Takdir Alina

Takdir Alina
Pesta...


__ADS_3

Para tamu undangan sudah mulai berdatangan dan bergantian bersalaman dengan Biru selaku tuan rumah.


Biru begitu tampak gagahnya malam ini dengan tuxedo merah marun berhiaskan dasi kupu kupu di lehernya dan di balut dengan jas senada.


Semua wanita kaum sosialita teman dari Violet terkagum kagum melihat ketampanannya.


Walaupun usianya sudah tak lagi muda namun Biru tampak lebih muda dari umurnya yang sebenarnya. Senyum tawa dari beberapa orang yang hadir menghiasi pesta malam ini.


"tuan Biru,, selamat ulang tahun pernikahan." ucap salah seorang rekan bisnis Biru yang kemudian menyalaminya.


" oh,,,iya terimakasih tuan Herjuno." Biru membalas ramah dengan senyum yang mengembang.


Herjuno permana adalah rekan bisnis sekaligus teman kuliah Biru dulu. Bisa di bilang mereka teman dekat.


"selamat bro,udah 19 tahun aja nich." sambung Juno dengan menepuk pundak Biru.


"ya begitulah bro." Biru menjawab dan tertawa bersama Herjuno.


Herjuno adalah salah satu teman Biru sekaligus saksi bahwa pernikahan Biru dan Violet terjadi tanpa keinginan Biru sama sekali.


Bahkan dulu Biru sempat melarikan diri dan bersembunyi di apartemen Juno untuk menghindari perjodohan itu.


Walaupun banyak lelaki yang mengidolakan Violet, namun justru Biru menolaknya. Violet gadis pintar yang memiliki paras cantik, putri satu satunya dari pengusaha kaya dan ternama.


Siapa yang dapat menolaknya. Berbeda dengan Biru yang justru memilih kabur. Mengingat kejadian masa lalu membuat Juno menertawakan Biru. Sedangkan Biru sudah terbiasa dengan candaan temannya itu. Ia hanya menanggapinya dengan tersenyum tipis.


"wah,,asyik sekali nich sampe tertawa seperti itu." Violet tiba tiba datang dan bergabung dengan mereka.


"oh,,hai Violet, selamat ulang tahun pernikahan." Juno menyalami Violet kemudian sedikit cipika cipiki.


"terimakasih Juno, mana istri mu?." Violet matanya berkeliling mengamati seseorang di sekitar Herjuno.


"oh,,dia hanya menitipkan ini untuk mu." Juno memberikan sebuah kotak kado pada Violet.


" waw,,thanks ya Jun,, tapi kenapa dia nggak ikut." Ucap Violet sambil menerima kado kemudian memberikan pada bik Darmi untuk di simpan, dan Violet melihat aneh pada Juno.


"dia sedang kurang sehat Vi." Herjuno tersenyum dan memberi alasan.


" oh,,semoga cepat kembali sehat,sampaikan salam ku padanya." Violet dengan tersenyum tipis pada Juno.


" Juno,,kamu nikmati aja pesta nya. Aku pinjem Biru bentar ya." lanjut Violet dengan menggandeng lengan Biru. Memaksa Biru untuk mengikutinya.


"ok..." Juno dengan tersenyum dan mengacungkan satu jempolnya dan tangan satunya di masukan dalam saku celananya.


Violet mengajak Biru untuk membawa Dinar ke aula pesta karna waktunya pesta Dinar di mulai.


Teman teman Dinar yang sudah datang telah menunggu sang bintang malam ini.


Riuh suara dari para tamu undangan terdengar kala Dinar dengan gaun selutut berwarna gold dengan rambut di gulung dan bermahkota di atasnya berjalan memasuki area pesta dengan di gandeng kedua orang tuanya di sisi kanan dan kirinya.


Berdiri di aula pesta dengan kue menjulang tinggi di depannya. Dinar mendapat banyak pujian dari teman temannya juga para undangan yang lain. Akan kecantikan dan juga mewahnya pesta Dinar.

__ADS_1


Tak perlu menunggu waktu lama. Setelah pembawa acara membuka acara dan memberi sambutan. Kini terdengar para undangan pesta dengan kompak menyanyikan lagu selamat ulang tahun untuk Dinar.


"baiklah baiklah,,cukup menyanyinya. Sekarang waktunya untuk tiup lilin dan potong kue,,okπŸ˜‰." sang pembawa acara memandu dengan semangatnya untuk acara selanjutnya.


potong kuenya potong kuenya potong kuenya sekarang juga sekarang juga sekarang juga..


Serentak semua undangan menyanyi untuk Dinar. Jauh dari area pesta,Alina dengan senyum manisnya ikut melihat pancaran bahagia dari raut wajah Dinar dari atas sana di jendela kamarnya ia bisa menyaksikan Biru yang tampak bahagia mendapat suapan potongan kue dari putrinya itu. Alina bahagia walau sebenarnya entah kenapa dalam hatinya ada perasaan aneh yang menyusupi.


" selamat bertambah umur sayang,semoga bahagia selalu." ucap Biru tersenyum manis dan mengusap lembut pipi Dinar,setelah suapan kue dari Dinar.


" makasih pa." Ucap Dinar yang tak kalah bahagia tak lupa Dinar menjawab dengan senyum yang mengembang.


"ini untuk mama." Dinar kemudian menyuapi mamanya dan mencium pipi mamanya.


"emm,,makasih sayang,semoga dengan bertambahnya umur ini kamu bisa semakin semangat mengejar cita cita kamu." Violet balas mencium pipi Dinar.


Di lanjut menyuapi oma,opa,grandma, grandfa ,dan terakhir Damar yang mereka semua berdiri berjajar di samping Violet dan Biru mengelilingi Dinar.


"selamat ulang tahun bocah yang sekarang sudah beranjak dewasa." Damar mencubit gemas pipi adiknya itu.


"aw,,,kakak! ini sakit.." Dinar mengusap pipinya yang di cubit sang kakak.


"wah,,adik kakak ini sangat dekat rupanya,baiklah acara selanjutnya game untuk teman teman Dinar silahkan menuju area yang telah di sediakan untuk menikmati game ala anak remaja." kembali pembawa acara mengarahkan susunan acara pesta yang telah di persiapkan.


Dinar membawa teman temannya ke taman tempat pesta di lanjutkan. Ya taman sudah di hias dengan indahnya untuk pesta malam ini. Tanpa mengutak atik bunga bunga Alina tentunya. Biru sendiri yang mengarahkan dan memantau orang orang yang kemarin bekerja mendekor taman ini. Biru tidak ingin bunga bunga kesayangan Alina di rusak. Biru tahu jika bunganya rusak pasti membuat Alina bersedih.


🍎🍎🍎🍎🍎


" ayo Biru,kita gabung,ini acara kita kenapa kita tidak berdansa seperti mereka." ajak Violet pada Biru yang sedari tadi hanya berdiri diam.


"biasanya kamu selalu mengajak ku berdansa bukan." lanjut Violet lagi dengan menarik tangan Biru.


Dengan malas Biru mengikuti Violet ke lantai dansa berbaur dengan yang lainnya. Berdansa seolah olah seperti pasangan yang harmonis.


Dengan mesranya Violet berlenggak lenggok mengikuti irama musik dansa dengan tangan yang bergelantung di leher Biru. Sedangkan di pinggang rampingnya menempel tangan Biru di sana.


Dengan wajah mereka yang berdekatan saling berbagi udara, hembusan nafas saling bertukar terasa menyentuh pipi.


Hanyut dalam suasana romantis malam itu. Biru dan Violet terlihat saling menatap dengan intens.


Violet merasa senang ia berhasil menciptakan momen romantis dengan Biru.


Sesuai rencananya,memperlihatkan kemesraannya dengan Biru pada Alina. Ia yakin dari atas sana Alina sudah pasti melihat kemesraan mereka.


Dan memang benar adanya,,, Alina bisa melihat dengan jelas. Di lantai dansa itu terlihat jelas Biru beberapa kali mencium sekilas bibir Violet.


Seakan tak peduli dengan orang orang disana di tambah cahaya lampu yang sesekali meredup mengiringi musik dansa yang mengalun. Biru benar benar terbawa suasana malam itu. Alina entah kenapa air matanya tiba tiba mengalir begitu saja melewati pipinya. Melihat Biru begitu mesra dengan Violet. Hatinya bak di tikam pisau belati. Sakit sekali,,, dadanya seolah terasa sesak. Apa itu artinya dia cemburu??


(hei,,apa ini kenapa air mata ini tiba tiba mengalir begini.) Alina dengan mengusap air matanya dan menutup korden kamarnya. Ia tak ingin lebih lama melihat pemandangan pesta di bawah sana. Alina bergumam dalam hati.


Alina sendiri bingung kenapa ia akhir akhir ini sering baper dan merasakan hal aneh dalam hatinya. Terlebih saat melihat Biru seperti barusan itu. Padahal sebelumnya ia cuek cuek saja menjalani pernikahannya dengan Biru. Bahkan ia selalu bilang pada dirinya sendiri bahwa ia tak memiliki rasa apapun pada Biru. walaupun Biru selalu berbuat baik dan memperlakukannya dengan lembut dan selalu memberi kejutan romantis untuknya.

__ADS_1


Selama ini ia menganggap yang ia lakukan untuk Biru hanya sebatas kewajibannya sebagai seorang istri tidak lebih.


Tapi entah kenapa yang ia katakan berbeda dengan yang ia rasakan saat ini.


🍎🍎🍎🍎🍎


Di tempat pesta berlangsung, dansa telah usai. Para tamu undangan beramah tamah dengan Biru dan sebagian juga saling sapa dengan yang lainnya. Sembari menikmati hidangan yang di sediakan. Biru berdiri sedikit jauh dari Violet yang sedang asyik haha hihi dengan teman temannya.


" Vi,yakin suami elo tu keren abis,gue lihat tadi pas kalian dansa, duh gue jadi baper tau lihatnya." Sevia teman Violet memuji Biru yang memperlakukan Violet dengan mesra tadi.


"iya nich,,pasangan satu ini emang top banget. Udah 19 tahun menikah masih tetap mesra aja." sambung olivia teman Violet juga.


" apa sih rahasianya,anak udah pada gede masih mesra aja,kayak penganten baru." Sindi menimpali dengan mencolek pinggang Violet.


" hahaha,,kalian ngiri aja." Violet tertawa pelan menanggapi celoteh teman temannya itu. Ia bangga di depan teman-temannya dengan kehidupan yang ia miliki. Tanpa temannya ketahui yang sesungguhnya terjadi dalam rumah tangganya.


" udah nikmati aja pesta nya nggak usah ngiriin gue ya." Violet melanjutkan ucapannya dan kembali tertawa pelan.


"tapi bener lo Vi,lihat deh sedari awal pesta Biru selalu menunjukan perhatiannya sama elo. Jarang jarang ada laki yang udah lama nikah masih begitu." Sevia berbicara dengan menyunggingkan bibirnya ke atas.


'' ya,Biru emang sangat mencintai gue,makanya dia begitu ma gue." Violet menjawab dengan mengibaskan rambutnya. Rasa percaya dirinya memang tinggi.


" ati ati Vi,laki yang kayak gitu udah langka. Jagain bener bener,ntar di lirik pelakor lo." Sindi berkata dengan menepuk lengan Violet.


" uhuk uhuk,," Violet tersedak saat minum karna mendengar kata kata sindi barusan membuatnya teringat Alina.


" eh Vi, elo kenapa,pelan pelan minumnya." Olivia menepuk pelan punggung Violet.


" nggak,gue nggak papa." Violet menjawab datar dengan raut muka yang berubah tak sebahagia tadi.


" sorry ya Vi kalau kata kata gue tadi bikin elo jadi nggak nyaman." Sindi menyesali perkataannya tadi.


" udah lupain lah sin,kita nikmati pesta gue malam ini." Violet menepuk pundak Sindi dan mengedipkan sebelah matanya. Berusaha menutupi kegelisahannya mengenai pelakor.


Hari semakin malam pesta anak remaja di taman sudah selesai. Menyisakan sisa sisa pesta yang berserakan di mana mana. Berbeda dengan pesta di kolam renang ini,yang masih berlangsung dengan selingan game yang seru sedari tadi.


Biru memang seperti menikmati pesta ini seperti tahun tahun sebelumnya.


Namun jauh di dalam hatinya ia memikirkan Alina. Sesekali ia melirik ke arah kamar Alina. Sesungguhnya saat di lantai dansa tadi yang dalam bayangannya adalah Alina bukan Violet. Biru memang berdansa dengan Violet tapi dalam bayangnya di depannya saat itu adalah Alina. Mungkin rasa Biru pada Alina sangat dalam. Sehingga sosok Violet yang sudah menemaninya sembilan belas tahun itu tak ada apa apa baginya. Yang selalu ia pikirkan hanyalah Alina. Wanita yang ia kenal dan ia nikahi hampir satu tahun belakangan ini.


Di kamar ini Alina dengan segala rasa di hatinya mencoba menetralkan rasanya. Mengembalikan ke mode sebelumnya. Mode dimana saat ia tidak pernah merasa kacau saat melihat suaminya bermesraan dengan istri pertamanya. Sejak melihat kemesraan Biru dan Violet di lantai dansa tadi ia memutuskan untuk tidak lagi mengintip acara pesta itu.


Ia memilih untuk menonton televisi sambil sesekali mengutak atik ponselnya.


Pesta malam ini benar benar membuat hatinya merasa kacau. Melihat keharmonisan keluarga Biru yang terlihat sangat bahagia membuatnya merasa bersalah telah masuk di tengah tengah mereka.


Dan lagi saat melihat kemesraan Biru dengan Violet yang berkali kali Biru tunjukan di pesta membuatnya merasa hal aneh di hatinya. Mungkinkah Alina cemburu. Apa kini Alina sudah mulai memiliki rasa pada Biru. Lalu bagaimana tentang perasaanya pada Bagus. Apa benar Alina sudah membuang rasa itu.


πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’


Terimakasih sudah membaca. Jangan lupa setelah membaca tinggalkan LIKE nya ya. Kritik saran di tunggu di kolom komen. Terimakasih banyak untuk dukungannya pada karya ini. TerimakasihπŸ™πŸ™πŸ€—πŸ€—

__ADS_1


__ADS_2