Takdir Cinta Mafia

Takdir Cinta Mafia
Pindah kamar


__ADS_3

Jam 22:30 di markas HEREWOLF. Edgar, Bara, dan Ernest sedang duduk di ruang tengah dengan beberapa botol alkohol yang selalu ada di atas meja. Tiba-tiba Edgar beranjak sambil memasang jaketnya dan meraih kunci mobil.


“Kau mau kemana?” tanya Ernest sambil mengunyah makanan yang ada di dalam mulutnya.


“Apa kau mau pulang ke rumah?” tanya Bara juga.


“Hari ini aku tidak jadi tidur di sini.” Jawab Edgar.


Ernest bingung. "Kenapa?"


“Apa kau sudah merindukan istri mu itu?”


ledek Bara. “Sepertinya kau tidak bisa jauh dari istrimu.”


Edgar langsung melangkahkan kakinya keluar tanpa menjawab pertanyaan mereka berdua.


“Kenapa foto istrinya ada di dalam paket itu?” tanya Bara sambil menuangkan Wine ke dalam gelas kecil lalu meminumnya.


Ernest menoleh Bara sambil meraih gelasnya. “Menurut ku ada yang tidak beres.” Meneguk beberapa kali minumannya.


“Aku sudah sangat lelah.” Bara meletakkan gelasnya dengan kasar. “Lebih baik kita beristirahat.”


Bara dan Ernest beranjak meninggalkan ruang tengah dan menuju kamar mereka masing-masing.


**


“Kenapa hatiku sangat tidak tenang jika meninggalkan rumah.” Gumam Edgar sambil menghidupkan mesin mobilnya.


Edgar pun melajukan mobilnya meninggalkan kawasan markas hingga masuk ke jalanan kota. Jalanan yang tidak terlalu sepi, karena masih ada beberapa motor dan mobil yang lalu lalang.


Tidak terasa mobilnya memasuki halaman rumah lalu memarkir di teras. Bodyguard yang melihat kedatangannya bergegas membukakan pintu. Edgar turun dan berjalan masuk ke dalam rumah.


Terlihat dari pandangan Edgar beberapa Bodyguard yang sudah berada di dalam sana atas perintahnya. Edgar mendekat ke salah satu Bodyguard lalu berbisik. “Aku merasa ada seseorang yang sedang mengawasi rumah ini dan markas HEREWOLF!” Ucapnya. “Jadi jangan ada yang lengah.”


Bodyguard 4 mengangguk. “Baik bos, semuanya di pastikan akan aman.”


“Dan perintahkan kepada semuanya untuk selalu berjaga secara bergantian! Aku mau rumah ini di jaga 24 jam!!” tegasnya.


Bodyguard 4 hanya memberikan anggukan kepala.


Edgar kembali melanjutkan langkahnya masuk ke dalam, tiba-tiba ia melihat ada Aeri yang sedang bersantai di ruang tamu.

__ADS_1



"Apa yang di lakukan wanita itu malam-malam begini?" batin Edgar sambil berjalan mendekati Aeri dengan wajah tanpa ekspresi.


“Apa yang sedang kau lakukan disini?” tanya Edgar yang sudah berdiri di dekat Aeri lalu menatap ke arah jam dinding. “Bukankah ini sudah larut malam? Sudah aku katakan kepadamu, jangan keluar kamar sebelum aku kembali!” mulai emosi. “Apa kau tidak mendengar?”


Aeri berdiri dan menghadap Edgar. “Aku merasa sangat bosan dan juga haus jadi aku meminum ini.” Jelasnya sambil mengangkat gelas yang ada di tangannya. Terlihat di dalam gelas itu susu putih yang sudah hampir habis di minum olehnya.



“Kenapa tidak di telpon saja ke nomor dapur?” Edgar menaikkan satu alisnya lalu mendekatkan wajahnya, membuat Aeri memundurkan wajahnya. “Kenapa kau tidak mau mendengarkan ku?”


“Karena aku sudah bosan daritadi di kamar saja, jadi aku memutuskan untuk bersantai disini.” Aeri tersenyum. “Apa kau mau?” menyodorkan gelasnya kepada Edgar.


Edgar meraih merebut itu lalu meletakkan di atas meja. “Ikut aku!!” menarik tangan Aeri dan berjalan menuju kamarnya.


Kini mereka berdua masuk ke dalam kamar Aeri dan berdiri di dekat pintu.


Aeri melepaskan tangan Edgar. “Ada apa dengan dirimu?” bingung.


“Mulai malam ini kau tidur di kamar ku!” ucap Edgar dengan santai.


Aeri melebarkan matanya. “Ti…..Tidur di kamar mu?”


“Apa kau sedang mabuk?” tanya Aeri semakin bingung.


“Tidak.” Edgar mendekatkan wajahnya, sehingga wajah mereka sangat dekat. “Tidak usah membatah! Ikuti semua perintahku!”


"Dia kenapa lagi? Sungguh lelaki yang aneh." Gumam Aeri di dalam hati.


Edgar mengambil ponsel yang ada di dalam sakunya lalu menelpon kepala pelayan untuk datang ke kamar Aeri. Tidak lama kemudian, kepala pelayan pun datang.


Kepala pelayan berjalan mendekati Edgar. “Ada apa Tuan?”


“Bereskan semua barang-barang istriku lalu pindahkan ke kamar ku!” perintah Edgar kepada kepala pelayan.


“Baik Tuan.” Kepala pelayan beranjak pergi meninggalkan kamar untuk memanggil beberapa pelayan.


Hingga kepala pelayan kembali ke kamar Aeri bersama beberapa pelayan. Mereka pun mulai membereskannya.


"Kenapa dia tiba-tiba menyuruhku untuk tidur di kamarnya?" batin Aeri sambil melihat kepala pelayan yang sedang membereskan barangnya. "Kenapa aku harus tidur di kamarnya? Memangnya ada apa? Atau dia benar-benar sedang mabuk?" batinnya lagi lalu melihat Edgar yang sedang memperhatikan kepala pelayan.

__ADS_1


Aeri meletakkan tangan kanan di dahi Edgar. “Apa kau beneran tidak mabuk?”


“Tidak.” Edgar menatap tangan Aeri yang masih menempel di dahinya. “Apa yang sedang kau lakukan?”


Aeri menurunkan tangannya. “Kau sedang sakit ya?”


Edgar meraih tangan Aeri dan menggenggamnya. “Mulai malam ini, kau tidur di kamar ku!” ucapnya. “Tidak ada penolakan. Jika kau menolaknya…………” Mendekati telinga Aeri dan berbisik. “Maka aku akan menyuruh mu untuk tidur di kandang harimau!” ancam Edgar. Membuat Aeri melebarkan matanya sambil menggelengkan kepala. “Apa kau mau?”


"Tidak." Jawab Aeri.


Edgar berjalan keluar kamar diikuti oleh Aeri dengan tangannya yang masih di genggam. Mereka pun menaiki anak tangga satu persatu.


“Kenapa aku tiba-tiba seperti ini?” tanya Aeri yang masih di buat bingung dan penasaran dengan tingkah Edgar.


Edgar menghentikan langkahnya lalu menatap Aeri. “Tidak usah banyak tanya.” Melanjutkan langkah menuju kamarnya.


Klekkkk………


Mereka berdua masuk ke dalam kamar, tidak menunggu waktu yang lama kepala pelayan, pelayan yang lainnya dan juga beberapa Bodyguard yang membawa lemari Aeri masuk ke dalam kamar Edgar lalu meletakkan semua barang-barang Aeri di ruang khusus yang ada di kamarnya.


Setengah jam kemudian mereka semua sudah selesai memindahkan semua barang Aeri, kepala pelayan berjalan mendekati Edgar yang sedang duduk di balkon kamarnya. “Sudah semua Tuan.” Ucap kepala pelayan.


Edgar berdiri lalu berjalan masuk ke dalam kamar, di tutup oleh kepala pelayan pintu balkon itu. Edgar memberi kode agar semuanya segera pergi dari kamarnya.


“Ekhemmm….” Edgar berdehem sambil berjalan mendekati Aeri yang sedang duduk di sofa kamarnya. “Kau tidur di sofa ini! Dan kau tidak boleh kembali lagi ke kamar itu!”


Aeri menatap Edgar sambil menelan ludah nya. “Hah? Apa kau gila? Untuk apa kau menyuruhku tidur di kamar ini kalau aku tidur di sofa.” Tanya Aeri dengan wajah yang kesal.


“Atau kau mau tidur di lantai? Balkon?” ucap Edgar.


Aeri membuang nafas kasar. “Lebih baik aku tidur di kamar tamu kalau begini.” Gumamnya.


“Kenapa?” tanya Edgar memperhatikan Aeri yang sedang bergumam.


“Tidak tidak…… Baiklah aku akan tidur di sofa.”


Edgar melangkahkan kaki menuju ranjangnya lalu berbaring. “Aku perintahkan kepadamu.” Menatap langit-langit kamar. “Mulai besok jangan keluar dari kamar ini jika aku sedang tidak berada di rumah dan kunci!” perintahnya dan mulai memejamkan matanya secara perlahan.


Aeri yang sudah berbaring daritadi di sofa itu pun membelakangi Edgar. “Ada apa dengan dia hari ini?” gumamnya lalu memejamkan matanya hingga tertidur.


...- First time saya membuat cerita seperti ini, maaf jika dalam penulisan masih banyak kekurangan...

__ADS_1


...- Jika suka dengan ceritanya, jangan lupa dukung terus karya ini dengan cara like, vote, gift dan favorit. Terimakasih...


...Bersambung………….....


__ADS_2