Takdir Alina

Takdir Alina
Jadilah teman ku..


__ADS_3

Tiga hari Alina di rawat di rumah sakit. Awalnya setelah semalam Alina di rawat, Alina ingin pulang. Namun saat infusnya di lepas kondisinya kembali lemah karna tekanan darahnya yang belum stabil. Jadi dokter melarang Alina untuk pulang. Dan Candra juga dengan setia tidak absen menjenguk Alina. Rencananya untuk memberi kejutan pada kakaknya pun ia batalkan. Ia lebih tertarik menyelidiki tentang hubungan Alina dan Biru saat ini. Terlebih melibat Alina yang sedang hamil ia merasa ia bs dengannya. Di sisi Lain Candra juga mulai tertarik dengan Alina.


Alina sudah berdiri di depan rumah sakit saat ini. Setelah ia di perbolehkan pulang, ia justru bingung akan pulang kemana. Tak ada tempat tujuannya bahkan ke kampung halamannya pun sepertinya tak mungkin. Karna ia khawatir jika kehamilannya ini terendus oleh keluarga salah satu keluarga Wiratmadja yang saat ini telah membayang bayanginya dengan berbagai ancaman.


Alina duduk termenung dengan kembali membuka ponsel lamanya. Biru memang melarang Alina membawa barang apapun darinya saat pergi kecuali baju yang di pakai Alina. Dan tas kecil yang di lempar Biru saat itu berisi barang barang Alina yang Biru tidak mengetahui isinya. Yang Biru tahu hanya Alina menyimpan KTP nya di tas itu.


Alina mengecek saldo tabungannya melalui ponsel yang sudah retak itu. Mengaktifkan nomor lamanya. Beruntung Alina masih memiliki tabungan sisa gaji saat ia kerja dulu. Selama menikah dengan Biru. Alina di larang memakai uangnya oleh Biru. Alhasil tabungan Alina tidak terpakai. Dan saat ini jumlahnya masih lumayan untuk Alina menyewa kost an untuk ia tinggali sembari mencari pekerjaan.


Alina berdiri dari tempatnya duduk dan berjalan keluar dari area rumah sakit. Mencoba mencari angkutan umum untuk ia mencari tempat tinggal yang baru.


" Alina,,, kamu mau kemana." Candra yang baru memasuki area rumah sakit itu dari dalam mobilnya ia melihat Alina dan kemudian memanggilnya dari dalam mobil.


" oh,,, hai tuan Candra." Alina menghentikan langkahnya dan melihat ke arah Candra.


" masuklah,, kita bicara di dalam." titah Candra meminta Alina masuk ke dalam mobilnya.


" maaf tuan Candra, terimakasih, aku duluan saja." Alina dengan sopan menolak ajakan Candra.


" ayo lah Alina, ada yang perlu aku bicarakan." Candra terus memaksa Alina, hingga akhirnya Alina mengikuti ajakan Candra.


Dan di sini lah mereka sekarang di sebuah cafe yang jaraknya tidak jauh dari rumah sakit.


" Alina aku lapar,, kita makan dulu ya." ucap Candra yang kini telah memilih menu makanan.


" kau mau makan apa Alina." Tanya Candra sembari melihat-lihat menu makanan.


" minum saja,, aku masih keyang." Alina dengan senyumnya menolak tawaran Candra karna ia merasa tidak enak sudah banyak merepotkan Candra.


" nggak usah sungkan Alina. Kau sedang mengandung jadi butuh asupan makanan yang banyak. Baiklah biar aku pesankan saja." Candra tetap memaksa dan akhirnya memesan makanan yang sama dengannya untuk Alina. Candra sangat paham bahwa wanita hamil seperti Alina membutuhkan asupan makan yang lebih banyak. Melihat Alina Candra teringat akan almarhumah istri dan juga bayinya.


Mereka tampak hening saat menikmati makanan mereka. Candra diam diam terus memperhatikan Alina. Dua hari ini ia mencari informasi tentang Biru lewat Ardi dan anak buahnya. Ia mengetahui sebuah berita tentang Biru yang terpergok dengan wanita muda di sebuah cafe. Candra yakin wanita itu adalah Alina. Namun Candra masih bingung apa sebenarnya hubungan mereka. Kenapa Biru dengan tega mengusir Alina kemarin. Apa Alina hamil anak Biru atau bukan masih menjadi pertanyaan Candra.


di lihat dari wajahnya, dia bukan wanita yang tidak baik, tapi kenapa kak Biru sampai mengusirnya. batin Candra.


" Alina,, dimana rumah mu,, mari aku antar pulang." Ucap Candra berbasa basi. Setelah mereka selesai makan.


" terimakasih tuan,, eh maksud ku Candra. Aku,,, aku akan mencari kost jadi biar aku pergi sendiri saja." ucap Alina jujur. Ia juga tidak ingin merepotkan Candra lagi.


" kost?? kenapa tidak pulang kerumah?. Tanya Candra bingung.

__ADS_1


" rumah ku jauh dari sini. Aku dari luar kota." jelas Alina dengan senyumnya.


" Alina, sorry kalau pertanyaan ku membuat mu tidak nyaman. Tapi sebenarnya kenapa tuan Biru berlaku seperti itu kemarin. Apa kalian punya masalah. O iya Alina, aku pernah membaca sebuah surat kabar yang berisi bahwa tuan Biru bersama wanita muda di cafe apa itu kamu." Candra berusaha memancing Alina agar mau bercerita.


Alina tersenyum dan menghela nafas panjang. Ia bingung apa harus bercerita pada Candra yang baru ia kenal. Tapi Candra telah melihat semuanya waktu Alina di usir Biru kala itu. Bahkan Candra juga pasti melihat Alina menangis di pantai karna Candra mengikutinya sejak dari rumah.


" baik lah tuan Candra jika memang anda memaksa untuk tahu itu. Anda juga sudah melihat semuanya kemarin. Tapi aku tidak bisa menjelaskan di tempat yang ramai seperti ini." ucap Alina melihat sekitarnya. Ia takut asa wartawan atau bahkan mata-mata dari keluarga Wiratmadja.


" baiklah kita ke pantai saja sambil menikmati pemandangan sore. Bagaimana?" ajak Candra yang membuat senyum Alina mengembang.


Setelah mereka sampai di pantai. Mereka memilih tempat yang sedikit jauh dari kerumunan orang. Agar Alina nyaman saat bercerita nanti.


" akan aku pastikan dulu, apa anda ini rival tuan Biru dalam dunia bisnisnya atau anda sebenarnya wartawan ya yang sedang mencari beritanya." tanya Alina, ia takut jika orang di depannya ini akan merusak citra baik Biru saat nanti Alina sudah memberitahunya. Biarpun Biru telah mengusirnya dengan menyakitkan. Namun Alina tetap harus menjaga nama baik Biru.


" percayalah Alina,, aku bukan musuhnya. Aku mengaguminya dalam berbisnis. Maka dari itu aku tidak percaya saat melihat ia bisa kasar begitu pada wanita." Candra meyakinkan Alina dengan mengacungkan dua jarinya seakan bersumpah.


" terjadi salah paham antara tuan Biru dan aku. Dan menyebabkan tuan Biru marah, jadi aku di usir dari rumahnya." Alina menatap lautan saat bercerita. Menggambarkan sakit hatinya yang begitu dalam.


" apa kau selingkuhan tuan Biru." pertanyaan Candra yang membuat Alina melihat ke arahnya dengan tersenyum kecut.


" bukan,, apa anda akan percaya jika aku bilang bahwa aku istri kedua tuan Biru." Alina menggeleng dan berkata dengan tersenyum getir.


Sebelum ke rumah sakit tadi Candra sempat melihat Biru menerima telfon di kantornya. Candra hendak ke kantor Biru menemui Biru. Namun belum sempat ia menyapa Biru yang sedang berbicara dengan seseorang dari ponselnya itu. Ponsel Candra berdering dan membuat Candra kembali menjauh dari Biru. Sebelum pergi Candra melihat dua cincin di jari Biru. Dan di jari manis Biru melingkar cincin yang sama dengan milik Alina.


" Alina,, mau kah kau berteman dengan ku." Candra melihat ke arah Alina dengan senyum. Ia sekarang tahu yang di depannya itu adalah kakak iparnya. Jadi ia ingin mengenal kakak iparnya ini.


Candra merasa bahwa ia harus dekat dengan Alina untuk mencari tahu lebih banyak. Ia merasa bahwa Biru dan Alina menyembunyikan rahasia besar di balik ini semua.


" aku berteman dengan siapa saja." Alina berkata dengan senyum terbit dari bibirnya.


" baiklah,, karna kita sudah berteman, jadi ijinkan aku untuk membantu mu." Setelah menautkan jari kelingkingnya dengan Alina sebagai tanda pertemanan Candra kembali membuat Alina bingung.


" bukan kah anda sudah banyak membantu ku." jawab Alina bingung.


" kita sudah berteman kan Alina. Jadi jangan memanggilku tuan ataupun menyebut ku anda anda terus." protes Candra.


" ya baiklah,, maafkan aku." Ucap Alina


" Alina,, ikut lah dengan ku. Aku memiliki apartemen yang kosong, kau bisa memakainya nanti." tawar Candra.

__ADS_1


" terimakasih Candra, tapi aku akan mencari kost saja. Aku sudah banyak merepotkan mu. Aku masih ada sedikit uang tabungan ku, aku akan memakainya untuk menyewa rumah kost sembari mencari pekerjaan. Sebelum menikah dengan tuan Biru aku sempat bekerja dulu." tutur Alina.


" aist,, sudahlah Alina,, kau bisa memakai uang mu untuk membuka usaha. Kau ini sedang hamil, memangnya siapa yang mau memperkerjakan orang hamil."


" ah,,, benar juga ya." kini Alina tampak bingung. Jika uangnya ia gunakan untuk menyewa rumah kost, tentu sisanya tidak akan begitu cukup untuk modalnya membuka usaha.


" ya udah,, nggak usah berfikir panjang. Ayo ikut aku,, kita ke apartemen ku. Tenang saja, aku tidak akan berniat jahat padamu. Aku hanya ingin membantu mu saja." Candra mengedipkan sebelah matanya dan berdiri seraya mengajak Alina. Ia mengulurkan tangannya di untuk membantu wanita hamil itu berdiri.


Apartemen ini sesungguhnya dulu hadiah dari Candra untuk istrinya yang telah meninggal akibat keegoisan keluarganya. Dulu istrinya pernah tinggal di sini sebelum menikah dengannya dan tinggal di rumah mereka setelah menikah. Setelah bertahun tahun Candra kembali membuka apartemen ini. Dalam perjalanan tadi Candra menghubungi Ardi agar membawa orang untuk membersihkan apartemen nya.


" selamat datang di tempat tinggal baru Alina." Candra membawa Alina masuk ke dalam apartemen nya.


" terimakasih Candra, kau begitu baik." ucap Alina terharu dengan kebaikan Candra. Padahal mereka baru kenal.


" sama sama Alina. Kau jangan sungkan bila perlu sesuatu bisa katakan pada ku." Candra memang tulus membantu Alina.


" o iya Alina,, kau bisa membuka usaha berjualan online kalau kau mau. Jadi kau tetap bisa bekerja dari rumah." ucap Candra memberi saran. Ketika mereka telah duduk di kursi makan. Setelah mengantar Alina mengelilingi ruangan apartemen.


" iya kamu benar,, nanti akan aku pikirkan." Alina setuju dengan saran Candra.


" aku akan membantu mu nanti. Tinggal bilang saja berapa modal yang kau punya. Atau kalau tidak kau ingin berjualan apa, mungkin kau punya rencana sendiri." Ucap Candra.


" aku hanya bisa masak Candra. Apa mungkin aku bisa berjualan makanan." Alina bimbang juga akan berjualan apa.


" nah,,, kau bisa mencoba. Hmmm,,, sekarang kebetulan sekali aku sedang lapar, bagaimana kalau aku menjadi pelanggan pertama mu." Candra mengusap usap perutnya. Seperti orang kelaparan.


" tapi aku perlu bahan bahan untuk memasak kan." Alina kini bingung akan memasak apa. Karena ia merasa belum memiliki bahan makanan untuk di masak.


" di kulkas sudah ada semua kau tinggal pilih. Tadi saat di jalan aku meminta teman ku untuk mengisinya." Jelas Candra.


" ah,,, kau benar benar baik sekali Candra. Aku berhutang banyak padamu." Alina di buat semakin tak enak saja atas kebaikan Candra.


Sejak hari itu mereka menjadi teman, dan semakin dekat setiap harinya. Apartemen yang di tinggali Alina berada di luar kota yang lumayan cukup jauh dari kota D. Setiap hari Candra menyempatkan datang ke apartemen Alina. Dan seminggu sejak Alina tinggal di apartemen itu. Ia mulai berani berjualan makanan secara online. Ia menerima pesanan melalui sebuah aplikasi. Dan Candra lah orang di balik itu semua. Candra selalu memotivasi Alina agar berani untuk maju. Sehingga Alina akhirnya berani untuk memulai usahanya walaupun melalui aplikasi online. Semakin hari orderan Alina semakin banyak saja. Dan itu membuat Alina senang. Selama satu bulan dengan modal tambahan dari Candra Alina membuka sebuah cafe di sebuah tempat yang tak jauh dari apartemen. Setiap harinya cafe Alina selalu ramai pengunjung. Alina senang dengan semua itu. Awalnya ia hanya sendiri mengurus cafe itu meskipun Candra menawarinya mencarikan pegawai dengan Candra yang memberi gaji, namun Alina menolak. Semakin hari semakin ramai saja cafe Alina ini dan dalam tiga bulan akhirnya ia bisa memperkerjakan orang. Dan lambat laun cafe nya menjadi restoran seperti saat ini. Semua tak lepas dari campur tangan Candra. Berbagai pesanan selalu datang setiap hari dalam jumlah yang banyak. Baik online maupun yang datang ke cafe Alina. Itulah sebabnya Alina merenovasi cafe nya menjadi sebuah restoran dalam waktu satu tahu. Bahkan Alina mulai memperkerjakan seorang koki untuk membantunya. Saat Kiran lahir Alina yang di bantu Candra itu tetap bisa menjalankan restorannya. Dengan Candra yang setiap harinya menggantikan Alina memantau para pekerja. Jika Alina yang di sana tentu Alina yang akan turun langsung ke dapur bersama sang koki. Candra begitu menyayangi Kiran sejak ia berada dalam kandungan. Ia selalu memperhatikan kondisi Alina saat hamil. Bahkan sesekali Candra menemani Alina memeriksakan kandungannya.


Bahkan sang dokter pun sempat mengira Candra adalah suami dari Alina.


Hubungan pertemanan mereka menjadi semakin dekat kala Kiran lahir.


🍒🍒🍒🍒🍒

__ADS_1


Terimakasih sudah membaca, jangan lupa setelah membaca tinggalkan LIKE nya ya. Krisan silahkan di kolom koment. Terimakasih 🙏😊


__ADS_2