
Ini hari ke empat mereka berada di negeri ini. Biru setiap malam diam diam selalu mendatangi Alina tanpa sepengetahuan Violet. Biru memiliki kunci cadangan kamar Alina. Ia sengaja meminta pada pihak hotel untuk memudahkannya masuk ke kamar Alina. Jika Alina sudah tertidur, maka Biru tidak perlu sulit sulit membangunkannya. Seperti saat ini, ini sudah tengah malam. Bahkan Violet sudah terlelap dalam tidurnya. Biru diam diam meninggalkan Violet dan berpindah ke kamar Alina.
" sayang,,, kamu belum tidur." Biru melihat Alina yang keluar dari kamar mandi.
" sudah tadi,, dan aku terbangun." jelas Alina.
" baiklah ayo tidur lagi,, masih larut malam." Biru berjalan menuju ranjang dan mulai merebahkan diri di ikuti Alina di sampingnya. Yang ikut masuk dalam satu selimut bersama Biru.
" sayang, jangan selalu seperti ini. Kak Vio akan merasa kamu tidak adil nanti kalau kamu setiap malam selalu kesini, dan tidur dengan ku." Alina berkata dalam pelukan Biru. Ia merasa tidak enak pada Violet dengan perlakuan Biru.
" Sudah ayo tidur, aku lelah dan pengobat lelah ku ada di sini." ucap Biru dengan memejamkan matanya dan mempererat pelukannya.
Seperti biasa Biru selalu tidur bersama Alina. Dan kembali ke kamar Violet setelah shubuh. Sebelum Violet bangun tentunya.
Hari ini Alina memberanikan diri keluar hotel. Ia ingin melihat ke indahan negeri ini. Alina mengikuti saran Biru yang memintanya untuk ikut bus tour dari hotel tempat mereka tinggal. Agar Alina tetap aman dan bisa kembali ke hotel tanpa tersesat.
🍎🍎🍎🍎🍎
Di sini Alina sekarang duduk sendiri di sebuah bangku tempat wisata yang begitu ramai wisatawan.
Alina hanya duduk mengamati kebahagian dari orang orang yang berada disana. Batin Alina berkata, andai ia bisa menikmati liburan ini seutuhnya.
Ya Alina memang liburan namun pikirannya selalu teringat akan nasib keselamatan keluarganya. Saat memutuskan untuk mengiyakan ajakan Biru berlibur kesini, Alina berfikir, mungkin saat ini saat saat terakhir Alina bersama Biru. Setidaknya ia dan Biru mempunyai kenangan manis bersama sebelum akhirnya Alina memutuskan untuk pergi demi menyelamatkan keluarganya.
Liburan Alina di bayang bayangi akan ancaman itu. Sampai saat ini pun Alina belum berani mengatakan pada Biru tentang hal itu. Di saat sedang melamun memikir kan masalahnya, sebuah bola menyadarkan lamunan Alina. Seorang anak kecil berbahasa asing meminta bola yang tadi mengenai kaki Alina itu. Dengan senyum Alina memberikan bola itu pada anak kecil yang berkata entah apa Alina tidak mengerti.
Tak terasa hanya duduk diam Alina sudah menghabiskan waktunya. Dan saat ini ia harus kembali ke hotel. Besok ia akan kembali kesini lagi. Sepertinya seru begitu menurut Alina.
" bagaimana jalan jalannya sayang." tanya Biru, saat ini mereka sedang bersama di dalam kamar.
" seru,, besok aku akan kesana lagi. Apa boleh?" tanya Alina memastikan.
" tentu saja, pakai saja kartu yang aku berikan itu sepuas kamu. Gunakan untuk membeli apapun yang kamu inginkan." titah Biru mencubit gemas pipi Alina
" terimakasih,," ucap Alina dengan senyumnya.
" maaf ya aku belum bisa menemani mu berlibur. Pekerjaaan ku di sini masih banyak jadi aku harus menyelesaikannya. Aku berjanji akan menemani mu berjalan jalan saat sudah selesai nanti." ucap Biru dengan mengusap sayang kepala Alina.
" ya,, tidak apa." Alina justru tidak keberatan jika harus berjalan sendiri.
Keesokan harinya Alina kembali ketempat kemarin dan benar saja. Dia hanya kembali duduk dan melihat sekitar. Sesekali tersenyum melihat anak anak kecil yang berlarian kesana kemari memilih bergantian menaiki wahana di taman wisata itu.
__ADS_1
( andai status ku bukan istri ke dua dan tidak di sembunyikan, mungkin aku akan benar benar menikmati liburan ini dengan suami ku. Melakukan banyak hal disana bersama sama.) batin Alina dengan tersenyum kecut mengingat takdirnya yang seperti saat ini.
Ia kembali teringat masa masa indah bersama Bagus yang selalu mendatangi taman hiburan seperti ini. Menaiki banyak wahana permainan anak sehingga membuat mereka lupa waktu. Alina sangat bahagia kala itu.
Seseorang tiba tiba datang menepuk pundak Alina dan mengagetkannya secara tiba tiba pria itu duduk di sebelah Alina. Pria itu berbicara dnegan bahasa asing pada Alina namun Alina hanya menjawab yang ia tahu saja.
" bahasa asing mu buruk,, kau orang indonesia ya." kata pria itu.
" kau bisa berbahasa indonesia?." tanya Alina heran pria di depannya itu tidak kaku saat berbicara menggunakan bahasa indonesia.
" tentu saja,,, aku orang indonesia." aku pria itu.
" Abi,,." ucapnya mengulurkan tangannya.
Dengan ragu,, Alina menjabat tangan pria yang ia tahu bernama Abi itu.
" Alina." menerima uluran tangan Abi dan inilah perkenalan pertama mereka. Yang entah akan berlanjut atau akan menggoreskan sebuah cerita baru.
" sendirian??" tanya Abi melihat Alina yang hanya tersenyum tipis dan menganggukkan kepala.
" pantas,, dari kemarin duduk sendiri di sini."
" kemarin?? kemarin kamu melihat ku." tanya Alina bingung dengan ucapan Abi barusan.
" Alina,, kamu tinggal di mana di sini. Kenapa sendirian di tempat ramai. Jika ada orang yang berniat jahat padamu apa kau tidak takut." lanjut Abi mengingatkan Alina.
" aku tidak sendiri, aku bersama suami ku." aku Alina yang langsung membuat Abi tersentak.
" su a mi??" jelas Abi terkejut mendengar pengakuan Alina.
" ya aku sudah menikah." ucap Alina dengan senyumnya meyakinkan Abi.
" aku tidak yakin. Lalu dimana suami mu. Kenapa dia membiarkan mu berkeliaran sendiri." Abi dengan nada tidak yakinnya melihat sekitar takut jika benar suami Alina di sana.
" hust,,, aku tidak berkeliaran. Memangnya aku kucing liar yang berkeliaran kesana sini gitu??. Aku hanya menikmati liburan ku." Alina menjawab santai.
" lin,, Kamu bisa aja,,, tapi memang kamu seperti kucing. Imut lembut dan lucu" Balas Abi menanggapi candaan Alina.
" Tapi,,, aku heran liburan macam apa yang kamu katakan itu. Liburan tapi hanya duduk melihat mereka bermain." Abi melanjutkan.
" jujur saja aku tidak paham dengan semua bahasa mereka, dan aku takut jika harus berkerumun. Ini kali pertama ku ke sini." jawab Alina jujur. Membuat Abi tak menyangka.
__ADS_1
" lalu dimana suami mu, seharusnya dia tidak membiarkan mu sendiri kan." Abi masih saja tidak yakin bila Alina sudah menikah.
" dia bekerja,, sedang ada pekerjaan di sini. Jadi dia sementara tidak bisa menemani ku." lagi Alina tersenyum menjawab pertanyaaan Abi.
" jadi kamu sendirian doang?? kalau begitu,,, ayo kita berteman." Abi tampak girang mendengar jawaban Alina seolah mendapat lampu hijau bahwa Alina sedang tidak bersama suaminya. Maka dari itu menggunakan kesempatan itu untuk menjalin pertemanan dengan Alina.
" teman?" Alina bingung Abi yang baru ia temui ini tiba tiba mengajaknya berteman.
" iya teman,, aku akan mengajakmu mengelilingi tempat wisata ini. Oh bukan hanya tempat ini,, tapi seluruh wisata di kota ini. Bagaimana??" Abi tersenyum dengan menaik turunkan alisnya. Mencoba memaksa Alina untuk menikmati liburannya.
Sejenak Alina berfikir, ia takut jika berteman dengan Abi, Biru akan marah. Karna ia tahu Biru tidak menyukai Alina dekat dekat dengan pria lain.
Namun Alina juga ingin sekali mengelilingi tempat wisata ini. Jika menunggu Biru. Mungkin saja kesempatan Alina hanya tipis. Karna Biru sangat sibuk.
" baik lah teman." akhirnya Alina memutuskan menerima Abi sebagai temannya. Alina berfikir jika Biru tidak akan tahu karna Biru sibuk bekerja. Itung itung dia juga menikmati liburan ini. Walaupun pikirannya sedang terganggu dengan ancaman ancaman itu.
Abi mengajak Alina menaiki wahana yang berada di tempat wisata itu. Sesekali mereka bertingkah layaknya anak anak yang sedang bermain dia area permainan anak.
Alina tidak sulit beradaptasi dengan Abi karna Abi juga tidak kaku orang nya.
Dalam sekejap mereka sudah tampak akrab. Dan tak terasa hari semakin sore. Alina memutuskan untuk kembali ke hotel dan membuat janji bahwa mereka akan kembali bertemu besok di sini. Abi akan mengajak Alina menjelajah kota ini. Begitulah janji Abi tadi sebelum mereka berpisah.
Kini Alina sudah kembali ke hotel.
" senang sekali kelihatannya kamu Alina." tanya Violet melihat raut wajah Alina yang sumringah saat memasuki hotel.
" eh,, kak Vio,, kak Vio baru kembali." tanya Alina melihat Dinar dan Violet membawa banyak paper bag di tangannya.
" iya kami baru pulang. Lihat belanjaan ini. Banyak kan. Dan besok kami masih akan berburu oleh oleh. Nggak kayak kamu yang cuma keluyuran nggak jelas." sahut Dinar sinis.
" kamu pulang telat,, tidak menggunakan bis yang biasanya. Apa sesuatu terjadi, kamu tersesat?" tanya Damar melihat Alina yang kembali ke hotel tidak bareng rombongan seperti biasa.
" oh,,, iya tadi aku keasyikan di taman bermain bersama anak anak kecil jadi aku melewatkan jemputannya." jawab Alina tersenyum.
" ya sudah,, aku duluan." ucap Alina meninggalkan Damar menyusul Violet dan Dinar yang sudah duluan masuk lift.
Alina merasa sedikit aneh dengan sikap Damar akhir akhir ini yang terlihat baik padanya. Bukan Alina tidak suka, namun aneh saja. Sama dengan Alina, Biru pun merasakan ada yang aneh dengan sikap putranya itu.
🍒🍒🍒🍒🍒
Terimakasih sudah membaca,, jangan lupa LIKE nya ya. Krisan di koment silahkan. Maaf jika up nya sedikit lama. Tunggu kelanjutan hubungan Alina dan Biru selanjutnya ya.
__ADS_1
Terimakasih 🙏🙏🙏🤗