
Edgar, Bara dan Ernest sedang bersiap-siap untuk pergi ke bandara. Karena jadwal pesawat mereka jam 10 pagi. Tidak lama kemudian mereka selesai dan segera keluar dari hotel menuju bandara.
Beberapa menit menunggu jadwal penerbangan. Sejenak mereka menikmati kopi yang tidak jauh dari tempat mereka akan masuk ke dalam pesawat, hingga mereka pun selesai bersantai dan segera masuk ke dalam pesawat karena sudah waktunya.
Penerbangan dari Malang ke Jakarta menempuh waktu kisaran 1 Jam lewat 25 menit. Untuk melepas penat, mereka pun tertidur. Tidak terasa Bandar Udara Internasional Seokarno-Hatta mulai terlihat.
Mereka baru saja keluar dari pesawat dan segera menuju tempat penjemputan dan yang menjemput adalah beberapa bawahan mereka dengan 2 buah mobil.
Mereka pun mulai masuk ke dalam mobil dan segera melaju ke markas HEREWOLF. Sesampai di markas mereka langsung beristirahat sejenak di kamar masing-masing.
Jam menunjukkan pukul 2 siang, Edgar segera mengambil kunci mobil dan pulang ke rumah. Ia berjalan melewati ruang tengah, tidak terlihat batang hidung Ernest dan Bara.
Mobil Edgar sudah keluar dari parkiran markas dan segera melaju menuju rumahnya. Ia tidak sabar ingin bertemu dengan istri tercinta.
Tin…. Tin…. Tin….
Mobilnya sudah tiba di depan gerbang, Security pun membukanya lalu menutup kembali.
Brak…..
Edgar menutup pintu mobil dengan keras lalu melempar kunci mobil kepada Bodyguard yang berdiri di dekat pintu masuk. Ia berjalan masuk dan berteriak memanggil nama Aeri, tetapi tidak ada sahutan sama sekali.
Kepala pelayan yang mendengar teriakan Edgar, ia segera mendekatinya. “Maaf Tuan…. Nona sedang pergi ke supermarket bersama supir.”
“Apa dia sudah lama perginya?” tanya Edgar.
“Baru saja Nona keluar dari rumah.”
Edgar mengangguk lalu berjalan menuju kamarnya. Sesampai di kamar ia langsung tertidur karena badannya yang masih lelah.
Sore pun tiba, tetapi sudah tidak ada matahari karena tiba-tiba cuaca berubah menjadi mendung. Edgar masih tertidur nyenyak di atas ranjangnya yang empuk dan nyaman itu.
Dret….. Drettt…. Drettt….
Getaran ponsel Edgar yang berada di atas nakas berhasil membuat Edgar membuka matanya.
“Siapa yang menelpon?” gumamnya dengan mata yang masih terpejam mengambil ponsel tanpa melihat siapa yang menelpon, ia pun mengangkatnya.
“Edgar?” panggil Bara dari seberang telpon.
“Hm….” Jawab Edgar dengan suara yang masih lesu.
“Tadi BLOODS menghubungi ke nomor markas dan katanya kerjasama kita berjalan dengan lancar.” Jelas Bara, membuat Edgar sekejap langsung membuka matanya.
Edgar langsung merubah posisinya menjadi duduk. “Benarkah?”
Ernest merebut ponsel yang ada di tangan Bara. “Bagaimana kalau kita malam ini pesta alkohol di markas untuk merayakan ini.”
“Beli saja berbagai jenis alkohol, sebentar lagi aku akan kesana.” Perintah Edgar lalu mematikan telpon.
Edgar segera beranjak dari ranjangnya dan segera pergi ke kamar mandi. Setelah selesai, Edgar mengambil jaketnya dan berjalan keluar kamar.
“Apa dia belum pulang?” gumam Edgar sambil menuruni anak tangga.
Kepala pelayan yang sedang berjalan ingin keluar rumah, tiba-tiba terhenti karena Edgar memanggilnya.
“Apa istri ku sudah pulang?” tanya Edgar.
“Iya Tuan, baru beberapa menit yang lalu Nona pulang dari supermarket.” Jawab kepala pelayan. “Nona sedang berada di dapur.”
Edgar langsung berjalan menuju dapur dan meninggalkan kepala pelayan yang masih berdiri disana. Ia masuk ke dalam dapur dan melihat Aeri dari kejauhan. “Kenapa dia selalu terlihat cantik? Wajah cantiknya tidak bisa membuat ku jauh darinya.” Tersenyum sambil melangkahkan kaki mendekati Aeri.
“Dari mana saja kamu.” Edgar melingkarkan tangan kekarnya di perut Aeri.
Aeri berusaha melepaskan pelukan Edgar karena merasa malu dilihat oleh para pelayan.
“Tadi aku membeli bahan yang habis sayang.”
“Benarkah?” Edgar memberatkan pelukan. “Biarkan pelukan ini bertahan beberapa menit.”
__ADS_1
Aeri hanya bisa tersenyum.
“Sayang, aku pergi ke markas dulu ya. Karena tadi aku mendapatkan kabar bahwa kerjasama kami berjalan dengan lancar. Bara dan Ernest mengajak ku untuk merayakan ini dengan minum-minum.”
Aeri membalikkan badannya menghadap Edgar. “Jam berapa kamu akan pulang?”
Edgar mengelus rambut Aeri. “Sepertinya malam, tapi aku akan pulang secepatnya.”
Aeri memegang memegang kedua pipi Edgar. “Jangan terlalu banyak minum ya, jaga kesehatan mu.” Tersenyum. “Dan jangan pulang larut malam karena dari kemarin kamu meninggalkan ku.”
Edgar menyatukan kening mereka. “Baik sayang…” Beberapa kali mengecup bibir Aeri yang mungil itu lalu beranjak pergi.
**
Hujan deras di malam hari diiringi kilatan dan suara petir yang nyaring. Membuat ketiga orang yang sedang menikmati minuman mereka di tengah ruangan itu semakin betah karena cuaca yang dingin.
Edgar mengambil gelas lalu menuang Wine lagi ke dalam gelasnya.
“Ini sungguh nikmat.” Gumam Bara, karena ia sudah menghabiskan 3 botol Wine.
“Argh!!!” Ernest menyandarkan badannya.
“Aku minum sudah terlalu banyak.” Meneguk lagi minumannya.
Edgar berdiri membuat bawahan yang sedang melihatnya pun berdiri di dekatnya. “Aku pulang dulu.” Menepuk bahu Bara dan Ernest lalu berjalan keluar.
Bara menatap kepergian Edgar. “Pria itu sekarang sudah menjadi budak cinta.”
“Haha dan kau masih sendiri.” Sahut Ernest.
Bara memukul kepala Ernest. “Ya…..” Teriaknya. “Kau juga sendiri.”
Edgar berjalan diikuti bawahannya karena Edgar terlihat lumayan mabuk dan tidak mungkin ia pulang dalam keadaan menyetir sendiri.
Bawahan 2 membuka pintu mobil bagian belakang lalu memasukkan Edgar ke dalam dan menutupnya.
Bawahan 1 dan bawahan 2 sudah berada di dalam mobil, bawahan 1 segera menghidupkan mesin mobil lalu melaju meninggalkan kawasan markas, diikuti satu buah mobil dari belakang. Karena mereka berdua setelah mengantar Edgar pulang, mereka juga kembali lagi ke markas HEREWOLF.
Sudah larut malam, Edgar baru pulang ke rumahnya dalam keadaan yang mabuk. Edgar berjalan ke arah kamarnya di bantu oleh kedua Bodyguard.
“Sayang….” Teriak Edgar sambil berjalan sempoyongan. “Aku sudah pulang, aku merindukan mu.”
Tiba sudah Edgar di depan pintu kamarnya, Bodyguard 1 mengetuk pintu agar Aeri keluar dari dalam kamar. Setelah pintu kamar terbuka, kedua Bodyguard kembali ke tempat mereka.
Aeri menutup pintu kamar dan menguncinya. Edgar menatap Aeri lalu memeluknya hingga mereka berada di atas ranjang.
Saat ini mereka berdua sudah terbaring dengan posisi saling berhadapan.
“Sayang di luar hujan sangat deras, terus aku kedinginan.” Ucap Edgar. “Peluk aku sayang, aku lelah sayang.” Edgar tiba-tiba mengeluarkan suara manjanya, membuat Aeri terkekeh.
Aeri menatap Edgar. “Lelah kenapa? Memangnya apa yang kamu lakukan tadi?”
Edgar menggelengkan kepalanya lalu memegang kedua pipi Aeri. “Sayang…. Kenapa kamu selau terlihat cantik?” Tersenyum. “Kamu begitu menggemaskan, kenapa tidak dari dulu aku memiliki bidadari secantik ini.” Ucap Edgar.
Aeri yang mendengar perkataan itu tersenyum dan salah tingkah.
“Apa kamu tahu? Kamu selalu cantik setiap hari.” Edgar tersenyum manja. “Sunguh…… Tapi hari ini kamu sangat sangat cantik sayang.” Memajukan bibirnya agar Aeri menciumnya.
Aer tersenyum malu sambil mendengarkan Edgar.
“Sayang?” panggil Edgar.
“Iya?”
“Oh iya, aku tadi minum hanya sedikit.”
“Tapi kamu terlihat sangat mabuk sayang.” Ucap Aeri. “Bagaimana bisa aku percaya bahwa kamu minum hanya sedikit? Siapa yang mengajari mu berbohong?”
__ADS_1
Edgar menggeleng. “Tidak…. Tidak… Aku tidak berbohong.” Mengelak. “Aaaaa beneran sayang.”
“Hm….”
“Sayang? Ayo kesini.” Edgar merentangkan kedua tangannya. “Cepat sayang.” Daritadi suara manja Edgar tidak berubah, malam ini ia benar-benar seperti bayi.
Aeri mendekat dan masuk ke dalam pelukan Edgar.
Chup…..
Edgar mengecup bibirnya lalu memeluknya. “Karena aku sudah mencium mu, jadi bibir mu sudah menjadi milikku.”
“Benarkah?” Aeri tersenyum malu melihat tingkah Edgar yang begitu manja kepadanya.
Edgar melepaskan pelukannya lalu menyentuh bibir Aeri dengan telunjuknya. “Ini milikku! Tidak ada yang bisa menyentuh bibir ini karena ini milikku.” Memejamkan matanya. “Apa kamu mengerti sayang?”
Aeri tersenyum sambil mengangguk, ia tidak bisa berkata-kata selain menikmati momen itu.
“Berapa banyak tadi kamu minum?” tanya Aeri.
“Hm….. sedikit sayang, sungguh….” Edgar tersenyum dengan mata yang terpejam.
Aeri mengerutkan dahinya. “Jujur padaku.”
“Aku minum hanya beberapa botol.”
Aeri melebarkan matanya. “Hah? Beberapa?” .
Edgar mengangguk. “Awalnya mereka mau mengajak lebih banyak lagi, tapi….. aku tidak mau, karena aku ingin pulang.” Jelas Edgar. “Aku merindukan mu, aku ingin memeluk kau lebih lama, cium-cium kamu sayang.” Nyengir. “Sungguh aku merindukan mu sayang.”
“Apa kamu berbohong agar aku tidak marah kepadamu?”
“Tidak… Tidak sayang…”
“Benarkah?”
Edgar mengangguk, sementara Aeri menahan tawanya.
“Sayang?” Panggil Edgar lagi. “Aku pulang tidak larut malam kan?”
“Kamu sangat mabuk sayang, lihatlah jam sudah menunjukkan pukul 1 malam dan kamu baru saja pulang ke rumah.”
“Tapi aku pulang kan…” Edgar tertawa manja
.
“Tapi kamu tidak menepati janji.”
“Aku pulang dan tidak minum dengan banyak, jadi berikanlah ciuman hangat untukku.” Pinta Edgar. “Cepat sayang….”
“Aku tidak mau.” Aeri mencoba untuk menjahili Edgar.
Edgar membuka matanya. “Kenapa kamu tidak mau mencium ku? Apa kamu tidak mencintai ku?”
Aeri menyentuh bibir Edgar dengan telunjuknya. “Itu tidak benar, kamu berbicara sembarang.”
Chup….
Aeri memberikan kecupan di bibir Edgar.
“Sayang? Aku sangat beruntung memiliki kamu.” Edgar memeluk Aeri lalu mempererat pelukannya. “Aku sangat mencintai mu malam ini.”
“Apa hanya malam ini?” tanya Aeri.
“Aaaa tidak begitu sayang, rasa cinta ku bertumbuh setiap aku melihat mu.”
Bisikan cinta dari mulut Edgar membuat Aeri sangat bahagia. Hingga Akhirnya Edgar dan Aeri tertidur dalam keadaan saling memeluk. Hujan yang semakin deras turun, dan menjadi saksi cinta mereka.
...- First time saya membuat cerita seperti ini, maaf jika dalam penulisan masih banyak kekurangan...
__ADS_1
...- Jika suka dengan ceritanya, jangan lupa dukung terus karya ini. terimakasih...
...Bersambung……...