Takdir Alina

Takdir Alina
Pertemuan di Mall


__ADS_3

Bu siska yang sedari tadi sudah sangat tegang kini membulatkan matanya mengikuti pandangan mata tuan Biru yang ternyata tengah melihat Alina. Bu Siska khawatir jika Alina juga membuat sang pelanggan tidak nyaman. Maka nasib gerainya itu akan terancam. Karena ini ada jurus terakhir yang ia miliki. Yaitu Alina karyawan terbaik yang ia miliki.


" Akhirnya,,, kamu datang juga Alina." Lirih Bu Siska yang merasa lega melihat Alina.


" Emm,,, maaf bu Siska." Ucap Alina pelan ia melihat ketegangan sang atasan dan membuatnya merasa bersalah.


" Maaf nyonya telah lama menunggu. Mari saya antar memilih barang." Dengan santun Alina mempersilahkan Violet.


" Kamu ini kenapa lama sekali. Sengaja membuat pelanggan menunggu ya." Gertak Violet dengan kasar.


" Seharusnya ada pelanggan itu di layani dengan baik bukan seperti ini. kalian mau makan gaji buta ya. Akan saya viralkan kalau pelayanan di gerai Indomaret tidak baik. Biar ga ada lagi yang mau kesini." Umpat Violet lagi.


" Maafkan atas ketidak nyamanannya nyonya. Sekarang untuk menebus semuanya mari saya antar nyonya memilih barang yang nyonya inginkan." meskipun di perlakukan tidak baik oleh Violet. Alina tetap saja bisa berkata baik daj berlaku sopan bahkan tersenyum pada wanita arogan itu.


Suara Alina begitu lembut terdengar di telinga Biru. Ia bahkan masih enggan berpaling dari wajah di depannya itu. Tatapannya begitu dalam. Seolah menyiratkan suatu hal.


" Kira-kira barang seperti apa yang nyonya inginkan. Mari nyonya." Ajak Laras.


" Ya memang ada yang ingin saya cari di gerai ini." Jawab Violet ketus. Setelahnya ia menoleh ke samping melihat Biru.


" Sayang,, tunggu disini sebentar ya." Ucapnya membuat Biru terhenyak.


" Oh,,, iya." Dengan gugup Biru menjawab. Ia takut ketahuan Violet bahwa sejak tadi dirinya menatap Alina.


Setelahnya Violet berjalan mendahului Alina. Dan Alina segera menyusul tanpa memperdulikan Biru yang masih terus menatap dirinya.


Alina mengajak Violet untuk kembali berkeliling gerai. Violet memilih-milih barang sembari memberitahu Alina barang yang sedang ia cari. tak butuh waktu lama,, Alina tahu apa yang wanita itu cari. Dengan segera Alina mengajak Violet ketempat barang yang sesuai dengan incaran Violet.


" Wawwwwww,,,,,,,,,, amazing. Kamu benar-benar mengerti apa yang aku cari. Ini tas keluaran terbaru yang aku inginkan. Thanks yaa." Ucap Violet setelah menerima tas yang di berikan Alina. Ia menimang daj menelisik tas itu. Membolak balik memastikan bahwa tas itu asli. Ia tak ingin di buat malu di depan teman-temannya jika memakai tas KW.


" Sebenarnya hari ini aku sedang berulang tahun. Jadi aku ingin mencari barang terbaru untuk aku gunakan saat perayaan nanti. Selain tas ini,, gaun atau baju yang cocok menurut kamu ada nggak. yang terbaru tentunya." Pinta Violet pada Alina.


" Sebentar saya carikan nyonya." Dengan segera Alina mencari gaun dan baju yang cocok.


" Ingat jangan lama-lama." Teriak Violet dari tempatnya berdiri. Penuh dengan penekanan.


Tak lama kemudian Alina kembali dan membawa beberapa pakaian untuk di pilih Violet.

__ADS_1


" Silahkan nyonya. Semoga nyonya menyukainya." Setelah Violet menerima pakaian itu ia bergegas ke ruang ganti dan mencobanya. Tentu saja dengan ditemani Alina di luar ruangan.


Dari kejauhan,, Biru masih terus memperhatikan Alina. Ia melihat bagaimana Alina begitu sabar menghadapi Violet. Bahkan saat Violet memakinya ia tetap berusaha tersenyum. Demi memberikan pelayanan yang terbaik. Ia melihat sorot mata Alina. Entahlah hal itu membuat hati Biru merasa ada sesuatu. Terlebih saat melihat Alina yang sesekali tersenyum. Hal itu membuat Biru tanpa sadar ikut mengukir senyum manis di bibirnya.


" Aku harus tahu banyak hal tentang gadis itu."


Batin Biru.


Sedang asyik memperhatikan Alina. Tiba-tiba saja Violet datang mendekatinya. Dan memamerkan barang-barang yang ia bawa.


" Sayang,, aku udah dapet. Sekarang bayar yaa." Ucap Violet yang meletakkan belanjaannya di meja kasir.


"baik lah Vi jadi ini yang kau inginkan dan kau minta di hari ulang tahunmu ini." tampak kelegaan di wajah Biru karna diapun sudah lelah menemani violet memutari penjuru Mall ini.


"iya ini yang aku mau,, pelayan itu sangat cerdas dia langsung tau ketika aku hanya memintanya mencari barang ini dengan ciri cirinya saja. Tidak perlu menunjukan banyak barang tapi semua salah. Sungguh membosankan. Baiklah sayang ini adalah hadiah ku jadi ayo bayar dan kita pulang." Violet tampak bahagia dan menggandeng lengan suaminya dengan manja di depan meja kasir.


Setelah semua selesai,, Alina mengemas dengan rapi belanjaan Violet. Dan memberikannya.


" Silahkan nyonya,,, ini belanjaannya." Alina dengan santun memberikan paper bag berisi belanjaan Violet.


" Silahkan nyonya." Dengan tulus Alina berkata. Tentu tak ketinggalan senyuman manisnya. Membuat jantung Biru berdebar. Namun ia tetap berusaha terlihat tenang dengan ke angkuhannya.


Bu Siska dan Alina membungkukan sedikit badannya mengiringi kepergian Violet dan Biru.


Setelah selesai,, Alina meminta izin pada bu Siska untuk kembali menghabiskan makan siangnya tadi.


Teman teman Alina yang sedari tadi melihat pemandangan itu akhirnya lega melihat Violet keluar gerai,, mereka beramai rami membicarakan Violet dengan segala umpatan umpatan mereka.


Alina hanya tersenyum menanggapinya kemudian melanjutkan makan siangnya yang sudah lewat dari jam nya.


Malam hari saat berjalan pulang dari Mall Alina merasa ada seseorang yang mengikutinya. Tidak seperti biasanya malam ini jalanan tampak sepi sehingga membuat Alina merasa takut kalau kalau ada orang jahat yang mengikutinya. Beruntung sampai Alina di dalam kamar kostnya Alina tak bertemu orang jahat itu.


Namun tanpa Alina sadari bahwa yang mengikutinya dari tadi adalah orang suruhan Biru.. Entah apa maksud Biru menyuruh orang untuk mengikuti Alina malam itu.


Beberapa bulan berlalu semenjak pertemuan mereka di gerai hari ini. Biru kembali datang ke gerai hanya bedanya dia kini datang sendiri tanpa istrinya. Biru sudah memutari semua penjuru gerai tapi tak menemukan Alina. Hal ini membuat Biru merasa bingung. Sehingga membuat Heni berjalan mendekatinya.


"maaf tuan ada yang bisa saya bantu." berusaha ramah karna dia tahu yang ada di hadapannya kali ini adalah bos besar. Andai salah bicara entah kemungkinan buruk apa yang akan terjadi padanya. Namun di sisi lain ia bersyukur bahwa tak ada sang istri bos yang mengikuti. Ia masih ingat bagaimana Violet memperlakukan dirinya dna teman-temannya tempo lalu.

__ADS_1


Awalnya Biru hanya diam dan melihat sekitar. Mengedarkan pandangannya ke penjuru arah. Ketika tak takok a temukan yang di cari. Maka putuskan untuk bertanya. Meskipun sebenarnya ia merasa aneh untuk menanyakan hal itu.


" dimana teman mu yang ramah itu. Saya mau dia yang melayani." ucap Biru dingin tanpa melihat Heni di depannya.


"oh Alina."


belum sempat Heni menjawab bu Siska yang datang itu tiba-tiba menyela.


"maaf tuan Biru,, kebetulan hari ini Alina sedang izin." Jawab Bu Siska melihat Biru.


Tampak raut kecewa di wajah Biru setelah mendengarnya. sebenernya hari ini ia sengaja meluangkan waktu datang ke gerai hanya untuk melihat Alina. Yang beberapa bulan ini tak ia lihat. Dan menumbuhkan rasa aneh dalam hatinya. Sehingga seperti ada dorongan untuk menemui gadis itu.


Sayangnya rasa itu justru berbuah kecewa yang ia dapat. Tanpa berkata ia pun mengambil asal baju untuk di beli dan memberikannya kepada Heni untuk di bayar. Agar tak terlalu terlihat bahwa sebenarnya tujuannya kesini hanya untuk Alina. Maka ia mengambil baju untuk di beli.


Setelah selesai bertransaksi Biru meninggalkan gerai dan meminta ajudannya untuk membawa barang yg di belinya. Biru tak terbiasa membawa tentengan belanjaan apapun itu. Karna dia menganggap reputasinya akan jatuh saat dia membawa bag belanjaan.


Dengan penuh amarah Biru masuk kedalam mobil dan membanting pintu mobil dengan sangat kencang tidak seperti biasanya. Hal itu membuat sang ajudan yang juga supirnya merasa kaget dan juga takut.


Di dalam mobil Biru terus mencari tahu keberadaan Alina melalui mata mata yang ia kirim untuk mengawasi Alina. Beberapa bulan ini semenjak bertemu Alina. Biru menyewa mata mata untuk mengawasi Alina.


"dasar bodoh dia tidak bekerja hari ini apa kerjaan kalian sampai memberiku informasi yang salah." Biru memaki orang suruhannya melalui telefon.


"" maaf tuan tapi memang tadi pagi nona Alina keluar kost dan berangkat menggunakan angkutan umum seperti biasa." ucap sang informan dari sebrang sana.


" baiklah cari dia sekarang sampai ketemu!!." Biru berusaha tenang dan mematikan telfonnya.


Sesaat kemudian mobil Biru berhenti karna lampu lalu lintas berwarna merah. Tanpa sengaja Biru melihat Alina menaiki angkutan umum bersama anak anak. Ia pun meminta supir untuk trus mengikuti angkot itu saat lampu berubah menjadi hijau. Hatinya mulai berbunga senyum merekah dari bibirnya ketika melihat Alina di depannya.


Lama mereka mengikuti angkot yang di tumpangi Alina,, hingga sampai di sebuah panti asuhan.


Iya,, Alina selalu menghabiskan waktu libur kerjanya untuk mengunjungi panti asuhan untuk menghilangkan rasa rindunya kepada sang adik yang berada di kampung halaman. Bagi Alina hal ini membuatnya bahagia.


Di lain sisi Biru mengawasi Alina dari jarak jauh. Melihat Alina yang begitu ceria bersama anak anak panti membuat Biru semakin jatuh hati kepadanya.


Biru sadar dia sudah berkeluarga bahkan Alina tampak lebih pantas menjadi putrinya. Tapi entah kenapa Biru merasa ingin memiliki Alina. Menjadikannya istri dengan wajah tenang dan lembut yang Alina miliki Biru berharap dia bisa benar benar bisa bersama Alina.


Terimakasih telah membaca...

__ADS_1


__ADS_2