
Hari ini satu tahun pernikahan Alina dan Biru. Tak seperti pernikahannya dengan Violet yang di rayakan dengan pesta besar. Kali ini Biru hanya ingin pesta kecil kecilan di rumah. Namun Alina tidak suka pesta jadi ia menolaknya. Cukup makan malam berdua di sebuah caffe pilihan Alina. Biru sengaja meminta Alina yang menentukan tempatnya. Karna selama mereka bersama selalu Biru yang menentukan akan kemana mereka. Kali ini Alina bebas menentukan tempat mana yang ingin ia kunjungi.
" kita berangkat sekarang sayang." ajak Biru menjemput Alina di kamarnya.
" hemm,,,aku ambil tas dulu." Alina mengambil tas kecilnya di meja.
Tiga puluh menit perjalanan, kini mereka sampai di sebuah cafe yang bernuansa klasik itu. Alina menyukai tempat ini karna suasananya membuat hati tenang. Tak di pungkiri ini salah satu tempat favorite Alina.
Alina dan teman temannya sering nongkrong di sini di kala libur kerja. Di sela menunggu makanan datang. Biru memberikan hadiah untuk Alina
" sayang,,,untuk mu." Biru menyodorkan sebuah kotak hadiah untuk Alina.
" emm,,,apa ini?" tanya Alina melihat ke arah kotak itu.
" terima dan buka lah." titah Biru.
" terimakasih." Alina menerima hadiahnya dan mulai membukanya perlahan.
Sebuah ponsel keluaran terbaru sebagai hadiah untuk Alina. Dengan senang bercampur terkejut Alina mengambil ponsel itu dari boxnya.
" Suka???" tanya Biru melihat Alina yang masih tak lepas dari ponsel di depannya.
" tentu saja sayang,,aku menyukainya, tapi kan ini terlalu ma......" belum selesai Alina berkata,, sudah lebih dulu di sela oleh Biru.
" untuk mu apapun itu nggak ada yang sulit bagi ku." ucap Biru mengusap lembut pipi Alina.
" lagi pula ponsel mu kan sudah retak,,sini aku bantu memasangkan sim cardnya, supaya kamu bisa segera menggunakannya." lanjut Biru mengambil tas kecil Alina yang tergeletak di meja.
" tahu dari mana ponsel ku retak." tanya Alina heran. Selama ini dia menyembunyikan ponselnya yang retak karna di jatuhkan Violet saat Alina sedang menata bunganya waktu itu. Alina sengaja selalu menyembunyikan ponselnya dari Biru agar tak menjadi masalah. Namun ternyata Biru tetap saja tahu.
" apa yang aku tidak tahu tentang istri ku ini." ucap Biru santai sambil membuka tas Alina.
Tiba tiba saja seseorang datang dan menghampiri mereka.
" istri?! tuan Biru, anda bilang istri, mana nonya Violet?? dan siapa gadis ini?" ucap lelaki yang ternyata adalah rekan bisnis Biru.
(kenapa dia mengenali ku,,padahal aku sudah berpakaian seperti ini dan wajah ku pun sepertinya tidak akan mudah di kenali.) batin Biru, ia bingung harus menjawab apa,sekarang ia tertangkap basah sedang bersama wanita lain dan kedapatan menyebut sebutan istri.
" benar kan anda tuan Biru, suara anda jelas jelas tuan Biru." kata lelaki itu lagi meneliti Biru.
" Biru,,,,kamu di sini." kakak perempuan Biru yang tiba tiba juga datang di saat bersamaan membuat Biru dan Alina semakin bingung. Dan salah tingkah.
" iya kak,,aku di sini, dan hai tuan Ryan apa kabar?" akhirnya Biru berdiri dan menjawab pertanyaan orang orang itu dengan sedikit gugup.
Tuan Ryan adalah rekan bisnis Biru sekaligus kakak iparnya. Kini pandangan kedua orang itu tertuju pada Alina yang duduk diam menyembunyikan kegelisahannya.
" Biru,,siapa gadis itu, jangan bilang kamu ada main sama dia." cerca kakak Biru yang langsung membuat Biru bingung dan Alina pun sama.
" tadi tuan Biru menyebut istri, dimana istrinya?? atau jangan jangan dia??" tanya tuan Ryan membuat suasana semakin membingungkan untuk Biru dan Alina.
" emmmm dia,,,,dia.." Biru menggantung ucapannya karna bingung akan mengatakan apa. Berkata jujur akan membuat situasinya semakin tak baik, berbohong tentu saja akan menyakiti Alina. Sedangkan saat ini Biru sedang mencoba memenangkan hati Alina itu.
" Biru,,katakan jangan diam saja." kakak Biru mulai berkata dengan keras.
" dia bukan siapa siapa." menjawab berat dan menutup matanya tak kuasa, dia lirik Alina yang masih duduk dan terlihat matanya berkaca kaca.
" lalu untuk apa kalian berdua di sini." tanya kakak Biru masih menyelidiki.
" aku,, aku,,, sedang merencanakan kejutan untuk Violet dan dia yang akan membantu ku." ucap Biru mencari alasan.
" benarkah,,kenapa kalian sepertinya akrab sekali. Dan kamu jangan merayu suami orang. Jangan gunakan wajah lugu mu itu untuk menarik perhatian laki laki yang sudah beristri." kakak Biru berkata ketus pada Alina dan menatapnya tajam.
" kak,,dia tidak seperti itu." Biru dengan menahan geramnya membela Alina.
" Biru di cafe ini tempat terbuka apa kata orang kalau mereka melihat Biru Wiratmadja makan malam bersama wanita lain dan itu lebih muda dari istrinya. Pikirkan reputasi mu Biru." kata kata kakak Biru membuat Alina semakin terpojok saja.
" Lagian kenapa juga gadis ini mau maunya jalan sama om om kayak kamu kalau bukan ada maunya, sudah dapat apa kamu dari Biru, dan ini, ini ponsel baru, tubuh mu kamu tukar dengan ponsel ini? hah?!" Benar benar menusuk hati Alina mencabik cabiknya,ucapan dari kakak Biru membuatnya tak bisa menahan air matanya. Ia berdiri dari duduknya.
" maaf saya permisi." Alina dengan menahan air matanya dan pergi begitu saja meninggalkan Biru yang juga tak bisa berbuat banyak untuk membelanya.
" kakak keterlaluan, dia bukan wanita seperti itu kak." ucap Biru pada kakaknya geram.
" kalau dia memang hanya ingin membantumu,harusnya kamu bisa menyuruhnya datang ke kantormu siang hari di saat jam kerja agar tidak ada yang salah paham. Itu sih kalau memang cuma rekan kerja yang akan membantu saja. Nggak lebih." ucap tuan Ryan yang kemudian menggandeng istrinya berjalan meninggalkan meja Biru. Tak lama setelah itu beberapa orang terlihat menghampiri Biru dengan kameranya. Ternyata mereka adalah wartawan yang kebetulan sedang makan malam di caffe tersebut. Dan tidak membuang kesempatan untuk menggali informasi tentang pengusaha ternamaan itu.
__ADS_1
" tuan Biru apa benar anda mempunyai hubungan dengan gadis yang tadi bersama anda?" tanya salah satu wartawan pada Biru yang masih diam saja.
" lalu bagaimana dengan nona Violet, apa dia juga mengenal gadis itu tuan Biru." wartawan lainnya menyahuti.
" permisi." setelah membereskan barang barang di meja Biru berlalu melewati wartawan begitu saja. Membuat para pewarta itu kecewa karna tidak mendapat kejelasan beritanya.
πππππ
Biru mengendarai pelan mobilnya menyisir jalanan sekitar caffe mencari Alina. Biru yakin Alina ada di sekitar karna saat pergi tadi Alina tidak membawa barang apapun bahkan tasnya ia tinggal begitu saja. Namun sayangnya hingga larut malam Biru tidak menemukan Alina. Ia memutuskan untuk pulang. Saat sampai di rumah kamar Alina menjadi tujuan utamanya. Berharap sang pemilik kamar ada di sana.
" Sayang,,Alina,,." Biru berteriak menyusuri penjuru kamar dan kamar mandi. Namun nihil.
" tuan Biru,nonya muda tidak pulang kerumah." ucap bik Darmi berdiri di ambang pintu kamar Alina.
" Biru,,sudahlah biar saja dia pergi, itu lebih baik untuk sementara ini. Aku dengar dari kakak ipar kau kedapatan bersamanya dan beberapa wartawan mengejar berita tentang kalian. Jadi biar saja untuk sementara Alina tidak ada. Memang sudah seharusnya dia bersembunyi kan??. Sampai situasi membaik." ucap Violet yang tadi mendengar Biru berteriak dan kini menghampiri Biru yang duduk frustasi di sofa kamar Alina.
Malam itu Biru benar benar terjaga menunggu Alina pulang. Sepanjang malam menunggu kabar dari orang orang yang ia sebar untuk menemukan Alina. Pagi ini belum ada kabar sama sekali mengenai Alina. Namun di luar gerbang sana beberapa wartawan sudah berkerumun menunggu Biru. Menanti berita yang semalam sempat menjadi topik utama di majalah bisnis kota itu.
" pah,,udah kayak artis aja di tungguin wartawan." celetuk Damar di meja makan.
" papa sih pake acara kencan keluar berdua. Ketahuan banyak orang gini kak repot. Reputasi keluarga kita jadi taruhannya." Dinar menimpali.
" Diam!! jangan ikut campur urusan papa selesaikan sarapan kalian dan pergi sekolah." titah Biru dengan emosi.
" nggak usah marahin mereka Biru, mereka itu hanya menghawatirkan reputasi keluarga kita. Itu hal yang wajar." ucap Violet membela.
Biru kehilangan selera makannya. Ia berdiri meninggalkan meja makan dan kembali ke ruang kerjanya. Hari ini ia memutuskan tidak ke kantor dan bekerja dari rumah. Sembari tetap menunggu kabar dari Alina. Sebuah pesan masuk ke nomer ponsel Alina yang sudah berpindah ke ponsel baru hadiah dari Biru semalam.
°° Lilin baik baik saja,,jangan khawatir, dia bersama ku.°° bunyi pesan itu.
Membaca pesan itu Biru sempat meradang karena ia tahu yang mengirim pesan itu adalah Bagus. Ia bertanya-tanya,, darimana Bagus tahun nomer ponsel Alina. Dan yang lebih menyakiti hatinya adalah mendengar Alina ada bersamanya.
Namun sesaat kemudian ia merasa sedikit tenang karna Alina baik baik saja.
Siang ini dengan penyamaran untuk mengelabuhi para wartawan Biru keluar rumah menemui Alina. di tempat yang di beritahu Bagus melalui sambungan telefon tadi. Biru sampai di sebuah apartemen tempat Bagus membawa Alina semalam.
Setelah memarkirkan mobilnya,, Biru bergegas masuk ke gedung apartemen dan menaiki lift untuk sampai di tempat Bagus.
" dimana istri ku." ucap Biru setelah melihat bagus membukakan pintu.
" tenanglah, dia di dalam." dengan santai Bagus menjawab. Dan tanpa permisi Biru menerobos masuk kedalam.
Biru mengeraskan suaranya memanggil Alina.
" sayang,,, Alina,,, kamu di mana sayang,,," Biru memanggil manggil Alina sembari melihat sekeliling.
Melihat Biru yang kacau dan tamoak frustasi memanggil Alina. Bagus mendekati Biru dan berkata dengan pelan.
" tenang om,,dia ada di kamar, aku memintanya untuk beristirahat. Kondisinya sangat lemah. Sejak semalam aku menemukannya menangis di pinggir jalan." jelas Bagus prihatin,, ia mengingat kondisi Alina saat semalam tak sengaja ia bertemu dengannya di jalan saat ia hendak pulang ke apartemen.
" om,,, baru beberapa waktu lalu anda berjanji akan membuatnya bahagia. Lantas kenapa semalam Alina terlunta lunta di jalanan." lanjut Bagus menekan pelan nada bicaranya agar Alina tak mendengarnya. Ia kecewa dengan Biru yang membiarkan Alina sendiri malam-malam dengan kondisi yang tidak baik.
" terjadi sesuatu di luar kendali ku itu lah sebabnya. Dan asal kamu tahu anak muda. Aku tidak pernah dengan sengaja membiarkan Alina ku seperti itu. Jadi katakan dimana istriku,, aku harus membawanya pulang." ucap Biru dengan angkuhnya berusaha menyingkirkan Bagus. Ia bahkan mencengkeram kerah baju yang di pakai Bagus. Kareba Bagus terus menghalaunya mencari Alina.
Bagus dengan sekuat tenaga menghempaskan kedua tangan Biru. Bagus mengangkat ponselnya yang menunjukkan berita tentang kejadian semalam di cafe.
" tentang berita ini maksudnya?" Bagus dengan geram memperlihatkan sebuah artikel yang memuat berita tentang Biru Wiratmadja pengusaha yang terpergok jalan dengan seorang gadis muda.
Biru melirik ponsel milik Bagus dan sekilas ia tahu apa isi berita itu.
" aku heran,,anda bilang anda mencintai Lilin sejak awal melihatnya. Tapi kenapa anda begitu takut kehilangan reputasi anda jika publik mengetahui hubungan kalian. Sampai-sampai anda membiarkan Lilin pergi dengan kondisi seperti itu. Sepenting itu reputasi untuk kalian keluarga terhormat. Cinta apaan itu,,,, cinta anda itu palsu." kata Bagus dengan nada kesal pada Biru. Hatinya sakit melihat Alina di perlakukan seperti itu.
" Kamu tahu apa tentang kehidupan ku. Dan asal kamu tahu,, itu semua bukan kemauan. Percayalah aku mencintai Alina. Dan karena cinta ku itu,, aku tidak mau terjadi hal buruk padanya. Kamu tidak tahu bagaimana orang tua ku. Dia mampu melakukan apapun untuk menghancurkan Alina dan orang orang terdekatnya andai mereka tahu aku mencintai Alina. Bagi mereka menikahi gadis biasa itu melanggar norma keluarga. Dan demi cinta ku pada Alina aku melalukan itu." jelas Biru frustasi mengacak rambutnya. Bahkan matanya pun berkaca-kaca.
" laki-laki macam apa anda om. Umur anda bukan lagi anak muda, tapi kenapa tidak bisa mengambil keputusan dengan benar untuk memperjuangkan Alina dan untuk melindunginya. Dan sampai kapan?? sampai kapan anda akan menyembunyikan Lilin. Lilin manusia biasa yang punya hati tentu saja ia pasti merasa terbebani bila seumur hidup ia akan menjalani hidupnya seperti itu,, menjadi istri sah namun selalu menjadi bayang-bayang semu." Bagus ikut emosi mendengar ucapan Biru. Ia tak menyangka bahwa Alina yang ia sayangi itu akan mengalami hal yang tidak mudah.
" sampai saatnya nanti,, saat aku benar benar siap membawanya pergi tanpa memperdulikan keluarga ku,,, dan tanpa ada satupun orang yang bisa mengusik kebahagiaan kami." Ucap Biru yang sebenarnya dia sendiri pun belum tahu harus melakukan apa setelahnya.
" Sesungguhnya aku rela meninggalkan semua yang aku miliki demi Alina. jika saja Alina memintanya maka dengan senang hati aku akan melakukannya. Tapi aku yakin,, Alina bukan wanita yang seperti itu. Itu sebabnya hingga kini dia selalu menerima apapun keadaan kami. Kamu tahu Bagus,, aku melakukan semua ini karena aku mencintai Alina. Dan itulah sebabnya aku menyembunyikan statusnya sebagai istri ku agar ia tidak berada dalam bahaya." Biru melanjutkan ucapnya dengan tatapan nanar.
Tanpa Biru sadari Alina berada di sana mendengar semua ucapan Biru. Alina melihat penampilan Biru yang tak seperti biasanya. Biru tampak kacau dengan rambut hitamnya yang berantakan. Wajahnya yang kusa,, kantung mata yang membesar.
Alina merasa trenyuh melihat keadaan suaminya. Entah mengapa hatinya perih mendengar semua yang di katakan Biru.
__ADS_1
Alina masih diam di tempatnya,, mendengarkan Biru dan Bagus.
" Jika tuan Biru mencintai Alina,, berikan dia kebahagiaan. Meskipun bukan istana megah,, perhiasan mewah dan segala macam barang mewah. Berikan dia cinta yang tulus dengan limpahan kasih juga sayang. Alina itu memang wanita yang tangguh om. Tapi Alina juga punya perasaan dan hati yang mudah tersentuh. Menurut anda apa iya Alina tidak merasa perih dalam hatinya dengan semua yang telah ia lewati selama ini. Ku rasa sudah cukup Alina menderita selama bertahun-tahun untuk keluarganya. Dan aku pikir setelah ini Alina bisa bahagia bersama suaminya. Ternyata aku salah,, jika saja aku tahu bahwa akan seperti ini jadinya. Maka di hari pernikahan kalian aku akan membawa Alina pergi jauh. Ke tempat yang hanya ada kita berdua yang tahu. Agar ia melepaskan semua bebannya. Dan hanya ada bahagia." Bagus benar-benar murka mengetahui fakta bahwa kehidupan Alina semakin tidak baik-baik saja. Pria itu masih mencintai Alina sehingga ia tak rela melihat Alina menderita.
" Dengar Om Biru,, jika anda tidak bisa memberikan kebahagiaan untuk Alina. Lepaskan Alina,,, karena dengan senang hati aku akan membawanya pergi bersama ku." Lanjut Bagus yang menatap tajam Biru di depannya.
Mendengar hal itu Biru semakin murka. Tentu saja ia tidak ingin hal itu terjadi. Apalagi mengetahui Bagus masih sebegitu mencintai Alina. Membuat Biru merasa tidak bisa membiarkan semua terjadi.
" Jangan sembarangan bicara kamu. Aku tidak akan membiarkan siapapun membawa Alina. Dia hanya boleh bersama ku. Karena tidak ada cinta untuknya yang lebih besar dari aku mencintai dirinya. Bahkan bila Alina meminta pun aku tidak akan membiarkan dia pergi. Dia adalah cinta pertama ku. Aku mencintai dia meskipun terlambat. Aku sadar aku tidak sempurna untuknya. Aku sudah memiliki hubungan dengan wanita lain sebelum dengannya. Tapi hati ku,,, hatiku untuknya,,, semua rasa ku untuk Alina. Aku tidak bisa jika harus tanpa dia." Biru berkata dengan mata yang berkaca-kaca.
Bagus tersenyum kecut menanggapi hal itu.
" Kalau begitu kenapa anda tidak menciptakan bahagia untuk Alina. Jangan hanya mengekangnya saja. Alih-alih mencintai dia tapi anda sendiri tidak bisa menciptakan bahagia untuknya. Bahkan anda tidak membiarkan Alina melakukan hal yang ia sukai." Ucapan Bagus membuat Biru diam tanpa kata.
" Kamu benar bagus,,, mulai hari ini aku akan membuat Alina lebih bahagia lagi. Jadi sekarang beritahu padaku. Dimana kamu menyembunyikan istriku." Ucap Biru setelah beberapa saat diam.
" Saya tidak yakin anda bisa mengurus Alina setelah ini. Lihat saja diri anda sekarang,, baju kebalik, sandal jepit sebelah berbeda, rambut tak beraturan,, dan lihat wajah anda. Apa iya Alina bisa baik-baik saja dengan anda,, sedangkan anda mengurus diri sendiri aja gak bisa." Ucap Bagus memperhatikan penampilan Biru dari ujung rambut sampai ujung kaki. Bahkan Bagus menertawakan Biru.
Biru tidak menyadari akan penampilannya. Ia kini mengamati dirinya setelah Bagus berkata demikian. Dan sekarang ia malu dengan sendirinya.
" Aku buru-buru tadi,, setelah mendapat pesan dari kamu. Aku sudah bilang kan aku tidak bisa tidur semalaman. Memikirkan Alina,, karena orang-orang ku tak bisa menemukan Alina. Aku memang asal memakai baju dan sendal karena aku tidak ingin wartawan mengenaliku. Banyak wartawan di depan rumah ku." Biru memberi Alasan untuk sedikit menutupi rasa malu karena penampilannya.
Alina berjalan mendekati Biru,, setelah mendengar semua pembicaraan Biru dan Bagus. Alina putuskan untuk kembali bersama Biru. Pandahal semalam ia ingin kabur dan pergi jauh. Namun entah mengapa ia urungkan niatnya. Ada sebuah rasa aneh dalam hatinya ketika melihat Biru dan mendengar semua pengakuan Biru.
Alina berdehem,,, membuat Biru langsung menoleh kebelakang. Dan binar bahagia terpancar dari raut wajahnya.
" Alina,,." Teriaknya bahagia melihat Alina berjalan di belakang. Segera ia meraih tubuh Alina dan memeluknya begitu erat.
" Sayang,,, maafin aku. Maafin aku,,, aku mohon maafin aku." Ucap Biru masih dengan memeluk Alina. Ia sangat merasa bersalah pada sang istri.
Dalam pelukan Biru Alina menjawab dengan anggukan kepalanya.
Karena merasa ada pergerakan tanpa kata dari Alina. Biru melepaskan pelukannya. Ia menatap Alina memastikan bahwa Alina baik-baik saja.
" Sayang,,, maafin aku ya atas kejadian semalam." Ucap Biru lagi.
Alina tersenyum kecil sembari berkata.
" Iya aku maafin. Dan aku juga minta maaf karena membuat tuan Biru ini khawatir bahkan tidak tidur semalaman." Ucap Alina dengan lembut dan tersenyum begitu manis.
" Apa kamu tidak apa-apa sayang?." Biru mengamati sekujur tubuh Alina. Mencari tahu barangkali ada luka pada Alina.
" Ya,,, aku baik-baik saja. Semua karena Bagus yang menolong ku." Ucap Alina memiringkan kepalanya melewati badab Biru yang menutupi Bagus di belakangnya. Alina tersenyum melihat Bagus. Begitu pula Bagus yang membalas senyuman manis Alina.
" Gugus,, makasih ya udah tolongin aku semalem." ucap Alina dari tempatnya berdiri.
" Tenang saja Lin,,, aku selalu ada untuk mu." Ucapan Bagus membuat Biru langsung membalikkan badannya dan menatap Bagus dengan ketus.
" Yaa,,, terimakasih Bagus sudah menolong istri ku." Meskipun gengsi namun Biru tidak lupa dengan kebaikan Bagus yang telah menyelamatkan Alina.
Alina sudah berdiri di samping Biru. Setelah sebelumnya tadi Biru menariknya pelan. Biru merengkuh bahu Alina dan meletakkan tangannya di sana. Seolah ingin menunjukkan pada Bagus bahwa Alina adalah miliknya.
" Kalau begitu,,, mari kita pulang sayang." Ucap Biru pada Alina di sampingnya.
Alina mengangguk tanda setuju.
" Kalau begitu Bagus,,, kami pamit dulu." Ucap Biru yang hendak berlalu.
Bagus dengan sengaja mendekati Alina dan berbisik.
" Lilin,,,, kalau ada masalah hubungi aku. Aku akan pulang dan menjemputmu." ucapnya berbisik pelan. Membuat Alina tersenyum tipis.
" hust,,jangan dekat dekat istri ku." ucap Biru menarik Alina menjauhi Bagus.
" kalem om. " balas Bagus tersenyum santai.
" bye Lin,,hati hati di jalan,,,, dan untuk om Biru,,, jaga yang bener Alinanya. Kalau tidak aku siap menjemputnya. " Ucap Bagus sembari melambaikan tangan pada Alina yang sudah berada di dalam lift sebelum lift tertutup.
Biru membawa Alina pulang dari apartemen Bagus dengan suasana hati bahagia karna Alina tak lagi marah padanya. Begitupun Alina ia merasa jauh lebih tenang setelah mendengar kata kata Biru saat berdebat dengan Bagus tadi. Meskipun saat ini statusnya sebagai istri sah yang di sembunyikan namun ia tahu Biru benar mencintainya.
πππππ
Terimakasih sudah membaca. Jangan lupa setelah membaca tinggalkan LIKE nya ya. Kritik saran di komen. Terimakasih banyak untuk dukungannya pada tulisan saya ini. Terimakasihππππ
__ADS_1