Takdir Alina

Takdir Alina
setelah lamaran


__ADS_3

Dua hari Alina mengurung dirinya di kamar ia keluar kamar hanya untuk mandi,itupun ketika sedang sepi baru ia akan keluar kamar.Alina mengunci diri menguatkan hati agar nantinya saat hari itu tiba ia tak lagi menangis dan tetap tegar di hadapan keluarganya dan juga Biru tentunya.


Alina tak ingin tampak lemah dan hancur di hadapan pria yang mengacaukan rencana indah masa depannya bersama Bagus.


Keadaan itu berbeda dengan Biru yang nampak berseri seri. Tak peduli Violet yang setiap hari selalu mengomel dan berusaha memohon agar Biru membatalkan pernikahan itu.


Namun sedikitpun Biru tak menggubrisnya.Biru yang sudah tergila gila dengan Alina seolah tak peduli akan kehidupan kedua anak dari pernikahannya dengan Violet.


"Biru mengertilah,ini untuk kebaikan anak anak kita juga,mereka akan malu nanti jika teman teman mereka tau bahwa ayahnya menikahi gadis seumuran mereka." Mohon Violet yang mengetahui identitas calon istri Biru dari salah satu pengawalnya.


"sudahlah Violet, apa kau tak lelah selalu mengatakan itu padaku?lagi pula tak akan ada yang tau bahwa aku menikah lagi dan memiliki istri yang seumuran dengan anak ku." tegas Biru sembari menatap layar laptopnya yang sedang menampilkan kesibukan di rumah Alina. Ya itu tentang persiapan pernikahan mereka yang di kirimkan oleh salah satu pengawalnya yang sengaja ia tugasnya di sana untuk memantau dan membantu keluarga Alina.


" lalu bagaimana dengan ku Biru,apa.kau akan mengacuhkan ku begitu saja?." tampak raut wajah khawatir dari ekspresi Violet. Tentu saja ia khawatir akan fasilitas yang selama ini ia dapatkan dari Biru. Seakan paham dengan yang di inginkan Violet,Biru pun menjawabnya dengan santai.

__ADS_1


"tergantung bagaimana sikapmu pada istri ku nanti." sambil berlalu membawa laptopnya pergi dan melanjutkan nya di ruang kerja.Violet tetap duduk dan mencerna kata kata Biru.


Di ruang kerja Biru menelfon anak buahnya di rumah Alina,ia ingin mengetahui bagaimana kabar pujaan hatinya itu. Setelah ia tau bahwa setelah pulang malam itu Alina memutuskan tak kembali bekerja sampai di hari pernikahannya.


Itu membuat Biru merindukannya karna tak lagi bisa memandang wajah teduh wanita yang kini menjadi calon istrinya.setelah mendapat kabar bahwa Alina kini mulai mau bergabung dengan keluarganya setelah mengurung diri di kamar tampak wajah lega dari Biru yang sejak kemarin di buat cemas karna mengetahui bahwa Alina tak mau makan dan keluar kamar. Biru yakin gadis se riang Alina tak akan lama lama untuk bersedih.


Dirumah Alina kini banyak orang memperindah rumah nya dan membuat berbagai makanan khas orang hajatan begitu ramai sehingga membuat Alina sedikit terhibur. Sedang asyik bercanda dengan teman juga anak anak kecil di rumahnya tiba tiba Alina terkejut saat sang kakak menghampirinya dan menarik tangannya seketika ia pun berdiri dan mengikuti langkah kakaknya yang membawanya masuk dalam kamar adiknya. Dengan wajah datar Alina menunggu kakaknya bicara.


"Alina,,,terimakasih," ucap kakak Alina dengan menunduk


Selama ini Alina selalu membantu keuangan kakaknya karna sang kakak ipar yang selalu menghubunginya dan mengeluh bahwa anak anak mereka tak makan karna tak ada uang.tapi itupun tak pernah di anggap oleh kakaknya yang justru selalu menganggap Alina tak peduli pada kesusahannya.Namun kali ini berbeda,, kakaknya mengatakan hal itu dengan nada merendah dan menundukan kepalanya.


" iya Alina maafkan kakak yang selama ini tak peduli padamu dan berbuat kurang baik padamu.kakak sadar kau banyak berkorban untuk keluarga ku.dan hari ini kau bahkan mengorbankan masa depan mu." raut penyesalan tampak di wajah kakak Alina.

__ADS_1


"sudahlah kak,sudah jalan ku begini,dan ingat setelah ini jangan membuat masalah lagi hiduplah dengan lebih baik.karna aq tak akan bisa membantumu lagi nanti." disusul tawa kecil Alina dengan mencubit lengan kakaknya.membuat sang kakak ikut tersenyum melihat adiknya yang selalu tampak ceria ini.


"jagalah ayah dan ibu saat aku jauh,aku dengar dari ayah,tuan Biru itu akan membawa ku bersamanya nanti." ucap Alina menghela nafas.


"huft...kira kira seperti apa wajah calon suami ku itu ya kak,apa dia juga berwajah Biru seperti namanya,oh atau dia berkacamata tebal atau mungkin berbadan gemuk dengan perut buncitnya." seketika Alina tertawa dengan berjalan bak orang berperut buncit.kakak Alina yang melihat adiknya seperti itu ikut tertawa dan mengacak rambut Alina.


" kau bisa saja Alina,kakak juga tak tau kenapa tak kau tanyakan pada ayah dan ibu saja mereka sudah pernah bertemu,eh tunggu kata ayah umurnya sudah 38 tahun itu artinya dia lebih tua dari ku Alin." kakak Alina seolah berfikir dan menerka wajah calon adik iparnya itu.


"baiklah kak ayo kita temui ayah dan ibu,,eh tunggu tidak jadi biarkan saja besok saat hari pernikahan aku lihat sendiri,lagipula ibu dan ayah tak akan mengatakan yang sejujurnya." Alina mengurungkan niatnya dan kembali duduk di atas ranjang sang adik bersama kakaknya.


mereka terlibat obrolan hangat antara kakak dan adik yang telah lama mereka lewatkan. sejak sama sama tumbuh besar mereka tak lagi bisa akur karna selalu berbeda pandangan.kakak Alina yang sedikit arogan membuat jarak diantara mereka.kini mereka kembali akur dan membicarakan banyak hal.


Alina tampak tak terbebani dengan keadaan ini di depan banyak orang dia tetap terlihat ceria seperti Alina yang mereka kenal. Namun jauh di dalam hatinya ia merasakan kacau tak ada yang tahu kesedihannya itu. Ia sengaja memendamnya sendiri. Memang sudah terbiasa begitu kan.

__ADS_1


terimakasih sudah membaca...


__ADS_2