
Abimanyu mengajak Alina menikmati sore di sebuah danau di kota ini. Duduk berdua di sebuah kursi panjang dengan tangan Abimanyu yang enggan melepas genggamannya di tangan Alina.
Sesekali ia ciumi tangan istrinya itu. Sambil menatap indahnya danau di depan mereka ini. Sungguh pemandangan yang menyejukkan mata dan menenangkan. Meskipun banyak orang yang juga menikmati keindahan yang sama di sana.
" sayang,,, terimakasih,,,." ucap Abimanyu yang menatap Alina dengan sorot mata lembut.
" terimakasih?? untuk apa??" tanya Alina yang heran tiba tiba suaminya itu mengucapkan itu padanya.
" ya,, terimakasih telah memilih ku tiga tahun lalu. Dan bersedia hidup bersama ku hingga hari ini." jawab Abimanyu dengan tersenyum manis. Membuat Alina ikut tersenyum
" hemmm,,,,,." Alina tersenyum dan mengangguk pula.
" seandainya tiga tahun lalu aku tidak menikah dengan mu,, mungkin saat ini aku belum akan menikah, dan kamu tahu kenapa??." Tanya Abimanyu yang di jawab pertanyaan pula oleh sang istri.
" kenapa??" tanya Alina bingung.
" karna hatiku telah terpatri untuk mu." Abimanyu mencubit hidung mancung Alina.
" bisa aja, semua sudah ada yang mengatur,, mungkin kita memang di takdirkan bersama. Hanya saja,, jalannya harus begini." ucap Alina dengan tersenyum tipis.
" suami ku,, terimakasih,, terimakasih untuk kasih sayang mu,, perhatian mu juga cinta mu. Maafkan aku yang belum bisa menjadi seperti yang kamu inginkan." ucap Alina yang kemudian di jeda Abimanyu dengan meletakan satu jarinya di bibir Alina.
" sstttt,,,, kau lebih dari yang ku inginkan. Aku mencintaimu sejak awal kita bertemu. Saat kamu masih menjadi istri Biru. Dan memang aku sempat patah hati saat kamu memilih Candra di banding aku. Tapi lihat akhirnya,, kita bisa bersama. Dan,,, kamu benar meskipun jalan kita harus seperti itu." Abimanyu tiba tiba saja memeluk Alina.
" Aku mencintaimu Alina,, sangat mencintaimu. Jangan tinggalkan aku untuk alasan apapun." masih dengan memeluk Alina dan mengusap lembut kepala Alina.
" ya,,, aku tidak akan meninggalkan lelaki sebaik kamu." Alina balas memeluk suaminya.
" terimakasih sudah memberi ku sebuah keluarga." lanjut Alina kembali.
" hemm,,,, kamu ingat sayang." Abimanyu melepaskan pelukannya namun tidak dengan genggaman tangannya.
" tiga tahun lalu saat di rumah sakit. Kamu hampir membuat ku sulit bernafas. Aku pikir saat itu kamu benar benar pergi dengan kondisi kamu yang saat itu masih lemah." Abimanyu menghela nafas dalam-dalam, mengingat kejadian waktu itu.
" Ya,, kak Sekar yang membawa ku pergi,, saat itu ia mengenakan pakaian suster dan membawa ku." Jelas Alina, tersenyum getir.
" kamu tahu,, saat itu yang ada dalam pikiran ku,, bagaimana nasib Kirana,, jika aku benar benar di habisi saat itu. Aku bahkan tidak memikirkan diriku sendiri. Hanya Kirana,, sejak aku masuk rumah sakit,, hanya malam itu aku melihatnya dan itu hanya sebentar." Kenang Alina.
" aku memang salah dan ceroboh,, aku tak tahu bahwa selama bertahun tahun aku hidup dalam bayang bayang adiknya yang lain. Aku seperti apa ya?? lepas dari adiknya yang satu tapi justru aku dekat dengan adiknya yang lain. Huft,, dasar aku ini." Alina seolah menahan sebak di dadanya mengingat kejadian di masa lalunya. Ia mengolok dirinya sendiri.
" yang penting sekarang kamu udah sangat jauh dari mereka. Dan kak Sekar,, dia sudah menerima balasan atas perbuatannya. Meskipun samar aku mendengar bahwa ia di bebaskan bersyarat beberapa waktu lalu." Abimanyu meletakan kepala Alina di pundaknya. Memberi kekuatan untuk sang istri agar tetap baik-baik saja.
πππππ
Tiga tahu lalu,, saat Alina membuat keputusan untuk menikah dengan Abimanyu setelah sebelumnya ia telah memikirkan matang matang untuk mengambil keputusan ini.
Meskipun saat itu ia tahu,, ia akan menghancurkan perasaan Candra yang menjalin kasih dengannya.
__ADS_1
Hari itu Alina harus menguatkan hatinya, untuk pertama kalinya Alina harus menjadi orang yang tega. Tanpa memikirkan perasaan orang lain.
Alina dengan tubuh penuh luka berjalan terseok seok mencari pertolongan. Sekar telah menculiknya dari rumah sakit. Malam itu Candra sudah kelabakan mencari Alina. Ia telah mengerahkan anak buahnya untuk mencari Alina.
Sebelumnya Candra masih nekat menemui Alina di rumah sakit meskipun Alina selalu menolak bertemu dengannya. Saat Candra masuk,, ia terkejut melihat suster yang menjaga Alina pingsan di sana dan Alina tidak ada di tempatnya.
Dengan segera Candra bergegas ke ruang ke amanan meminta pihak rumah sakit memeriksa rekaman Cctv di rumah sakit itu. Dan benar saja Candra melihat seorang perempuan berbaju suster masuk ke dalam ruang rawat Alina.
Dan tak lama kemudian di susul dua orang berbadan tegap dengan baju putih seragam perawat.
Namun tak selang beberapa lama mereka bertiga keluar membawa kantong sampah besar. Yang Candra yakini itu adalah Alina. Candra kembali ke UGD menemui suster yang pingsan tadi yang sebelumnya telah ia bawa ke UGD sebelum tadi ia memeriksa rekaman CCTV.
Candra mencari informasi kejadian sebenarnya pada sang suter, dan akhirnya ia memutuskan segera mencari Alina malam itu. Setelah suster yang tadi menceritakan padanya kejadian sebenarnya.
Alina terus berjalan mencari pertolongan dengan luka yang masih terus mengeluarkan darah. Ia berjalan tertatih,, namun ia tidak mau berhenti berjalan. Karna ia yakin,, jika Sekar dan anak buahnya saat ini sedang mengejarnya.
Alina beruntung saat itu ada orang baik yang lewat dan menolongnya.
Jalanan yang Alina lewati seperti di tengah hutan,, gelap dan sepi. Beruntung orang itu segera membawa Alina ke rumah sakit. Dan meskipun keadaanya kembali kritis,, dengan luka yang bertambah,, namun Alina akhirnya bisa kembali sembuh. Dengan perawatan yang intensif.
Setelah Alina bisa pulang kerumahnya. Tentu saja ia bahagia awalnya,, karna bisa bertemu dengan Kirana putrinya. Yang begitu sangat ia rindukan.
" Lili,, aku senang sekali,, akhirnya kamu bisa kembali kerumah." Candra yang baru datang itu duduk di samping Alina. Seperti biasanya ia selalu menggenggam tangan wanita yang kini mengisi hatinya.
" beristirahatlah,, setelah ini kita akan bicara tentang rencana kita kedepan mengenai hubungan kita." ucap Candra masih mengusap lembut punggung tangan Alina.
" kenapa kamu bertanya seperti itu." Ucap Candra balik bertanya dengan mengerutkan keningnya. Kenapa tiba-tiba Alina bertanya mengenai Biru.
Alina mengerti jika saat itu Candra heran dengan pertanyaan yang ia lontarkan. Segera ia menjelaskan.
" Candra,, di hari aku di culik,, aku juga melihat tuan Biru di ikat di sana. Keadaannya lebih parah,, luka lebam di wajahnya dan darah yang sudah mengering. Saat aku di sekap,, dia di bawa pergi,, entah kemana. Dan sejak saat itu,, aku tak tahu dia dimana." jelas Alina mengingat kejadian beberapa waktu lalu. Yang begitu miris menyayat hatinya. Melihat lelaki yang pernah mengisi hari-harinya lemah tak berdaya.
" Iya sayang,,, Kak Biru,, ia di sekap oleh papa,,, Hari itu,, Kak Vio benar benar melaporkan hubungan kalian. Dan yang membuat ku cemburu,, kak Biru rela mengorbankan dirinya agar kamu tak di sentuh papa. Karna kak Biru tak ingin kamu seperti istri ku dulu,,." Candra menjelaskan pada Alina dengan menghela nafasnya dalam-dalam.
" dan sebab itulah Li,, ayo kita segera menikah dan pergi jauh. Agar tak ada yang mengusik kita lagi." pinta Candra memegang erat jemari Alina. Dan menatapnya dalam-dalam. Penuh harapan.
" apa kamu tahu Candra,, saat aku di sekap, aku melihat papa kalian dan kak Sekar berbicara. Banyak rencana yang mereka susun untuk kita. Salah satunya menghabisi ku dan Kirana. Mereka tidak mau ada darah mereka yang terlahir dari rahim wanita jelata seperti ku." Alina sudah berkaca kaca saat berkata demikian. Mengingat betapa kejamnya keluarga Wiratmadja.
" aku akan melindungi mu dari mereka,, percayalah." ucap Candra meyakinkan.
" Candra,, bisakah aku meminta waktu,, seminggu lagi kita bertemu,, aku butuh waktu sendiri." ucap Alina dengan berat hati.
" baiklah,, aku akan menunggu." Ucap Candra meletakkan kepala Alina di bahunya sejenak. Ia dengan sayang mengusap kepala Alina.
Malam itu saat Alina duduk sendiri meratapi semua kejadian yang terjadi selama ini. Ia pikir hidupnya akan lebih baik setelah bercerai dengan Biru. Nyatanya tidak,, justru ia memiliki masalah baru lagi.
Ya,, tentang hubungannya dengan Candra,, ia tahu meskipun Candra akan melakukan apapun untuk melindungi ia dan Kirana, namun Alina tak ingin selamanya hidup seperti dalam bayang bayang ancaman. Dan juga rasa bersalah sehingga membuatnya tak tenang.
__ADS_1
Ia tahu bahwa Candra telah sangat baik padanya juga putrinya selama ini. Alina berfikir ia akan mengembalikan semuanya. Dan memulai hidup baru.
Namun jika ia masih sendiri maka Candra akan terus saja mengejarnya untuk mendapatkan hatinya kembali. Belum lagi Biru,, ia tahu mantan suaminya itu juga pasti akan selalu mengambil kesempatan menemuinya dan Kirana.
Untuk saat ini Alina tidak mau lagi berhubungan dengan siapapun dari keluarga Wiratmadja. Dan ia harus egois untuk masalah satu ini. Ia harus mengorbankan banyak hal,, perasaan dan juga materi mungkin.
Alina sudah mengambil keputusan,, hari ini ia akan menemui Candra. Setelah sebelumnya ia pikirkan matang matang tentang keputusannya ini. Ia juga telah merundingkan semuanya dengan kakaknya juga Amran sang adik. Beruntungnya mereka mendukung keputusan Alina dan tidak menambah beban pikiran Alina.
" Li,,, sudah lama menunggu??" tanya Candra yang baru saja datang.
" belum juga,,." jawab Alina datar.
" apa kabarmu Li,, kamu masih tampak pucat,, apa sebaiknya kita tidak membahas ini dulu." Ucap Candra memperhatikan wajah Alina yang masih belum segar seperti biasanya. Tentu saja Candra mengkhawatirkan kesehatan wanita itu.
" aku baik Candra,, maaf telah mengganggu waktu mu." Alina dengan tersenyum tipis meyakinkan. Menutupi gemuruh dalam hatinya.
" nggak Li,, kamu tidak mengganggu ku. Aku senang kamu mau menemui ku. Jujur saja aku sangat merindukan mu." Candra meraih jemari Alina dan menautkannya dengan jemarinya.
" Candra,,, ini." dengan tangan satu nya,, Alina menyodorkan map berwarna merah pada Candra.
" apa ini Li,,." Candra menerima map itu dan melepaskan genggaman tangannya.
Candra mulai membuka dan membaca isi map itu. Ia terkejut dengan isinya, Alina ternyata memberikan surat kuasa pengalihan semua usaha yang saat ini Alina kelola pada Candra. Dan semua sertifikatnya juga Alina serahkan padanya. Termasuk sertifikat rumah dan juga kepemilikan mobil. Candra menatap tak percaya pada Alina.
Sadar akan tatapan Candra padanya. Alina segera memberikan penjelasan.
" maaf kan aku Candra,, aku tidak bisa melanjutkan ini semua." Alina dengan mantap berkata pada Candra yang juga sedang menatapnya itu
" mungkin ini yang terbaik,,, maaf kan aku,, maaf Candra,,, maafkan aku yang tidak tahu terimakasih ini."
" aku kembalikan semua yang kamu berikan padaku,, dan mengenai hubungan kita,, maafkan aku,, aku tidak bisa melanjutkannya. Aku hanya ingin semua dalam keadaan damai dan tidak ada dendam atau apapun yang membuat banyak orang di sekitar kita tersakiti dan bahkan celaka. Karena ku." jelas Alina dengan mata berkaca-kaca.
" Tapi Li,, aku tidak butuh semua ini,, aku hanya mau kamu menikah dengan ku dan kita bina rumah tangga kita jauh dari orang orang itu. Tapi kenapa Li,, kenapa kamu justru memilih jalan ini." Candra mengacak rambutnya kasar. Ia merasa kecewa dengan keputusan Alina.
" ini keputusan ku,, aku akan menjauh dari kehidupan kalian, keluarga Wiratmadja. Maafkan aku Candra,, maaf." Alina sudah tak bisa membendung air matanya.
Sejenak mereka terdiam dengan pikiran masing masing.
Beberapa waktu lalu sebelum ia memutuskan keputusan ini. Biru datang menemui Alina. Kondisinya saat itu sudah kembali baik. Hanya masih terlihat banyak bekas luka di wajah juga di beberapa tangannya. Alina bisa melihatnya saat itu.
Biru datang membawa tiga tiket pesawat dengan penerbangan ke luar negeri. Ia meminta Alina untuk ikut dengannya membawa Kirana dan hidup bertiga disana. Namun Alina menolak, ia tahu bahwa Biru adalah seorang suami,, ia tidak mau lagi merusak rumah tangga orang. Dengan tegas Alina menolak dan meminta Biru untuk menjauhinya. Dan hari ini Alina memutuskan untuk menjauhi Candra juga. Tekadnya sudah bulat untuk menjauh dari keluarga Wiratmadja. Demi kebaikan banyak orang.
Meskipun terasa berat, Alina harus mengambil keputusan ini. Ia akan kembali memulai hidupnya dari nol lagi untuk menghidupi Kirana dan dirinya sendiri. Candra,, saat itu hanya diam saja. Ia masih kecewa bahkan frustasi. Meski pun sudah meyakinkan Alina berkali kali, namun usahanya tetap tak mengubah keputusan Alina.
Sejak hari itu, Alina dan Amran pulang ke kampung halaman mereka membawa serta Kirana. Amran terpaksa harus berhenti kuliah sementara. Namun ia tak mempermasalahkan itu. Asal kakaknya dan juga keponakannya dalam keadaan aman dan baik baik saja.
πππππ
__ADS_1
Terimakasih sudah membaca,,, jangan lupa tinggalkan LIKE nya ya setelah membaca. Krisan silahkan di koment. Tunggu kelanjutan cerita Alina selanjutnyaππ. Terimakasih πππ€