Takdir Cinta Mafia

Takdir Cinta Mafia
Dokter kandungan


__ADS_3

Saat ini Edgar, Aeri dan kedua Bodyguard sedang berjalan masuk ke dalam rumah sakit menuju ruangan dokter kandungan.


Sesampai di depan ruangan itu, Edgar dan Aeri langsung masuk saja. Sementara kedua Bodyguard menunggu di luar ruangan.


Terlihat ada dokter wanita yang sedang duduk di kursinya sambil tersenyum melihat kedatangan mereka berdua.



“Selamat pagi.” Ucap sang dokter dengan ramah. “Silahkan duduk dulu ya.”


Aeri dan Edgar duduk di kursi, dokter menjelaskan beberapa hal kepada mereka berdua. Setelah itu Aeri di suruh berbaring di atas bed dibantu oleh Edgar.


Dokter mulai memasang sarung tangan lalu duduk di depan monitor, salah satu suster mengambil selimut untuk menutupi paha Aeri yang terlihat, takutnya ada petugas atau siapa yang tiba-tiba masuk ke dalam.


Edgar berdiri di samping Aeri dengan wajah bahagianya karena ingin melihat calon anaknya di layar monitor.


Dokter mulai meletakkan alat di perut Aeri lalu menggeser-gesernya sambil menjelaskan. Tidak lama kemudian Aeri pun selesai, mereka duduk kembali di kursi untuk mendengarkan saran-saran dari dokter.




“Terima kasih dok.” Ucap Aeri.


“Kalau kalian ingin kesini lagi, langsung hubungi saja saya.”


Edgar mengangguk. “Kami permisi dulu.”


Dokter berdiri lalu tersenyum. “Sehat-sehat ya.”


Edgar dan Aeri beranjak keluar ruangan, kedua Bodyguard yang melihat bosnya sudah keluar langsung berdiri dan mengikuti Edgar.


Mereka berdua sudah berada di depan, supir langsung membukakan pintu, sementara kedua Bodyguard berjalan menuju parkiran motor.


Mobil Edgar mulai meninggalkan rumah sakit diikuti motor Bodyguard.

__ADS_1


“Sayang.”


Edgar menoleh Aeri. “Iya?”


“Aku mau beli kue dan buah-buahan.”


“Oke sayang.” Edgar meraih tangan Aeri lalu menggenggamnya.


“Pak kita mampir ke toko kue dan buah-buahan ya.” Perintah Edgar.


Supir melajukan mobilnya menuju tempat kue yang terkenal enak hingga mobil itu memasuk parkiran.


“Kamu tunggu disini saja ya, biar aku yang keluar membelikan kue untuk mu.” Ucap Edgar.


Aeri menghela nafas. “Aku ingin melihat pilihan kuenya.”


“Kita video call saja, aku tidak mau kamu kelelahan.” Edgar tersenyum. “Kamu ingatkan pesan dari dokter?”


Aeri mengangguk.



Tidak lama kemudian Edgar berjalan menuju kasir untuk membayar semua yang di pilih Aeri lalu keluar dan masuk kembali ke dalam mobil.


Supir menjalankan mobilnya menuju toko buah yang jaraknya tidak terlalu jauh dari toko kue itu.


Edgar menyerahkan paper bag yang berisi kue kepada Aeri.


Aeri melihat isi paper bag itu. “Sayang apa kamu yang memesan kue ini?” mengangkat 2 kue yang tidak di pesan olehnya.


Edgar menggelengkan kepalanya. “Aku membelikan itu untuk mu, ku rasa kamu akan menyukainya.” Tersenyum.


Sesampai di depan toko buah, Edgar keluar lagi dan masuk ke dalam untuk membeli berbagai macam buah-buahan untuk sang istri tercinta. Setelah selesai ia kembali lagi ke dalam mobil.


Mereka pun kembali ke rumah, sepanjang perjalanan lagi dan lagi Aeri muntah setelah memakan 1 kue. Edgar yang melihat itu merasa sangat mengkhawatirkan keadaan Aeri, sebelumnya dokter sudah menjelaskan kepada Edar mengenai Aeri yang sering muntah-muntah.

__ADS_1


Tin…. Tin… Tin….


Supir membunyikan klakson mobil agar Security segera membuka gerbang. Setelah gerbang terbuka, mobil itu pun melaju hingga di teras rumah.


Edgar dan Aeri keluar dan berjalan masuk ke dalam rumah. Kepala pelayan langsung mengambil semua paper bag dari tangan supir dan membawa ke dapur.


“Sepertinya kamu harus aku gendong lagi.” Edgar menggendong Aeri dan menaiki anak tangga.


“Terima kasih sayang.” Ucap Aeri. "Sering-seringlah seperti ini agar aku tidak capek jalan." Terkekeh kecil.


Edgar memajukan bibirnya membuat Aeri mengecup bibirnya. "Kalau itu kemauan kamu pasti aku turuti."


Klekkk…..


Edgar membuka pintu kamar lalu membaringkan Aeri di atas ranjang. “Kamu istirahat dulu ya.” Mencium kening Aeri.


“Iya sayang."


"Kamu ingin makan apa?" tanya Edgar.


"Apa saja, aku mau yang masak kamu." Pintar Aeri.


Edgar melebarkan matanya. "Aku? Sayang aku tidak bisa memasak."


"Minta bantuan pelayan."


"Oke baiklah." Ucap Edgar dengan penuh semangat.


Edgar berjalan keluar kamar menuju dapur untuk menyiapkan makan siang Aeri, karena Aeri sendiri yang meminta Edgar membuatkan makanan untuknya. Dengan senang hati Edgar melakukan itu untuk sang istri agar selalu bahagia.


...- Maaf jika dalam penulisan masih banyak kekurangan...


...- Jika suka dengan ceritanya, jangan lupa dukung terus karya ini dengan cara like, vote, gift, komen dan favorit agar Author bersemangat untuk melanjutkan ceritanya. Terima kasih...


...Bersambung….....

__ADS_1


__ADS_2