Takdir Alina

Takdir Alina
Bertahanlah...


__ADS_3

πŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒ


" *Mencintailah sewajarnya saja,, agar bisa tetap menggunakan akal sehat untuk terus maju kedepan mengukir sesuatu yang indah. Bersama sama,," *QOTD**


πŸŽ„πŸŽ„πŸŽ„πŸŽ„πŸŽ„


Di sebuah rumah sakit swasta di kota D. Tepatnya di ruang operasi. Berbaring tak berdaya seorang perempuan muda dengan luka di dada atas sebelah kiri.


Dokter tengah berusaha keras mengeluarkan sebuah peluru yang berhasil menembus dada sang pasien.


Tak berapa lama seorang pasien lelaki juga di bawa masuk kedalam ruang operasi dengan luka yang sama. Luka tembakan, namun lukanya tak separah pasien perempuan tadi,, sepertinya peluru yang berada di lengannya itu tidak sedalam seperti perempuan di sebelahnya yang sedang berjuang mempertaruhkan hidupnya.


Di luar ruang operasi seorang laki laki berjalan mondar mandir dengan luka di keningnya yang ia biarkan saja.


Suster sudah menyarankan agar lukanya di obati. Namun ia menolak dan tetap berdiri di depan ruang operasi dengan wajah yang tampak sangat khawatir.


" kak,, duduklah,, obati dulu luka mu,, memangnya kau akan baik baik saja dengan darah yang terus mengalir itu." ucap Candra menarik lengan Biru dan memaksa duduk di kursi tunggu. Setelahnya ia meminta suster untuk mengobatinya.


Ya,, dia adalah Biru Wiratmadja. Saat ini ia begitu gelisah menunggu seseorang di dalam ruang operasi yang sedang berjuang untuk hidupnya.


Siapa lagi jika bukan wanita yang memiliki hatinya,,, Alina. Di dalam sana Alina tengah menjalani operasi untuk mengeluarkan peluru yang telah menembus dadanya, akibat ulah kakaknya,,, Sekar.


" sekarang ganti pakaianmu,, Amar membawakan baju ku, untuk mu saja agar kau bisa ganti. Lihat lah bajumu penuh darah." Candra memberikan setelan baju pada sang kakak.


Biru menolaknya dan berdiri berjalan ke arah pintu ruang operasi. Ia enggan meninggalkan tempat itu. Biru begitu gusar menunggu operasi yang di jalani Alina.


Ia takut terjadi sesuatu pada ibu dari putrinya itu. Biru terus saja gusar menunggu di depan pintu itu.


Candra sendiri,, sebenarnya ia tak kalah khawatirnya. Hanya saja ia masih bisa mengendalikan itu. Tidak seperti Biru yang terus saja mondar mandir sedari tadi.


Candra ingat betul ia meninggalkan Alina dirumah. Saat ia berangkat mencari Sekar tadi. Entah bagaimana Alina bisa berada di dalam rumah itu. Dan lagi ia tak tahu jika Alina tertembak oleh peluru sekar.


Sungguh saat ini Candra benar benar di buat bingung juga khawatir. Sebelumnya ia sudah memastikan Alina tetap tinggal dirumah sementara dia pergi.


Saat itu ia baru saja hendak menjalankan mobilnya membawa Kirana untuk pulang. Namun sungguh tak di sangkanya. Abimanyu keluar dengan seseorang di gendongannya.


Ya Candra mengenali betul seseorang itu. Segera ia berlari hendak menolong Abimanyu yang tangannya juga terluka. Darah terus mengalir dari lengan Abimanyu.


Abimanyu terus berjalan dengan tertatih menggendong Alina yang masih sadar saat itu.


Sebelum akhirnya hilang kesadaran dan Abimanyu terhuyung.


Dengan sigap Biru segera mengambil alih Alina dari gendongan Abimanyu.


Dan Abimanyu sendiri terjatuh seketika. Candra segera berlari dan memapah Abimanyu menjauhi rumah itu yang sebentar lagi di pastikan akan meledak karna alat peledak yang di pasang Sekar.


Saat Candra sedang hanyut akan ingatannya tentang kejadian tadi. Tiba tiba beberapa dokter keluar dari ruang operasi.


" dokter bagaimana kondisi Alina." tanya Biru segera saat ia melihat dokter itu masih berada di pintu.

__ADS_1


" maaf tuan,,, kami sudah berusaha semampu kami." dokter itu menjeda perkataannya dan sontak Biru yang sedang kalut itu mencengkram kerah baju sang dokter. Membuat Candra yang di sampingnya segera melerai kakaknya.


" katakan yang benar dok,, kau bekerja itu untuk menyembuhkan dengan benar." Biru masih dengan emosinya.


" kak,, tenanglah,, dokter belum selesai bicara." Candra mengunci kedua tangan kakaknya yang sudah siap ingin menyerang kembali sang dokter di depannya.


" mohon maafkan kakak saya dok,." ucap Candra sopan.


" ya,,.tidak masalah. Mohon kalian tenang. Kondisi pasien sangat kritis. Kami sudah berusaha semampu yang kami bisa. Namun sepertinya kondisi pasien memang lemah. Jadi saat ini pasien mengalami koma, dan jika malam ini masih belum sadar,, mungkin pasien tidak bisa tertolong lagi." ucap sang dokter dan membuat Biru seketika membeku. Dan Candra tak kalah tersentak mendengar itu semua.


" maafkan kami tuan,, kami sudah berusaha. Semampu kami. Berdo'a lah. Agar semua di mudahkan. Kami permisi." lanjut sang dokter yang kini berlalu pergi melewati kedua kakak beradik itu.


Berbeda dengan Alina, Abimanyu kondisinya lebih baik. Walaupun ia masih belum sadarkan diri karna pengaruh bius saat operasi tadi. Abimanyu sudah di pindahkan ke ruang rawat dengan di temani kakaknya Herjuno.


Candra dan juga Biru masih menunggu Alina di depan ruang ICU. Biru masih dengan pikirannya yang kalut. Dari balik pintu kaca ini, Biru melihat keadaan wanita yang ia cintai itu tampak lemah tak berdaya menutup mata indahnya. Mata yang selalu memancarkan kebahagiaan dan kedamaian bagi siapa saja yang melihatnya.


Wajah cerianya tampak pucat tak ada rona berseri. Tak terasa air mata Biru menetes begitu saja kala ia memandangi Alina dari balik pintu kaca itu. Sungguh perasaannya kini sakit, sakit teramat melihat Alina terluka seperti itu.


Berbeda dengan Biru yang terus larut dengan kesedihannya. Candra jauh lebih kuat. Hatinya memang sakit melihat pujaan hatinya itu kini tergolek lemah.


Wanita yang selalu ia sebut seperti bunga Lili yang menyejukkan matanya itu terluka parah. Raganya lemah tak berdaya, berbaring di atas matras rumah sakit dengan berbagai selang di beberapa bagian tubuhnya.


Candra terus menguatkan hatinya untuk menerima keadaan ini.


Dimana ia melihat kakaknya yang terlihat sangat terpukul dengan kondisi Alina saat ini. Candra tahu di lubuk hati kakaknya masih menyimpan cinta untuk Alina. Hanya saja kakaknya itu rela berkorban untuk melepas Alina.


Ya dokter telah mengijinkannya untuk menemui Alina. Meskipun waktu yang di berikan tidak lama. Namun Biru bersyukur bisa menemui dan bahkan menyentuh tangan Alina. Biru terus menciumi dan mengusap tangan Alina. Tatapannya pilu melihat kondisi Alina saat itu.


" Alina,, maafkan aku,, aku mohon maafkan aku. Bertahanlah, kau pasti bisa melewati ini semua." ucap Biru dengan mengenggam tangan Alina.


Biru terus mengucap maaf dan terus menciumi tangan Alina. Membuat Candra yang melihatnya dari pintu di luar sana menjadi cemburu. Jelas saja wanita yang saat ini di ciumi kakaknya itu adalah kekasihnya.


Tadi saat dokter mengijinkan salah satu masuk, sebenarnya Candra ingin masuk terlebih dulu. Namun baru juga maju satu langkah. Biru dengan segera maju dan membuka pintu. Dan Candra terpaksa harus mundur lagi. Dan membiarkan sang kakak masuk lebih dulu.


Malam ini, belum ada tanda tanda Alina akan sadar dari komanya. Kondisinya bahkan masih kritis. Biru belum juga beranjak dari sana meskipun dokter sudah memintanya untuk keluar. Namun Biru yang keras kepala itu menolak dan tetap berada di samping Alina.


Candra yang memilih untuk pulang kerumah Alina. Melihat kondisi Kirana yang saat kejadian tadi langsung ia pasrahkan pada Ardi yang tiba tiba datang membawa anak buahnya. Ya Candra tidak bisa meninggalkan Alina dalam kondisi seperti saat kejadian siang tadi. Akhirnya ia memutuskan untuk meminta Ardi membawa Kiran pulang, dan dia membawa Alina juga Abimanyu kerumah sakit.


Candra terus teringat kondisi Alina saat ia menemani Kirana tidur malam ini. Pikirannya tak tenang membayangkan wajah Alina yang pucat tak berdaya itu.


Seketika kenangan manis mereka saat bersama selama beberapa tahun belakangan ini berputar di ingatan nya.


Saat mereka bertamasya bertiga dan bagaikan sebuah keluarga. Dan senyum tawa Alina kembali terbayang di benak Candra.


Entah apa yang membuat Candra akhirnya membawa Kirana kerumah sakit malam malam begini. Kini ia berjalan keruang ICU dengan Kiran yang berada di gendongannya. Ia melihat Biru masih disana memegangi tangan Alina. Bedanya kali ini di luar ruangan juga ada Violet dan Damar. Candra yakin Violet mencari Biru. Jelas terlihat wajah geram Violet menatap Biru dan Alina dari balik kaca itu.


Malam itu,, kali pertama Violet melihat kembali Candra sang adik ipar. Dan malam itu juga Violet melihat Kirana. Seorang gadis kecil dari wanita yang telah merebut kebahagiaannya.


Candra menerobos masuk tanpa memperdulikan ucapan dokter dan suster yang melarangnya masuk. Seketika Candra menarik tangan Biru untuk menjauh dari Alina.

__ADS_1


" Candra,,, apa yang kau lakukan. Keluar dari sini!" ucap Biru marah dengan perlakuan adiknya.


" kau yang keluar,, lihat di sana,, anak dan istrimu menunggu di luar." Candra tak kalah emosi saat itu masih dengan menggendong Kirana.


" tuan tuan mohon keluar jangan berisik di sini. Jangan membuat keributan karena akan mempengaruhi perkembangan pasien." sentak seorang dokter.


" kak,, keluarlah,, aku membawa Kirana kesini. Aku ingin memberi kekuatan pada Alina. Kirana adalah semangat Alina selama ini. Jadi keluarlah." titah Candra mulai melembutkan suaranya.


" apa apaan kau ini Candra,,, aku akan tetap di sini,, kau saja yang keluar,, aku adalah papanya. Jadi biar aku yang bersama Kiran dan Alina disini." Biru kekeh tidak mau keluar dan berusaha mengambil Kirana.


Mereka terus adu mulut, sehingga dokter geram dan menyeret keduanya keluar.


" kalian tidak bisa membuat keributan di dalam. Pasien sedang kritis, jadi tolong jangan buat suasana gaduh." ucap dokter muda yang dengan berani tadi menarik tangan kakak adik ini dan menyeretnya keluar.


" dokter,,, biar saya yang masuk, saya membawa putrinya. Mungkin dengan ini Alina bisa sadar." ucap Candra memohon.


" tidak,, saya suaminya dok,, biar saya yang masuk." aku Biru memaksa.


" bohong dok,, dia suami saya." Violet yang sejak tadi geram maju dan menarik tangan Biru.


" kamu ini apa apaan sih Biru." ucap Violet kesal.


" dokter,,, biarkan saya yang masuk bersama Kiran. Kirana sini sama uncle,, kita tengok mama bareng bareng." Abimanyu tiba tiba datang dengan kursi rodanya yang di dorong Herjuno.


Seakan terhipnotis, Kirana yang berada dalam gendongan Candra itu beringsut turun dan mendekati Abimanyu. Membuat Candra yang melihatnya heran tak menyangka.


" baiklah,, mari saya bantu tuan untuk masuk kedalam." ucap sang dokter yang kini sudah mengambil alih tugas Herjuno.


Dengan di pangku Abimanyu, Kiran ikut masuk keruangan Alina. Abimanyu dan Kirana duduk di samping ranjang Alina.


" mama,, bangun." kata pertama yang di ucapkan Kiran saat melihat mamanya.


" uncle,, kenapa mama diam saja. Dan kenapa mama boboknya di sini. Ini apa uncle kenapa mama pakai ini." tanya Kirana yang duduk di pangkuan Abimanyu.


" sayang,,, mama sedang sakit saat ini. Dan ini,, ini semua adalah alat alat untuk membantu mama sembuh. Kirana mau mama sembuh??" Abimanyu berkata dengan lembut.


" iya uncle,, Kiran mau mama bangun dan sembuh. Kiran mau mama pulang dan boboknya sama Kiran.". jawab Kiran dengan menganggukan kepalanya.


" Alina,,, kamu dengar... Kirana ingin kamu segera bangun. Bangunlah,, bertahanlah Alina. Lihat gadis kecil ini. Dia akan sangat bersedih jika kamu tak mau bertahan." Abimanyu dengan lembut berkata dan menyentuh tangan Alina mengusapnya lembut.


" mama,, ayo pulang,, Kiran sayang mama,, Kiran janji nggak nakal kok." ucap Kirana dengan mencium tangan Alina yang di pegang Abimanyu.


" Kirana,, mama mu ini jelek sekali ya jika diam dan menutup mata seperti ini." ledek Abimanyu,, dia memang suka sekali menggoda Alina dengan kata kata jelek saat mereka sedang melakukan panggilan telefon ataupun bertemu secara langsung. Kirana tahu itu. Sebab mereka bertiga memang sering bercanda melalui video call saat Abimanyu masih di luar negeri.


" Mama bangun ma,,." Ucap Kiran lagi.


πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’


Terimakasih sudah membaca,,, jangan lupa tinggalkan LIKE nya ya setelah membaca. Krisan silahkan di koment. Tunggu kelanjutan cerita Alina selanjutnyaπŸ˜‰πŸ˜‰. Terimakasih πŸ™πŸ™πŸ€—

__ADS_1


__ADS_2