Takdir Cinta Mafia

Takdir Cinta Mafia
Awal kebahagiaan


__ADS_3

Sudah beberapa hari Aeri menjalani perawatan di ruang inap VVIP. Edgar yang masih setia menemani Aeri hingga sembuh. Selama Aeri menjalani masa perawatan, Edgar tidak bisa meninggalkan Aeri sendirian walaupun ada 2 Bodyguard yang akan menjaga. Jadi yang mengurus pengiriman barang dan yang lainnya Ernest dan Bara.


“Pengiriman ke kota J hari ini harus sudah dalam perjalanan, karena mereka meminta secepatnya di kirim.” Perintah Edgar kepada orang yang berada di seberang telpon.


“Oke. Nanti aku dan Ernest akan pergi ke rumah sakit.” Jawab Bara. “Apa kau ingin membeli sesuatu, biar sekalian.”


“Belikan bunga mawar yang mewah dan juga manisan.” Bisik Edgar yang sedang duduk di sofa, posisinya tidak terlalu jauh dengan tempat Aeri.


“Bunga?” Bara terkejut sambil tersenyum. “Wah ternyata kau bisa romantis juga.” Ledeknya.


“Tidak usah banyak bicara! Jangan lupa manisan juga.” Pinta Edgar.


“Hahaha baik baik. Ini aku dan Ernest akan mengirimkan barang itu, bilang saja mungkin nanti malam akan tiba disana.”


Edgar langsung mematikan telpon lalu memasukkan ponsel ke dalam sakunya. Kemudian, ia beranjak dari sofa dan berjalan mendekati Aeri yang sedang melamun ke arah luar jendela.



“Sayang?” Edgar menarik kursi lalu duduk di dekat Aeri.


“Hah?” Aeri tersadar dari lamunannya lalu menatap Edgar yang sedang tersenyum ke arahnya.


“Apa yang sedang kamu pikirkan?” tanya Edgar.


Aeri menggelengkan kepalanya. “Tidak ada.”


“Jangan terlalu memikirkan yang tidak penting, istirahat lah dengan baik.”


Aeri tersenyum sambil mengangguk.


Tok…. Tok…. Tok…..


Suara ketukan pintu dari luar membuat Edgar mengalihkan pandangannya ke arah pintu masuk.


“Siapa yang datang?” tanya Aeri.


klekkkk…..


Kepala pelayan datang sendirian dengan tangan yang membawa beberapa makanan dari rumah untuk Edgar dan Aeri.


Kepala pelayan berjalan ke arah mereka berdua sambil tersenyum.


“Letakkan saja makanan di meja ini.” Perintah Edgar sambil menunjuk meja yang berada di dekat mereka.


Kepala pelayan mengangguk lalu meletakkan makanan itu. Setelah selesai, ia pamit pulang karena masih banyak pekerjaan yang harus ia selesaikan.


Kini waktu menunjukkan pukul 10 pagi, di ruangan VVIP yang sangat luas. Hanya Ada Edgar dan Aeri, sementara Bodyguard berjaga di depan ruangan, kalau malam Bodyguard masuk dan beristirahat di dekat pintu masuk.


Aeri baru saja selesai berjemur bersama Edgar. Ia pun duduk kembali ke brankar pasien.


“Pelan-pelan, kamu belum terlalu pulih.” Ucap Edgar sambil memegang tangan Aeri dan mendudukkannya.


Aeri menghela nafasnya.


“Apa kamu mau makan sekarang?”


Aeri menggeleng.


Edgar berjalan ke meja itu lalu mengambil salah satu makanan kesukaan Aeri yaitu Dakgalbi.


“Aku tidak bernafsu makan.” Ucap Aeri.


“Tidak, kamu harus makan dan minum obat.” Edgar duduk di atas brankar lalu menghadap Aeri.


“Hm.” Aeri cemberut.


“Makanlah, kamu harus segera sembuh.” Membuka tempat makan lalu mengambil sendok. "Makan oke." Menyodorkan sendok ke dalam mulut Aeri.


Aeri pun mengunyahnya. Edgar kembali memberi suapan kepada Aeri, belum habis makanan Aeri menyudahinya karena belum bisa makan terlalu banyak.


klekkkk……


Seseorang membuka pintu membuat mereka menoleh secara bersamaan ke arah pintu. Terlihat Ernest dan Bara berjalan masuk ke dalam mendekati mereka.

__ADS_1


“Ekhemmmm….” Ernest berdehem sambil senyum-senyum melihat Edgar yang duduk berhadapan dengan Aeri. “Bara, lihatlah dia begitu setia menemani istri tercinta.”


“Hahaha iya, tidak seperti kau yang masih sendiri.” Sahut Bara.


Ernest menendang kaki Bara. “Bukankah kau juga masih sendiri?” kesalnya.


Edgar menatap tajam ke arah mereka berdua. “Kalau datang hanya untuk membuat keributan, lebih baik tidak usah datang.”


“Tidak… tidak, aku kesini ingin menjenguk Nona yang manis dan cantik.” Ernest memberikan senyuman kepada Aeri.


Bara mendekati meja. “Kami membelikan buah-buahan ini untuk mu.” Meletakkan keranjang buah yang berukuran sedang di atas meja.


“Terima kasih ya.” Ucap Aeri sambil tersenyum kepada Bara dan Ernest.


“Dan ini pesanan mu.” Bara menyerahkan bunga dan manisan kepada Edgar.


Aeri menatap heran.


“Jika kalian tidak ada keperluan lagi keluarlah.” Ucap Edgar mengusir mereka.


Aeri memegang tangan Edgar. “Kenapa kamu mengusir mereka?”


Edgar menatap Aeri lalu mengelus tangannya. “Siapa yang mengusir? Sayang, mereka itu datang hanya untuk menganggu.”


Bara dan Ernest terkekeh setelah mendengar perkataan Edgar.


“Baiklah, kami akan segera pergi. Dan aku juga ada jadwal bertemu dengan seorang wanita.” Ucap Ernest.


“Paling juga wanita kupu-kupu malam, benar kan?” sahut Bara.


Ernest langsung memukul kepada Bara. "Kau ini."


"Aw." Teriak Bara.


"Ekhemmm......" Edgar menyipitkan matanya.


“Daaahhhh, cepat sembuh Nona cantik.” Bara melambaikan tangannya.


Ernest dan Bara berjalan keluar ruangan meninggalkan mereka berdua sambil melambaikan tangan.


“Ini untuk mu.” Edgar menyerahkan bunga dan juga manisan kepada Aeri.


Aeri mengambil bunga dan manisan. “Terima kasih, kamu terlihat romantis.” Tersenyum.


“Makan manisan secukupnya saja.” Pinta Edgar.


Aeri mengangguk. “Kapan aku akan keluar dari sini?”


Sepertinya Aeri sudah mulai bosan berada di ruangan itu, karena memang tidak ada keluar sama sekali untuk jalan-jalan karena Edgar tidak mengizinkannya.


“Kamu harus sembuh dulu, baru bisa keluar dari sini.”


“Aku sangat bosan disini terus.” Keluh Aeri.


“Apa kamu ingin pulang?” tanya Edgar.


“Iya.”


“Baiklah nanti akan ku coba tanyakan kepada dokter dulu. Kalau boleh, nanti besok pagi akan ku urus.” Jelas Edgar.


Aeri tersenyum manis, membuat Edgar betah memandang wajahnya.


**


Sore hari dengan cuaca yang sangat cerah saat ini Aeri sedang duduk sambil menatap ke arah luar.


klekkkk……


Edgar membuka pintu dan menutup kembali, tadi ia sempat keluar mendatangi dokter untuk mengetahui kondisi Aeri saat ini.


“Sayang?” panggil Edgar, membuat Aeri menoleh ke arahnya.


“Apa kamu ingin jalan-jalan di taman?” Edgar tersenyum.

__ADS_1


“Memangnya aku boleh keluar?”


“Tadi aku sempat menanyakan itu kepada dokter, katanya boleh.” Jawab Edgar. “Dan juga aku sudah bilang bahwa ingin mengajak kamu jalan-jalan ke taman.”


klekkkk…..


Seorang suster masuk ke dalam sambil membawa kursi roda ke arah mereka lalu meletakkan di samping brankar.


“Ini beneran tidak kenapa-kenapa kan?” tanya Edgar kepada suster untuk memastikan lagi.


Suster mengangguk. “Tadi dokter sendiri yang menyuruh saya untuk menemani kalian, takut akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.”


“Baguslah.” Ucap Edgar.


Suster mendekati Aeri dan membantunya untuk duduk di kursi roda.


“Saya yang akan mendorong kursi rodanya.” Edgar menyentuh kursi roda itu dan mulai menjalankannya.



“Baik.” Suster mengikuti Edgar dari belakang bersama kedua Bodyguard.


Mereka semua masuk ke dalam lift, hingga tiba di lantai dasar.


Edgar menoleh ke belakang. “Tamannya dimana?”


“Sebelah sana.” Suster menunjuk ke kanan.


Edgar mulai mendorong dengan pelan menuju taman, tidak lama kemudian mereka tiba di sebuah taman yang sangat luas.


Terlihat banyak sekali orang-orang yang sedang bersantai dan juga lalu lalang motor dan mobil karena tamannya dekat dengan jalan raya.


Edgar memajukan badannya sehingga wajah mereka sangat dekat. “Apa kamu sudah mulai membaik?”


“Iya.” Aeri tersenyum sambil mengangguk.


“Aku akan membawa mu keliling di taman ini.” Ucap Edgar mendorong lagi kursi roda itu.


“Apa kamu tidak ada kesibukan?” tanya Aeri, ia heran selama di rumah sakit, Edgar selalu berada di dekatnya.


“Tidak ada, aku sudah menyerahkan semuanya kepada Bara dan Ernest selama masa pemulihan kamu.” Jawab Edgar.


“Ternyata dia sangat romantis, sungguh aku tidak menyangka apa yang terjadi saat ini.” Aeri bergumam dalam hati. Tidak terasa air matanya menetes membasahi pipi, ia segera mengusapnya.


“Apa kamu menangis?” Edgar melihat Aeri mengusap air mata.


“Hah? Tidak kok.”


Kedua Bodyguard yang menyaksikan itu hanya bisa senyum-senyum tidak jelas melihat kebucinan seorang Edgar Dale Nichols kepada Moon Ae-ri.


Setengah jam kemudian Edgar memutuskan untuk membawa Aeri kembali lagi ke ruangan untuk beristirahat, ia tidak mau Aeri capek.


Ting…..


Lift terbuka, mereka kembali masuk ke dalam ruangan VVIP. Aeri kembali berbaring ke brankar dan suster pun pergi keluar ruangan sambil membawa kursi roda itu. Sementara Bodyguard duduk di dekat pintu.


“Istirahatlah agar besok kamu bisa pulang.” Ucap Edgar sambil mengelus rambut Aeri lalu memberikan kecupan di keningnya.


Aeri menatap Edgar. “Hah? Apa dia mencium ku?” tersenyum.


“Aku ingin keluar dulu.”


“Mau kemana?” tanya Aeri.


“Hanya sebentar.” Tersenyum lalu berjalan mendekati Bodyguard.


“Temani dulu istri ku, aku mau mengurus sesuatu.” Perintah Edgar kepada Bodyguard.


Kedua Bodyguard mengangguk, dan Edgar pun keluar ruangan.


...- First time saya membuat cerita seperti ini, maaf jika dalam penulisan banyak kekurangan...


...- Jika suka dengan ceritanya, jangan lupa dukung terus karya ini. terimakasih...

__ADS_1


...Bersambung……...


__ADS_2