Takdir Cinta Mafia

Takdir Cinta Mafia
Tidak bisa berjalan


__ADS_3

Waktu sudah menunjukkan pukul 7 pagi, matahari pagi mulai terbit dari arah timur dan memasuki celah gorden-gorden kamar.



Di kamar yang luas dan masih tertutup oleh gorden. Ada sepasang suami istri yang masih tertidur di bawah selimut tebal mereka dalam keadaan saling memeluk tanpa ada satu helai pakaian yang menempel di tubuh mereka, karena telah melewati malam yang sangat indah, bermadu kasih, saling bertukar kasih sayang kini sudah terpenuhi. Sehingga pagi ini mereka terlihat sangat capek untuk melakukan aktivitas.


Dretttt…. Dretttt…. Drettt……


Ponsel yang ada di atas nakas bergetar, layar ponsel menyala dan terlihat nama Bara yang menelpon.


Daritadi ponsel Edgar bergetar, tetapi ia belum juga bangun. Padahal pagi ini Edgar ada janji dengan Bara dan Ernest untuk berkumpul di ruang khusus untuk membahas pengiriman barang Ilegal yang sedang berjalan. Beberapa pesan masuk dan telpon masuk dari mereka berdua di hiraukan Edgar.


‘"Huaaa……" Edgar menguap sambil menggerakkan badannya karena tangannya sedikit keram. “Ternyata dia belum bangun, sepertinya dia begitu kelelahan.” Tersenyum jahil.


Sejenak Edgar memandang wajah Aeri yang masih tertidur dengan pulas dengan posisi yang masih memeluknya. Sesaat Edgar tersenyum lagi ketika mengingat kejadian tadi malam, betapa bahagianya ia ketika sudah berhasil melakukan itu bersama Aeri.


Edgar mengelus lembut rambut Aeri. “Kamu terlihat sangat cantik, ketika masih tertidur sayang.” Gumamnya lalu mencium kening Aeri. “Bagaimana bisa aku memiliki bidadari secantik ini?” tersenyum.


Daritadi Edgar hanya mencium-cium wajah Aeri, sehingga Aeri pun terbangun karena merasakan sentuhan tangan Edgar di pahanya.


Perlahan mata Aeri terbuka, ketika ia melihat wajah Edgar tiba-tiba langsung teringat dengan kejadian tadi malam. Dengan ekspresi malu, tidak percaya, senang kini semuanya bercampur satu.


“Selamat pagi sayang.” Ucap Edgar.


“Selamat pagi juga sayang.”


"Duh… Aku malu melihat wajahnya, tidak tidak bagaimana ini." Bergumam dalam hati, perasaannya saat ini sangat gugup ketika bertatapan dengan Edgar.


“A….Apa kamu sudah lama bangunnya?” tanya Aeri, biasanya yang bangun lebih awal itu Aeri. Tapi pagi ini berbeda, Edgar lah yang bangun lebih awal.


Edgar menggeleng. “Tidak juga.”


“Kenapa kamu tidak membangunkan ku.” Aeri sedikit kesal.


“Aku tidak mau membangunkan mu sayang, karena kamu tidurnya sangat nyenyak.”


“Aku hari ini telat bangun.” Gumam Aeri dengan pelan.


Edgar yang mendengar itu langsung terkekeh. “Tentu saja, kamu pasti sangat kelelahan karena sudah…..” Ucapnya terpotong.


“Diamlah, aku malu.” Pinta Aeri lalu menarik selimutnya hingga menutup wajahnya.


“Hahahaha kamu tidak perlu malu kepadaku, karena aku sudah melihat semuanya.” Goda Edgar sambil mendekati wajah Aeri yang tertutup selimut itu. “Bukalah, aku ingin memandang wajah cantik kamu.”


“Diamlah sayang, jangan menggoda ku seperti itu.” Teriak Aeri dari balik selimutnya.


“Hahahaha.” Edgar tidak kuat menahan tawanya saat melihat tingkah Aeri. “Terima kasih sayang.” Ucap Edgar sambil membuka selimut itu lalu meraih kepala Aeri dan membawa ke dalam pelukannya. “Aku mencintai mu sayang.” Mencium pucuk kepalanya.


“Aku juga mencintai mu sayang.” Jawab Aeri.


Pelukan mereka bertahan beberapa menit, tidak lama kemudian Edgar melepas pelukannya lalu menyentuh perut Aeri dengan tangannya.


“Semoga ada yang berhasil ya sayang.” Mengelus perut Aeri dengan pelan.


Aeri mengangguk lalu mendongakkan kepalanya. “Secepatnya sayang.” Tersenyum.


Edgar menyatukan kening mereka lalu memberikan kecupan di bibir Aeri. “Aku sudah tidak sabar.”


Aeri mengangguk.

__ADS_1


“Apa kamu hari ini mau keluar rumah?” Tanya Edgar.


Aeri berpikir sejenak. “Sepertinya tidak, aku ingin di rumah saja.”


“Baiklah, kamu harus mengisi tenaga sayang.” Edgar mulai menjihili Aeri. “Kalau bisa nanti malam lanjut lagi.” Bisiknya.


Aeri memukul dada Edgar setelah mendengar bisiknya. “Jangan menggoda ku sayang.”


“Aku tidak menggoda mu sayang, apa kamu mau lanjut pagi ini juga?” Menaikkan satu alisnya.


Aeri melepaskan pelukan Edgar. “Aku mau mandi dulu.” Meraih baju yang ada di bawah ranjang lalu memasangnya.


“Apa kamu bisa jalan?” tanya Edgar.


“Hah jalan?” sesaat Aeri berpikir maksud Edgar, ia mulai beranjak tetapi merasa ada yang perih. “Bi… bisa.”


“Kalau tidak bisa, biar aku yang akan menggendong kamu menuju kamar mandi.”


“Aku bisa sendiri.”


“Jangan di paksa sayang.” Edgar meraih celana pendeknya lalu segera di pasangnya. “Ayo aku gendong.” Beranjak dari ranjang dan berjalan mendekati Aeri. “Apa kita mandi berdua?”


Aeri menatap Edgar sambil menggeleng. “Hah? Tidak tidak, nanti berbahaya sayang.”


“Memangnya bahaya kenapa?” menaikkan satu alisnya lalu menggendong Aeri.


Aeri melingkarkan tangannya di leher Edgar sambil tersenyum.


“Apa kamu mau menggoda ku?” Tanya Edgar sambil berjalan menuju kamar mandi.


“Tidak sayang.”


“Bisa.” Mendorong tubuh Edgar keluar dari kamar mandi.


Brak…….


Aeri menutup pintu dengan keras. “Duh…. Kenapa perih sekali.” Meringis lalu berjalan dengan pelan menuju shower.


Edgar terkekeh lalu berjalan menuju ranjangnya dan berbaring untuk menunggu Aeri selesai mandi.


Drettt… Drettt… Drettt….


Ponsel di atas nakas itu kembali bergetar, kali ini yang menelpon adalah Ernest. kini jam sudah menujukkan pukul 8 pagi.


Edgar meraih ponselnya lalu mengangkat telpon. “Hm?”


“Kau dimana?” Tanya Ernest yang ada di seberang telpon.


“Di rumah.”


“Bukankah kita pagi ini ada janji?”


“Ah iya iya, sebentar lagi aku akan kesana.” Edgar mematikan telpon.


Setengah jam kemudian Aeri baru keluar dari kamar mandi, ia berjalan dengan sangat pelan menuju ranjang.


Edgar yang melihat Aeri sudah keluar dari kamar dan berjalan ke arahnya langsung beranjang mendekati Aeri.


“Kamu hari ini di kamar saja, telpon kepala pelayan jika kamu membutuhkan sesuatu, jangan memaksa dirimu.” Ucap Edgar sambil menuntun Aeri. “Aku kasihan padamu, kamu sangat kesusahan untuk berjalan.”

__ADS_1


“Iya aku seperti ini juga gara-gara kamu.” Ucap Aeri dengan bar-bar.


“Hahahaha maafkan aku sayang, sungguh.” Mengelus lengan Aeri. “Karena tubuh mu terlalu menggoda, jadi aku tidak bisa menahannya.” Bisik Edgar di telinga Aeri.


Aeri pun duduk di atas ranjang.


“Sayang, aku hari ini ada janji dengan Bara dan Ernest.”


“Mau kemana?”


“Ada urusan sayang, aku mandi dulu ya.” Mencium kening kamu lalu berjalan menuju lemari untuk memilih baju setelah itu masuk ke dalam kamar mandi.


Aeri daritadi hanya duduk di atas ranjang hingga ia mulai bosan berdiam diri. Ia beranjak dan berjalan menuju balkon kamar.


Klekkkk…..


Aeri membuka pintu balkon dan berdiri di dekat pagar, sejenak menatap awan dan juga burung-burung yang berterbangan. Kini pandangannya turun ke bawah, ia melihat gerbang masih tertutup dan beberapa Bodyguard sedang duduk di depan pos satpam menikmati secangkir kopi dan kue yang ada di depan mereka.



Bodyguard 1 melihat Aeri sedang berdiri di balkon, ia melambikan tangan sambil berteriak memanggil namanya.


“Nona Aeri.” Teriaknya kepada Aeri.


Aeri mendengar teriakan dari bawah, ia juga melambikan tangannya sambil tersenyum.


Tidak lama kemudian Edgar keluar kamar mandi dan melihat pintu balkon terbuka, ia berjalan menuju balkon untuk mendatangi Aeri.


“Sayang?” Panggil Edgar mendekati Aeri yang sedang berdiri.



Aeri membalikkan badannya, terlihat sedikit kesusaha. Edgar langsung berlari dan memegang kedua bahunya. “Kalau tidak bisa berjalan jangan di paksa sayang. Lebih baik kamu istirahat saja.”


“Aku bosan di kamar.” Ucap Aeri.


“Apa kamu mau ikut aku ke markas?”


“Tidak, aku di kamar saja.”


Chup….


Mengecup bibir Aeri. “Aku pergi dulu ya, kalau ada perlu sesuatu telpon kepala pelayan atau Bodyguard.”


Aeri mengangguk.


“Atau telpon aku.”


“Iya sayang, bagaimana sarapan mu pagi ini? Aku belum memasak apapun untuk mu.”


Edgar mendekatkan wajahnya. “Nanti aku sarapan bersama Bara dan Ernest saja.” Tersenyum. “Dah sayang.” Berjalan keluar.


"Jangan lama ya pulangnya, aku merindukan mu." Batin Aeri.


Hari ini Aeri memutuskan untuk di kamar saja, dan kepala pelayan sudah di beritahu Edgar bahwa ia harus siap siaga jika Aeri membutuh sesuatu kepadanya.


...- First time saya membuat cerita seperti ini, maaf jika dalam penulisan masih banyak kekurangan...


...- Jika suka dengan ceritanya, jangan lupa dukung terus karya ini. terimakasih...

__ADS_1


...Bersambung….....


__ADS_2