
Hari semakin larut malam,,namun Biru tak kunjung tiba di rumahnya.Alina sedari sore tadi mondar mandir di ruang tamu menunggu kehadiran ke empat anggota keluarga barunya itu.
Sore tadi Biru menelfon bahwa ia akan sampai di rumah sebelum maghrib. Namun sampai larut seperti ini mereka belum sampai di rumah dan tidak ada kabar sama sekali.Alina ingin mencoba menghubungi Biru,namun ia takut mengganggu Biru karna setahu Alina,Biru mengendarai mobil sendiri.Ya kemarin memang mereka pergi tanpa supir.Bik Darmi melihat nyonya mudanya itu sedang gusar,,sedari tadi ia menemaninya dengan hanya berdiri di dekat Alina.Sesekali Alina sudah meminta bik Darmi untuk beristirahat namun bik Darmi tetap tak bergeming.
"nona,,sebaiknya nona beristirahat,nanti jika tuan dan nyonya sudah datang saya akan bangunkan non Alina." ucap bik Darmi tidak tega melihat Alina yang sedari tadi tampak khawatir.
"nggak apa apa bik,,aku akan menunggu sampai mereka datang." jawab Alina kekeh.
Bik Darmi hanya mengangguk mengerti.Ia merasa kagum akan sifat nyonya mudanya ini yang jauh berbeda dengan Violet.Ia merasa ikut senang Biru menikah dengan Alina,selama ini bik Darmi melihat Alina begitu telaten mengurus keperluan Biru dan begitu perhatian kepada sang majikan.
Sejak awal Biru menikah dengan Violet bik Darmi sudah bekerja di sini.Bik Darmi sangat paham bagaimana rumah tangga Biru dan Violet.Yang berjalan selayaknya hanya seperti teman.Karna Violet tak pernah mau tahu apapun mengenai Biru.Justru Biru yang selama ini selalu memahami Violet dengan segala sikap dan tingkah lakunya.Violet selalu sibuk dengan urusannya sendiri.Dari kecil Violet memang selalu di manjakan oleh kedua orangtuanya, maka dari itu setelah menikah dengan Biru pun ia masih selalu bersikap manja.Beruntung Biru tidak pernah mempermasalahkan itu.
Dari luar terdengar suara mobil berhenti di depan rumah.Alina yang sedari tadi berdiri di balik pintu pun bergegas membuka pintu dan melihat siapa yang datang.Dan akhirnya yang ia tunggu sejak tadi kini sudah ada di depannya. Ia merasa lega melihat Biru keluar dari mobil dalam keadaan baik baik saja.Namun wajah Biru seperti orang khawatir dan tanpa menoleh Alina Biru berjalan membuka pintu mobil bagian belakang.Terlihat Violet keluar dari sebrang mobil dan tergesa gesa membuka bagasi belakang mobil.Violet mengeluarkan kursi roda.Hal itu membuat Alina terkejut dan bertanya tanya dalam hatinya.Apa yang sebenarnya terjadi.Alina yang di ikuti bik Darmi akhirnya mendekati mereka dan melihat apa yang sebenarnya terjadi.Dan mereka melihat Biru memapah Damar dan mendudukannya di kursi roda.
"astagfirullah Damar,,kamu kenapa??." tanya Alina terlihat khawatir.
"hist,,,apa sih kamu ini,sudah minggir sana ga usah sok peduli." Violet membentak Alina yang mendekati mereka.
"sudah minggir biar Biru membawa Damar masuk." ucap Violet lagi dengan mendorong Alina minggir.
Biru hanya diam dan berlalu mendorong kursi roda masuk kedalam rumah.Di ikuti Dinar di belakangnya yang menjulurkan lidah nya pada Alina.Jelas ia meledak Alina karna Biru mendiamkannya,tidak seperti biasanya.Alina hanya diam menanggapi hal itu.
"bik Darmi bawa semua isi bagasi masuk.jangan sampai ada yang rusak.dan kamu bantu bik Darmi daripada kamu diam saja begitu." Violet menunjuk Alina ketus.Kemudian berjalan masuk kedalam rumah dengan angkuhnya.
Alina membantu bik Darmi mengeluarkan isi bagasi mobil bersama supir pribadi Biru.
"non Alin,,biar saya sama bik Darmi saja yang mengerjakan.non Alina masuk dan istirahat saja,ini sudah malam." ucap pak supir tulus.
"nggak papa pak,,sekalian masuk rumah biar saya membawanya." jawab Alina sambil berjalan membawa beberapa barang masuk ke rumah.
Setelah semua barang di masukan kedalam rumah.Alina kembali ke kamarnya. Membersihkan diri dan mengganti bajunya dengan baju tidur.
Tadi sebelum Alina pergi ke kamarnya ia sempat melihat Biru dan Violet di kamar Damar membantu Damar berpindah dari kursi roda ke tempat tidur ia ingin masuk dan melihat keadaan Damar.Namun ia urungkan karna ia takut mengganggu waktu mereka.Terlebih kejadian di luar tadi saat Biru cuek padanya.Akhirnya ia putuskan untuk pergi kekamar dan berniat untuk tidur karena hari sudah larut malam.
Pagi itu, Alina sudah berkutat dengan alat alat dapur bersama beberapa pelayan.Alina memang sering memasak untuk sarapan dan makan malam di rumah ini.Biru sudah sering melarangnya,namun Alina kekeh ingin melakukannya karna memasak juga hobi Alina.
Dengan cekatan ia memasak sarapan pagi ini dan membuatkan bubur untuk Damar.
Ya, pagi tadi Biru datang ke kamar Alina saat Alina hendak melaksanakan sholat shubuh.Akhirnya mereka sholat berjamaah di kamar Alina.Selesai sholat Biru menceritakan bahwa Damar mengalami kecelakaan kakinya cidera dan juga ada luka dalam di perutnya.
Selesai memasak,Alina meminta pelayan untuk menyiapkan makanan di meja makan.Sedangkan Alina sendiri kembali naik ke atas dan membersihkan diri mengganti bajunya yang bau masakan.Ia membangunkan Biru pelan agar bersiap untuk sarapan.
"suami ku,,bangunlah sarapan sudah siap." mengusap lembut tangan Biru untuk membangunkannya.
__ADS_1
"hmmmm" Biru dengan malas dan hanya menggeliat pelan.
Biru memang baru tidur seusai sholat subuh tadi.Semalam ia menjaga Damar.Dan menjelang subuh Damar baru terlelap tidurnya.Biru baru meninggalkan Damar setelah yakin bahwa anaknya ini sudah tak merintih kesakitan lagi.Ia ke kamar Alina untuk tidur dan meminta Alina untuk membangunkannya waktu sarapan.
"suamiku,,ayo bangun nanti kamu akan kesiangan kekantornya." Alina memberanikan diri mengusap lengan Biru untuk membangunkan suaminya.
"sebentar lagi,," Damar menjawab dengan mata tertutup dan malah menarik tangan Alina sehingga jatuh di pelukannya.
"suami ku,,ayo bangun." Alina mencoba berontak melepas pelukan Biru.
"kiss me." Damar memajukan bibirnya masih dengan mata terpejam.
"bangun dulu." tolak Alina mencoba melepaskan pelukan Biru.
"berarti aku tidak akan bangun dan akan tetap seperti ini." Biru justru semakin mengencangkan pelukannya.
"muach." Alima dengan terpaksa mencium Biru walau hanya sekilas dan itu hanya di pipi bukan bibir seperti yang Biru mau. Alina melakukannya agar Biru lekas bangun dan bersiap ke kantor.
"yah,,,kamu nakal,bukan di pipi." Biru membuka matanya dan melihat Alina yang berada tepat di depannya.sangat dekat.
"bangun dan mandi dulu,,ayo." Alina langsung bangun karna merasa pelukan Biru yang sedikit melonggar.
"baiklah baiklah istriku yang manis,,aku akan mandi dan setelah itu mengambilnya sendiri dari mu." Biru bangun dan bergegas ke kamar mandi sambil mengerlingkan matanya pada Alina.
"sayang,,,aku kan sudah sering bilang jangan melakukan hal itu." Biru keluar kamar mandi dan melihat Alina merapikan tempat tidur.
"iya,,," Alina menjawab lembut,, ia tak mau berdebat jadi menjawab singkat saja. toh ia juga sudah selesai merapikannya.
"tunggu,,kenapa pakai baju itu.aku sudah menyiapkan baju kantornya." Alina bingung melihat Biru yang hanya memakai kaos rumahan dan celana jeans.sedangkan Alina tadi telah menyiapkan setelan jas dan kemeja beserta celana kantornya.
"aku tidak berangkat ke kantor hari ini.aku ingin menghabiskan waktu bersama kamu." Biru menghampiri Alina dan dengan tiba-tiba mencium bibir ranum milik istrinya itu.
"ini baru DP ya,,kau akan membayarnya nanti." ucap Biru setelah melepaskan ciumannya.
Alina hanya diam dengan senyum tipisnya. Memang itu sudah menjadi kebiasaan Biru selama ini.
"baiklah ayo kita turun dan sarapan,aku sudah merindukan masakan istriku ini." Biru dengan gemas mencubit hidung Alina dan menggandeng Alina keluar kamar.
"oh....pantas saja Damar sendirian di kamar,jadi kamu asyik berduaan bersamanya Biru!!." ucap Violet sinis melihat Biru yang datang ke meja makan dengan memeluk mesra pinggang Alina.
"papa keterlaluan,kak Damar itu sedang kesakitan pa,dan lihat papa justru bersenang senang dengan dia." Dinar ikut emosi seperti Violet.
"kalian salah paham." ucap Alina berusaha meluruskan kejadian yang sebenarnya. Ia juga tak ingin Biru di nilai lalai menjaga putranya.
__ADS_1
"diam Kamu!!!!" bentak Violet pada Alina dengan mata melebar seakan sangat tidak menyukai hal itu.
"Violet,,jaga sikapmu." Biru masih tetap dengan tenang menegur istri pertamanya itu.
"aku menjaga Damar sampai Damar terlelap dan tidak lagi merintih kesakitan.Damar tidur menjelang subuh dan aku ke kamar Alina untuk sholat subuh.Setelah itu aku tidur di sana karna aku sudah sangat lelah dan mengantuk." jelas Biru dan duduk di kursinya.
"sekarang duduk dan makanlah dengan baik,,dan kamu Dinar.selesaikan makanmu dan segera berangkat sekolah." Titah Biru,,setelahnya semua duduk dan memakan makanan masing masing.
Setelah selesai sarapan Dinar bergegas berangkat sekolah dan Violet kembali kekamarnya.Alina masih di meja makan setelah Biru meninggalkan meja makan untuk melihat Damar dan meminta bik Darmi membawakan bubur ke kamar Damar.
Alina pergi ke kamar Damar menyusul Biru. Ia ingin melihat keadaan Damar. Saat ia sampai di pintu kamar Damar. Alina melihat bi Darmi sedang menyuapi Damar dan Biru duduk di samping Damar dengan menatap layar laptop di pangkuannya.
" sayang,,kemari lah.." titah Biru saat melihat Alina berdiri di pintu kamar Damar. Alina ragu untuk masuk. Alina takut Damar tidak suka ia di sana.
"pa biarkan dia pergi,atau aku akan kehilangan selera makan ku." protes Damar. Menolak kehadiran Alina.
"Damar,,aku hanya ingin melihat keadaanmu." jawab Alina yang masih berdiri di pintu.
"kamu dengar kan Damar.ibu mu hanya ingin melihat keadaan putranya." Ucap Biru dan meletakan laptopnya. Ia menghampiri Alina menggandengnya masuk.
Terlihat ketidak sukaan di wajah Damar melihat Alina berada di depannya kini.
"kalau bukan karna bubur bik Darmi ini enak rasanya maka aku tidak akan menghabiskannya karna selera makan ku telah hilang melihat dia." ucap Damar dengan matanya yang melirik tajam pada Alina.
"tapi den,ini bu....." mencoba memberitahu Damar bahwa bukan ia yang membuat bubur namun belum selesai bicara.Alina sudah memotong ucapannya.
"ah,,,,eh Damar bagaimana keadaan mu sekarang apa sudah lebih baik." ucap Alina memotong ucapan bik Darmi. Dan mengalihkan topik pembicaraan.
(dengan begini setidak nya kamu tidak tahu bahwa itu bubur bikinan ku Damar.) gumam Alina dalam hatinya.
"udah lah ga usah sok peduli.kamu seneng kan lihat aku begini." menatap tajam Alina.
"***Damar jaga ucapan kamu." Tegas Biru kesal merasa putranya sudah keterlaluan.
"***bik,,pastikan Damar meminum obatnya******." Biru menggandeng tangan Alina membawanya keluar kamar Damar. Biru hanya ingin menjaga perasaan Alina.
"papa mau kemana?papa sudah janji akan menemani Damar bukan??" protes Damar saat melihat Biru berjalan keluar kamarnya.
"papa sangat lelah Damar dan papa akan tidur sebentar." Ucap Biru sebelum pergi, ia menoleh sebentar ke Damar dan kembali berjalan keluar.
" Bibik akan di sini menemani den Damar. Biar Tuan Biru istirahat den. Tuan tidak tidur semalaman menjaga den Damar." Bik Darma menimpali. Memberikan pembelaan pada Biru.
Membuat Damar mau tak mau menerimanya.
__ADS_1
Jangan lupa LIKE nya ya,,,Terimakasih