Takdir Cinta Mafia

Takdir Cinta Mafia
Kondisi Grizella S2 (Bab 15)


__ADS_3

#Flashback on


Setelah melihat Aeri dan Grizella di sekolah. Mike, Bara dan Ernest langsung kembali ke markasnya. Mereka bertiga pun berkumpul di dalam ruangan yang gelap.


"Apa yang akan kita lakukan untuk membalas dendam kepada Edgar?" tanya Bara.


"Kita awasi saja dulu sekolahnya itu." Jawab Mike.


"Mengawasi setiap hari?" tanya Bara lagi karena sangat penasaran apakah Mike sudah memikirkan cara untuk balas dendam atau belum.


"Apa kau ingin membunuh anaknya?" tanya Ernest setelah meneguk minumannya.


"Bagaimana caranya? Sedangkan di jalan umum pasti banyak orang, yang ada kita malah di keroyok orang-orang di sekitar situ." Sahut Bara terheran.


Mike menyeringai. "Itu biar menjadi urusan ku." Berdehem. "Edgar sudah membuatku hampir mati bahkan mengalami kebangkrutan karena dia tidak mau bekerjasama denganku." Terkekeh. "Tapi takdir baik datang kepadaku, seseorang menawarkan untuk balas dendam. Ya pria bertopi hitam membiayai fasilitas untuk kita." Sesaat menatap Bara dan Ernest. "Bukankah ini takdir baik?" 


"Ya, yang kau katakan benar." Sahut Ernest. "Takdir sangat mendukung kita."


"Satu persatu keluarganya akan ku hancurkan." Mike menghabiskan minumannya. "Lihat saja nanti, akan ku buat dia menderita."


#Flashback off


.


.


.


Aeri keluar dari salah satu ruangan dengan matanya yang masih sangat sembab karena tidak berhenti menangis memikirkan Grizella.


Edgar yang melihat Aeri pun berlari menghampirinya dengan perasaan khawatir.


"Bagaimana keadaan Grizella?" tanya Edgar sambil mengelus rambut Aeri.


Aeri menggeleng pelan. "Aku belum melihatnya, dia masih di dalam ruang operasi." 


Edgar meraih tangan Aeri lalu membawa ke dalam pelukannya, tangisan Aeri pun langsung pecah di dalam pelukan Edgar.


1 jam kemudian dokter keluar dari ruang operasi sambil membawa brankar Grizella.


Edgar berlari menghampiri mereka lalu menggenggam tangan Grizella. "Kenapa kamu bisa seperti ini?" tidak percaya anak kesayangan terbaring lemah penuh dengan luka di sekujur tubuh. "Siapa yang sudah berani menyakiti mu?" teriak sambil menangis tidak kuat melihat kondisi Grizella yang parah.


"Anak ini akan di bawa ke ruang ICU." Ucap sang dokter.


Aeri mengelus tangan Grizella juga Edgar. "Grizella, ini Mommy, bangunlah." Menangis.


Mereka berjalan menuju ruang ICU, sepanjang perjalanan Aeri tidak berhenti menangis hatinya terasa sangat sakit.


Grizella pun masuk ke dalam ruang ICU, beberapa saat kemudian dokter beranjak pergi.


Klekkkkk….


Edgar masuk ke dalam ruang ICU lalu duduk di samping brankar Grizella.


"Daddy merindukanmu." Menangis. "Tolong bangunlah." Meraih tangan Grizella lalu menciumnya.

__ADS_1


Tidak lama kemudian Edgar keluar dari ruang ICU, Aeri pun masuk ke dalam lalu duduk di samping brankar Grizella. Sebelumnya dokter sudah memberitahu kepada mereka kalau ingin masuk ke dalam ruang ICU harus bergantian.


.


.


.


Sudah beberapa hari Grizella berada di ruang ICU, kini kondisinya mulai membaik hanya saja masih belum sadarkan diri.


Saat ini jam 2 siang. Edgar sedang duduk di ruang kerjanya sambil melamun, tidak lama kemudian Edgar mengambil ponselnya yang ada di atas meja.


Edgar menelpon bodyguard 1. "Segera ke ruang kerja ku!!" mematikan telpon.


Klekkkkk…


Kedua bodyguard masuk ke dalam ruang kerja Edgar lalu berdiri di depan mejanya.


"Apa kalian berdua sudah mengetahui keberadaan mobil itu?"


"Sudah bos, mobil itu terakhir kali berada di salah satu gedung dekat sungai C." Jawab bodyguard 2.


Edgar menatap mereka satu persatu. "Nanti malam kita pergi kesana."


Kedua bodyguard mengangguk patuh lalu beranjak pergi keluar dari ruangan Edgar. Selang beberapa menit, Edgar keluar dari ruangannya lalu menuju kamar untuk bersiap-siap pergi ke rumah sakit.


.


.


.


Edgar berjalan dengan cepat menuju ruang ICU.


Sesampai di depan ruang ICU, Edgar pun masuk ke dalam lalu mengajak Aeri untuk keluar karena ada yang ingin dibicarakan.


Edgar mengusap air mata Aeri. "Jangan menangis lagi ya." Sekilas menyentuh hidungnya. "Nanti cantiknya hilang." Mencoba menggoda.


Aeri hanya bisa tersenyum sambil mengangguk.


"Sayang?" mengelus lembut rambut Aeri.


Aeri menatap Edgar. "Iya sayang, kenapa?"


"Aku malam ini mau pergi." 


"Pergi kemana? Apa kamu keluar kota lagi? Atau…." Ucap Aeri terpotong.


Edgar menyentuh bibir Aeri dengan ujung telunjuknya. "Hanya disini, ada yang ingin aku urus."


"Baiklah, hati-hati."


"Bagaimana kondisi Grizella? Apa kata dokter?" 


"Kondisinya sudah mulai membaik, kemungkinan malam ini akan di pindahkan ke ruang inap."

__ADS_1


"Aku yang akan mengurus ruangannya, kamu tetap menjaga Grizella." Mencium kening Aeri.


"Apa kamu akan pergi dengan Bara dan Ernest?" 


Edgar mengangguk lalu mengecup bibir Aeri.


"Memangnya ada urusan apa?" tanya Aeri penasaran dengan urusan Edgar.


"Kamu tidak perlu tahu itu, kamu cukup menjaga Grizella." Mengelus lengan Aeri sambil tersenyum. "Makanlah yang teratur, jaga kesehatan kamu. Jangan sampai kamu sakit, kalau Grizella tahu kamu seperti ini, dia pasti bersedih." 


"Iya sayang, kenapa kamu sangat cerewet." 


"Hahahaha aku sudah menyuruh beberapa pelayan datang kesini untuk menemani kamu."


"Iya sayang."


Beberapa Edgar mengecup bibir Aeri. "Aku pergi dulu ya."


Aeri membalas kecupan Edgar. "I love you too."


Edgar pun beranjak pergi meninggalkan Aeri sendirian di depan ruang ICU.


.


.


.


Jam menunjukkan pukul 7 malam, saat ini Grizella sedang di periksa oleh dokter dan juga sudah dipindahkan ke ruang inap VVIP permintaan Edgar.


Ruangan VVIP yang sangat besar dan nyaman, Aeri sangat setia berada di samping Grizella.


Dengan pelan Aeri mengelus lembut rambut Grizella. "Kapan kamu akan bangun?" menggenggam tangan Grizella. "Apa kamu tidak merindukan Mommy?" mencium tangannya. "Mommy sayang kamu, bangunlah…. Mommy rindu dengan suara Grizella, Mommy tidak bisa tanpa kamu." Menangis sesenggukan.


Grizella menggerakkan jari-jarinya satu persatu lalu menyentuh tangan Aeri.


Seri pun melihat jari Aeri bergerak. "Grizella?"


"Mom… Mommy." Panggil Grizella dengan nada lemah.


"Sebentar, Mommy panggil dokter dulu." Beranjak pergi.


Aeri pergi mendatangi dokter, hingga dokter datang untuk memeriksa kondisi Grizella setelah itu pergi.


"Mommy sangat merindukanmu." Tersenyum.


Sesaat Grizella melihat sekitar. "Daddy dimana?"


"Daddy sedang ada urusan. Setelah selesai urusan, Daddy pasti menemui Grizella."


Pelayan 1 berdiri di samping Aeri lalu menyerahkan mainan kesukaan Grizella. "Bibi membawa ini untuk Nona agar Nona tidak bosan disini."


Grizella mengambil mainan itu. "Terima kasih bi."


Bersambung…..

__ADS_1


Jangan lupa dukung Karya ini, terima kasih 


__ADS_2