
Hari ini Alina begitu sibuk di dapur restorannya. Ia ikut turun tangan memasak makanan untuk pesanan catering hari ini. Dua minggu lalu Candra datang memberi kabar bahwa akan ada acara peresmian bisnis di kantor Ardi. Dan Ardi mau catering dari resto Alina yang menjadi jamuan hari ini.
Alina memang sudah terbiasa ikut turun tangan untuk memasak di restorannya. Terlebih bila sedang ada pesanan catering seperti sekarang. Jika hari biasa pun saat restoran sedang ramai ramainya, ia juga akan ikut membantu melayani para pembeli. Namun Alina lebih memilih membantu di dapur memasak pesanan untuk para pembeli.
Setelah menyelesaikan masakannya. Alina membantu mengemasi dan membawa semua makanan ke dalam mobil box catering nya. Mobil dengan tulisan Lili catering dan resto itu siap membawa makanan ke kantor cabang Ardi.
" Selesai,, good job,, terimakasih semua kerja samanya." ucap Alina tersenyum ramah pada semua karyawannya.
" sama sama mbak Lili." mereka serempak menjawab dan membalas senyuman Alina.
" baiklah,, aku akan bersih bersih dulu setelah itu baru akan menyusul ke tempat acara. Pak Sapto,, saya tinggal ya,, maaf membawa sebagian anak anak untuk di sana." ucap Alina kepada juru masak di restorannya.
" tenang aja mbak Lili, sudah jangan khawatirkan kami di sini. Bukankah ini hal yang biasa. Saya yang harusnya minta maaf nggak bisa nemenin mbak Lili di sana. padahal nona kecil sedang manja ya lagi pengen bersama mbak Lili terus." jawab pak Sapto.
" iya pak, nggak papa di sana ada Aris nanti yang akan bertanggung jawab sama anak anak yang lain. Saya permisi dulu pak." pamit Alina.
Setelah membersihkan diri di kamar mandi toko bunganya. Alina bergegas menuju kantor Ardi. Jika ada catering di luar, memang Alina sendiri turun tangan ikut memantau. Dan membantu para karyawannya memberikan pelayanan terbaik kepada para undangan dan juga si pemesan catering nya. Untuk masalah restoran ia sudah mempercayakan pada pak Sapto untuk bertanggung jawab di sana.
Alina sudah sampai di kantor cabang milik Ardi yang baru beberapa waktu lalu di resmikan ini. Kali ini Ardi mengadakan jamuan untuk para kolega dan para pemegang saham. Setelah Candra sembuh total Ardi memang fokus membesarkan perusahaannya sendiri. Dan menyerahkan kembali perusahaan Candra. Walaupun sebelumnya perusahaannya ini adalah anak perusahaan milik Candra. Namun setelah Candra kembali, ia memberikan perusahaan ini kepada Ardi yang sudah lama membantunya.
Alina memasuki lift dan menuju lantai di mana Ardi mengadakan acara tersebut. Sampai di tempat,, Alina yang membawa buket bunga itu, mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Mencari sosok yang mengadakan acara ini di tengah kerumunan banyak orang. Tentu Alina akan menyalaminya dulu sebagai teman, sebelum akhirnya ia akan membantu mengurus catering nya.
Dan setelah membelah kerumunan orang orang itu. Akhirnya ia menemukan sosok Ardi yang sedang berbincang hangat dengan tamu undangan tentunya.
" tuan Ardi,," sapa Alina ketika ia sudah dekat dengan Ardi.
" oh,, hallo nona Lili." Ardi melambaikan pelan tangannya kepada Alina dan tersenyum.
" Maaf mengganggu sebentar,,, emmmm selamat ya tuan Ardi atas di bukanya kantor cabang anda." ucap Alina menyalami Ardi. Dan di sambut baik oleh Ardi.
" dan ini untuk mu." Alina menyerahkan buket bunga yang ia bawa tadi kepada Ardi.
" terimakasih nona Lili,," Ardi dengan senyum menerima bunga dari Alina dan mendekat hendak cipika cipiki pada Alina sebelum akhirnya ia sadar bahwa Alina tidak suka melakukan itu dengan pria yang bukan kekasih atau suaminya. Tentu saja Ardi tahu, Candra selalu bercerita padanya tentang Alina.
" o iya nona Lili kenal kan ini tuan permana." ucap Ardi melihat kearah seseorang yang tadi berbincang padanya dan sempat ia abaikan karna kedatangan Alina.
Tanpa ragu Alina menoleh ke samping dan hendak mengulurkan tangan untuk berjabat tangan dengan kolega Ardi. Namun Alina yang tadinya tersenyum manis itu. Tiba-tiba mengulum senyumannya. Ia terkejut dengan pria yang kini juga sedang menatap dirinya dengan mata yang membulat sempurna.
(oh,, tidak wanita ini mirip sekali dengan Alina, suaranya juga sama dengan Alina, tapi tuan Ardi memanggilnya nona Lili? siapa dia, benarkan dia Alina? ) batin Abimanyu melihat Alina yang berada di depannya. serasa tak percaya karna penampilan Alina yang jauh berbeda, namun ia sempat melihat senyum Alina sebelum akhirnya senyum itu menghilang. Ia menatap bening mata Alina.
Alina sendiri tak percaya bahwa ia akan bertemu Abimanyu di sini. Ia sungguh terkejut dan merasa bingung harus bagaimana bersikap. Bahkan senyum yang semula terbit dari bibir indahnya kini menghilang begitu saja setelah melihat orang di sampingnya itu. Alina,, tidak siap bertemu dengan orang-orang dari masalalunya.
(astaga,,, kenapa harus ada Abi di sini.). batin Alina yang kini di buat risau.
" tuan Abimanyu permana, ini adalah nona Lili." Suara Ardi membuat kedua orang di depannya terhenyak dari lamunan mereka.
" oh iya,,, senang bertemu dengan anda,, saya Abimanyu." Ucap Abimanyu dengan senyum cerahnya menarik tangan Alina untuk berjabat tangan dengannya. Ia menggenggam erat tangan Alina.
Berbeda dengan Abimanyu yang senang melihat Alina atau Lyli. Alina justru tampak kurang nyaman dengan situasi itu. Ia hanya mengangguk pelan menanggapi Abimanyu.
Merasa genggaman Abimanyu tak biasa. Maka dengan segera Alina melepaskan jabat tangan mereka. Setelahnya,, Alina memutuskan untuk segera pergi.
__ADS_1
" em,,, tuan Ardi,, maaf saya permisi dulu." pamit Alina dan di iyakan oleh Ardi.
" sekali lagi selamat untuk anda tuan Ardi." ucap Alina sebelum benar benar pergi.
" sama sama nona Lili, saya menyukai bunganya." ucap Ardi.
Alina memang sangat pandai merangkai bunga. Karna itulah toko bunganya selalu ramai di kunjungi orang dan juga selalu menerima banyak pesanan. Rangkaian bunga bunganya selalu di sukai para pembeli. Hobby Alina memang merawat bunga kan, jelas saja jika ia pandai merangkai bunga.
Abimanyu masih menatap punggung Alina yang semakin menjauh. Hingga tepukan di pundaknya menyadarkannya.
" maaf tuan Abimanyu, sepertinya anda memperhatikan nona Lili." ucap Ardi membuat Abimanyu tersenyum.
" Jangan lama-lama menatapnya tuan. Ada singa di belakang nona Lyli yang siap menerkam siapa saja yang mengganggu." Canda Ardi menggoda Abimanyu yang tampak terpukau dengan Lyli.
" Singa??." Tanya Abimanyu yang merasa aneh dengan ucapan Ardi.
" Apa nona Lyli sudah menikah?." Tanya Abi lagi memastikan.
" Mungkin sebentar lagi." Jawab Ardi santai.
Hal itu justru membuat Abimanyu ingin tahu lebih banyak mengenai Lyli.
" emmmmm maaf tuan Ardi,, kalau boleh tahu,,, apa nona Lili itu penanam saham juga di kantor anda?" tanya Abimanyu penasaran.
" Untuk saat ini belum, nona Lyli belum tertarik bermain saham,, begitu katanya. Ia fokus menjalankan bisnis restorannya dan juga catering nya, oh ya satu lagi florist miliknya. Anda tahu tuan Abimanyu, bunga ini adalah rangkaiannya sendiri dari toko bunga miliknya. Dan hidangan di sini adalah catering dari restonya." tutur Ardi membuat Abimanyu hanya menganggukkan kepalanya.
" oh,, saya pikir dia juga salah satu kolega anda." Abimanyu berusaha menutupi rasa penasarannya.
" mbak Lili,, mbak Lili baik baik saja." tanya Aris yang melihat Lili hanya diam melamun sedari tadi.
" iya Ris,, kenapa? ada masalah?" tanya Alina pada salah satu karyawannya itu.
" nggak mbak,, itu Kiran sepertinya mencari mbak sedari datang tadi." Alina seketika teringat bahwa ia datang bersama Kiran dan bik Tini tadi.
" oh astaga,,, kenapa aku bisa lupa aku membawa Kiran." Alina menggelengkan kepalanya menyesal. Ia segera pergi dan menuju tempat dimana Kiran beristirahat.
" mama,," Belum jadi Alina pergi menemui Kirana,,, Kirana sudah lebih dulu datang dan merengek menghampiri Alina dengan mata berkaca kaca dan bibirnya yang maju siap untuk menangis.
" oh,, sayang,, anak mama,, kenapa sih? sini gendong sama mama." Alina menggendong putrinya itu dan mendekapnya mengelus sayang punggung Kiran yang meletakan kepalanya di bahu Alina.
" Hai Kirana,, tumben banget sih, hari ini sepertinya lagi pengen di manja mama ya." celetuk salah seorang karyawan Alina yang melihat Kiran sejak bagi merajuk. Bahkan Alina sampai harus membawanya bekerja.
" iya nich mbak,,, anak mama lagi pengen deket deket mama ya." jawab Alina menimpali dengan masih mengusap lembut punggung Kirana.
Alina terus mengusap lembut punggung Kiran dan membuatnya tertidur di gendongan Alina. Beruntung saat Kiran rewel barusan acara belum di mulai dan makanan baru di rapikan di meja untuk di sajikan. Setelah memastikan putrinya terlelap, Alina memberikannya pada bik Tini untuk membawa Alina ke belakang, kebetulan tempat itu menyediakan ruang kosong yang bisa di gunakan untuk beristirahat.
Acara sambutan dari sang pemilik perusahaan sudah di mulai dan hampir selesai. Ada yang aneh menurut Alina, sejak tadi ia tidak melihat Candra. Oh, bahkan Candra sama sekali belum menghubungi Alina sejak pagi. Biasanya jika hari biasa Candra tak pernah absen menghubungi Alina. Dan saat Alina menerima pesanan catering seperti ini, biasanya Candra akan selalu datang dan ikut membantu Alina mengatur tempat.
Namun justru di acara sahabat karibnya ini Candra belum juga menampakan batang hidungnya. Tidak mungkin rasanya bila ia tidak hadir di acara penting ini. Bukankah dia juga pemegang saham di kantor baru Ardi ini.
Alina begitu sibuk membantu para karyawannya memastikan agar makanan yang di hidangkan tidak sampai ada yang kosong di tempatnya agar para tamu undangan yang sudah mulai menikmati jamuan hari itu tidak merasa kecewa.
__ADS_1
Dan nyatanya hal ini lah yang selalu menjadikan catering Alina ini selalu ramai di gunakan para pengusaha untuk acara acara penting. Pelayanan yang selalu ramah dan saat menghidangkan makanan selalu bisa dengan baik. Tamu undangan tidak pernah sampai antri mengular dan menunggu lama untuk menikmati hidangan.
Sungguh pemandangan yang tak di sangka Alina sebelumnya, namun terjadi di depannya. Candra datang, dan tidak sendiri. Bersama seorang wanita yang terlihat berdandan modis ala wanita karir. Di lihat dari umurnya mungkin tak jauh beda dengan Candra karna terlihat lebih dewasa dari wajah imut Alina.
Alina tentu saja tercengang melihat itu, bukankah selama ini Candra tak pernah memberi tahunya bahwa ia memiliki kekasih?.
Jadi siapa wanita itu yang menggandeng mesra lengan Candra. Candra yang sedang berbicara dengan Ardi dan wanita itu tampak begitu akrab. Jelas sekali terlihat dari tempat Alina berdiri.
Entah apa ini, perasaan Alina ada yang aneh melihat Candra di depannya. Jantungnya tiba tiba berdetak tak menentu. Dadanya terasa sesak. Alina berusaha menepis perasaan anehnya dengan mulai menyibukkan diri kembali agar tak melihat Candra. Justru saat ia sedang bergelut dengan kesibukannya itu. Candra datang bersama wanita tadi dan tanpa banyak berkata Candra dan wanita itu mengambil makanan di depan Alina. Candra hanya menyapa Alina dengan senyum dan kembali berbincang dengan wanita itu sambil memilih makanan. Tidak biasanya Candra seperti itu pada Alina.
"Kenapa rasanya aneh yaa melihat Candra jalan dengan wanita lain dan tampak acuh pada ku"
Batin Alina.
" mbak,, itu tuan Candra kan." tanya Aris yang berada di samping Alina.
" iya Ris,, udah jelas segitu gedenya kok masih ditanyain." jawab Alina sedikit jeleous.
" mbak cemburu yaaaaa?" tanya Aris terang terangan.
" kamu masih pengen kerja nggak Ris?" bukannya menjawab pertanyaan Aris Alina justru melontarkan kembali pertanyaan yang membuat Aris langsung gelagapan.
" yah mbak,, saya bercanda doang." ucap Aris menggaruk kepalanya yang tak gatal itu.
Alina hanya nyengir menanggapi Aris di sampingnya.
(hah?? aku cemburu? nggak mungkin lah, untuk apa aku cemburu. Toh hak nya Candra kan mau jalan sama siapa.) Batin Alina lagi.
" permisi, bisa minta piringnya." ucap seseorang yang mengagetkan Alina.
" oh tentu saja. Silahkan." dengan sedikit canggung Alina memberikan piring pada orang di depannya. Tanpa melihat siapa orang itu. Karna ia masih memikirkan perasaan anehnya. sampai-sampai Alina tidak fokus bekerja seperti itu.
" terimakasih." ucap Abimanyu menerima piring dari Alina. Berusaha mengambil perhatian Alina.
" boleh nanya?" lagi Abimanyu yang masih berada di depan Alina sengaja tetap berdiri di depan Alina. Hingga akhirnya Alina melihat kearahnya.
Betapa terkejutnya Alina saat melihat yang bertanya adalah Abimanyu. Abimanyu yang sudah menatap lekat dirinya. Membuat Alina salah tingkah.
" i,,,,, iya,, silahkan," Alina berusaha tetap ramah menjawab. Meskipun ada rasa canggung.
" Sebenernya kamu itu Lili?? apa kamu Alina??" tanya Abimanyu yang membuat Alina menghela nafas panjang. Tak menyangka Abimanyu akan bertanya seperti itu.
Alina dengan malas menjawab.
" maaf tuan silahkan maju, di belakang anda masih banyak yang menunggu." Alina berhasil menghindari pertanyaan Abimanyu karna kedatangan orang orang di belakang Abimanyu.
Abimanyu hanya bisa menelan kekecewaannya karna gagal mengetahui kebenaran Alina di depannya. Tadi ia sudah memastikan bahwa sedang tidak ada yang mengantri mengambil makanan. Oleh sebab itu ia memilih mengambil makanan sembari mencari tahu rasa penasarannya itu.
🍒🍒🍒🍒🍒
Terimakasih sudah membaca,, jangan lupa LIKE nya ya. Krisan silahkan di kolom koment.
__ADS_1
Terimakasih,,, 🙏🙏🤗