
Sepanjang perjalanan, Aeri hanya diam saja tidak berbicara apapun bahkan Grizella menegurnya pun malah di abaikan.
Tidak lama kemudian mereka tiba di depan toko mainan, mereka berdua turun dari dalam mobil lalu masuk ke dalam toko besar itu.
Grizella mengambil beberapa mainan yang dia suka tanpa peduli apakah Asri akan marah atau tidak kepadanya, dengan pelan Grizella meletakkan semua mainan yang ada di tangannya ke dalam keranjang.
"Grizella?" panggil Aeri.
Grizella menoleh lalu berjalan menghampiri Aeri.
"Jangan terlalu banyak, beli 2 saja dulu." Ucapnya. "Daddy akan marah kalau kamu membeli mainan yang banyak, karena di rumah mainan kamu sudah sangat banyak."
Grizella memanyunkan bibirnya. "Iya Mommy."
Aeri pun berjalan mendekati kasir sambil membawa keranjang mainan itu untuk di bayar.
Setelah selesai, mereka pun keluar dari toko itu lalu masuk kembali ke dalam mobil.
Bodyguard 1 menoleh ke belakang. "Kita kemana lagi?"
"Grizella?"
Grizella menggeleng pelan. "Tidak ada, aku ingin pulang."
Bodyguard 1 pun menjalankan mobil meninggalkan toko itu menuju mansion.
.
.
.
Malam dengan cuaca yang dingin karena hujan sangat deras di luar sana, petir dan kilat membuat Grizella ketakutan untuk tidur di sendirian di kamarnya, malam ini Grizella memutuskan untuk tidur dengan Aeri.
Saat ini Aeri dan Grizella sedang berbaring di atas kasur.
Grizella menatap Aeri ketakutan. "Mommy?"
"Iya sayang?" mengelus lembut rambut Grizella lalu memberikan kecupan di pucuk kepalanya. "Ada apa? Apa kamu masih takut?"
Grizella mengangguk. "Daddy kapan pulang?" memeluk Aeri. "Aku takut."
"Jangan takut, ada Mommy yang akan menjaga kamu." Memeluk Grizella dengan erat. "Daddy sedang banyak kerjaan, jadi tidak tahu kapan akan pulang." Mencoba menenangkan Grizella yang sedang ketakutan. "Kan masih ada Mommy, jangan takut, ya."
"Aku cinta Mommy." Mencium pipi Aeri.
Aeri tersenyum lalu mencium kening Grizella. "Mommy juga cinta kamu." Mempererat pelukan.
Setengah jam kemudian, mereka berdua pun tertidur dengan posisi Aeri yang memeluk erat Grizella hingga sampai pagi.
Pagi pun tiba, waktu menunjukkan pukul 6 pagi. Terlihat Aeri dan Grizella masih tertidur di bawah selimut tebal mereka.
__ADS_1
"Huaaaa." Perlahan Aeri membuka kedua matanya lalu menyentuh pipi Grizella. "Grizella? Bangunlah."
Beberapa Aeri membangunkan Grizella tetapi tidak bisa karena Grizella tipe anak yang susah di bangunkan.
Aeri menepuk-nepuk pipi Grizella. "Ayo bangun, sudah pagi loh." Berdehem. "Grizella ayo, nanti telat berangkat ke sekolahnya."
Grizella menggeliat, Aeri pun beranjak dari ranjang lalu membuka semua gorden tebal, setelah itu masuk ke dalam kamar mandi.
Terlihat matahari sudah terbit, pagi ini cuaca sangat cerah setelah di guyur hujan deras tadi malam.
Setengah jam kemudian Aeri selesai. Aeri kembali membangunkan Grizella lalu membawa Grizella ke kamarnya untuk mandi dan juga mempersiapkan perlengkapan sekolah.
Jam menunjukkan pukul 7:05, mereka berdua menuruni anak tangga berjalan menuju ruang makan untuk sarapan pagi terlebih dahulu.
Kepala pelayan yang melihat kedatangan mereka pun langsung menarik kursi untuk mereka berdua.
Pelayan 1 berjalan menghampiri mereka lalu meletakkan susu hangat di depan Grizella, setelah itu beranjak pergi.
"Hari ini aku ingin di antar Mommy." Ucap Grizella sambil mengambil gelas susu hangatnya.
Aeri tersenyum. "Iya sayang, habiskan dulu susu dan roti mu baru kita berangkat ke sekolah."
Pelayan 2 dan pelayan 3 menghampiri mereka lalu meletakkan beberapa sarapan di atas meja.
Selesai sarapan pagi, mereka langsung berjalan keluar mansion. Kedua bodyguard pun membukakan pintu mobil untuk mereka.
Saat ini Aeri dan Grizella sudah berada di dalam mobil, Aeri mulai menjalankan mobil meninggalkan teras mansion di ikuti mobil kedua bodyguard.
Aeri melepaskan seat belt, setelah itu turun dari dalam mobil lalu berjalan mendekati pintu mobil Grizella.
"Pelan-pelan turunnya."
Grizella memegang tangan Aeri lalu meloncat keluar mobil.
"Kyaaaa, Grizella apa kamu tidak bisa turun dengan pelan?" kesal.
"Maaf Mommy." Nyengir.
Aeri berjongkok di depan Grizella. "Kiss Mommy dulu."
Grizella pun mencium pipi Aeri beberapa kali, membuat Aeri terkekeh karena geli.
Dari kejauhan, ada seseorang yang sedang memperhatikan mereka berdua dari dalam mobilnya. Letak mobil itu berada di pinggir jalan dekat dengan gerbang sekolah Grizella.
"Sepertinya ini sekolah anaknya Edgar." Ucap Lewis.
Mike hanya mengangguk sambil menyeringai.
"Apa yang harus kita rencanakan?" tanya Trevor.
Mike tidak menjawab pertanyaan Trevor, mobil itu jalan meninggalkan sekolah Grizella.
__ADS_1
"Mommy pulang dulu ya, nanti kamu pulangnya di jemput sama supir ya atau kedua bodyguard."
"Iya Mommy." Teriak Grizella.
Sesaat Grizella melambaikan tangannya kepada Aeri lalu berjalan masuk ke dalam sekolah, Aeri hanya tersenyum melihat kepergian Grizella.
"Grizella sangat manis ketika sedang tersenyum, persis seperti Edgar." Puji Aeri.
.
.
.
Edgar, Carlos dan Ernest sedang bersiap-siap untuk pergi ke markas BLOODS.
Mereka bertiga mengenakan pakaian serba hitam. Sudah selesai siap-siap, mereka pun keluar dari kamar menuju lobby hotel untuk menunggu penjemputan dari BLOODS.
Edgar, Carlos dan Ernest akan di jemput oleh bawahan BLOODS.
Mereka sudah berada di dalam mobil, letak yang ingin mereka datangi lumayan jauh dari perkotaan memakan waktu sekitar 1 jam lamanya.
1 jam kemudian, mereka tiba di markas yang sangat besar yaitu MARKAS BLOODS.
Mereka berjalan masuk ke dalam di ikuti beberapa orang bawahan dari BLOODS untuk berjaga-jaga.
Terlihat ada puluhan orang sedang berdiri di dalam markas. Mereka pun berhenti tepat di tengah-tengah markas itu lalu mengamati setiap orang yang ada di dalam sana.
Tak… Tak… Tak…
Seseorang berpakaian hitam memakai topi berjalan menghampiri mereka.
Orang itu menyodorkan tangan kepada Edgar. "Selamat datang di markas BLOODS." Tersenyum tipis.
Edgar mengangguk sesaat membalas jabatan orang itu lalu melepasnya.
"Silahkan ikut dengan ku." Berjalan duluan di ikuti mereka bertiga menuju salah satu ruangan yang ada di markas itu.
Setengah jam kemudian, mereka pun selesai membicarakan tentang kerjasama antara mereka.
"Semoga bisa bertemu kembali." Ucap Ernest kepada orang itu.
"Senang bertemu dengan mu." Sahut Trevor.
Orang itu hanya tersenyum sambil mengangguk pelan.
"Kami pergi dulu." Ucap Edgar.
Mereka bertiga pun beranjak pergi keluar dari markas di antar bawahan orang itu.
Bersambung….
__ADS_1
Jangan lupa dukung Karya ini, terima kasih