendengar ucapan Alina barusan.
" baiklah Alina,, aku akan pulang dan akan kembali lagi nanti. Sekarang aku pulang agar kaum bisa beristirahat dan segera pulih." Biru mencium tangan Alina yang berada di genggamannya.
" tidak usah kembali lagi." Alina dengan ketus berkata dan menahan air matanya yang menggenang di pelupuk matanya.
" aku akan tetap kembali." ucap Biru berdiri dan melangkah keluar.
Candra dengan menggenggam buket bunga lily yang ia bawa tadi kini bersembunyi dibalik korden dekat pintu. Ia masih ingin disana setelah Biru pergi. Walaupun Alina sudah mengetahui siapa dirinya. Namun Candra masih tetap ingin mendengar sendiri darimana Alina mengetahui itu.
" pagi Li,," ucap Candra meletakan bunga di meja. Dan bersikap seperti biasa. seperti tidak terjadi apapun.
Alina bersikap dingin dan membuang muka enggan melihat Candra
" hemmmmmmm,,,,, aku senang melihatmu kembali membuka mata dan terus membaik." lanjut Candra yang melihat Alina masih diam dengan wajah membelakanginya.
" pergilah,,, dan jauhi diriku,, tentang semua yang kau berikan,, aku akan mengembalikannya dan mengurusnya nanti setelah aku sembuh." ucap Alina getir,, menahan sebak di dadanya. Ia masih tidak mau melihat Candra, air matanya sudah menetes sejak Biru berlalu tadi.
" apa maksud mu,, kenapa kamu bilang begitu. Aku tak perlu semua itu Li,, itu semua milik mu. Jangan berkata yang nggak nggak deh." Candra berusaha meraih tangan Alina.
Namun Alina dengan sekuat tenaga menahan tangannya agar Candra tak bisa memegangnya.
" aku sadar,, siapa diri ku. Dan aku tidak ingin lagi keluarga ku mendapat masalah karna aku yang masih menjalin hubungan dengan Wiratmadja." ucap Alina dengan menatap tajam Candra.
" Li,, kamu,,," Candra kini bingung akan berkata bagaimana.
" aku sudah tahu,, aku tahu semuanya. Aku mendengar semua percakapan kalian di rumah itu." jelas Alina dengan mata masih berkaca kaca.
" betapa bodohnya aku ini,, tidak tahu jika selama ini aku masih di sarang yang sama." lanjut Alina menahan tangisannya.
Sudah tertangkap basah,, jadi Candra mau tak mau harus menjelaskan semuanya.
" Lili,, aku berbeda,, aku memang berasal dari mereka,, tapi aku tidak seperti mereka. Aku mohon percayalah." Candra berhasil meraih tangan Alina dan menggenggamnya.
" tinggalkan aku sendiri,, aku ingin beristirahat." Alina merasa pusing karna memikirkan masalahnya yang selalu saja ada.
Candra akhirnya memilih keluar memberi waktu pada Alina. Sebelum pergi Candra membenarkan selimut Alina. Dan mengelus lembut pucuk rambut Alina. Setelah Candra pergi,, Alina benar benar menumpahkan air matanya. Ia merasa sakit melebihi luka bekas operasinya saat ini.
Alina bahkan belum sepenuhnya melupakan kejadian tragis yang menimpa kedua orangtuanya. Sehingga ia harus menyakiti dirinya sendiri dengan terpaksa pergi dari suami yang ia cintai kala itu dalam keadaan mengandung.
Dan kini Alina kembali di hadapkan dengan masalah yang menurutnya tidak jauh berbeda, bahkan itu terjadi pada dirinya juga putrinya. Dan sumber semua masalah ini sama. Sama sama karna ia berhubungan dengan keluarga Wiratmadja. Begitulah yang di ucapkan Sekar pagi pagi tadi,, saat Sekar masuk dan menyamar menjadi suster dan memperingatkannya.
__ADS_1
πππππ
Terimakasih sudah membaca,,, jangan lupa tinggalkan LIKE nya ya setelah membaca. Krisan silahkan di koment. Tunggu kelanjutan cerita Alina selanjutnyaππ. Terimakasih πππ€