
Hari demi hari telah terlewati kini Kirana sudah genap berusia empat tahun.
Dan itu artinya sudah hampir lima tahun Alina dan Candra menjadi teman dekat. Lima tahun bukan waktu yang singkat untuk mereka saling mengenal satu sama lainnya. Dan bukan tidak mungkin bahwa kedekatan mereka menumbuhkan rasa yang lebih dari sekedar berteman bagi Candra.
Sedangkan Abimanyu yang kala itu kembali mendekati Alina, terpaksa harus rela menjauh lagi. Karna ia harus kembali ke luar negeri untuk mengurus bisnisnya yang di sana.
Walaupun begitu Abimanyu tak pernah absen menghubungi Alina walau hanya sekedar menyapanya lewat sambungan telefon.
Selama enam bulan bersama Alina kala itu membuatnya semakin jatuh hati pada sosok ramah dan periang seperti Alina.
Meskipun sekarang Alina sudah menjadi seorang ibu. Namun Alina masih tetap sama seperti dulu. Alina tak pernah sedikitpun menunjukan keluh kesahnya juga kesedihannya. Ia selalu membawa suasana riang di sekitarnya.
Dan itulah sebabnya para karyawan Alina betah bekerja dengannya. Ia di kenal sebagai atasan yang ramah dan tak pernah sekalipun memarahi para pegawainya. Alina bahkan tak segan menghibur pegawainya jika ada di antara mereka yang sedang patah hati misalnya atau sedang berduka karna suatu hal. Kebanyakan pegawainya memang berusia lebih muda darinya. Itulah sebabnya ia jadi lebih mudah masuk ke dalam pergaulan mereka.
Sedangkan dalam kehidupan pribadinya, sampai saat ini ia menikmati hari harinya sebagai wanita karir juga sebagai seorang ibu.
Meskipun sebenarnya,, ia tak sekuat yang terlihat di depan banyak orang. Sesungguhnya Alina rapuh. Bahkan tak jarang saat sendiri di keheningan malam, ia selalu menangis merenungi jalan hidupnya.
Tak di pungkiri meskipun Candra selalu ada untuknya dan putrinya. Namun jauh di hati kecil Alina masih ada Biru. Biru yang sempat memiliki hatinya. Biru yang pernah ia cintai dulu. Walau saat di awal pernikahan dulu, Alina tak pernah menyangka bahwa ia akan bisa mencintai laki laki yang dengan paksa menikahinya.
Apalah daya perlakuan Biru hangat, dan Biru yang begitu manis padanya berhasil mengambil hatinya. Dan Alina justru mencintai pria yang bahkan pernah memperlakukan ia dengan kasar dulu.
Inilah yang membuat Alina sendiri tak menyukai sisi dirinya yang begitu susah untuk menghilangkan rasa sayangnya pada seseorang. meskipun orang itu pernah menyakiti dirinya sekalipun. Terlebih bahwa orang itu adalah ayah kandung dari putrinya.
Ia tak pernah menyimpan dendam pada siapapun .bahkan pada Biru yang telah merebut paksa masa mudanya dan menjadikannya tawanan cinta Biru dengan selalu menyembunyikannya dan menutup rapat aksesnya meskipun hanya sekedar untuk bertemu dengan teman temannya.
Bahkan luka di punggungnya yang hingga kini masih membekas itu adalah ulah Biru yang pernah mencambuknya dulu.
Lukanya cukup dalam dan Alina hanya mengobatinya dengan obat obatan yang ada di rumah kala itu. Dengan di bantu bik Imah, ia tetap menyembunyikan bahwa luka itu ulah dari Biru. Ya kenangan terkahir yang Biru lakukan padanya.
" Li,," Candra dengan lembut menepuk bahu Alina yang sedang melamun di taman belakang rumahnya.
Candra sejak tadi diam-diam mengamati Alina yang tak sedikitpun menyadari kedatangannya. Candra yakin ada suatu hal yang sedang Alina pikirkan. Dan itulah sebabnya Alina melamun. Setelah cukup puas memandangi Alina. Candra akhirnya menghampiri Alina dan menyadarkan Alina dari lamunannya.
__ADS_1
" oh,, hai Cand,,," Alina terkejut dengan adanya Candra di sana. Padahal Candra sudah pelan menyapa nya. Tapi ternyata itu masih mengagetkan Alina.
" kamu ngelamun yaaa?? ada apa??" tanya Candra duduk di sebelah Alina yang dari tadi duduk bersila di atas ayunan. Alina segera menggeser posisi duduknya kepinggir agar Candra bisa nyaman duduk di sampingnya.
" Oh,,, ga kok Cand,,, aku nggak apa apa. Eh ngomong-ngomong kamu kapan sampainya. Udah di sini aja." Alina melihat Candra yang masih mengenakan kemejanya namun terlihat lelah di wajahnya.
Ya Candra baru kembali ke Indonesia setelah melakukan perjalanan bisnis ke luar negeri.
" Dari bandara tadi aku langsung kesini." Jawab Candra dengan senyumannya sembari melihat Alina.
" Kamu ini,, bukannya pulang istirahat dulu. Udah tahu perjalanan jauh,, ga capek apa emang. Kalau gitu aku bikinin kopi dulu ya. Biar wajah lelah kamu itu sedikit lebih segar." Alina beranjak dari duduknya dan berlalu menuju dapur.
" bagaimana aku bisa langsung pulang Li, jika aku begitu merindukan kalian di sini. Bahkan semenjak di Amerika aku tak bisa tidur nyenyak memikirkan kalian." gumam Candra pelan saat Alina sudah jauh darinya. Candra tersenyum tipis menertawakan dirinya yang begitu berharap pada Alina.
Candra mengacak kasar rambutnya. Ia bingung kenapa perasaan yang ia rasakan saat bersama istrinya dulu kini selalu muncul saat berada dekat Alina. Padahal ia sudah berjanji pada dirinya sendiri jika ia hanya akan menjaga Alina istri kakaknya dan Kirana keponakannya.
Candra mendesah kasar berusaha menghilangkan sesak di dadanya. Ia takut jika ia tak bisa menahan rasanya itu dan malah mengungkapkannya pada Alina. Bisa saja hal itu justru akan membuat Alina menjauhi dirinya. Sedangkan ia selama ini tak bisa jauh dari Kiran dan Alina.
Di sisi lain,, Candra juga tidak ingin melukai Biru sang kakak. Sampai saat ini status Biru dan Alina belum jelas. Candra pikir Biru pasti masih berharap Alina kembali. Bagaimana nanti jika Biru tahu bahwa ia mencintai Alina. Wanita yang juga begitu di cintai oleh sang kakak. Sungguh dilema yang berat untuk Candra.
" Candra,,, ini kopinya." Alina memberikan kopinya pada Candra dan kembali duduk di samping Candra.
" Wahhhhh kamu tau aja Ly aku juga lagi laper, segala di bawain cemilan. Thanks ya." canda Candra sambil mengambil kue yang Alina bawa. Setelah ia menyeruput kopinya dan meletakkannya di meja.
" kamu kan kebiasaan kalau pulang dari mana mana pasti lapar." Lima tahun bersama membuat Alina banyak tahu tentang kebiasaan Candra.
" Ngomong-ngomong gimana Cand urusan kamu. Lancar semuanya?." Tanya Alina membuka kembali obrolan mereka.
" Lancar dong. Kan ada do'a kamu yang menyertai ku." Dih,,, Candra mulai berani menggombali Alina.
" Ya elah lebay kamu Cand." Alina merasa tersipu malu.
" Eh Cand,,,, kamu mau mandi dulu nggak, bersihin badan dulu gitu. Habis mengudara berjam jam biar seger lagi badannya." Ucap Alina yang memperhatikan penampilan Candra.
__ADS_1
Hal-hal yang seperti ini yang membuat Candra merindukan Alina.
" nanti aja,, aku masih ingin berbincang dengan kamu." jawab Candra setelah kembali menyeruput kopinya.
" mandi saja dulu sana setelah itu makan malam. Lagian Kiran juga sudah tidur dari tadi sore dia bahkan tidak menunggu ku pulang." ucap Alina.
" Kalau kayak gini Li,, aku jadi berasa kamu adalah istri ku, kamu selalu memperhatikan ku dan memperlakukan ku seperti ini. Hmmmmmmm senangnya aku." Candra berkata dengan menatap serius pada Alina.
" aist,,, kamu ini." Alina membuang mukanya ke samping menghindari tatapan Candra.
" sudah hampir lima tahun kita bersama Li,," Candra mulai bicara dengan serius. Meskipun Alina masih tak bergeming.
" Kirana dan kamu adalah keluarga ku selain Ardi sahabat ku, kamu sendiri tahu kan,, kisah ku. Sama seperti ku yang tahu kisah kamu." Candra menghela nafas panjang dan menghembusakannya. Ia bersandar pada sandaran ayunan kayu yang mereka duduki. Menahan diri agar tidak jauh berbicara tentang rasanya pada Alina. Ia sadar bahwa Alina dan Biru belum jelas statusnya. Mereka hanya berpisah begitu saja.
" aku akan mandi saja kalau gitu." melihat Alina yang hanya diam Candra memutuskan untuk mandi menyegarkan badannya. Candra sadar bahw Alina berusaha menghindari obrolan serius dengannya. Terlihat dari sikapnya yang acuh.
maaf Candra,, bukan maksud ku membuat mu kecewa. Aku diam hanya untuk meyakinkan diri ku. Bertahun tahun bersama kamu, memang sedikit banyak mempengaruhi perasaan ku. Namun aku juga nggak mau egois, bila ternyata perasaan ini hanya karna rasa balas budi padamu yang telah begitu baik padaku dan Kiran. Setidaknya biarkan aku mencari kejelasan status ku dulu. Dan setelahnya, aku akan memutuskan untuk hubungan kita. Aku juga tidak mungkin selalu menggantung rasa yang selalu berulang kali kau katakan itu. Walau mungkin hanya kode kode tapi aku tahu maksud mu. Biarkan hati ku mengambil waktu lebih lama sedikit lagi. Tuan Biru,, maaf bila akhirnya aku benar benar menutup rasa ini. batin Alina setelah Candra pergi dan ia menatap punggung laki laki itu. Alina memejamkan matanya dan bersandar pada sandaran ayunan dengan perasaan yang tak karuan memikirkan kisah asmaranya.
πππππ
Setelah berunding dengan Candra malam itu, tentang kejelasan status hubungannya dengan Biru. Alina hari ini mendatangi pengadilan agama di kota kelahirannya, dimana tempatnya menikah dengan Biru dulu. Menurut info yang ia dapat jika seorang mengajukan perceraian itu di lakukan di mana tempat mereka menikah dulu. Namun ada juga yang membertahunya bisa saja sudah di limpahkan di kota kalian tinggal selama menikah. Alina awalnya ke kota D karna yang terdekat dari kota B tempatnya tinggal. Ia mencoba bertanya dan mencari tahu di pengadilan kota D jika benar ada di sana Alina pikir ia tak perlu jauh jauh ke kota kelahirannya yang pasti akan memakan waktu lebih lama. Terlebih Alina mengendarai mobil sendirian.
Alina sampai di kota kelahirannya dan segera mencari tahu. Sayangnya hasilnya membuat Alina harus berfikir keras lagi. Karna ternyata status pernikahan mereka masih tercatat di sana dan tidak ada pengajuan dari pihak manapun.
Alina duduk dengan bingung di mobil. Ternyata Biru hanya membiarkannya pergi namun tidak melepaskannya. Nyatanya Walaupun tidak saling bertemu dan komunikasi, Biru tidak menggugatnya. Alina sudah berfikir bahwa Biru telah mengajukan perceraian mereka dan hanya menunggu dirinya kembali menampakan diri sehingga saat itu tinggal di lanjutkan saja prosesnya dan sah mereka resmi berpisah.
Nyatanya tidak semudah itu. Sekarang, haruskan Alina menemui Biru untuk menanyakan dan memperjelas status pernikahan mereka. Alina juga harus melanjutkan hidup bukan. Alina tidak ingin menjadi orang ketiga lagi diantara Biru dan Violet. Walaupun nyatanya perasaan yang ia rasakan untuk Biru itu masih tertinggal jauh di lubuk hatinya sana.
Dengan perasaan tak karuan Alina mengendarai mobilnya dan kembali ke kota B. Sepanjang jalan Alina memikirkan cara terbaik untuk hubungannya dengan Biru. Demi kelanjutan hidupnya bersama Kiran. Ia tahu, jika ia dan Biru rujuk. Tak di pungkiri bahwa keselamatan Kiran yang akan terancam. Karna kehadiran Kiran akan membuat keluarga Wiratmadja terusik. Mereka tidak ingin keturunan Wiratmadja terlahir dari wanita biasa seperti Alina.
Meskipun saat ini Alina memiliki usahanya sendiri. Tetap saja awalnya ia adalah orang biasa yang menurut keluarga Wiratmadja ia tidak layak bersanding dengan Biru. Meskipun Biru mencintainya.
Alina harus menemui Biru untuk memutuskan hubungan mereka. Tapi siapkah Alina kembali bertemu dengan pria yang telah memberikan banyak goresan cerita dalam hidupnya itu.
__ADS_1
πππππ
Terimakasih sudah membaca. Jangan lupa tinggalkan LIKE nya ya setelah membaca. Silahkan krisannya, tunggu kelanjutan Alina selanjutnyaπ. Terimakasih πππ