
"Kenapa kamu marah-marah?" Aeri menaikkan alisnya.
Edgardo mencubit pipi Aeri. "Aku tidak marah, tapi hanya kesal."
"Sama saja"
"Tidak, aku kesal karena kamu tidak mendengarkan ku."
"Aku tidak kemana-mana hanya keluar dari kamar lalu membuat bolu kesukaan kamu."
"Tapi aku tidak meminta kamu untuk membuat bolu."
Aeri memegang kedua pipi Edgar. "Iya kamu memang tidak memintanya,tapi aku ingin membuatkannya untuk kamu."
"Tapi..."
Chup...
Aeri mengecup bibir Edgar lalu tersenyum. "Berhentilah marah-marah, nanti anak ku ketularan kamu yang suka marah tidak jelas."
Edgar menarik hidung Aeri. "Heh, wajar saja kalau dia ketularan ku karena aku ayahnya."
"Iya, tapi kalau bisa jangan ketularan kamu." Nyengir.
"Bisa-bisanya kamu berkata seperti itu."
Edgar menurunkan badannya lalu mengelus lembut perut Aeri. "Ini Daddy sayang, cepatlah keluar." Mencium. "Daddy sudah tidak sabar menunggu kamu."
Aeri merasa baby yang ada didalam perut bergerak membuatnya sedikit terkekeh geli.
__ADS_1
"Kenapa sayang? Baby bergerak ya?" meraba-raba perut Aeri lalu tersenyum. "Kamu sangat pintar, cepat respon sayang."
Edgar merubah posisinya lalu meraih tengkuk leher Aeri dan langsung menciumi bibirnya dengan brutal.
Aeri melepaskan ciuman dengan paksa di saat melihat kepala pelayan melihat mereka berdua. “Aku malu ada kepala pelayan.”
Edgar menoleh. “Kenapa kau mengganggu ku?”
“Maaf Tuan saya tidak bermaksud, saya hanya ingin memberitahu kue bolunya sudah matang.” Jelas kepala pelayan sambil menunduk.
“Pergi!!”
Kepala pelayan beranjak pergi meninggalkan ruang keluarga sambil tersenyum setelah melihat kejadian itu di depan matanya.
“Kamu tunggu disini ya.” Aeri berdiri dan ingin melangkahkan kakinya.
“Aku ingin mengambil kue bolu.”
Edgar berdiri lalu mendudukkan Aeri ke atas sofa. “Aku saja yang mengambilnya, kamu tunggu disini.” Beranjak pergi.
Kini Edgar sudah berada di dapur dengan tangan yang membawa piring berisi kue bolu.
“Ambilkan semua paper bag yang ada di dalam mobil dan bawa ke ruang keluarga.” Perintah Edgar kepada kepala pelayan lalu berjalan meninggalkan dapur menuju ruang keluarga.
“Ini sayang.” Meletakkan di atas meja.
“Terima kasih sayang.” Ucap Aeri.
Edgar duduk di samping Aeri lalu mendekatkan wajahnya di perut Aeri. “Baby…. Apa kamu tidak rindu daddy?” mengelus lagi. “Daddy sudah sangat tidak sabar melihat mu lahir ke dunia.”
__ADS_1
Kepala pelayan berjalan mendekati mereka lalu menyerahkan semua paper bag kepada Edgar dan beranjak pergi.
“Ini manisan untuk mu sayang.” Edgar menyerahkan manisan kepada Aeri.
“Apa kamu membuat ku semakin gendut sayang? Sungguh aku merasa semakin jelek.”
Edgar menggelengkan kepalanya. “Siapa bilang kamu gendut? Siapa bilang kamu jelek.”
“Aku.”
“Tidak usah memikirkan bagaimana bentuk tubuh kamu, aku tidak peduli itu.” Ucap Edgar lalu memeluk Aeri. “Aku mencintai semua yang ada pada dirimu, berhentilah berbicara sembarang, kamu sangat cantik.” Menatap Aeri. “Kamu sudah sempurna untuk ku.”
“Benarkah?”
“Apa aku pernah berbohong kepada mu?”
Aeri menggelengkan kepalanya lalu memeluk Edgar.
“Aku tidak mau lagi mendengar itu dari mulut kamu, kalau tidak aku akan memberikan hukuman yang membuat mu sangat tersiksa.”
“Ya…. Kamu selalu seperti itu.” Aeri berusaha melepaskan pelukan tetapi tidak bisa karena Edgar memeluknya sangat kuat.
“Hahahaha kenapa kamu sangat ketakutan kalau mendengar aku ingin menghukum mu.”
“Tidak, aku tidak takut.”
Edgar mengelus punggung Aeri sambil tersenyum.
...Bersambung……....
__ADS_1