
Violet menuruni tangga berniat untuk makan siang karna perutnya merasa lapar. Saat di meja makan ia melihat Alina dan Biru sedang tertawa bersama. Entah apa yang sedang mereka tertawakan sehingga Biru bisa terlihat begitu bahagia sembari menunggu Alina mengambilkan makanan untuknya.
Tidak bukan karna Biru yang tertawa bahagia yang menyita perhatian Violet. Tapi kenapa Biru di jam segini ada di rumah dan hanya mengenakan kaos santainya. Hal yang tidak biasa baginya. Selama ini selain hari libur Biru tidak akan ada di rumah di jam jam seperti ini.
" Biru,,kamu di rumah??." Violet menanyai Biru dengan heran saat ia sudah dekat di meja makan.
" oh,,,hai Vi,,baru pulang kamu." Biru bukannya menjawab malah balik bertanya dengan santai.
" aku di rumah,,emang pulang dari mana." Violet menjawab sedikit ketus kemudian duduk di kursinya.
" aneh,,kamu di rumah,ga biasanya." Ucao Biru sambil menerima piring makanannya yang tadi di ambilkan Alina.
" kamu tu yang aneh,,tumben nggak ngantor. Biasanya aja nggak mau ninggalin kantor." Violet menanggapi ketus sembari menatap tajam Biru.
" aku belum istirahat dari kemarin pulang liburan,jadi aku putuskan untuk menghilangkan lelah,,aku tidur di rumah." Biru menjawab dengan santai.
" bagaimana keadaan Damar?." tanya Violet sembari menyendokkan makanannya ke piring.
" Vi,,jadi kamu benar benar tidak melihat putra mu dari semalam?." cerca Biru pada Violet dengan sorot matanya yang tajam.
" apaan sih kenapa kamu kesal begitu,aku emang belum lihat Damar ke kamarnya sejak semalam. Aku lelah jadi aku belum melihatnya lagi.Lagi pula kan kamu papanya dan penyebab dia jadi begitu." Violet menjawab tak kalah ketus dari Biru.
Alina yang menyaksikan perbincangan suami istri yang mulai memanas itu berusaha menengahi dengan cara menyentuh dan menyusap lembut tangan Biru yang berada di meja.
Dan dengan senyum manisnya itu usahanya kini berhasil. Kini Biru sudah tak menanggapi Violet dah memilih diam menikmati makan siangnya.
Selesai makan siang Biru mengajak Violet ke kamar Damar melihat putranya yang sedang di suapi bik Darmi.
"mama,,,," Damar sedikit berteriak karna bahagia melihat mamanya yang dari semalam ia nantikan kini mamanya sudah di kamarnya.
" Damar,,bagaimana keadaan mu." Violet mendekati Damar dan mengusap kepala putranya itu.
" kaki Damar masih sakit ma,,dah perut ku juga masih sakit." keluh Damar kepada mamanya.
" sore nanti akan ada dokter yang datang untuk memeriksa kamu Damar. Papa sudah membuat janji." jelas Biru duduk di sofa kamar Damar.
" kalau begitu kau dampingi Damar Biru. Aku sore ini ada janji. Jadi aku harus pergi sekarang." Violet berjalan menjauhi Damar.
" Damar,,cepatlah sembuh mama harap kau tidak susah minum obat mu agar cepat pulih. Mama tinggal dulu." Violet melambaikan tangan pada Damar dan keluar dari sana.
__ADS_1
Biru tidak merespon apapun ucapan Violet. Ia hafal betul istrinya yang ini memang sangat kurang telaten merawat anak anaknya di saat mereka sedang sakit seperti ini. Sejak anak-anak mereka masih kecil. Violet memang seperti itu.
Hari ini sudah lima hari Damar berbaring di kamarnya. Alina dan bik Darmi bergantian menjaga dan merawat Damar. Meski awalnya Damar menolak Alina namun akhirnya ia menerima bantuan Alina karna memang ia tidak bisa melakukan banyak hal sendiri. Siang itu Alina masuk kamar Damar dengan membawa nampan berisi makan siang Damar dan secangkir madu hangat yang biasa ia bikin untuk Damar.
" aku heran,,kenapa sih kamu itu tetap baik seperti itu." ucap Damar melihat Alina meletakan nampan di meja samping tempat tidurnya.
" aku hanya melakukan yang semestinya aku lakukan." Alina dengan senyumnya ia mengambil makanan Damar.
" kemana bik Darmi,,aku mau dia saja yang menemaniku. Aku muak lihat muka kamu tiap hari." Lagi-lagi Damar mencaci Alina.
"bik Darmi belum pulang dari pasar. Kalau kamu ga mau aku suapi,,kamu bisa makan sendiri. Tangan kamu kan g luka." Alina menyodorkan piring makanan pada Damar.
Setelah Damar menerima makanannya dan mulai memakannya Alina menjauh dari Damar karna ia tahu,,saat dia di dekat Damar,anak itu tidak akan nyaman menyantap makanannya. Selesai makan dan meminum madu dari Alina Damar kembali berkutat dengan laptopnya mengerjakan tugas kuliahnya. Sedangkan Alina masih duduk di sofa menemani Damar. Sembari sesekali melihat anak itu.
" pergilah,,aku akan minum obat ku nanti,tidak usah khawatir." Damar mengusir Alina dari kamarnya.
"minumlah dulu lalu beristirahatlah. Baru aku akan pergi." jawab Alina mendekati Damar dan menyiapkan obatnya.
"kenapa sih,,kamu ini nggak pernah lelah merawat ku. Padahal aku ga suka kamu rawat.Aku mau mama ku." ucap Damar setelah menelan obatnya. Ia merindukan mamanya yang sudah tak lagi menemui nya sejak hari itu.
"karna aku mau kamu lekas sembuh." jawab Alina tersenyum tipis.
setelah merapikan selimut Damar,iapun keluar kamar Damar dan menutup pintunya.
Selalu seperti itu setiap harinya Alina dengan telaten merawat Damar.
Hal itu membuat Damar sedikit menghilangkan rasa bencinya pada ibu tirinya itu. Biru yang mulai kembali sibuk dengan pekerjaannya tak lagi bisa menemani Damar begitu juga Violet ia sibuk dengan bisnisnya bersama teman temannya. Damar merasa sedikit kecewa dengan semua itu.
Namun ia masih bisa merasa sedikit lega setidaknya di rumah itu masih ada Alina yang merawatnya dengan kasih sayang seperti putranya sendiri. Jiwa ke ibuan Alina mengalir begitu saja.Padahal secara umur ia dan Damar hanya berbeda sekitar dua tahun saja.Namun Alina bisa memposisikan diri dengan baik dalam hal ini.
Hari demi hari Alina dan Damar semakin dekat. Bahkan Damar tak lagi canggung meminta bantuan pada Alina.Tidak seperti awalnya yang ia selalu merasa kesal saat Alina masuk ke kamarnya. Ya bahkan Damar pernah melemparkan piring makannya ke Alina sehingga melukai tangan dan mengotori baju gadis itu. Hal itu Damar lakukan sebagai bentuk protes ia tidak mau Alina merawatnya. Dinar adiknya tidak suka melihat sikap Damar yang akhir akhir ini terlihat tidak lagi sinis pada ibu tirinya itu.
Berkat terapi yang setiap hari di berikan dokter kini kaki Damar sudah bisa di gerakan dan dengan bantuan Alina ia berusaha berlatih untuk berjalan.Alina selalu menyemangati Damar dan dengan sabarnya membantu Damar memulihkan kondisinya.Setiap hari Alina membawa Damar ke taman samping rumah.Di bantu bik Darmi,Alina memapah Damar menuruni tangga sampai di taman.
"huft,,,sepertinya kamu makin berat saja Damar." canda Alina saat mereka sampai di taman dan duduk di bangku taman.
"enak aja,,lihat perutku yang rata ini,,mana mungkin aku gendut." kilah Damar menunjukkan perutnya yang tertutup kaos.
"ayo kita latihan lagi,aku ingin segera bisa berjalan dan memberimu pelajaran. Berani sekali gadis seperti mu mengatai ku." dengan senyum tipisnya Damar berdiri dengan tongkat di depan Alina.
__ADS_1
Ya mereka memang sudah seperti itu,sering bercanda bersama.Meskipun Damar masih terkesan jaim di depan Alina.Sesunggunya ia merasa senang bisa bercanda bersama Alina.Setelah dekat tiga minggu belakangan ini ia jadi tahu sosok Alina yang periang membuatnya nyaman berada dekat Alina. Bik Darmi yang selama ini selalu berada di dekat mereka mengawasi mereka ikut senang melihat ke keakraban di antara mereka.
Selama ini bik Darmi selalu kasihan melihat Alina yang selalu di kerjai oleh Damar dan juga Dinar.
Sore itu Alina dan Damar baru selesai berlatih berjalan dan sedang duduk santai di bangku taman.
"Damar,,ayo aku antar ke atas,sebentar lagi papamu akan pulang,aku harus mandi dulu." berdiri dan memegang lengan Damar hendak membantunya berdiri.
"nggak usah di bantu,,aku bisa sendiri lihat saja." menatap Alina dengan mengangkat kedua alisnya dan senyum mengembang di bibirnya.
"hmmm benarkah,, ayo coba berdiri." Tantang Alina. Membuat Damar terpacu ingin membuktikan.
"lihat saja,,bahkan aku bisa berjalan sampai di tangga sana." Damar berdiri tertatih dengan kedua tongkat di tangannya.
Dengan tertatih pelan Damar mencoba berjalan tanpa di papah lagi. Alina mengikutinya dari belakang dan bik Darmi. Ia khawatir Damar terjatuh.
"lihat,,aku bisa kan." akunya saat sampai di tangga. Damar bangga dengan dirinya sendiri yang mulai banyak perkembangan.
"wah Damar,,kamu hebat baru beberapa hari berlatih kamu sudah menunjukan hasil yang bagus." puji Alina dengan kedua ibu jarinya yang di acungkan pada Damar.
"aku bukan bocah kecil yang harus di puji seperti itu." Damar kembali ke mode ketusnya.
"bik Darmi,,tidak usah membantu ku naik ke atas,,aku bisa hanya dengan di bantu satu orang saja." lanjut Damar dan melirik Alina yang berada di sampingnya. Ia masih gengsi menyebutkan nama Alina.
"kalau begitu biar saya saja den yang mengantar ke kamar." tawar bik Darmi khawatir jika Damar akan berbuat tidak baik lagi pada Alina.
"dia saja bik,,dia juga mau ke kamarnya kan. Biar sekalian." Damar menoleh ke Alina.
"tapi den." Bik Darmi merasa tidak enak pada Alina.
" tidak apa bik,,Damar benar,biar sekalian ke atas." ucap Alina yang melihat keraguan bik Darmi.
Dan kini ia pun berjalan memapah Damar sendiri keatas.Dengan berpegang satu tangannya di pinggiran tangga dan satu lagi di pundak Alina. Sedangkan Alina melingkarkan tangan kirinya di pinggang Damar. Tangan satunya memegangi tangan Damar yabg berada di pundaknya. Mencoba menahan tubuh Damar agar tak kehilangan keseimbangan.
Damar tersenyum simpul tanpa Alina ketahui. Alina mengantar Damar sampai di kamarnya dan setelah memastikan Damar pada posisi aman. ia pun kembali kekamarnya sendiri.
Semakin hari kondisi Damar semakin membaik kini ia tak lagi menggunakan tongkat saat berjalan hanya saat turun tangga ia membutuhkan bantuan Alina.Entah itu ia sengaja agar tetap dekat dengan Alina atau apapun itu,hanya Damar yang tahu.
Setelah kecelakaan itu Damar jadi bisa menerima Alina dengan baik. Meskipun ia gengsi mengakuinya. Bahkan mereka jadi dekat karna Alina yang selalu merawat Damar. Damar merasa nyaman saat bercanda dan ngobrol dengan Alina. Hal ini membuat Violet dan Dinar sebagai mama dan adik kandungnya merasa tidak suka dan semakin membenci Alina.
__ADS_1
Terimakasih sudah membaca. Semoga suka ya. Maaf kan bila masih ada kesalahan dalam penulisannya ya. Jangan lupa tinggalkan LIKE nya setelah membaca,,di tunggu saran kritiknya di komen ya. Terimakasih.....