Takdir Alina

Takdir Alina
Hari pernikahan (2)


__ADS_3

Sepasang pengantin baru bersanding di pelaminan membuat iri banyak tamu undangan yang hadir. Biru meskipun umurnya sudah hampir berkepala empat, tapi penampilannya tak setua umurnya.


Alina si pemilik wajah teduh itu dengan dandanan pengantin yang tak berlebihan tampak sempurna dengan senyum manisnya menyapa setiap tamu yang hadir.


Keduanya tampak serasi meskipun Alina berumur jauh di bawah Biru begitu pandangan tamu undang yang membicarakan mereka di tengah pesta.


Acara pernikahan yang di gelar tanpa ada satupun keluarga dari sang mempelai pria. Berbeda dengan pernikahan Biru yang pertama yang di gelar sebegitu mewah nya sampai tiga hari berturut turut. Kali ini bahkan bisa di bilang sangat sederhana.


Ya Biru sengaja melakukan ini karna ia tak ingin keluarga besarnya tahu bahwa ia menikahi gadis dari kalangan biasa bukan kalangan ningrat sepertinya.


Jelas saja itu melanggar kode etik ke ningratan keluarga besar Biru yang sudah mereka tetapkan. Meskipun begitu Biru tetap berniat membawa Alina bertemu kedua orang tuanya suatu saat nanti.


Biru tak ingin Alina terabaikan di dalam keluarganya saat sudah menjadi istri sahnya. Entah bagaimana nanti tanggapan atau reaksi keluarga Biru setelah mengetahui ini semua.


Biru tak peduli itu,baginya ia hanya ingin bahagia bersama Alina wanita yang telah mencuri hatinya saat pertama kali ia jumpa.


Biru sedari tadi memandangi Alina yang tampak sekali kelelahan berdiri menyalami tamu undangan iapun memberi isyarat pada pengawalnya meminta pengawalnya untuk menghentikan tamu yang akan naik ke pelaminan memberi salam dan ucapan padanya dan Alina.


Dengan cepat dua orang pengawal Biru melakukan perintah sang atasan. Kini pelamin kosong tanpa tamu namun Alina masih tampak berdiri karna saat Alina ingin duduk ia merasa canggung pada Biru yang sudah duduk lenih dulu. Seolah mengerti bahwa sang istri canggung dengannya. Biru pun ber inisiatif untuk membantu Alina duduk.


"Alina kamu lelah,,duduk lah renggagangkan otot kaki mu supaya tidak pegal lagi." Biru mendudukan pelan Alina dan ikut duduk di sampingnya.


Alina yang merasa canggung ingin kembali berdiri karna saat duduk berdekatan dengan Biru seperti ini membuatnya merasa tak karuan.


Dengan sigap Biru menahan tangan Alina untuk tidak berdiri sehingga membuat Alina tetap duduk di tempatnya.


" tak apa tuan saya sudah terbiasa berdiri saat bekerja saya berdiri saja." ucap Alina ketika Biru memegang tangannya dan memandang dirinya seolah meminta untuk kembali duduk.


"Alina,,," titah Biru masih menatap Alina. Dan dengan tatapan Biru itu membuat Alina menurutinya.


"baik lah tuan saya duduk." menampilkan senyumnya pada Biru yang belum mengalihkan pandangannya.


"Alina,,apa kau tau betapa aku mencintaimu?." masih dengan mata memandang Alina yang hanya di jawab dengan gelengan kepala oleh Alina. Bahkan Alina enggan melihat kearahnya.


"nanti kamu juga akan tahu bersabarlah aku akan menceritakan semua padamu." lanjut Biru yang kini telah menautkan jari mereka berdua di atas pangkuannya.


Alina tampak bingung dengan perkataan Biru ia tidak mengerti kenapa Biru bisa mengatakan seperti itu.


Sedangkan bagi Alina ia dan Biru tak pernah bertemu sebelumnya. Dan bagaimana mungkin Biru bisa bilang bahwa ia mencintai Alina.


Bukankah setau Alina mereka menikah karna perjodohan karna Biru telah berbaik hati pada keluarganya.


Banyak pertanyaan yang ingin segera Alina tahu jawabannya.


Pesta yang di gelar di rumah Alina kini mulai sepi dari tamu undangan. Karna hari sudah mulai petang. Biru sengaja memberi kebebasan pada orang tua Alina untuk menggelar pesta seperti yang mereka inginkan. Jadi Biru hanya mengikuti prosesinya saja sedari tadi.


Kini sepasang pengantin baru itu telah meninggalkan pelaminan beberapa waktu lalu untuk mengganti pakaian mereka.

__ADS_1


Berbeda dengan Biru yang hanya menggunakan jas Alina harus memerlukan waktu untuk melepas semua aksesoris yang ada di dirinya dan juga membersihkan make up yang berjam jam sudah menempel di wajahnya.


Alina di bantu para perias dan asistennya di dalam kamar Alina.


Sedangkan Biru tampak masih berbincang dengan para kerabat dan orangtua Alina.


Biru lebih banyak diam karna memang ini tidak seperti orang orang dari kalangan elit yang biasa ia temui.


Walaupun begitu Biru tetap tersenyum ramah sesekali salah seorang pemuda teman dari kakak Alina menggodanya.


Di kamar, Alina sudah selesai mengganti pakaiannya dengan bajunya. Selesai membersihkan wajah dari make up yang menurutnya sangat menggangu, kini ia merebahkan diri di kasur miliknya.


"huffff......rasanya sangat nyaman sekali." Alina berguling guling di atas tempat tidurnya tak peduli dengan para perias yang masih berkutat membereskan perlatannya.


" wah mbak Alin kau ini sungguh seperti anak kecil yang sangat merindukan kasurnya." tertawa melihat tinggakah Alin.


"iya....biarkan saja aku sangat lelah,,dan benar aku memang merindukan kasur ini sangat rindu. Bahkan semalam aku meninggalkannya sendiri di sini. Sudah pasti dia juga merindukan ku." balas Alina dengan tertawa.


"mbak Alina ini bisa saja,,mana mungkin kasur merindukan seorang gadis,yang ada suami mu kini yang tengah merindukan mu." gelak tawa mengisi ruang kamar Alina. Seketika Alin berhenti dari bergulingnya dan menatap ke arah pintu kamarnya ia kini justru takut bila nanti Biru masuk kekamarnya dan meminta hak nya sebagai suami


Alina bangun dan menggelengkan kepalanya berulang kali.


" hei mbak Alin kenapa wajahmu berubah memerah?kau sedang memikirkan suamimu ya hahahahahaha." mereka terus saja menggoda Alin secara bergantian.


"ya ya ya ya ya ,,nasib pengantin baru memang seperti ini,,selalu menjadi bahan ledekan oleh semua orang,duhai manusia tak tau kah kalian menjadi pengantin baru itu sungguh melelahkan,lelah hati ku juga tubuhku." ber akting memelas dan pura pura sesenggukan menangis kemudian tertawa bersama.


"mbak Alin sudahlah aku jadi ikut lelah sedari tadi tertawa bersamamu." jawab asisten perias sembari memegang perutnya. dan bergegas keluar kamar Alina yang kemudian di susul oleh sang perias.


Para perias tadi adalah teman Alina juga hanya beda desa dari tempat tinggal Alin dulu mereka pernah satu sekolah hanya saja kini salah satu dari mereka telah menjadi perias yang handal berkat sekolah rias yang ia ikuti dulu.


Jadi saat mendengar Alina menikah mereka dengan senang hati merias Alina karna memang itu yang mereka harapkan.


Alin masih asyik bergelut dengan bantal guling di kasurnya hingga tak ia sadari bahwa Biru kini telah berada di dalam kamar melihat aksi Alin yang terus berguling guling itu.


"ehem..." Biru berdehem mengagetkan Alina. Dan sontak Ia menghentikan aksinya itu kemudian duduk merapikan rambutnya.


" Sepertinya seru sekali. Sampai-sampai aku masuk aja kamu nggak tahu." Ucap Biru meletakkan ponselnya di nakas dekat tempat tidur Alina.


Alina tak yang sudah duduk di atas kasur itu kini mundur perlahan. Ia masih belum siap untuk dekat-dekat dengan pria yang saat ini telah resmi menjadi suaminya itu.


" oh..hai tuan biru sejak kapan anda di situ." Alina salah tingkah melihat Biru yang berdiri di tepi ranjang nya.


"sejak kau asyik berguling guling." Biru melepas jasnya dan melemparnya asal ke arah sofa. Ia kemudian melonggarkan kancing kemeja bagian atasnya dan juga ujung lengannya. Kemudian ia duduk di tepi ranjang dekat Alin.


Alina yang melihat Biru berada di dekatnya merasa jantungnya berdetak kencang se akan merasa takut akan diterkam harimau. Melihat tatapan Biru seperti itu padanya.


Biru yang melihat Alina ketakutan semakin mendekatinya dan berbisik di telinga Alina

__ADS_1


"tenanglah sayang,, aku tak akan menerkam mu." Goda Biru dengan menyunggingkan bibirnya dan naik ke atas ranjang semakin dekat dengan Alina.


Biru mengambil posisi agak ke tengah dengan bersandar pada ujung ranjang. Ia meluruskan kakinya yang panjang di atas ranjang.


Alina masih membeku di tempatnya ia merasa geli dan ngeri saat Biru berbisik di telinganya tadi. Pikirannya pun sudah tak karuan. Ia benar-benar belum siap. Ia takut jika Biru benar-benar meminta hak nya malam itu.


"K****emarilah aku ingin memberitahu mu sesuatu." titah Biru kepada Alina yang masih diam di tempatnya.


Alina tetap diam di tempatnya dia ragu dan takut untuk dekat dengan Biru. Takut bila Biru meminta lebih darinya karna saat ini Alina sama sekali belum siap.


" Alina kenapa diam kemarilah." Biru mengulangi perintahnya karna melihat Alina yang hanya diam bergerak di tempatnya. Ia pun menarik tangan Alina yang akhirnya kini duduk di di sebelahnya.


Biru tersenyum dan mengusap lembut pipi Alina. Hal ini semakin membuat Alina takut.sedang kan Biru semakin gemas melihat ekspresi Alina seperti itu.


Biru membenarkan posisi duduk Alina agar bisa bersandar di sebelahnya. Alina hanya bisa diam dan menurut atas perlakuan Biru. Biru kini menggenggam tangan Alina dan menciumnya.


"tuan ini masih sore lagi pula apa anda tak lelah sedari pagi berdiri di luar sana." Alina memberanikan diri berkata dengan pelan dengan menundukkan kepalanya


Biru mengernyitkan dahinya dan tersenyum gemas menatap Alina.


"hei...apa maksudmu?? aku hanya ingin berbicara saja apa tak boleh?atau jangan jangan kamu..." menggoda Alina dengan memainkan alisnya ke atas ke bawah. Melihat Alina dengan tatapan nakal.


"tidak tuan,,bukan begitu." dengan cepat Alina menjawab dan menggelengkan kepalanya.


"kalaupun iya juga tidak masalah,,lagi pula kamu kan istri ku sekarang." Biru kembali memainkan alisnya dan memcium lagi tangan Alina.


Biru menghela nafanya dan menarik pelan kepala Alina agar bersandar dipundaknya. Ia mengusap lembut rambut Alina,membuat Alina merasa semakin canggung.


"Alina,,,aku tahu kamu pasti merasa asing dengan ku,selama ini kamu mungkin tak mengenal ku dan tiba tiba aku melamarmu dan dalam waktu singkat aku menikahimu,mungkin saja kau mengumpat ku di dalam hatimu,tak apa karna itu wajar bagimu yang tak tau tentang ku,tapi Alina percayalah aku akan memperlakukan mu dengan baik sangat baik walaupun kau adalah istri ke dua ku dan tak banyak orang tau ku mohon percayalah bahwa aku sangat mencintaimu,akan aku buat istana yang indah di kehidupan rumah tangga kita berdua,aku berjanji itu karna sesungguhnya kamu lah wanita pertama yang aku cintai." Biru menjelaskan dengan satu tangannya masih menggenggam tangan Alina dan satu tangannya lagi mengusap kepala Alina yang ia tahu telah menunggu penjelasan Biru.


Alina tampak diam memejamkan matanya mendengar dan mencerna kata kata Biru sebelum ia menentukan akan bagaimana bersikap nantinya. selesai Biru berbicara Alina bangun dari sandarannya dan melihat ke arah Biru memiringkan badannya. Dengan ceria dan tak menampakan kekacauan hatinya Alina berkata.


"baiklah tuan Biru aku memang tidak mengenal anda jadi buat aku mengenal anda. kalau anda bilang anda mencintai ku buat juga aku bisa mencintai anda,sekarang aku telah resmi menjadi istrimu bukan? jadi seperti apa dirimu pelan pelan aku akan tau dan itu butuh bantuan anda juga tentunya." Alina tersenyum manis di depan Biru sehingga membuat Biru gemas dan semakin ingin melakukuan lebih pada pada Alina. Biru mencubit hidung Alina gemas dan menyandarkan kembali kepala Alina di pundaknya dan kini ia pun mendekapnya. Alina tak merespon dekapan Biru karna ia masih merasa cannggung dan Asing.


Dan dalam dekapan Biru Alina mendengarkan Biru bercerita tentang keluarganya,, istri pertamanya Violet dan anak anaknya. Alina sempat tak menyangka bahwa putra sulung Biru hanya berbeda 2 tahun darinya. Biru menceritakan awal perjodohannya dengan Violet hingga akhirnya menikah.


Tak ketinggalan Biru juga menceritakan kapan pertama ia melihat Alina dan kenapa ia bisa jatuh cinta pada Alina sampai Biru nekat melamarnya.


Biru juga menceritakan bahwa selama ini ia telah memata matai Alina lewat orang suruhannya.


Hal itu sempat membuat Alina merasa kesal. Namun Biru mejelaskan alasannya melakukan itu sehingga Alina terpaksa diam dan menerimanya.


Hari ini semua yang menjadi pertanyaan Alina mulai ia dapatkan jawabannya. Dan dengan berat hati mau tidak mau ia harus menutup rapat kisahnya dengan Bagus.


Ia harus mulai menerima kenyataan dan menjalani hari harinya dengan Biru. Mengisi kisahnya dengan Biru. Menjalani yang telah di takdirkan untuknya. Berharap benar benar bisa mendapatkan kasih sayang dari Biru seperti yang ia dapatkan bersama Bagus selama beberapa tahun ini.


Alina tak sedikitpun menceritakan hubungannya dengan Bagus kepada Biru,ia merasa itu tak perlu lagi pula ini baru awal mereka untuk saling mengenal. Biarlah kisah Bagus Alina simpan di memorinya saja.

__ADS_1


Hari yang melelahkan bagi mereka di hari pernikahan ini. Hingga membuat Alina tertidur saat mendengarkan Biru bercerita dan ia hanyut dalam lamunannya sendiri sampai akhirnya tertidur di bahu Biru.


Biru yang merasakan hembusan nafas teratur Alina sejenak menundukkan kepalanya melihat kearah Alina yang tertidur. Kemudian dengan perlahan Biru membaringkan Alina di tempat tidur dan ia ikut tidur di samping Alina dalam balutan selimut yang sama sambil memandang wajah istri barunya ini. Dengan mendekap Alina dalam pelukannya. Perlahan iapun mulai terlelap dalam tidur pertamanya bersama Alina.


__ADS_2