
Suara adzan subuh membangunkan Alina yang masih terlelap di pelukan Biru.Ia merasakan nyeri yang membuatnya susah untuk bangun. Seluruh badannya terasa sangat lelah dan pegal pegal di sekujur tubuh. Perlahan dia bangun dan bersandar pada ujung tempat tidurnya. Menarik selimut perlahan menutupi tubuhnya yang tak terbalut sehelai benangpun. Biru membuka matanya perlahan merasakan gerakan di sampingnya.Ia menoleh ke arah Alina yang terlihat menahan sakit.Dengan cepat ia mendekati Alina dan bertanya.
"sayang apa masih sakit??." mencium kening Alina dan ikut bersandar di sebelahnya.
"aku ingin mandi tapi rasanya sedikit perih." keluh Alina malu malu mengucapkannya.
"maaf kan aku,,semalam aku sangat menginginkan mu." merengkuh tubuh Alina ke pelukannya.
"kamu mau mandi,,kalau begitu ayo kita mandi bersama." menggendong Alina ke kemar mandi. Masih dengan berbalut selimut di tubuh Alina. Sedangkan Biru tanpa sehelai benangpun.
Alina hanya diam mengalungkan tangannya di leher Biru.Ini kali pertama Alina mandi bersama orang lain,terlebih laki laki.Pipi Alina terlihat merah menahan malu.
Biru begitu telaten memandikannya sudah seperti memandikan bayi saja. Alina tak bisa protes karna Biru selalu memelototinya saat Alina mencoba menolak.Selesai mandi Biru kembali menggendong Alina,,berjalan dengan menggunakan kimono mandi berwarna senada dengan Alina menuju ke kamar mereka dan kemudian mendudukan Alina di kursi meja ria di dekat lemari baju.
"tuan,,eh maksud ku suami ku terima kasih." dengan senyum manisnya yang ia tunjukan tulus pada suaminya itu.
"hmm,,kamu kan istri ku sudah sewajarnya aku melakukan itu. Bahkan jika setiap hari pun aku tidak keberatan jika kamu mau." membungkuk memeluk Alina dari belakang dan menyandarkan dagunya di bahu Alina sambil mencium pipi merona Alina.
"suami ku,,aku akan mengambil baju ku." menggerakkan bahunya agar Biru melepasnya.
"biar aku saja,," khawatir dengan keadaan Alina. Biru bergegas mengambil baju untuk istrinya.
"aku sudah tak apa apa,,setelah mandi sakitnya lumayan berkurang." berdiri dan berjalan membuka lemari di sampingnya.
Sejak datang kerumah ini kemarin Alina belum membuka lemarinya itu.Sehingga saat membukanya kini Alina merasa terkejut karna baju baju yang berada dalam lemari itu terlihat asing untuknya.
"mmm suami ku,,di mana baju ku apa kau juga menyimpannya bersama barang barang ku yang lain??" tanya Alina dengan wajah bingung.
"iya,,aku ingin, mulai sekarang kamu memakai baju baju itu saja.aku sengaja membelinya untuk mu.aku sendiri yang membeli dan memilihnya.Itu masih sesuai modelnya dengan yang kamu pake biasanya.pakai lah tidak perlu memikirkan baju lama mu." menghampiri Alina yang masih bingung. Ia pun mengambil baju miliknya yang juga di simpan di sana.
__ADS_1
" baik lah aku akan memakai nya." menurut dan mengambil salah satu baju dan membawanya untuk ia pake.
Alina tak menyangka Biru mempersiapkan semuanya untuk dirinya.
Biru duduk di sofa menunggu Alina mengganti bajunya. Biru benar baju yang di pakai Alina kini memang sesuai dengan yang biasa ia kenakan setiap harinya saat sedang di kost saja. Saat memilih milih baju di lemari tadi Alina melihat model baju dan memang benar semua sesuai fashionnya.
Alina selesai mengganti bajunya dan berjalan ke meja rias untuk menyisir rambutnya agar terlihat rapi. Ia melihat Biru yang masih duduk bersandar di sofa.Alina membuka lemari satunya yang berada di sebelah lemarinya berharap menemukan baju Koko untuk Biru. Dan benar saja beberapa potong baju lelaki tertata rapi disana Alina mengambil baju koko dan sarung untuk Biru.memberikannya pada Biru yang masih fokus pada TV.
" suami ku pakailah,ayo sholat bersama ku." menyodorkan baju pada Biru yang langsung di terima Biru dengan senyum yang mengembang. Ini adalah kali pertama istrinya mengajak dirinya untuk beribadah bersama. Moment yang selalu Biru tunggu-tunggu selama ini. Biasanya ia lakukan sendiri. Karena setiap mengajak Violet selalu di tolak. Bahkan tak jarang Violet menjadi marah karena merasa tidurnya terganggu.
Setelah memakai baju juga sarungnya mereka berdua sholat berjamaah di kamar Alina dengan Biru sebagai imamnya.
Selesai sholat Biru yang masih menggunakan setelan sholatnya mengajak Alina turun. Berniat menikmati udara pagi yang sejuk ditaman samping rumah Biru.
" Tapi,,, aku perlu membereskan kamar dulu. Liat lah sprei itu. Ia kotor karena ada,,,,." Alina malu mengatakannya."
Dengan perlahan ia menuruni tangga. Ia sadae bahwa Alina masih kesulitan untuk berjalan. Biru mulai memperkenal Alina pada beberapa pelayan yang sedang membersihkan rumahnya. Hari memang masih sangat pagi namun para pelayan di rumah Biru sudah bekerja di posisinya masing masing. Alina dengan senyum ramahnya menyapa pelayan yang ia jumpai pagi itu.Tiba di taman Biru duduk di kursi taman menikmati sejuknya angin yang berhembus lembut.Rambut Alina yang masih basah membuatnya merasa sedikit dingin.
"suami ku,, apa kamu ingin aku buatkan teh atau kopi??aku akan mau dapur." tawar Alina sebagai istri ia ingin melakukan itu untuk suaminya.meskipun banyak pelayan di rumah itu.
"terserah kamu aja." menjawab dengan senyum.
"aku tidak tahu minuman apa yang selalu menemanimu di pagi hari seperti ini."
"teh saja sayang." mencubit gemas hidung Alina.
Alina pergi kedapur dengan menggosok gosok hidungnya yang merah bekas cubitan Biru. Beberapa menit kemudian Alina kembali dengan dua cangkir teh dan meletakannya di meja tempatnya duduk bersama Biru.
"sayang,,terimakasih." ucap Biru meminum teh buatan Alina.
__ADS_1
"sudah kewajiban ku sebagai istri." Alina menyunggingkan senyum manisnya.
"***apa kau tak kesulitan menemukan letak dapur aku lupa memberi tahumu tadi." Tanya Biru mengingat Alina masih baru dirumahnya.
"***ada bibi yang mengantarku tadi,awalnya ia menolak dan meminta agar ia saja yang bikin,tapi aku memaksanya untuk mengantarkan ku hehehe******." tertawa kecil mengingat wajah pelayan yang iya tarik tangannya tadi.
"hei...lihat kamu tertawa,,semakin menggemaskan saja," mencubit kedua pipi Alina.
"aw...sakit" Alina memayunkan bibirnya dan mengusap kedua pipinya yang merah.
"kamu menggemaskan kalau begitu,,katakan apa yang terjadi tadi di dalam." merengkuh tubuh Alina memeluknya dari samping.
Alina menyandarkan kepalanya di dada Biru dan mulai bercerita tentang kejadian di dalam tadi.
"apa aku ini menakutkan bagi mereka??padahal aku hanya menarik tangannya agar mengantar ku ke dapur,tapi wajahnya berubah seperti melihat hantu saja." mencebikkan bibirnya kesal mengingat kejadian barusan.
"mereka takut karna majikannya memegang tangannya,,kamu kan istri ku,,mungkin mereka takut kena marah,,selama ini Violet dan putra putri ku selalu marah saat sedikit saja bersentuhan dengan mereka.mungkin mereka berfikir aku akan marah jika mereka bersentuhan dengan mu.karna kalau aku tidak suka,,aku akan memecat mereka." jelas Biru sambil mengecup pucuk rambut Alina.
Alina hanya mengangguk mengerti.Jadi di rumah ini tidak sembarang orang bisa bercengkrama dengan baik.Begitu pikir Alina.Tapi ia berniat untuk berbeda dengan mereka.Alina akan berteman dengan semua orang di sini termasuk para pelayan ia tak akan membedakan kasta mereka dengannya.Bagi Alina semua sama,hanya nasib yang membedakan mereka.
Ia juga akan bersikap baik pada Violet dan juga kedua anak Biru.Meskipun sikap mereka kemarin kurang baik padanya.Namun Alina bertekad untuk selalu baik pada mereka dengan harapan mereka akan menerima Alina dengan baik pula.
Kemesraan Alina dan Biru di taman membuat Violet meradang.Ia yang menyaksikan suaminya bermesraan dengan istri barunya merasa iri.Biru tidak pernah melakukan itu padanya selama menikah.
Matahari mulai menampakan sinarnya perlahan menghilangkan hawa dingin yang menusuk kulit.Biru dan Alina sudah kembali masuk ke dalam rumah dan Alina kembali ke kamarnya karna Biru memintanya menunggu di kamar saja.Sedangkan Biru menyiapkan berkas berkasnya yang akan ia bawa ke kantor di ruang kerjanya sembari menunggu waktu sarapan.
Dan Violet masih memandang getir ke arah taman dari dalam kamarnya. Masih terlihat jelas dalam ingatannya pemandangan pagi harinya ini. Sungguh pemandangan yang sangat ia benci. Dan ia berjanji akan membuat pemandangan itu tak lagi ada dirumahnya itu.
Terimakasih sudah membaca cerita saya....mohon maaf masih banyak kekurangannya,mohon kritik juga sarannya untuk agar kedepannya saya bisa memperbaiki ceritanya lagi supaya lebih seru untuk di baca lagi..Jangan lupa tinggalkan like nya setelah membaca ya...Terimakasih..
__ADS_1