Takdir Alina

Takdir Alina
Gadis ku,,


__ADS_3

Semenjak kepergian Alina, Biru terlihat lebih dingin dalam bersikap. Walaupun sudah tiga tahun berlalu namun ia tetap masih belum bisa melupakan Alina.


Bahkan Biru sengaja tidak mengurus surat perceraian resminya di pengadilan. Biru masih berharap bahwa takdir berubah dan ia bisa bertemu Alina kembali dan memperbaiki hubungan mereka. Namun nyatanya Biru sudah mengerahkan orang orangnya untuk mencari keberadaan Alina dan hasilnya tetap nihil.


Tiga tahun berlalu begitu saja,, tanpa Alina Biru menjalani harinya yang hampa. Violet dan anak anaknya masih sama. Selalu sibuk dengan dunia mereka sendiri. Tak ada lagi sosok Alina yang memberinya perhatian dan selalu merawatnya saat ia sedang dalam keadaan tak baik.


Menyesal sudah pasti Biru rasakan. Namun Biru enggan mengakui itu. Ia tetap beranggapan bahwa Alina telah mengkhianatinya dengan mengandung bayi orang lain. Namun hatinya tak bisa ia bohongi. Bahwa ia membutuhkan Alina. Ia begitu merindukan sosok periang yang telah mewarnai hidupnya.


Lalu dimana Alina?? bertahan kah dia dengan bayinya. Tiga tahun tak terendus kabar mengenai Alina. Bahkan Biru sudah menghabiskan banyak uangnya untuk mencari Alina. Hanya sekedar ingin melihat gadis itu.


🍎🍎🍎🍎🍎


Dan takdir membawa Alina pada kehidupannya sekarang. Jauh dari hiruk pikuk kota besar seperti kota D. Yang dulu ia tinggali. Bahkan meninggalkan banyak kenangan untuknya.


" ma ma ma." suara menggemaskan Kirana putri kecil Alina berlari kecil menghampiri Alina.


" huh,, sayangnya mama,,." dengan sayang Alina menggendong putri kecilnya itu.


" nyonya,, biarkan non Kiran saya yang gendong. Nyonya sudah rapi nanti non Kiran bisa mengotori baju nyonya." bik Tini asisten rumah tangga yang membantu Alina siap mengendong Kirana. Dari gendongan Alina.


" nggak apa apa bik,, Kirana mau sama mama ya sayang. Maafin mama ya semalem mama pulang telat. Kiran rindu mama? iya?" Alina dengan gemas menciumi pipi Kiran. Kirana adalah semangatnya. Kirana adalah hidupnya. Kirana adalah saksi betapa tersiksanya ia menahan cinta nya belum sempat terucap.


" Kilan lindu mama, ayo mamam sama mama." celoteh Kirana yang menggemaskan ala anak usia dua tahunan.


Kirana yang belum genap berumur tiga tahun itu begitu pintar dan aktif. Bahkan ia banyak menguasai kosakata meskipun belum jelas dalam mengucapkannya. Dia lah semangat Alina untuk bertahan. Dan ia adalah alasan Alina untuk selalu lebih bersemangat menjalani harinya.


Setelah sarapan bersama putrinya dan juga bik Tini. Seperti biasa Alina pergi ke toko bunga yang selama ini ia kelola yang bersebelahan dengan rumah makan miliknya.

__ADS_1


Tiga tahun memang bukan waktu yang cukup lama untuk Alina memiliki usahanya sendiri ini. Terlebih,,, saat ia pergi dari rumah Biru,, Alina tak membawa apapun sebagai bekal untuknya bertahan.


Seseorang berbaik hati membantu Alina saat itu. Dan sampai saat ini orang tersebut masih selalu menemui Alina dan bahkan mereka menjadi teman dekat meskipun umurnya terpaut sedikit jauh dari Alina. Kirana putri Alina bahkan begitu dekat dengannya.


Pagi ini Alina mendatangi restoran miliknya terlebih dahulu. Sebelum akhirnya ia ke toko bunga dan stay di sana. Alina lebih senang berlama lama di toko bunganya ini. Itu karna di toko bunganya ini tidak seramai di datangi orang. Kebanyakan Alina menerima pesanan lewat aplikasi jadi ia tak perlu repot repot untuk bertemu banyak orang. Alina masih enggan menemui banyak orang. Sejak berpisah dengan Biru, ia lebih memilih menutup diri. Seakan bersembunyi.


" pagi lili,,," seorang pria menyapa Alina yang baru saja masuk ke toko bunganya itu.


" pagi juga,, kamu udah di sini aja. Duh,, aku kesiangan dong sampai sampai pelanggan sudah duduk manis menunggu." canda Alina yang di balas senyuman.


" sudah sarapan?" tanya Alina.


" sedang menunggu. Mana sarapan ku." tanya pria itu menengadahkan tangannya. Terlihat sangat akrab dengan Alina. Namun ia memanggilnya dengan nama Lyli.


" kamu ini, seorang pengusaha mintanya gratisan mulu dasar." lagi Alina meledek pria di depannya itu,, alhasil ia mendapat cubitan di hidungnya."


" makanlah,, ayo masuk ke ruangan ku." Alina dan pria itu berjalan ke ruangan kerja Alina.


" bagaimana gadis ku,, apa dia makan dengan baik? huft,, aku sungguh merindukannya." celetuk pria itu sambil mengunyah makanannya.


" tentu,, sekarang pipinya sudah semakin gembul." jawab Alina dengan mata fokus pada layar monitor di depannya.


" malam ini jangan pulang terlalu malam. Aku ingin bertemu dengan gadis ku." Ucap pria itu.


Alina hanya mengangguk dan tersenyum meresponnya. Alina memang tidak akan pulang kerumah sebelum para karyawannya selesai dengan pekerjaannya. Ia selalu membantu pekerjaan para karyawannya agar lekas selesai dan para karyawannya bisa segera pulang dan beristirahat.


Malam itu,,, Alina menepati janjinya. Ia pulang lebih sore dan terpaksa tidak membantu para karyawannya sampai selesai seperti biasanya.

__ADS_1


" hay,,, sorry telat. Ada sedikit masalah tadi di jalan. Ban ku bocor." ucap pria itu ketika Alina membukakan pintu.


" masuklah." titah Alina. Mereka memang tampak dekat.


" apa gadis ku sudah tidur?" tanyanya lagi melihat sekeliling.


" belum." jawab Alina.


" aku ke dapur dulu bikin minum,, langsung ke kamar Kiran aja, dia pasti sangat bahagia melihat mu datang." ucap Alina berjalan menuju dapur.


Dan benar saja Kirana begitu bahagia dengan kedatangan pria itu. Pria yang Kiran kenal sejak ia lahir, bahkan sejak ia masih berada di dalam kandungan Alina. Jelas saja Kirana begitu akrab dengannya. Suara pria itu sudah merasuk ke telinga Kiran saat Kiran masih dalam kandungan.


🍐🍐🍐🍐🍐🍐🍐🍐


Tiga tahun lalu saat Alina terusir dari rumah Biru. Saat itulah pertama kali Alina mengenal pria ini. Iya dia adalah Candra, Candra Wiratmadja. Namun Alina mengenalnya sebagai Candra wijaya. Sebab itulah Alina masih bisa menjalin hubungan dekat dengannya sampai saat ini.


Dan Kirana, jelas ia dekat dengan Candra, karna sedari awal Candra selalu ada untuk Alina. Candra lah yang membantu Alina bangkit dan menjadi seperti sekarang. Candra yang membawa Alina ke dunia bisnis walau hanya bisnis kecil saja. Tidak seperti dirinya yang mempunyai perusahaan besar. Namun Alina bersyukur. Ia bisa menjalani hidupnya seperti saat ini.


Candra terlihat begitu sangat menyayangi Kirana. Mereka begitu akrab, bahkan ketika Candra tak menemuinya Kirana Selalu menanyakan kemana Candra pada Alina.


Gadis kecil yang menggemaskan itu menjadi jembatan Candra untuk selalu dekat dengan Alina. Meskipun mereka hanya berstatus teman. Namun itu sudah cukup. Alina merasa berhutang budi pada Candra, sebab itulah ia selalu menjaga hubungan baik mereka. Walaupun pada dasarnya memang Candra memiliki sikap yang begitu baik pada semua orang terlebih pada Alina dan Kirana.


🍒🍒🍒🍒🍒


Terimakasih sudah membaca,, jangan lupa tinggalkan LIKE nya ya setelah membaca. Krisan silahkan di kolom koment.


Terimakasih 🙏🙏🙏😊😊

__ADS_1


__ADS_2