
Sudah satu minggu di indonesia, sejak tiba Biru belum lagi mengunjungi Alina. Bahkan ia lupa akan janjinya menemani Alina ke dokter kandungan. Hari ini Alina mengunjungi rumah sakit untuk memeriksakan kandungannya.
" bagaimana hasilnya dok." tanya Alina saat dokter itu melakukan pemeriksaan pada dirinya.
" lihat lah di monitor nona Alina. Lihat,, itu adalah makhluk kecil yang menghuni rahim mu." jawab dokter itu menunjukan gambar yang terlihat di monitor. Sontak membuat Alina terharu sekaligus bahagia. Dan tanpa terasa Alina berkaca kaca saat itu.
" berapa usia nya dok?" tanya Alina masih dengan air mata yang sudah menganak di pelupuk matanya.
" usianya lima belas minggu." ucap sang dokter kemudian menyelesaikan pemeriksaan.
" nona Alina,, ini resep yang harus anda tebus. Di minum vitaminnya ya, resep ini sudah saya tulis beserta vitaminnya. Janin anda sehat dan jaga kondisi baik baik ya. Jangan terlalu lelah dan hindari stres. Karna itu akan menghambat perkembangan janin anda." pesan sang dokter memberikan hasil USG dan kertas resep pada Alina.
" baik,, terimakasih dok. Saya permisi dulu." Alina menyalami dokter dan suster yang berada di ruangan itu kemudian keluar ruangan untuk selanjutnya menebus obatnya.
Sepanjang jalan, senyum Alina merekah. Sesekali ia mengelus perutnya itu dengan senyuman yang tak pudar. Ia pulang dengan perasaan bahagia karna kini di rahimnya ada kehidupan lain.
Sampai di rumah Alina ingin menghubungi Biru. Namun sayangnya ia tidak bisa. Karna nomor Biru yang di khususkan untuknya tidak lagi di pake Biru karna ponselnya rusak waktu itu. Alina mempunyai nomor Biru satu lagi. Namun Alina ragu untuk menghubunginya.
Alina duduk santai menikmati sore di taman belakang rumahnya. Sembari memegangi perutnya dan mengusapnya lembut.
" non,, sepertinya bahagia sekali sejak pulang tadi." tanya bik Imah yang ikut senang melihat wajah sumringah nonya mudanya itu. Sebab beberapa hari ini ia melihat Alina yang sedikit murung.
" iya bik,, aku lagi seneng aja. Makasih tehnya bik." jawab Alina mengambil tehnya dari nampan yang di bawakan bik Imah.
" saya ikut seneng non melihatnya." bik Imah berkata jujur.
Alina dan bik Imah terlibat obrolan sore itu. Namun Alina tak memberitahu kabar kehamilannya pada bik Imah. Ia ingin Biru lah orang pertama yang mengetahui itu setelah dokter dan dirinya.
Malam ini Alina duduk di balkon rumahnya. di samping kamar Alina. Menikmati angin malam sambil memperhatikan hasil USGnya dan sesekali mengusap perutnya.
" sayang,, kamu lagi apa,, laper nggak. Pantes saja ibu mu ini selalu lapar di tengah malam belakangan ini. Ternyata kamu juga minta emam ya." Alina berbicara mengusap perutnya. Ia teringat pesan dokter agar sering sering mengajak janinnya berkomunikasi.
" sehat sehat di perut ibu ya nak." kembali Alina mengusap perutnya dan tersenyum.
maafkan ibu, karna tidak menyadari adanya kamu selama ini. batin Alina yang menyesali keterlambatannya mengetahui kehamilan dirinya. Benar kata Biru waktu di luar negri kala itu. Yang berkata bahwa tanda tanda kehamilan itu ada di dirinya.
Pagi ini seperti biasa Alina setelah shubuh berolah raga kecil di taman. Dan setelah menyegarkan kembali tubuhnya. Alina mulai memasak sarapan untuknya dan bik Imah. Memasak memang menjadi salah satu hobi Alina. Jadi ia selalu memilih memasak sendiri untuk makanan yang ingin ia makan.
" pagi sayang." sapa Biru yang tiba tiba datang membuat Alina terkejut. Biru kemudian duduk di samping Alina yang sedang menikmati sarapannya. Setelah mencium kening Alina Biru mengambil piring di depannya.
__ADS_1
" pagi juga,, kamu mau makan, sini aku ambilkan." Alina mengambil Alih piring Biru. Dan mengambilkan makanan untuk Biru.
" terimakasih sayang." Biru menerima piring dari Alina dan kembali mencium pipi Alina.
Mereka menikmati sarapannya pagi ini tanpa ada yang bersuara.
" sayang,, maaf aku baru bisa menemui mu." Biru memeluk Alina dari belakang ketika Alina sedang di dapur membuat kan jus untuk Biru dan juga dirinya.
" hemm." jawaban Alina dengan anggukan kepala.
" apa kau marah pada ku?." tanya Biru meletakan dagunya di pundak Alina. Ia melihat Alina yang hanya diam sejak tadi.
" tentu saja tidak." jawab Alina singkat. Menutupi rasa kecewanya.
" jusnya sudah jadi. Mau minum dimana?" tanya Alina menuang jus ke dalam gelas.
" di atas,, sambil mengobrol dengan istri ku ini." Biru mencubit hidung Alina dan mengambil gelas dari tangan Alina kemudian membawanya naik ke tangga.
Alina dan Biru sudah duduk di balkon atas saat ini. Setelah membereskan peralatan membuat jus tadi Alina menyusul Biru ke atas.
" Alina,, sayang,, aku minta maaf untuk kejadian di hotel malam itu. Aku benar benar menyesal. Dan untuk satu minggu ini tanpa memberi mu kabar dan juga tidak menemui mu. Maaf untuk semua itu Alina." ucap Biru membuka obrolan mereka setelah keduanya sama sama diam sejak berada di atas.
" sudah lupakan saja. Aku sudah melupakan kejadian itu." Alina terpaksa berbohong untuk mengakhiri cerita buruknya malam itu.
" sepertinya nya kakak ku tidak main main. Sejak ia melihat ku bersama mu malam itu. Sepertinya ia selalu menyelidiki tentang kita. Bahkan saat aku di luar negeri kemarin, ia berusaha membuat perusahaan ku mengalami banyak masalah." lanjut Biru yang kini berdiri di tepi balkon menatap pemandangan laut yang terlihat dari sana.
Alina mengikuti Biru dan berdiri di sampingnya seraya mengusap punggung lelaki itu. Lelaki yang telah mengambil masa mudanya dan dengan paksa menghancurkan rencana masa depannya itu. Namun kini justru Alina mencintai lelaki di depannya itu. Walaupun ia sempat mendapat perlakuan kasar dari Biru.
" sayang,, yakinlah, semua akan baik baik saja. Aku percaya kamu bisa melewati ini semua. Jangan saling membenci sama saudara. Nggak baik tauk " Alina dengan menggenggam tangan Biru yang tadi mengepal seakan mengekspresikan sebuah kebencian. Alina berkata lembut dan tersenyum manis pada Biru. Membuat Biru merengkuh tubuhnya.
" terimakasih sayang,, terimakasih, karna kamu selalu memberi ku semangat dan selalu ada untuk ku." Biru semakin merasa bersalah mengingat yang telah ia lakukan pada Alina sedangkan Alina begitu baiknya pada dirinya selama ini.
" jangan pernah tinggal kan aku Alina. Aku mencintai mu. Sungguh sangat banyak." kembali Biru memeluk Alina sangat erat.
" aku akan kehabisan nafas jika seperti ini sayang." Alina memang kesulitan bernafas karena Biru begitu erat memeluk tubuh kecilnya itu.
" maaf kan aku, aku begitu bahagia memiliki kamu." setelah melepaskan pelukannya. Ia berkata sambil mencium kening Alina.
Perlahan Alina menarik tangan Biru dan mengarahkannya ke perut Alina. Biru mengerutkan keningnya bingung akan maksud Alina.
__ADS_1
" sayang,, apa perut mu sakit?" Biru khawatir karna setelah meletakkan tangannya di perut Alina. Alina diam sejenak.
" tidak,, aku hanya ingin memperkenalkan dia dengan mu sayang." Alina tersenyum namun matanya masih melihat tangan Biru yang berada di perutnya.
Biru mencerna ucapan Alina dan melihat Alina tersenyum sumringah dengan pandangan mata ke arah perutnya. Dan sejenak kemudian Biru baru paham maksud Alina. Sontak rona bahagia pun menyergap pada Biru ia berlutut di depan perut Alina dan mengusap lembut perutnya.
" hai anak papa,, papa senang sekali kau ada di sana. Sehat sehat selalu sayang. Ini aku papa mu." Biru menciumi perut Alina dan berbicara pada bayinya itu sambil menempelkan telingan pada perut Alina.
Sungguh pemandangan yang sangat indah siang itu. Alina merasa bahagia, sangat bahagia.
" sayang,, ini kabar yang sangat membahagiakan. Aku akan memiliki bayi lagi. Dan itu dari mu." ucap Biru yang saat ini sudah berdiri di depan Alina menatap Alina intens dan Alina bisa melihat jelas mata Biru saat itu berkaca kaca. Ia sangat bahagia dan terharu. Itulah sebabnya Biru berkaca kaca. Baru kali ini Biru seperti itu. Apakah itu tandanya perasaannya pada Alina sebegitu dalamnya. Tapi kenapa Biru juga terkadang bisa berbuat kasar pada Alina.
" terimakasih sayang terimakasih." kembali Biru memeluk sayang pada Alina dan berkali kali menciumi pucuk rambut Alina.
Siang itu Biru benar benar bahagia mendapat kabar kehamilan Alina. Dalam dirinya ia berjanji akan menjaga Alina dan tidak membiarkan Alina lepas dari nya. Alina pun sama ia bahagia melihat Biru yang bahagia menerima kehamilannya. Namun Alina tahu, kebahagiannya ini tidak akan lama. Karna ia sendiri yang akan menghancurkannya.
Semua karna ancaman itu. Ancaman yang sampai sekarang masih selalu ia dapatkan. Bahkan sang pengirim ancaman mulai tahu alamat rumah tinggalnya ini. Sehingga Alina sering mendapat kiriman kiriman aneh berisi ancaman itu.
Masih menatap lautan lepas di depan mereka. Dengan posisi Biru yang memeluk Alina dari belakang dan tangannya yang berada di perut Alina selalu mengusap lembut disana. Sambil bercerita banyak hal Biru tersenyum dan sesekali menciumi pipi Alina
Sungguh romansa yang membuat kebanyakan pasangan merasa iri. Bahkan Violet yang sudah lama menikah dengan Biru pun tidak pernah punya moment seperti ini bersama Biru.
Sedang asyik menikmati waktu berdua. Ponsel Alina berdering. Alina sempat mengabaikannya. Namun ponsel itu kembali berdering berulang kali. Membuat Alina melepas paksa pelukan Biru dan mengambil ponselnya. Dan melihat siapa yang menelfonnya. Sejenak wajah Alina terlihat senang mengetahui siapa yang menelfon.
Namun setelah itu, wajahnya pias dan air matanya mengalir begitu saja. Bahkan tubuhnya terhuyung dan beruntung Biru sigap menangkap tubuh Alina sehingga Alina tidak jatuh ke lantai.
" sayang,, kamu kenapa." ucap Biru menghapus air mata Alina.
Alina hanya diam dan semakin menangis dalam pelukan Biru. Biru mengambil ponsel Alina yang tergeletak tak jauh dari Alina. Ia melihat siapa yang menelfon dan membuat Alina seperti itu.
Biru membuka pesan yang belum sempat Alina baca di ponsel itu. Sang pengirim dengan nama tersimpan adik Alina. Memberi sebuah kabar, kabar duka tepatnya. Ya tadi adik Alina menelfon memberi kabar bahwa ibu mereka telah tiada. Dan itulah yang membuat Alina syok. Dan saat ini Biru juga terkejut dengan kabar itu.
Biru membopong Alina masuk ke dalam. Mendudukkannya di atas ranjang. Alina masih sesenggukan menangis saat itu. Sebelum akhirnya ia meminta ijin pada Biru untuk pulang.
Dan sore ini Biru menemani Alina untuk pulang ke kampung halaman Alina. Jika saat ayahnya Alina tiada Biru tidak bisa mendampingi istrinya. Maka saat ini Biru sendiri yang kekeh ingin pergi bersama Alina.
Dalam perjalanan Alina lebih banyak diam. Semua kejadian hari ini berputar dalam ingatannya. Saat bahagia ia melihat Biru yang yang sangat senang ketika mengetahui kabar kehamilannya. Dan sampai pada saat adiknya menelfon dan memberi nya sebuah kabar yang sebelumnya tak di sangka sangka olehnya.
Yang sabar ya Alina, cobaan mu sungguhlah berat. Tetap kuat Alina, jadilah Alina seperti sebelumnya. Alina yang tak mudah rapuh menghadapi masalah dan cobaan untuknya. Begitulah batin Alina saat itu. Ia menguatkan dirinya sendiri. Walau Biru di sampingnya juga selalu berusaha memberi kekuatan untuknya. Biru selalu mengusap lembut tangan Alina sepanjang perjalanan. Menggenggam erat tangan istrinya itu.
__ADS_1
🍒🍒🍒🍒🍒
Terimakasih sudah membaca cerita ini. Jangan lupa tinggalkan LIKE nya ya setelah membaca. Krisan silahkan di kolom koment ya. Tunggu kelanjutan kisah Alina selanjutnya ya. Terimakasih 🙏🙏😊