
Semakin hari Biru selalu melakukan hal romantis untuk Alina menunjukan betapa sayangnya ia pada Alina melalui tindakan juga hadiah hadiah yang sering di terima Alina.
Untuk Violet pun sama halnya. Biru juga melakukan hal yang sama pada Violet. Tentu untuk menjaga perasaan Violet agar tak merasa iri pada Alina dan membuatnya menyakiti Alina. Alina senang melihat Biru dan Violet semakin hari semakin dekat tidak seperti awal Alina datang kerumah ini.
Waktu itu terlihat sekali jarak antara Biru dan Violet. Seperti pagi ini Biru menggandeng tangan Violet menuruni tangga menuju meja makan untuk sarapan. Meskipun ada sedikit rasa aneh id hatinya namun Alina berusaha terlihat baik-baik saja.
" wah,,,mama papa mesranya." Ucap Dinar melihat Biru yang menarik kursi untuk duduk Violet. Tidak biasanya ia melakukan hal itu.
" thanks Biru." Violet dengan senyum merekah. Violet melihat kearah Biru yang mulai duduk di kursinya.
" he'em" Biru dengan lembut menjawab Violet dan tersenyum.
" pagi Alina." Biru menyapa dengan senyum dan mengusap lembut tangan Alina yang sudah duduk di kursinya sejak tadi.
" pagi." Alina menjawab dengan senyum manisnya melihat ke arah Biru.
" pagi anak anak,,ayo kita sarapan." Biru menyapa kedua anaknya dengan senyum juga.
Sarapan yang hening tanpa ada yang bersuara hingga Biru menyelesaikan sarapannya.
Seperti biasa Alina selalu mengantar Biru sampai depan pintu dan akan kembali masuk ketika mobil Biru sudah keluar dari gerbang rumah.
Setelah Biru pergi tak berselang lama, Damar dan juga Dinar pun juga meninggalkan rumah. Alina kembali ke kamarnya setelah membantu membereskan meja makan. Akhir akhir ini Alina lebih sering betah di kamar. Yang biasanya selalu merawat taman kini Alina justru hanya sesekali mengunjungi taman. Semenjak ia tahu semua tanaman kesayangannya hancur setelah pesta itu. Alina belum bisa pergi mencari bunga bunga lagi untuk mengganti tanamannya yang rusak.
tok tok tok
suara pintu kamar Alina di ketuk oleh seseorang.
" oh,,bik Sita, ada apa bik." ucap Alina setelah membukakan pintu.
" Ada kiriman dari tuan Biru non." jawab bik Sita dengan sopan.
" dimana?" bertanya dengan clingukan karna tidak melihat bik Sita tidak membawa apapun.
" ada di taman non,silahkan turun kalau nona tidak sedang sibuk." menjawab dengan menundukan kepalanya.
" hemmmm,,,baik lah sebentar lagi aku turun." ucap Alina kembali masuk ke kamar mengambil ponselnya.
Saat sampai di taman, betapa terkejutnya Alina mendapat kiriman tanaman bunga yang kemarin rusak dan belum sempat ia ganti. Alina dengan senyum mengembang menghampiri tanaman yang tergelatak tak beraturan itu. Sama persis jenisnya seperti tanaman dan bunga bunga Alina yang rusak.
" non,,biar mang Huda yang merapikannya." ucap bik Sita melihat Alina mulai merapikan bunga bunganya.
__ADS_1
" nggak apa apa bik,,pelan pelan nanti juga selesai." ujar Alina.
" non,,tuan meminta saya untuk membantu nona merapikan semua ini." mang Huda yang tiba tiba datang langsung menghampiri Alina membantunya.
" makasih mang,,aku angkat telfon dulu." Alina duduk di kursi taman karna ponselnya berbunyi.
" hallo sayang,,sedang apa." sapa Biru dari sebrang sana.
" sedang menerima hadiah dari suami ku." Alina menjawab dengan senang.
" apa kau suka sayang?" tanya Biru.
" tentu saja,,,terimakasih sayang." Alina tersenyum yang tak bisa di lihat Biru.
"baik lah jangan terlalu capek ya, tunggu aku pulang." perhatian Biru pada Alina yang tak ingin istrinya itu kelelahan.
" he'emm." Alina menganggukkan kepalanya dan kemudian menutup telfon. Melanjutkan menata bunga bunga tadi.
Malam ini Biru terlambat pulang tidak seperti yang ia katakan sore tadi bahwa ia akan pulang lebih cepat. Namun justru Biru pulang sangat terlambat. Di meja makan, hanya Alina Damar juga Dinar.
" hei benalu,,mending loe segera siap siap pergi deh,papa sama mama belakangan ini mulai mesra. Lihat lah perlakuan papa ke mama udah jauh lebih romantis." ucap Dinar di sela makannya.
" Dinar, lanjutkan makan jangan bicara saat makan." tegur Damar yang tak suka sang adik mengintimidasi Alina.
" Eh benalu kamu sedih ya, satu lagi, tahu kenapa papa sama mama nggak ada makan malam di rumah? mereka tu saat ini lagi dinner lo." Dinar seraya mengejek Alina yang diam saja.
" Dinar, sudah makan lah." Damar mencoba menahan Dinar.
Alina hanya diam dan pergi dengan senyumnya. Jam di dinding menunjukan pukul sepuluh malam. Alina masih terjaga, entah apa yang sebenarnya mengganggu pikirannya kali ini.
Ia teringat perlakuan Biru belakangan ini yang selalu memberinya hadiah, memberikan perhatian lebih padanya,bahkan sering mengajaknya jalan berdua.
Sesuatu yang sering di lakukan Bagus,memberi kejutan kejutan kecil untuknya.
Alina jadi teringat Bagus, semenjak pertemuannya di pantai dengan Bagus waktu itu, sikap Biru mulai berubah. Namun entah kenapa Alina justru senang dengan perlakuan Biru itu. Sedikit demi sedikit Alina mulai menumbuhkan rasa yang berbeda pada Biru. Walau Alina tahu ia tak bisa se enaknya menempatkan rasa itu. Ada Violet yang juga punya hak atas Biru. Maka dari itu ia selalu meminta Biru untuk menjaga hubungannya dengan Violet. Memulai dari awal bersama Violet. Dan Biru setuju itu asal itu membuat Alina Bahagia.
" sayang,,,apa kau sudah tidur." ucap Biru yang tiba tiba masuk kamar Alina. Dan Melihat Alina masih terjaga.
" hem,,.aku terbangun." jawab Alina berbohong.
" aku bersih bersih dulu ya." Biru ketika di dekat Alina dan mencium keningnya.
__ADS_1
" tidur disini??" tanya Alina. Yang di balas anggukan oleh Biru.
" baiklah aku siapkan baju gantinya." Alina beranjak dari kasurnya dan mengambil baju tidur untuk Biru di lemari.
" sayang maaf,,pulang terlambat." ucap Biru yang kini sudah duduk di samping Alina di atas ranjang dengan baju tidurnya. Dan di balas senyuman juga anggukan oleh Alina.
" di jalan aku bertemu Violet, mobilnya mogok jadi kami pulang bersama,di tengah jalan Violet lapar jadi kami makan dulu." jelas Biru mengusap lembut pipi Alina.
" apa kak Vio baik baik saja." tanya Alina tulus.
" ya,,mobilnya hanya mogok dan itu di tempat ramai." Biru masih dengan mengelus rambut Alina.
" besok hari sabtu, aku ingin mengajakmu pergi. Kita kencan mau kan?" tanya Biru antusias.
Alina diam tampak berfikir, ia ragu karna sabtu adalah hari milik Violet.
" Violet besok pergi ke luar kota untuk beberapa hari tenang lah jangan ragu." ucap Biru seolah tahu yang di pikirkan Alina.
" aku ingin hubungan ini tidak hanya sebatas menjalankan kewajiban sebagai suami istri, beri aku kesempatan Alina. Kesempatan untuk menyelami hatimu, menjadi pemilik hatimu seperti dirimu yang sudah menguasai hati ku. Ijinkan rasa ku ini juga terbalas, aku yakin bahwa kamu pasti tahu bagaimana rasa cinta ku pada mu. Aku ingin kamu pun memiliki rasa yang sama." ungkap Biru memandang Alina intens.
" maaf kan aku yang selama ini belum bisa benar benar membuka hati ku, tapi percayalah, rasa itu mulai ada walau mungkin belum sebanyak dirimu. Maafkan aku,ajari aku untuk bisa mencintai kamu seperti kamu mencintai ku, ajari aku untuk membuang rasa yang masih tersimpan untuk seseorang di masa laluku. Ajari aku agar aku bisa mengisi ruang hati ku dengan nama mu." tutur Alina dengan mata berkaca kaca merasa bersalah pada Biru.
" ayo kita mulai, kita sama sama memahami mengerti satu sama lain." Biru Kemudian memeluk Alina dengan sayang.
" sayang,,,kayaknya kita harus sering sering berkencan,kita pacaran, dengan begitu aku akan membuat kamu jatuh cinta pada ku." ucap Biru melepas pelukannya.
" boleh,asal jangan lupa harus adil dengan kak Vio,aku nggak mau kak Vio salah paham." kata kata Alina membuat Biru berpikir untuk merencanakan sesuatu kedepannya.
πΌπΌπΌπΌπΌ
Sejak hari itu Alina dan Biru sering menghabiskan waktu bersama. Bahkan Biru menemani Alina berjalan jalan di mall walaupun dengan pakaian penyamaran untuk menutupi identitasnya.
Bermain di arena bermain sama seperti yang Bagus lakukan dulu bersama Alina bertanding di arena permainan di pusat perbelanjaan. Alina mulai benar benar merasa nyaman bersama Biru.
Beberapa hari Violet di luar kota membuat hubungan Alina dan Biru semakin dekat. Bagus benar tentang Alina, ketika Biru membuat Alina nyaman maka senyum merekah tanpa beban Alina akan selalu terpancar.
Biru melihat itu, saat bersamanya kini Alina jauh lebih santai dan sedikit mau terbuka tentang perasaannya pada Biru.
Biru sangat bersyukur tentunya. Dan Alina juga merasakan hal yang berbeda saat ini mungkin rasa cintanya pada Biru memang mulai bertambah kadarnya. Maafkan Alina kak Vio, Alina hanya berusaha mencintai lelaki yang sudah halal baginya. Mungkin begitu batin Alina.
πππππ
__ADS_1
Terimakasih sudah membaca. Jangan lupa setelah membaca tinggalkan LIKE nya ya. Kritik saran di tunggu di kolom komen. Terimakasih banyak untuk dukungannya pada tulisan saya ini. Terimakasihππ