
Terlihat awan yang semakin gelap, rintikan hujan mulai turun. Membuat para pejalan kaki berlari untuk mencari tempat teduh sebelum hujan turun dengan deras.
Edgar melepaskan jaketnya lalu menutupi kepala Aeri, kini posisi wajah mereka berdua sangat dekat membuat Aeri beberapa kali menelan saliva nya.
“Ayo kita cari tempat berteduh dulu.” Ajak Edgar.
“Ini hujannya tidak terlalu deras.” Ucap Aeri.
“Nanti kamu sakit sayang, aku tidak mau kamu sakit.” Jawab Edgar. “Menurut lah dengan ku.”
“Tapi aku sangat suka ketika hujan turun, karena membuat ku terasa sedikit baik.”
“Berhentilah untuk menyukai hujan.” Pinta Edgar.
Aeri menatap heran. “Kenapa kamu berbicara seperti itu?”
“Yang harus kamu sukai itu aku, bukan hujan.” Jawab Edgar tersenyum.
Aeri tersenyum sambil menggigit bibir bawahnya.
Mereka langsung berlari untuk mencari tempat duduk yang dekat diiringi kilatan petir dan hujan yang turun semakin deras.
Edgar dan Aeri memutuskan untuk berteduh di pinggir jalan yang tidak terlalu jauh dengan parkiran mobil mereka. Terlihat hujan yang semakin deras, membuat mereka akan bertahan sedikit lebih lama disana. Saat ini waktu sudah menunjukkan jam 6 Sore.
Beberapa menit mereka berteduh tapi hujan tak kunjung reda, Aeri merasa mulai kedinginan.
Aeri menggosok kedua tangannya untuk sedikit menghangatkan dengan tatapan lurus ke depan melihat hujan yang masih turun.
Edgar menoleh lalu meraih tangan Aeri dan menggenggam kedua tangannya. “Kamu kedinginan ya?”
Aeri menatap Edgar dengan bibir yang sedikit bergetar karena dingin. Edgar yang melihat itu langsung menggosok-gosok kedua tangan Aeri lalu meniup.
“Apa dia benar-benar sudah mencintai ku? Dia selalu memperhatikan hal-hal kecil….” Batin Aeri. “Sungguh membuat ku semakin nyaman dan tidak ingin berjauhan dengannya.”
“Apa masih dingin?”
Aeri mengangguk.
Edgar meraih kepala Aeri dan membawa ke dalam pelukannya. “Setelah ini kita mampir dulu untuk makan.”
“Aku tidak bernafsu makan.” Tolak Aeri.
“Kamu harus makan sayang, kita tunggu hujan reda dulu baru jalan lagi.” Mempereratkan pelukannya.
“Aku berharap pelukan ini tidak pernah berubah dan akan tetap seperti ini.” Aeri mendongakkan kepalanya. “Pelukan yang selalu ku inginkan setiap saat jika bersamanya.” Batinnya.
Setengah jam kemudian hujan sudah reda, mereka berdua segera berjalan menuju parkiran mobil dan masuk ke dalam.
Saat ini mereka berdua sudah berada di dalam mobil dan rintikan hujan pun kembali turun.
__ADS_1
“Kita makannya di restoran ya.” Ucap Edgar sambil memasang seat belt.
“Tidak sayang, kita makannya di tempat biasa saja.”
“Sayang, tadi kan sudah makan di tempat biasa. Kita itu harus makan di tempat yang bersih dan juga terjamin sehat.”
“Kata siapa? justru…..”
“Sayang?”
Aeri mengangguk.
Edgar menghidupkan mesin mobil dan mulai keluar dari parkiran itu. Ia segera melajukan mobilnya hingga memasuki sebuah parkiran restoran.
Mereka berdua langsung turun dan berjalan masuk ke dalam. Mereka berada di sebuah restoran yang terkenal makanannya sangat mahal dan tempatnya juga di pastikan bersih.
Posisi duduk mereka saling berhadapan dan di dalam ruangan itu hanya ada mereka, karena Edgar meminta ruangan untuk dinner makan malam.
Pelayan restoran masuk ke dalam dan meletakkan dua buku menu di depan mereka. “Silahkan Tuan…” Tersenyum ramah.
Edgar membuka menu. “Kamu mau makan apa sayang?”
Aeri diam dan melihat satu persatu menu yang ada di buku itu.
“Kamu makannya yang berkuah saja ya, untuk menghangatkan tubuh mu.” Ucap Edgar.
“Sayang?” panggil Edgar.
“Iya iya sayang, baiklah.”
Mereka berdua pun memesan, pelayan restoran itu pergi sambil membawa buku menu tadi. Sambil menunggu pesanan datang, mereka sempatkan dulu untuk bersenda gurau dan saling bertukar sedikit cerita agar tidak bosan.
Hingga beberapa pelayan restoran datang membawa semua makanan yang sudah di pesan oleh Edgar. Setelah itu Edgar langsung saja membayar dan pelayan itu pun pergi keluar.
“Minumlah dulu agar kamu tidak lagi merasa kedinginan.” Edgar meletakkan satu gelas air hangat di depan Aeri. “Aku tidak mau kamu sakit, jadi makanlah yang banyak.” Pinta Edgar.
Aeri meraih gelas air hangat meminumnya hingga setengah. “Terimakasih sayang.”
“Kamu berterima kasih untuk apa?” tanya Edgar sambil meraih garpu dan pisau.
“Untuk semuanya.” Aeri tersenyum.
“Aku akan memberikan semua perhatian ku kepada mu, jadi kamu tidak perlu berterima kasih.” Ucap Edgar sambil memotong daging yang ada di piringnya. “Aku yang berterima kasih kepada mu, karena kamu sudah mau bertahan dan menemani ku hingga saat ini.” Meletakkan daging yang sudah ia potong di atas piring Aeri.
Aeri hanya mengangguk dan tersenyum.
__ADS_1
Mereka berdua pun menikmati makanan hingga tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam. Mereka berdua baru saja selesai makan dan segera keluar dari restoran itu.
Mobil Edgar sudah berada di jalanan, awalnya tujuan mereka langsung pulang tetapi tidak jadi. Edgar mampir ke sebuah toko Gadget yang besar, mereka pun masuk ke dalam dengan tangan yang saling menggenggam.
“Kamu ngapain kesini? Bukankah ponsel mu masih bagus?” tanya Aeri.
Karyawan toko mendekati mereka dan membawa mereka ke suatu tempat yang dimana banyak pilihan gadget yang bagus dan mahal.
“Kamu mau ponsel yang mana?” tanya Edgar.
Aeri melebarkan matanya. “Hah? Kamu membelikan ku?”
Edgar mengangguk.
“Tidak sayang, ponsel ku masih bisa di gunakan.” Aeri menolak.
“Ponsel mu sudah retak.”
“Tapi retaknya hanya sedikit.” Jelas Aeri.
“Pilihkan ponsel yang berkualitas dan yang terbaik untuk istri ku.” Pinta Edgar kepada karyawan toko yang ada di depannya.
Karyawan toko itu pun pergi untuk memilihkan ponsel untuk Aeri, beberapa menit kemudian ia kembali sambil membawa totebag dan menyerahkan kepada Aeri. Edgar langsung membayarnya dan selelah itu mereka pergi keluar.
“Terima kasih sayang.” Ucap Aeri yang sudah duduk di samping kemudi.
Edgar mendekat dan memberikan kecupan di kening Aeri. “Iya sayang, sama-sama.” Tersenyum. “Apa kamu menyukainya?” mengelus pipi Aeri.
“Iya sayang, aku suka.” Ucap Aeri.
Edgar menjalankan mobilnya menuju markas karena tadi mereka membelikan beberapa makanan untuk orang yang ada di markas.
Sesampai di markas, Edgar turun dari mobil dan masuk ke dalam sambil membawa bungkus makanan. Sementara Aeri di suruh Edgar menunggunya di dalam mobil.
Edgar meletakkan bungkus makanan di atas meja makan. Setelah itu berjalan keluar mendekati bawahannya yang sedang berdiri di ruang tengah.
“Ajak yang lain untuk makan, istri ku membelikan itu untuk kalian.” Perintah Edgar.
“Baik bos.”
“Dimana Ernest dan Bara?”
“Tadi mereka pergi ke gudang.” Jelasnya.
Edgar langsung pergi keluar dan masuk kembali ke dalam mobil. Kini mobilnya sudah melaju di jalanan raya, sepanjang perjalanan pulang tangan kiri Edgar tidak lepas menggenggam tangan Aeri.
Begitu kasmarannya seorang Edgar Dale Nichols kepada Moon Ae-ri.
...- First time saya membuat cerita seperti ini, maaf jika dalam penulisan masih banyak kekurangan...
__ADS_1
...- Jika suka dengan ceritanya, jangan lupa dukung terus karya ini. terimakasih...
...Bersambung……...