Takdir Alina

Takdir Alina
Pengantin baru


__ADS_3

Hari masih terlalu pagi di saat Alina terbangun dari tidurnya. Ia terbangun sebab perutnya yang merasa lapar karna ia melewatkan makan malam nya setelah tertidur begitu saja saat mendengarkan cerita dan penjelasan dari Biru semalam.


Perlahan ia bangun dan membuka matanya melihat sekeliling yang membuatnya merasakan keanehan. Seseorang yang semalam Alina lihat tidur bersamanya di bawah selimut yang sama bahkan memeluk erat Alina.


Kini tak nampak berada di tempatnya membuat Alina menatap heran ranjangnya dan sejenak mengingat sesuatu.


Apalah daya Alina tak mengingat apapun kecuali kecupan Biru di keningnya saat setelah meminta Alina kembali tidur ketika Alina terbangun tengah malam karna lapar dan Alina terpaksa menahan laparnya dan kembali memejamkan matanya. Dan kini Alina memutuskan untuk keluar kamar dan mandi sambil mencari suaminya itu. Meskipun masih belum sepenuhnya menerima Biru. Namun Alina juga penasaran kemana perginya laki-laki itu.


Matahari sudah mulai merangkak naik ketika Biru tiba tiba kembali masuk ke kamar Alina. Alina yang saat itu tidak berada di kamar membuat Biru terpaksa duduk menunggunya di sofa yang sengaja ia beli beberapa hari lalu untuk Alina.


Sembari menunggu Biru membuka layar handphonenya dan menghubungi Violet yang sudah beberapa hari ini ia tinggalkan.


Sejak kemarin ia begitu sibuk menghubungi Biru yang tak sedikitpun Biru respon. Kini Biru mencoba menghubunginya.


Tak lama setelah telfon tersambung.


"Biru akhirnya,,,,kau menelfon juga." terdengar suara Violet dari sebrang sana yang terlihat lega mendapat telfon Biru suaminya.


"iya aku sibuk Vi,,bukankah aku sudah bilang." dengan nada datarnya.


"Biru,,mengertilah sebagai istri mu aku,,aku,,." menahan perkataaannya dan bergumam dalam hatinya (***bagaimana aku mengungkapkannya Biru lihatlah bahkan aku tak bisa memberitahu mu bahwa aku cemburu dan gelisah memikirkan mu sendirian di sini merasai sakit saat kau duakan aku seperti sekarang.)


"Vi sudahlah jangan memperbesar sesuatu yang memicu pertengkaran kita udah sepakat kan sebelumnya. Kau juga akan tetap mendapatkan hak mu bahkan lebih dari yang kau minta sebagai syaratmu.sudahlah aku lelah." Biru menyela Violet yang diam di sebrang sana seakan tahu yang sedang Violet bicarakan dan langsung menutup telfonnya membiarkan Violet dengan rasa kecewa juga kesalnya. Juga tak ingin memperkeruh suasana.


Setelah menutup telfonnya Biru bermaksud keluar kamar karna merasa bosan Alina yang ia tunggu tak kunjung masuk ke kamarnya. Saat hendak membuka pintu sayup sayup terdengar suara dari balik pintu di luar sana.


"Alina,,,kau sedari shubuh tadi keluar kamar sendirian dan juga duduk di teras belakang sendirian.dimana suami mu." ujar kakak ipar Alina yang tiba tiba datang saat Alina hendak masuk kamar.


"emmmm suami Alina,," Alina tampak bingung menjawabnya karna ia sendiripun tak tahu di mana suaminya itu (hei Alina apa yang akan kau katakan sekarang,apa kau akan mengatakan bahwa kau tak tahu dimana suamimu itu dan kau akan di tertawakan mereka semua karna pengantin baru di tinggal pergi suami nya di hari pertama menikah,huft,,itu nggak lucu Alina.) gumam Alina di dalam hatinya dan tetap diam menampilkan senyum palsunya.Berusaha menampilkan wajah cerianya.


" Alina,,kenapa kau diam saja??apa suamimu pergi setelah malam pengantin kalian?" salah satu tetangga yang saat itu membantu bersih bersih setelah hajatan di rumah Alina menimpali dan tampak menahan tawanya. Meledek Alina


" Kamu terlalu polos Alina." Sambung tetangga yang lainnya lagi.


"bukan seperti itu" Alina berusaha menyangkalnya agar tak tampak menyedihkan di depan banyak tetangganya. Juga tak membuat kedua orangtuanya malu.


" hey Alina dulu sewaktu aku menjadi pengantin aku menghabiskan malam pertama ku semalam suntuk bahkan saat matahari sudah di atas kami baru keluar kamar bersama itupun hanya untuk makan." belum sempat Alina memberikan alasan seorang tetangga lain yang masih seumuran dengannya ikut menimpali dan tertawa bersama yang lain.


Alina hanya terdiam dan berusaha tersenyum getir.


(hei Alina bahkan sekarang kau menjadi bahan olok olokan mereka,padahal ini belum apa apa.bagaimana nanti saat mereka tahu kau hanya istri kedua,huft...mungkin seperti inilah resiko menikah menjadi istri ke dua bahkan di hari pertama setelah menikahpun aku **sendirian**,sepertinya aku harus terbiasa dengan keadaan seperti ini.)" gumam Alina dalam hatinya.


Alina yang biasanya selalu tampak ceria sejak pagi tadi tak menampakan keceriaannya karna memikirkan dimana tuan Birunya itu. Di dalam kamar Alina,Biru yang mendengar olokan untuk Alina segera keluar karna ia tak mau wanitanya itu sedih karna olokan orang orang.

__ADS_1


Ia merasa bersalah karna meninggalkan Alina pagi tadi dan kembali cukup lama.


Akhirnya Biru keluar saat merasa Alina tak mampu menjawab segala olok olokan para tetangganya.


Saat Biru membuka pintu dan langsung meraih pinggang Alina semua orang bungkam melihat itu. Sambil tersenyum manis Biru mencium mesra pipi Alina di depan banyak orang. Alina yang merasa terkejut dengan kehadiran Biru yang tiba tiba kemudian mencium pipinya di depan banyak orang tentu saja itu membuatnya malu. Namun ada rasa lega karna dengan adanya Biru ia dapat membungkam semua orang yang telah mengoloknya tadi.


"sayang,,kau disini rupanya aku menunggumu sedari tadi,maaf ya aku bangun telat,aku begitu lelah sekali." ucap Biru sedikit berbohong masih dengan mesranya melihat ke arah Alina dengan mengedipkan sebelah matanya memberi tanda dan dengan tangan yang kini di pinggang Alina.


Alina hanya mengangguk dan membalasnya dengan senyum manisnya tanda setuju. (hei...lihat dia tiba tiba keluar dari kamar ku dan berkata seolah olah dia tak pergi dari tadi. Dasar tuan Biru yang membingungkan.lihat saja senyumnya itu membuat aku malu dengan mereka semua.") gumam Alina dalam hati masih dengan senyum yang ia perlihatkan di depan Biru.


"baik lah sayang ayo kita masuk aku merindukan mu.kau terlalu lama di luar sini." ajak Biru sembari menggandeng tangan Alina masuk kekamar tanpa memperdulikan orang orang yang tadi mengolok olok istrinya. Alina hanya diam mengikuti Biru yang kini mendudukkan nya di sofa kamarnya.


" sayang maaf kan aku membuat kamu jadi bahan olok olokan mereka.kalau kamu mau aku akan membuat perhitungan dengan mereka membalas atas yang mereka lakukan padamu.kata kan saja siapa siapa yang melakukan itu." ucap Biru melihat Alina.


"tidak perlu tu tuan" menjawab dengan nada canggung.


"biarkan saja,lagi pula aku juga memang tadi bingung mau jawab apa karna memang aku nggak tahu tuan Biru pergi kemana." melanjutkan ucapannya yang merasa memang ada benarnya sikap Biru tadi.


"oh iya,,maafkan aku tadi pagi aku kembali ke hotel untuk mandi karna baju ganti ku ada disana jadi aku harus kesana.maaf karna tak memberitahu." Biru mengusap kepala Alina dengan tulus meminta maaf.


"oh....ya sudahlah,,aku kira anda,,," menggantungkan ucapannya takut salah bicara dan membuat Biru marah nantinya.


"Alina,,percayalah aku mencintaimu mana mungkin aku meninggalkan mu,apalagi kita ini pengantin baru kan?." dengan kerlingan matanya yang menggoda.


" aku ingin memakan dirimu saja Alina." goda Biru yang membuat Alina semakin gugup dan salah tingkah.


"Alina aku menginginkan mu sekarang,apa boleh?" menyentuh dagu Alina mendekat padanya dan tanpa ijin mencium bibir Alina yang sekian lama ia inginkan.


Alina tentu saja merasa kaget dengan ulah Biru itu ia benar benar merasa bergetar saat Biru mencium bibirnya begitu saja.


Jantungnya semakin berdetak kencang menerima ciuman lembut dari Biru.


Alina masih ragu untuk membalas ciuman Biru karna ini pertama kalinya ia melakukannya dengan Biru.


Sebelumnya Alina pernah melakukannya dengan Bagus saat mereka bertemu dan berkencan dulu. Biru yang sangat agresif mencium menikmati bibir milik Alina membuat Alina susah bernafas dan tak berani mengimbangi Biru.


"sayang,,kenapa diam saja apa kau marah?." sejenak Biru menghentikan ciumannya ketika merasa tak ada perlawan dari sang istri.


Setelah melihat Alina menggelengkan kepalanya Biru pun melanjutkan aksinya. Alina terbawa suasana dan memberanikan diri membalas ciuman Biru.


Tampak kebahagian di mata Biru karna kini Alina merespon ciumannya.


Di pagi itu sepasang pengantin baru memadu kasih saling berbagi rasa melalui ciuman yang semakin memanas Alina berusaha mengimbangi ciuman Biru yang semakin menuntut.

__ADS_1


Tangan Biru pun sudah tak bisa diam sedari tadi menjelajah tubuh Alina menari lembut di area sensitif Alina.


Entah lah Alina hanya diam menerima perlakuan Biru ia hanya berusaha memenuhi kewajibannya sebagai istri Biru walau hatinya masih belum sepenuhnya menerima.


Karna saat bersama Biru bayang bayang Bagus selalu menghantui pikirannya. Sejenak Alina memejamkan matanya merasai hatinya yang kini harus ia berikan untuk suaminya,,, Biru.


"sayang,,aku menginginkan mu." bisik Biru lembut di telinga Alina setelah ia melepaskan ciumannya. Membuat Alina bergidik.


Alina membelalakkan matanya dan melihat ke arah Biru yang kini menanti jawabannya.


"tuan,,,emmmm aku,,aku,,," gugup,, Alina belum siap untuk memenuhi kewajibannya sebagai istri.


"apa kau belum siap sayang??tenanglah aku akan melakukannya pelan pelan." masih menatap Alina.


"bu bukan itu,,," Alina semakin salah tingkah. Ia takut Biru marah.


" lalu??" Biru penasaran akan jawaban Alina terlebih kini Alina menundukkan kepalanya.


"aku....aku sedang mendapat tamu ku pagi ini.aku mohon maaf kan aku." jawab Alina dengan malu dan merasa bersalah.


"jadi karna itu" Ucap Biru datar dengan sedikit kecewa karna ia terpaksa harus menahan hasratnya.


"baiklah,,kalau begitu ayo siap siap." sambung Biru yang sedikit menjauh dari Alina dan bersandar pada sofa. Mencoba menetralkan dirinya. Dan hal itu membuat Alina tak enak hati.


"tuan apa anda marah?" tanya Alina memastikan. Dan ia sedikit lega setelah melihat Biru menggelengkan kepalanya dan tersenyum.


"ayo bersiap kita akan segera pergi." titah Biru yang membuat Alina kebingungan.


"memangnya kita akan kemana tuan." penasaran dengan ajakan Biru.


"kau harus segera mengurus surat pengunduran dirimu dan tinggal bersama ku." jawabnya datar masih dengan pandangan yang tak lepas dari Alina.


Tanpa protes lagi Alina segera mengemasi barang yang ia perlukan untuk di bawa. Tak butuh waktu lama hingga akhirnya ia siap dan keluar kamar bersama Biru dan berpamitan kepada kedua orangtuanya dan keluarga.


Orang tua Alina sudah tau bahwa Biru akan membawa Alina setelah menikah karna itu kesepakatan mereka saat Biru melamar Alina beberapa waktu lalu.


Meskipun begitu sebagai orang tua mereka tetap merasa bersedih dengan kepergian putri satu satunya ini. Entah kapan lagi mereka bisa bertemu kembali karna setelah resmi menyandang istri kebebasan Alina tentulah terbatas.


Selesai berpamitan kepada semua Alina pergi menggunakan mobil bersama Biru. Melambaikan tangan dari dalam mobil Biru dan berusaha menampilkan senyum cerianya agar kedua orangtuanya tak bersedih lagi.


Awal perjalan rumah tangga Alina sebagai istri Biru akan segera di mulai.


semoga kebahagian selalu bersama Alina. Begitu harapan Alina dan keluarganya.

__ADS_1


Namun akankah benar seperti itu???


__ADS_2