
Sudah hari ketiga setelah Alina kembali ke rumah ini setelah dari kampung halamannya.
Selama itu pula Biru belum mengunjunginya. Walaupun Alina sudah mengabarinya lewat pesan.
Alina sedikit merasa aneh beberapa hari tanpa Biru. Seperti ada sesuatu yang hilang dari dirinya. Dan bahkan ponsel Biru juga tidak bisa di hubungi meski bisa di kirimi pesan. Alina memutuskan keluar rumah menemui temannya. Tak peduli walau tanpa ijin ia tetap pergi karna ia harus mendapat kejelasan tentang ancaman dan teror yang ia dapat.
" bik Imah,, Alina pergi dulu ya,, mungkin agak lama." pamit Alina pada bik Imah yang sedang membersihkan teras rumah.
" baik non,, hati hati di jalan." bik Imah menjawab dengan menganggukkan kepala.
Alina pergi dengan ojek online yang sebelumnya ia pesan tadi.
Dan di sini Alina sekarang di sebuah apartemen yang tak jauh dari pusat kota D namun sedikit jauh dari tempat tinggalnya sekarang. Alina masih ingat di lantai berapa temannya itu. Dulu Bagus pernah mengajaknya kemari.
(semoga saja dia belum pindah). Batin Alina saat ini ia sudah berdiri di depan pintu salah satu unit di apartemen itu.
Alina memencet bel dan tidak lama seorang pria membukakan pintu dan terlihat jelas pria itu terkejut melihat kedatangan Alina.
" Lilin,,,,astaga ini beneran elo." Pria itu membelalakkan matanya rasa tak percaya melihat Alina. Setelah bertahun-tahun tak bertemu.
" hemmmm,,apa kabar Sandy." Alina mengangguk dan tersenyum pada Sandy yang masih berdiri di depannya.
" apa kamu sibuk San??" tanya Alina takut mengganggu waktu pria di depannya itu.
" eng,,,,gak,,, ayo masuk Lin. Duh ampe lupa gue." berjalan duluan di depan Alina dan mengajak Alina masuk.
" Lin,,sorry gue bener bener kaget tadi, nggak nyangka loe dateng kesini." ucap Sandy setelah mereka duduk di sofa yang berbeda dengan saling menghadap.
" sorry san,," Alina tersenyum pada Sandy.
" mau minum apa Lin,,gue ambil dulu." berdiri dan berjalan ke arah dapur.
" apa aja lah." jawab Alina santai.
__ADS_1
" loe sendiri Lin kesini??" Tanya Sandy setelah Kembali dari dapur. Sandy meletakan minuman dingin di meja depan Alina dan ia kembali duduk di tempatnya tadi.
" sama kang ojol tadi." jawaban Alina membuat Sandi menyemburkan minumannya.
" Lin,,loe nggak berubah ya masih sama aja kayak dulu, selalu lucu." Sandi ingat betul saat mereka berkumpul dulu Alina selalu membawa suasana ceria karna kata katanya yang tanpa di buat buat terkadang terdengar lucu.
" hemmm,,, ya gitu lah San. Eh,,gue ganggu nggak nich. Gue mau ada perlu nich." Alina melihat sekeliling apartment Sandi takut ada orang di sana. Atau mungkin Sandy sedang sibuk.
" tenang Lin,,gue sendiri." sebagai seorang yang bekerja bersama detektif Sandi paham betul gerak gerik Alina.
" San,,gue mau minta tolong, sorry sebelumnya mungkin gue ngrepotin." Alina berkata pelan menurunkan nada bicara dari yang tadi.
" denger denger loe udah nikah ya,, dan jelas nggak sama Bagus, sekarang masalah siapa yang bikin loe gelisah gitu." seakan bisa membaca pikiran Alina.
" sebenernya gue nggak punya musuh sebelumnya. Tapi belakangan ini gue dapet teror." Alina meletakan map coklat yang ia bawa tadi di meja dan menjelaskan kronologi sejak hari Alina mendapat foto foto itu.
" gue ikut berduka Lin dengan meninggalnya bokap loe." ucap Sandi setelah mendengar cerita Alina. Dan ia membuka map coklat yang di bawa Alina.
" Lin,, beneran ini buat loe??!,, dan ini,, teror ini." Sandi gelagapan setelah membuka dan melihat isi map itu.
" Lin,,gue nggak bisa bantu banyak. Gue tahu pengirimnya dari logo kecil yang ia sematkan ini." Sandy menunjukan sebuah simbol yang ada di setiap foto dan tulisan kertas yang Alina dapat hari itu. Bahkan di ujung map coklat itu juga ada simbol yang sama. Sangat kecil simbol itu sehingga Alina tidak melihatnya waktu itu. Jika orang awam seperti Alina memang tidak akan paham dengan simbol itu.
" Lin,, jelas di sini loe udah di warning, jauhi keluarga Wiratmadja. Dan gue tadinya nggak kepikiran kalau itu keluarga Wiratmadja pebisnis yang namanya di kenal di seluruh penjuru negeri ini. Dan setelah gue lihat simbol ini. Gue yakin ini pengirimnya salah satu dari mereka." jelas Sandy yang terlihat bingung. Kenapa Alina yang bukan pebisnis besar bisa berurusan dengan Wiratmadja.
" Lin, ada hubungan apa loe sama keluarga mereka. Jelas di sini mereka nggak ingin loe dekat dengan mereka. Dan mereka nggak maen maen,, lihat bokap loe jadi salah satu targetnya." Sandi mendecak bingung memijit keningnya. Menurutnya ini sudah bukan main-main ancamannya.
" gue,,,gue menikah dengan Biru Wiratmadja San." aku Alina terbata sambil menundukan kepalanya.
" oh,,,,astaga Lilin,,," Sandy menggelengkan kepalanya tidak percaya.
" gue di paksa Sandy." kini mata Alina berkaca kaca. Dan ia menjelaskan kronologi pernikahannya dengan Biru pada Sandy. Tak terasa air matanya mulai menetes. Dan dengan cepat Alina mengusapnya.
" gue nggak nyangka hidup loe bakal begini Lin. Pantas Bagus kayak orang gila waktu itu." Ucap Sandy yabg benar-benar melihat sekacau apa Bagus waktu di tinggal Alina menikah.
__ADS_1
"Lin,, beberapa tahun lalu gue dan atasan gue di bayar mahal untuk menyelidiki kematian seorang gadis. Kekasihnya meninggal tak wajar. Dan yang bayar kita itu adalah salah satu anggota Wiratmadja. Tapi apa kamu tahu Lin, pelaku yang membuat kekasihnya lenyap dengan sadis adalah keluarganya sendiri. Keluarga Wiratmadja. Gue dan atasan gue mengenali simbol ini dari berbagai sumber yang kita selidiki. Dan percaya nggak. Gadis itu di habisi karna ia menjalin hubungan dengan keluarga Wiratmadja. Bagi mereka orang biasa seperti kita tidak layak untuk mereka, jangankan sampe punya hubungan. Berteman saja tidak." jelas Sandy dengan menghela kasar nafasnya. Sekarang ia bingung harus bagaimana membantu Alina.
" Lalu setelah itu apa mereka juga mengganggu keluarga gadis itu sebelumnya." tanya Alina, saat ini ia harus tahu agar ia bisa menentukan hubungannya dengan Biru. Jika memang harus berkahir maka Alina akan mengakhirinya secara baik baik.
" ya begitulah, dan kamu tahu Lin, bahkan mereka membuat pria yang membayar kita itu depresi. Itu kabar yang aku dengar. Pria itu depresi karna ia merasa kesal dan tentu saja marah pada keluarganya. Gadis yang amat ia cintai dengan sadisnya di habisi oleh keluarganya sendiri."
"Lin,, gue bukannya nggak mau bantu loe. Tapi jelas sih ini salah satu dari mereka pelakunya. Perhatikan simbol ini." Sandi mendekatkan logo kecil di pojok kiri atas di setiap foto. Semua sama dengan yang ada di kertas dan juga map itu.
" kamu benar San, gue pernah lihat simbol ini di meja kerja suami gue. Dia bilang itu lambang turun temurun dari keluarganya. Dan di setiap orang memegang nomor dari simbol itu. Bisa nggak kamu lihat ada nggak nomor kecil di simbol itu." Alina mengingat simbol yang sama yang ia lihat di setiap map di meja kerja Biru di rumah. Kala itu Biru pernah memperlihatkan kepadanya. Bahkan Biru sendiri yang menceritakan asal usul simbol itu padanya.
" ada Lin,, sangat kecil,, tapi sayangnya gue nggak tahu urutannya Lin. Hanya keluarga mereka yang tahu simbol dengan nomor itu. Itu rahasia mereka." jawab Sandy dengan merapikan kembali berkas di depannya.
" thanks ya San,, udah bantuin gue." ucap Alina dengan tersenyum tipis menahan kecewa. Karna kini ia benar benar harus mundur. Padahal hatinya sudah mulai terpaut degan Biru. Apalah daya,, demi menyelamatkan keluarganya. Ia harus rela mengakhiri hubungannya dengan Biru.
" gue cuma bantu ngasih tahu sedikit informasi Lin, gue juga nggak bisa mastiin siapa pelaku utamanya." Sandy merasa tidak enak karena tidak bs membantu Alina.
" udah sore nich,, gue pamit ya. Sorry ngrepoti kamu kan jadinya." pamit Alina seraya berdiri hendak pulang.
" santai aja,, kayak ama siapa aja. Gue seneng malah hari libur di temenin cewek cantik di apartemen." Sandi tertawa di depan Alina. Dan mendapat balasan senyum dari Alina sebelum akhirnya Alina masuk lift dan meninggalkan apartemen Sandy.
Saking asyiknya mereka berbagi cerita tadi, membuat mereka lupa waktu. Hingga tak terasa sore menjelang. Sebelum pulang kerumah Alina tiba tiba ingin ke pantai.
Melihat pemandangan sore di pantai. Pasti menyenangkan dan menenangkan pikir Alina. Beberapa hari ini pikirannya kalut karna memikirkan ancaman itu. Belum lagi Biru yang tiba-tiba tidak ada kabar. Membuat nya semakin ketakutan. Kali ini Alina ingin sedikit melonggarkan pikirannya dengan melihat senja di pantai.
Karna ancaman dan teror itu. Kini Alina jadi tahu bahwa Bagus sudah memilih menerima penerbangan rute luar negeri. Sandy bilang Bagus ingin menenangkan pikirannya. Agar bisa merelakan Alina bahagia.
Pantas saja sejak kejadian di apartemen Bagus waktu itu. Bagus tak lagi pernah mengiriminya pesan. Semua informasi ia dapat dari Sandy yang merupakan teman dekat Bagus. Jika Alina tidak menemui Sandy hari ini. Alina tidak akan tahu seberapa sakitnya Bagus saat ia memutuskan hubungan mereka. Bahkan Alina baru tahu jika apartemen Bagus di beli atas namanya. Sandy bilang itu akan di hadiahkan untuk Alina saat mereka menikah nanti. Namun sayangnya semua kandas begitu saja.
Sebab ancaman itu kini banyak rahasia lain yang Alina tahu tentang Bagus Sandy dan bahkan keluarga suaminya. Yang sebelumnya Alina tidak tahu apa apa tentang keluarga Wiratmadja. Sandy sedikit banyak memberi gambaran pada Alina tentang keluarga besar Wiratmadja.
Bahkan Alina menjadi tahu anggota keluarga Biru. Yang sebelumnya tak pernah Biru ceritakan. Kini Alina harus lebih berhati-hati dan juga waspada.
πππππ
__ADS_1
Terimakasih sudah membaca. Jangan lupa setelah membaca tinggalkan LIKE nya ya. Kritik saran di komen. Terimakasih banyak untuk dukungannya pada tulisan ini. Terimakasihππππ