
Hari ini Alina mengajak Kiran berjalan jalan ke sebuah taman di dekat kampung halamannya.
Iya,, Alina dan Amar sudah satu minggu di kampung halaman mereka. Bahkan kini mereka mulai menempati kembali rumah kedua orangtua mereka yang telah lama kosong. Sebelumnya Akas dan Anita yang membersihkan dan merapikan rumah itu sebelum akhirnya mereka tempati. Dengan bantuan sang kakak Alina meminta merenovasi sedikit rumah peninggalan orangtua mereka itu.
" mbak,,, Kirana bahagia sekali kayaknya di sini." kata Amar melihat Kiran yang bermain berlarian bersama syamsir putra Akas dan Anita yang usianya sudah 10 tahun berbeda 5 tahun dari Kirana.
" ya tentu saja, ia begitu senang saat memiliki teman bermain. Bulan depan ia akan masuk sekolah. Pasti dia akan memiliki lebih banyak teman." jawab Alina tersenyum melihat kebahagiaan Putri semata wayangnya.
" aku senang melihatnya." Amar ikut tersenyum melihat kedua keponakannya itu akur dan bermain bersama.
" Mar,, siang nanti mbak ada urusan sebentar. Nitip Kiran ya, bantuin bik Tini menjaganya." ucap Alina sesaat setelah mereka beristirahat setelah tadi ikut bermain bersama Kiran dan Syamsir.
" tenang saja mbak,, aku akan menjaganya. Aku juga bisa di andalkan tak kalah dari tuan Candra nya mbak Alina." Amar mulai menggoda Alina. Ia menaikan turunkan alisnya.
" kamu apaan sih Mar,," Alina menyenggol bahu adiknya. Karena sang adik terus saja membahasnya dirinya dan Candra.
" Sorry mbak, habis mbak kalau sama tuan Candra itu kelihatan udah deket banget gitu. Amar kan jadi gimana yaaa,,, jadi mikir yang lebih jauh gitu mbak,,, hehehe." lagi lagi Amar tertawa kecil menggoda Alina.
" jangan yang nggak nggak deh,, udah ayo pulang." Alina berdiri dan mengajak Kiran juga Syamsir untuk pulang.
" Kirana,, Syamsir kita pulang dulu yuk sayang. Besok kita main lagi." Alina dengan suara lembutnya memanggil kedua anak itu. Dan seketika kedua anak kecil yang tengah asyik bermain itu menurutinya. Dan pulang bersama.
Siang ini Alina sudah duduk manis di kursi antrian. Alina sedang mengantri untuk masuk ke salah satu ruang pengadilan.
Ya Alina memutuskan untuk mengajukan gugatan. Karna jika menunggu saja tanpa melakukan sesuatu, tentu itu akan semakin membuatnya gusar. Ia tahu jika tuan Biru masih akan membawanya lagi jika status mereka masih tercatat sebagai suami istri. Terlebih ada Kirana sekarang. Alina yakin jika Biru melihat Kirana pasti akan semakin sulit untuk mereka berpisah.
Dan kini Alina telah memutuskan untuk berpisah. Demi kebaikan semua orang. Ia tak ingin terjadi sesuatu pada putrinya Kirana yang masih kecil itu. Alina ingin menjauhkan Kirana dari keluarga besar Biru. Yang dengan tega bisa melakukan hal keji.
Dengan ia rujuk, maka bukan tak mungkin Sekar atau bahkan keluarga Biru yang lainnya akan melakukan hal sama. Atau mungkin lebih buruk lagi.
Alina duduk dengan gusar,, perasaannya tak karuan. Antara sedih gelisah dan dilema. Tibalah giliran Alina untuk maju dan mendaftarkan pengajuan perceraiannya.
Dengan ragu Alina menyerahkan dokumen yang di butuhkan. Saat memberikan itu pada petugas,,, sungguh perasaannya begitu perih. Terbayang semua momen indah bersama Biru yang ia pernah ia lewati. Semua berputar di dalam ingatannya.
Setelah memenuhi persyaratan untuk mengajukan gugatan. Alina pulang kerumah orantuanya. Ia akan menunggu saat gilirannya untuk sidang nanti.
Saat di pengadilan,,, saat dirinya ragu hendak memberikan dokumen gugatannya. Tiba-tiba Alina di buat terkejut dengan kehadiran Candra. Candra datang membawa seorang pengacara untuk Alina.
Padahal Alina sudah memberitahunya jika ia akan meminta tolong temannya saja yang berprofesi sebagai pengacara dan tinggal di kota ini. Namun Candra ingin Alina mendapat yang terbaik. Sehingga secepatnya menyelesaikan sidang perceraiannya.
Kini Candra dan Alina sudah sampai di halaman rumah orangtua Alina. Setelah urusan di pengadilan selesai tadi Candra memilih ikut Alina dan membiarkan supir beserta pengacara yang ia bawa tadi kembali ke kota B tanpanya.
Sepertinya Candra memang sangat mendukung langkah Alina ini. Entah karna perasaannya atau karna ia tak ingin Alina terus terkungkung dengan kisah masa lalunya bersama Biru.
Jelas dua duanya bisa saja menguntungkan bagi Candra. Karna jika Alina sudah resmi berpisah dengan Biru, bukan tidak mungkin ia memiliki kesempatan yang lebih lagi untuk bersama Alina. Tapi jika Alina mengetahui bahwa ia juga bagian dari Wiratmadja, apakah Alina mau menerimanya? entah sebagai pasangan atau hanya teman dekat seperti selama ini.
Sampai saat ini Alina sendiri masih menyimpan trauma dengan keluarga Wiratmadja yang telah membuatnya kehilangan kedua orangtuanya.
Sedangkan dengan Biru dan Candra?? entahlah bagaimana nantinya.
" Can,,, rumahnya kecil,, sorry ya." ucap Alina melihat Candra yang sedang duduk di teras.
" adem Li,, sejuk di sini." balas Candra dengan senyumnya.
" o iya Can,, kamu belum kenal kan sama kakak ku. Bentar aku panggilin mumpung mereka disini." Alina masuk kedalam rumah dan kembali dengan membawa Akas menemui Candra.
" kak Akas,, kenalin ini Candra, dia teman Alina. Teman yang pernah aku ceritakan waktu itu." ucap Alina kepada Akas yang saat ini ia gandeng lengannya itu.
" sore tuan Candra, maaf rumahnya begini adanya. Saya Akas kakaknya Alina." Akas memperkenalkan diri dan duduk di depan Candra. Sebelumnya ia telah mengulurkan tangannya dan berjabat tangan dengan Candra.
" saya Candra,, panggil saja Candra nggak usah pakai tuan, sepertinya umur kita tidak berbeda jauh." ucap Candra tersenyum simpul. Menampilkan wibawanya.
" ya baiklah kalau gitu." Akas membalas dengan sopan.
" Candra,, terimakasih sudah menjaga adik ku, dan bahkan kamu membuatnya seperti saat ini." Akas tulus berterimakasih pada Candra.
" bukan aku yang membuatnya seperti ini. Dia sendiri yang selalu berusaha keras, sehingga ia bisa seperti sekarang." Candra menatap Alina yang berada di sebelah Akas. Membuat Alina menundukkan kepalanya menghindari tatapan Candra.
Candra dan Akas kembali melanjutkan obrolan mereka dan Alina memilih masuk kedalam rumah mengurus Kirana putrinya yang ia tinggalkan siang tadi.
__ADS_1
" ma,, malam ini Kiran bobo ama uncle ya " pinta Kiran saat Alina menyisir rambutnya.
", sayang,, uncle tidur dengan om Amar di kamar om Amar, Kiran sama mama di sini ya sama bik Tini." bujuk Alina pada sang putri yang ingin bersama Candra.
" nggak ma, Kiran mau denger cerita uncle. Kiran rindu uncle." Kiran semakin merengek dan tanpa sengaja Candra yang melewati kamar Alina mendengarnya.
tok tok tok
Candra mengetuk pintu dan tak lama di buka oleh bik Tini.
" Kiran belum tidur ya." ucap Candra berjalan masuk kamar mendekati Kiran yang sedang di sisir Alina.
" uncle,, yey yeii,,, uncle Kiran mau bobo sama uncle. Kiran pengen diceritain sama uncle. Kirana begitu gembira melihat Candra yang datang menghampirinya.
" hemm,, baiklah,, tapi selesaikan dulu menyisirnya setelah itu uncle akan bercerita. Ok??" ucap Candra yang kini sudah duduk di depan Kirana dengan kembut ia menoel hidung Kirana.
" mama,, mama jangan pergi yaa,,, mama bobo di sini juga." pinta Kirana. Membuat Alina melebarkan matanya dan Candra justru tersenyum senang.
" sayang,, mama akan menunggu di sofa ya. Kasur ini tidak terlalu besar untuk kita bertiga." Alina memberi alasan, sebab ia merasa canggung jika harus satu ranjang dengan Candra.
Selama ini jika di rumah Alina sana Kiran selalu mengusirnya saat ia ingin mendengar cerita dari Candra. Kirana tak mau mamanya mengganggu dirinya dan Candra. Saat Candra membacakan dongeng untuknya.
Tapi entah kenapa di rumah ini dengan ranjang yang lebih kecil dari ranjang Kiran justru ia meminta Alina tetap disana.
" mama, " rengek Kirana dan membuat Alina terpaksa menurutinya.
" baiklah cantiknya uncle,,, ayo kita mulai bercerita." Candra membenarkan posisi tidur Kiran dan kini dia mulai merebahkan diri di samping Kiran dengan posisi miring berhadapan dengan Alina. Membuat Alina salah tingkah saja. Saat pandangan mereka sesekali bertemu.
Alina memilih keluar kamar karna tak ingin lama lama berada dalam satu kamar dengan Candra. Dengan alasan akan mengambil air minum akhirnya Kirana yang belum tidur itu membiarkan Alina pergi.
Lama Alina diluar dan setelah masuk Kamar, ia memilih duduk di sofa mini yang berada di kamarnya. Sofa yang dibeli Biru di saat meminangnya dulu. Alina Bersandar memejamkan matanya. Lagi-lagi ia teringat semua kenangan bersama Biru. Bahkan sofa ini memiliki kenangan yang mungkin tak bisa Alina lupakan saat baru menjadi istri Biru Wiratmadja.
Saat Alina menghela nafasnya panjang. Tiba-tiba Candra mengagetkannya dengan berkata.
" kamu lucu sekali saat remaja Li." ucap Candra yang membuat Alina membuka matanya dan melihat Candra yang kini berdiri melihat foto fotonya yang menempel di dinding kamarnya.
" kamu gak banyak berubah meski sudah memiliki Kiran." kini Candra duduk di samping Alina. Membuat Alina menggeser posisinya sedikit.
" biar aku tebak,, pasti tuan Biru ya yang menaruhnya." Candra mencolek dagu Alina.
" Candra,, kamu ini, bicara saja terus. Sudah,, Kiran sudah tidur kan sekarang,,, jadi kamu beristirahatlah sana. Kita besok akan kembali ke kota B." ucap Alina seraya berdiri dari duduknya, namun Candra menarik tangannya sehingga membuatnya menoleh ke arah Candra.
" Sofa ini nganggur Li,, jadi aku bisa tidur di sini." Ucap Candra menggoda Alina.
Sontak Alina melebarkan matanya melihat Candra yabg tersenyum nakal menggodanya.
" Candra,," Ucap Alina geram dengan tingkah Candra yang suka menggodanya. Namun Candra justru tersenyum gemas melihat ekspresi Alina.
" Candra,, ayolah." Alina menarik pelan tangannya agar Candra ikut berdiri.
" iya-iya,,, ya udah,,selamat malam Lili,, dan semoga mimpi mu indah malam ini." ucap Candra dengan senyum yang di buat semanis mungkin. Membuat Alina ikut tersenyum tipis.
Candra kemudian keluar dari kamar Alina dan kembali ke kamar Amar. Sebelum keluar dari kamar Alina tadi Candra sempat melihat foto pernikahan Alina dan Biru yang tergeletak di lantai kamar Alina. Kini Candra justru menyimpan foto itu.
πππππ
Hari ini genap satu bulan setelah pengajuan gugatan yang Alina buat hari itu. Dan disini Alina sekarang. Duduk di depan hakim menunggu seseorang yang membuatnya gemetar dan gugup. Ia hanya datang bersama pengacaranya. Jujur saja Alina sebenarnya belum sanggup untuk kembali bertemu Biru.
" Nona Alina, apa sudah di pastikan bahwa tuan tergugat akan datang, ini sudah lewat dari waktu sidang yang di tentukan. Jika tergugat tidak hadir maka sidang akan di tunda minggu depan." ucap hakim yang memimpin sidang itu.
" sebentar pak hakim, tergugat pasti segera datang." jawab pengacara Alina yang sebenarnya juga ragu.
Nyatanya, hari itu di sidang pertama Biru benar benar tidak hadir. Alina sudah menunggu Biru sejak pagi. Bahkan setalah hakim memutuskan menutup sidang. Alina tetap menunggu Biru di luar ruang sidang.
" Nona Alina,, ini sudah satu jam sejak hakim menutup sidang. Saya rasa memang tuan Biru tidak akan datang. Lebih baik kita pulang." Ucap pengacara Alina membujuk agar Alina mau meninggalkan pengadilan.
Alina terpaksa menuruti saran pengacaranya. Ia dan pengacaranya memutuskan untuk pulang ke kota B. Alina kembali dengan rasa kecewanya karena Biru hari itu tidak datang menemuinya.
" Hai,,, lemes banget. Mana Alina yang riang seperti biasanya." Candra duduk di samping Alina yang sedang diam melamun tak bersemangat.
__ADS_1
Alina hanya tersenyum ketika Candra datang menemuinya yang sedang duduk di ayunan taman belakang rumahnya.
" Aku sudah mendengar dari pengacara yang mendampingi kamu. Yang sabar dulu ya,, tuan pengacara sedang berjuang menemui tuan Biru. Untuk memintanya hadir minggu depan pada sidang kalian." Candra tahu, Alina pasti sedang memikirkan hal yang tenag terjadi hari ini. Candra sebenarnya ingin membantu Alina. Namun ia tak bisa secara langsung menemui Biru. Yang ada nanti dia ketahuan menyembunyikan Alina selama ini.
Alina tidak berbicara sepatah katapun. Ia hanya diam menarik nafasnya panjang. Ia bahkan menyandarkan kepalanya di bahu Candra. Tentu saja Candra merasa senang karena jarang-jarang Alina melakukan itu.
" Aku lelah Cand. Pinjam sebentar ya bahu kamu." Ucap Alina yang Setelahnya ia menutup matanya. Alina benar-benar sedang lelah,, bukan hanya fisiknya nanum juga hatinya.
Malam itu,, Candra menemani Alina meskipun Alina tak sedikitpun mau berbicara padanya. dan Candra juga tidak ingin mengganggu Alina. Ia berfikir dengan seperti itu mungkin bisa membuat Alina lebih tenang.
πππππ
Dua hari berselang, malam ini restoran Alina tutup lebih malam dari biasanya. Saat itu Alina tengah berdiri di depan restonya. Ia menunggu Amar yang akan menjemputnya. Mobil Alina sedang berada di bengkel. Jadi ia mengandalkan Amar menjemputnya dengan motor. Alina bukan tidak mau menggunakan taksi atau kendaraan umum lainnya. Namun tadi sang adik sudah menghubunginya untuk menjemputnya.
Saat Alina masih berdiri di depan restoran, dengan melihat sekitar. Mencari Amar yang yak kunjung datang. Dan tiba tiba saja kedatangan seseorang mengejutkannya dengan memeluknya dari belakang.
Aroma parfum yang sangat Alina kenali. Dan tanpa di minta airmata Alina sudah menerobos membasahi matanya. Alina memejamkan matanya. Merasai hatinya yang terasa begitu perih. Alina diam tak memberontak. Membiarkan orang itu memeluknya.
" aku merindukan mu,, sungguh sangat merindukan mu sayang." ucap Biru memeluk erat Alina. Ia membenamkan wajahnya di ceruk leher Alina.
Alina masih diam merasakan dadanya yang terasa sesak. Di sisi lain ia tak ingin ia terjadi. Karena hanya akan membuat semakin dilema. Jujur saja Alina masih memiliki perasaan yang amat dalam untuk Biru. Pendirian hampir goyah saat ia tahu bahwa Biru datang dan tiba-tiba memeluknya begitu erat.
" lepaskan aku,," ucap Alina menahan isaknya,, setelah lama Biru memeluknya.
" biarkan begini,, aku ingin seperti ini" Biru kini memutar tubuh Alina dan kembali memeluknya menciumi pucuk kepala Alina yang berada di dada bidangnya. Biru tanpa merasa bersalah terus saja menciumi pucuk kepala Alina.
" stop,,, berhenti seperti ini." Alina dengan sekuat tenaga mendorong Biru. Dan membuatnya terlepas dari pelukan Biru.
" kenapa?? kenapa kamu melakukan ini Alina. Aku mohon maafkan aku,, maafkan aku Alina." Biru melipat kedua tangannya di depan dadanya. Dengan penuh penyesalan Biru memohon Alina agar mau memaafkan nya.
" hentikan tuan Biru,,, ini sudah keputusan ku, aku mohon pergilah. Tinggal aku,, lupakan aku." Alina melangkah mundur menjauhi Biru.
Biru tidak menyerah,, ia semakin mendekati Alina dan menarik tangan Alina hingga Alina kembali ke pelukannya. Menahan erat tubuh Alina di pelukannya. Mengusap lembut rambut Alina dengan satu tangannya.
" sebegitu marahnya kah kamu padaku. Kenapa kamu ingin lepas dariku. Bukan kah kamu bilang kamu mencintai ku hari itu." Biru menahan isak berbicara sambil memeluk Alina. Air matanya pun sudah tak dapat ia bendung.
Alina hanya diam tak menjawab.
" jawab Alina. Aku mohon katakan,, kamu mencintai ku kan sayang." Biru melepas pelukannya dan mencengkram kedua pundak Alina. Menatap sendu Alina di depannya yang menundukkan kepalanya.
setelah lama diam menahan tangisannya. Alina kini mengangkat kepalanya dan berkata.
" ya tuan Biru,,, anda benar,,, aku memang mencintai anda. Sangat dalam bahkan,, tapi itu dulu. Dan sekarang aku mohon lepaskan aku. lepaskan aku untuk selamanya. Hiduplah dengan baik bersama kak Vio dan juga kedua buah hati kalian. Aku tidak ingin terus menyakiti hati kak Vio dengan tetap menjadi madunya." Alina berkata dengan melihat kearah Biru yang terlihat kacau malam itu. Bahkan Alina bisa melihat air mata Biru yang baru saja menetes.
" lalu bagaimana dengan ku sayang?, apa kamu pikir aku akan bahagia bersamanya. Tanpa kamu hidup ku kosong Alina. Aku yakin kamu pasti tahu itu kan." Biru semakin kencang mencengkram bahu Alina. Membuat Alina meringis menahan sakit.
" tentu saja anda harus bahagia tuan. Jalani hidup kita masing-masing setelah ini. Kita mungkin memang tidak di takdirkan untuk bersama. Mungkin kita memiliki perasaan yang sma. Mungkin anda memang mencintai ku, tapi tuan Biru,, jika takdir tidak berpihak pada kita,, maka kita harus ikhlas bukan? aku mohon,, mari kita akhiri semua secara baik baik. Agar kedepannya kita bisa menjalani kehidupan kita dengan baik." Air mata Alina semakin deras meluncur dari pelupuk matanya. dengan cepat Alina mengusapnya.
" Kita ciptakan takdir kita sendiri sayang. Aku mohon beri aku kesempatan. Mari kita pergi dari mereka semuanya. Kita hidup bertiga dan meninggalkan mereka semua. Aku mohon jangan tinggalkan aku Alina." Biru mulai melonggarkan cengkraman nya.
Alina menunduk dan menggelengkan kepalanya.
Setelahnya,,, Alina segera berlari ketika Biru melonggarkan cengkeramannya.
Beruntung ada taxi yang melintas sehingga ia bisa segera masuk kedalam taxi dan menjauh dari Biru. Meninggalkan Biru sendiri di sana. Alina tidak bisa lebih lama bersama Biru. Karena ia yakin pendiriannya akan goyah jika Biru terus memohon padanya.
Biru terus memanggil manggil Alina. Namun apalah daya Alina sudah menjauh.
Sejak hari dimana Biru menerima surat dari pengadilan. Biru menyelidiki alamat Alina tinggal. Sayangnya yang ia temukan justru adalah restoran. Biru sudah berusaha mendatangi restoran itu untuk bertemu Alina. Sayangnya berkali kali datang Biru tak menjumpai Alina.
Karyawan disana pun tak ada yang bisa memberikan alamat Alina tinggal pada Biru.
Candra sudah mewanti wanti pada semua pegawai Alina untuk tidak sembarangan memberikan alamat Alina pada orang asing.
Dan atas saran Candra lah waktu itu Alina mencantumkan alamat tempat tinggalnya sebagai penggugat adalah alamat restorannya. Candra bahkan mengubah KTP Alina sehingga beralamat di restorannya. Semua Candra lakukan untuk menghindari Biru. Ya Candra hafal bagaimana sang kakak. Candra yakin jika Biru mengetahui alamat Alina. Maka sudah pasti Biru akan mendatangi rumah Alina. Benar saja Biru sudah mendatangi Alina. Dan itu di resto.
Dan sebab itulah Biru menunggu Alina di sana. Dan malam ini ketika ia melihat Alina ia dengan segera mendatangi pujaan hatinya itu. Biru memang sengaja menunggu waktunya yang oas untuk menemui Alina.
πππππ
__ADS_1
Terimakasih sudah membaca,,, jangan lupa tinggalkan LIKE nya ya setelah membaca. Krisan silahkai di koment. Tunggu kelanjutan cerita Alina selanjutnyaππ. Terimakasihπππ€π€