
Tiga tahun lalu, Candra yang saat itu sudah di nyatakan sembuh oleh dokter. Sengaja merahasiakannya dari Biru kakaknya. Ia ingin datang dan memberi kejutan pada Biru. Itulah sebabnya saat ia di perbolehkan pulang. Candra menghubungi Ardi sahabat karibnya dan bukan kakaknya.
Ardi dan Candra bersahabat sudah sangat lama. Ardi lebih muda umurnya dari Candra. Ardi lah yang selama ini mengelola semua bisnis Candra. Selama Candra mengalami depresi. Semua aset di atas namakan Ardi karna Candra tidak mau keluarganya tahu bahwa ia mempunyai perusahaan di luar kerajaan bisnis keluarga Wiratmadja. Bahkan Biru pun tidak mengetahui itu. Beruntungnya Candra yang memiliki sahabat seperti Ardi yang begitu setia kawan padanya.
Hari itu Candra mendatangi rumah Biru yang di tinggali bersama Violet. Candra berniat memberikan kejutan untuk sang kakak. Namun baru saja Candra akan memasuki gerbang. Tiba-tiba ia melihat mobil yang di kendarai Biru keluar dari rumah itu. Ia bisa melihat Biru karna kebetulan kaca mobil Biru belum tertutup sempurna. Dengan segera Candra mengikuti kakaknya itu. Berharap ia bisa segera bertemu kakaknya. Pasti kakaknya itu akan sangat senang melihatnya sembuh seperti saat ini.
Namun justru lain ceritanya. Candra mengikuti Biru sampai di rumah di mana Alina tinggal. Ia bisa melihat Biru yang masuk dengan penuh amarah. Candra bisa melihatnya dan ia tahu sejak mengikuti Biru tadi. Biru begitu awur awuran saat mengendarai mobil.
Candra tidak mengikuti Biru masuk kedalam. Ia menunggu di dalam mobil dari luar rumah. Dan beberapa saat menunggu. Candra melihat Biru yang menarik kasar tangan seorang perempuan. Jelas Candra terkejut dan membelalakkan matanya. Tak percaya dengan yang ia lihat. Candra melihat wanita itu meninggalkan rumah dengan derai air mata. Candra ingin menghampiri Biru. Namun Candra juga penasaran siapa perempuan yang telah di usir Biru itu. Dan Candra memutuskan untuk mengikuti Alina. Dengan berjalan kaki, ia ingin tahu siapa Alina, kenapa kakaknya yang dia kenal baik dan penyayang itu tega mengusir wanita muda yang sedang hamil ini. Ada apa masalahnya.
Sudah satu jam Candra mengamati Alina yang duduk menangis di tepi pantai itu. Candra ingin sekali mendekatinya dan menanyakan semua yang menjadi pertanyaan Candra. Namun Candra tak tega melihat Alina yang begitu tampak bersedih itu. Sesekali Candra melihat senyum Alina. Senyum yang di paksakan. Karna sekali lagi, Candra melihat senyum itu ada di sela tangisannya.
Merasa tak mendapatkan apapun Candra memutuskan untuk kembali ke rumah yang tadi. Ia akan menemui kakaknya saja dan bertanya langsung. Baru saja Candra akan beranjak. Tiba tiba ia melihat Alina sudah berdiri dan berjalan terhuyung sambil memegangi kepalanya. Dengan sigap Candra segera menghampirinya. Belum sempat Candra sampai di dekat Alina. Tubuh Alina sudah tersungkur lebih dulu di pasir pantai saat itu.
Beberapa saat kemudian.
" dimana aku," Alina bingung karna saat ia membuka matanya, di tangan kanannya sudah terpasang infus.
" nona sudah sadar, nona ada di rumah sakit." jawab seorang suster yang saat itu berada di ruangan Alina.
" rumah sakit??" Alina semakin bingung, seingatnya tadi ia berada di pantai.
" iya,, nona di bawa ke sini dalam keadaan pingsan dan anda mengalami dehidrasi nona. Beruntung bayi anda baik baik saja." jelas suster yang membuat Alina sedikit merasa lega karna bayinya baik baik saja.
__ADS_1
" apa ada yang membawa ku ke sini sus,, atau petugas pantai mungkin. Karna seingat saya, tadi saya berada di pantai." Alina penasaran siapa yang mengantarnya kesini. Apa Biru mengikutinya tadi. Ah,,, Alina terlalu berharap saja. Ia pun menggelengkan kepalanya. Rasanya tidak mungkin Biru mengikutinya dan membawanya kemari. Jelas jelas tadi ia begitu marahnya pada Alina. Begitu pikir Alina.
" saya kurang tahu nona,, dia siapa, namun yang jelas tuan itu bilang, ia akan kembali kesini lagi nanti. Saat ini ia sedang mengurus administrasi dulu begitu katanya." jelas suster itu.
" nona beristirahatlah, agar cepat pulih. " titah sang suster yang di iya kan Alina dengan anggukan kepala.
Tak lama setelahnya Alina kembali tertidur, Candra masuk ke ruangan rawat Alina. Suster yang tadi menjaga Alina pun keluar dari ruangan. Dan lagi sekali lagi Candra mengamati wajah gadis yang terbaring lemah dengan wajah yang pucat sedang berada di depannya itu. Wajah yang meneduhkan bagi setiap orang yang memandangnya. Begitu pikir Candra yang tanpa sadar kini senyuman manis terbit dari bibirnya.
Alina terbangun ketika ponsel Candra berbunyi dan mengagetkannya.
Siapa dia? kenapa ada di sini. batin Alina melihat Candra berdiri membelakanginya di dekat jendela sedang berbicara dengan seseorang di ujung telfonnya.
" oh,,, hai kau sudah bangun." ucap Candra ketika selesai menelfon dan berbalik ke arah Alina. Dan melihat Alina sudah membuka matanya.
" hmm." jawab Alina dengan menganggukkan kepalanya.
" terimakasih sudah menolong ku." Alina berkata dengan tersenyum manis dan ramah pada Candra.
" apa kau butuh sesuatu." tanya Candra yang sempat diam melihat Alina.
" tidak terimakasih tuan. " jawab Alina sopan. Ia melihat penampilan Candra yang rapi maka Alina memanggilnya tuan.
" aist,,, jangan memanggil ku tuan. Terlihat tua sekali." Candra menanggapi dengan tawanya.
__ADS_1
" Candra,, panggil saja begitu." lanjutnya mengulurkan tangannya.
" Alina." Alina menyambut uluran tangan Candra dan tersenyum manis padanya.
Hening sesaat setelah keduanya melepaskan genggaman tangan masing masing. Hanya senyum yang terbit sesekali di antara mereka. Baik Alina maupun Candra sama sama merasa canggung untuk memulai obrolan. Terlebih Alina yang belum sama sekali mengenal Candra. Sedangkan Candra, ia sangat penasaran dengan hubungan Alina dengan kakaknya. Namun ia juga bingung ingin mulai dari mana saat bertanya pada Alina.
" mmm,,, tuan Candra,, eh maksud ku Candra,, apa anda juga sedang di pantai tadi?" Alina ingin mengetahui kenapa bisa Candra yang membawanya. Alina takut jika Candra adalah salah satu orang suruhan Biru.
" hemm,, aku mengikuti kamu." Candra mengangguk dan menggunakan kesempatan ini untuk mengetahui kebenarannya.
Alina menaikan satu alisnya bingung mendengar ucapan Candra.
" oh,,, maaf sebelumnya jika kamu bingung." Candra sadar perkataannya barusan membuat Alina bingung.
" maaf jika aku boleh tahu,, kamu ini siapanya tuan Biru ya?" Ucap Candra setelah menjelaskan bahwa ia melihat semua kejadian dari Alina di usir tadi, kini ia mulai bertanya.
Alina tampak tersenyum tipis dan menghela nafas berat.
" bukan siapa siapa,, lalu anda sendiri sedang apa di sekitar rumah tuan Biru." Alina balik bertanya karna ia juga ingin tahu siapa Candra.
" aku hanya kebetulan lewat saja tadi. Takut hal buruk terjadi padamu jadi aku mengikuti kamu. Kamu sedang hamil jadi itu alasan ku mengikuti mu." jelas Candra menutupi yang sebenarnya.
Meskipun Alina menutupi statusnya dari Candra namun Candra yakin bahwa ada hubungan antara Alina dan kakaknya. Candra akan mencari tahu nya lagi nanti. Sekarang cukup berteman dulu dengan Alina. Begitu pikir Candra.
__ADS_1
🍒🍒🍒🍒🍒
Terimakasih sudah membaca. Jangan lupa tinggalkan LIKE nya ya setelah membaca. Krisan silahkan di kolom koment. Terimakasih 🙏😊 .