Takdir Cinta Mafia

Takdir Cinta Mafia
Di ambang kematian


__ADS_3

“CEPAT!!” teriak Edgar dengan telapak kirinya yang menahan darah.


Aeri terkena tembakan di bagian bahu belakang sebelah kiri darahnya masih keluar tidak berhenti membuat Edgar sangat khawatir takut Aeri akan kekurangan banyak darah.


“Lebih cepat lagi!!” pinta Edgar.


Bodyguard 1 semakin melajukan mobilnya hingga mereka pun tiba di depan rumah sakit.


Edgar langsung membuka pintu mobil lalu keluar, beberapa suster yang sedang berjaga dan melihat Edgar membawa Aeri, suster langsung mengambil brankar pasien.


“CEPAT!! teriak Edgar sambil meletakkan Aeri di brankar itu dengan posisi tengkurap. “Dia terkena luka tembak, cepat selamatkan dia.”


Suster mendorong brankar pasien menuju ruang operasi. Satu suster mencoba menahan pendarahan yang keluar dari bahu Aeri.


Edgar memegang tangan Aeri. “Aku disini untuk mu, jadi bertahanlah untuk ku.” Ucapnya.


Aeri tersenyum mendengar perkataan yang keluar dari mulut Edgar, beberapa saat kemudian Aeri pingsan.


Edgar melebarkan matanya semakin khawatir dengan keadaan Aeri. “Cepatttttt!!!!” membantu mendorong brankar itu agar lebih cepat lagi.


Edgar menggenggam tangan Aeri. “Tolong lakukanlah yang terbaik untuk istri ku.” Menatap Aeri yang sedang pingsan sambil menangis. “Aku tidak mau dia pergi.”


Tidak lama kemudian mereka sudah tiba di depan ruang operasi, kini Dokter sudah berada di dalam dan siap untuk melakukan operasi.


Suster menatap ke arah Edgar. “Mohon maaf, lepaskan dulu genggaman tangannya.”


Edgar mempererat genggaman tangannya lalu menatap suster. “Apa aku tidak bisa ikut masuk ke dalam ruang operasi?”


“Maaf tidak bisa Tuan…. Jadi anda harus menunggunya di luar.”


Edgar menatap Aeri lalu mencium tangannya. “Sayang…” Lirihnya sambil tersenyum tipis. “Tolong bertahanlah untuk ku.”


Kini genggaman tangan Edgar perlahan terlepas karena brankar pasien mulai masuk ke dalam ruang operasi.


Aeri sudah berada di ruang operasi untuk melakukan operasi akibat luka tembakan yang di lakukan Mike. Sementara Edgar berdiri di depan pintu operasi sambil mengusap air matanya yang daritadi turun tanpa henti. Dari kejauhan Bara dan Ernest sedang berlari ke arahnya dan berdiri di depannya.


“Bagaimana keadaan Aeri?” tanya Bara sambil menatap pintu ruang operasi.


“Aku tidak tahu keadaannya, tadi dia sempat pingsan ketika menuju kesini.” Jawab Edgar. “Baru beberapa menit yang lalu ia masuk ke dalam.” Menghela nafas. “Aku berharap dia tidak kenapa-kenapa.”


“ARRGGGHHH!!!” teriak Edgar lalu berjalan ke arah tembok dan memukul keras dengan tangan kanannya.


Ernest menepuk bahu Edgar. “Istrimu pasti bisa selamat.” Mencoba untuk menenangkan.

__ADS_1


“Bagaimana luka mu?” tanya Edgar kepada Bara yang sempat terkena tembakan.


Bara tersenyum mengeluarkan sedikit ketawa. “Aku tidak apa-apa dan yang terkena tembakan sudah di obati.”


Edgar mengangguk. “Baguslah.”


“Mereka bertiga sudah mati dan mayatnya akan di bawa ke ruang bawah tanah.” Jelas Ernest.


Edgar mengangguk. “Bawa saja mayat mereka ke kandang harimau!!”


Ernest segera menghubungi bawahannya lalu menyuruh mereka untuk membawa mayat Jungle Kingdom ke kandang harimau.


Saat ini Edgar, Bara dan Ernest berdiri di depan ruang operasi untuk menunggu kabar dokter tentang keadaan Aeri. Hati Edgar sangat tidak tenang daritadi pandangannya tidak lepas dari pintu operasi.


Bara dan Ernest juga ikut khawatir dengan keadaan Aeri. Mereka juga takut keadaan Aeri memburuk.


Tiba-tiba lampu yang ada di ruangan operasi berwarna merah menandakan ada sesuatu di dalam sana. Edgar yang tadinya sudah mulai tenang, ketika melihat lampu itu langsung berdiri dan mendekati pintu ruang operasi. Bara dan Ernest juga ikut berdiri di dekat Edgar.


“Apa yang terjadi di dalam sana?” Edgar mulai tidak tenang. “Kenapa lampunya berwarna merah.” Mondar mandir gelisah di depan pintu itu. “Selamatkan istriku….” Teriak Edgar diiringi tetesan air mata yang kembali turun membasahi pipinya.


“AERI!!!!!" Teriaknya lagi menatap ke pintu ruang operasi lampu merah yang masih menyala. “Aku mohon….. Lakukan yang terbaik untuk istri ku.” Gumamnya.


Bara memegang bahu kanan Edgar. “Tenanglah… Istri mu pasti akan selamat.”


“Apa yang terjadi di dalam sana? Sungguh ini membuat ku hati tidak tenang.” Edgar bergumam dalam hati.


**



Saat ini suasana di ruangan operasi sangat menegangkan, dokter dan beberapa suster yang ada di salam sana melakukan yang terbaik untuk Aeri.


Aeri banyak kekurangan darah sehingga dokter membutuhkan darah beberapa kantong.


Terlihat di layar monitor detak jantung Aeri semakin melemah. Benar-benar membuat Dokter kalang kabut menunggu keajaiban agar detak jantungnya kembali normal.


“Tambah beberapa kantong lagi.” Teriak Dokter sambil melihat ke layar monitor. “Cepat!! Detak jantungnya semakin melemah. Segera ambil tindakan.”


Kini dokter dan suster melakukan yang terbaik untuk menormalkan kembali detak jantung Aeri.


Dokter mengambil alat pacu jantung lalu menekan di atas dada Aeri. Beberapa kali Dokter melakukan itu.


Suster menatap lagi ke layar monitor jantung. “Semakin lemah dok.” Teriaknya.

__ADS_1


**


Sementara suasana di luar ruangan operasi begitu tegang. Pandangan Edgar tidak lepas dari ruang operasi, air mata yang terus-menerus turun membasahi pipinya, Ernest dan Bara hanya bisa diam, mereka tidak tahu harus melakukan apalagi untuk menenangkan Edgar karena lampu merah yang masih saja menyala.


Perasaan Edgar campur aduk, rasa menyesal dan takut semuanya menjadi satu.


“Tenanglah.” Ucap Bara.


“Bagaimana aku bisa tenang, sementara dia disana sedang berjuang untuk bertahan.” Sahut Edgar.


“Aku mengerti perasaan mu. Percayalah pada istrimu bahwa ia tidak mungkin meninggalkan mu sendirian disini.” Ucap Ernest.


Edgar yang mendengar perkataan Ernest bibirnya langsung tersenyum sambil mengangguk. “Ya aku percaya, istri ku tidak mungkin meninggalkan ku.”


Satu jam kemudian lampu yang ada di ruangan operasi pun mati, membuat Edgar semakin gelisah.


“Apa operasinya sudah selesai?” ucap Edgar mendekati pintu itu. “Apa dia bisa selamat.”


Tidak lama kemudian pintu operasi terbuka. Dokter dan beberapa suster pun keluar sambil mendorong brankar pasien lalu membawa Aeri keluar dari ruang operasi.


“Sayang?” teriak Edgar sambil berlari kecil mendekati Aeri lalu memegang tangannya. “Apa yang terjadi dengannya dok?” tanyanya. “Apa operasinya berjalan dengan lancar?"


Dokter mengangguk. “Operasinya berjalan dengan lancar. Tapi, saat ini kondisinya sedikit memburuk di karenakan peluru itu masuk terlalu dalam. Dan juga dia kekurangan banyak darah.”


Edgar mengelus punggung tangan Aeri beberapa kali menciuminya. “Lakukan yang terbaik untuk istri saya dok. Berapapun biayanya saya akan bayar asal dia bisa sembuh.” Pintanya.


“Saat ini istri anda saya letakkan di ruangan ICU terlebih dahulu sampai keadaannya membaik." Jelas Dokter. "Jika sudah ada perubahan, maka baru bisa di pindahkan.”


Edgar mengangguk. "Baik dok."


Suster mendorong brankar pasien itu, kini Edgar, Dokter, Bara dan Ernest berjalan menuju ruang ICU. Sepanjang jalan Edgar tidak melepaskan genggaman tangannya.


“Bertahanlah untuk ku sayang, aku mohon.” Pintanya. “Sungguh aku mencintaimu…..” Melepaskan genggaman karena sudah di depan ruang ICU.


Aeri pun di bawa masuk oleh Dokter ke dalam ruang ICU. Sementara Edgar, Bara dan Ernest menunggu di luar. Pandangan Edgar yang masih ke arah Aeri, ia melihat dari luar kaca.


“Aku mencintaimu, jadi tolong bertahanlah.” Kata-kata itu selalu keluar dari mulutnya diiringi air mata yang tidak bisa berhenti. “Aku berjanji! Jika kau sembuh nanti, aku akan selalu memberikan mu kebahagiaan.” Gumamnya dalam hati. “Jadi bertahanlah… Beri aku kesempatan untuk membuat mu bahagia.”


Tidak lama Dokter pun keluar dari ruang ICU dan mendekati Edgar untuk memberikan beberapa penjelasan dan juga pengarahan. Setelah itu, Dokter pun pergi meninggalkan ruangan ICU.


...- Fisrt time saya membuat cerita seperti ini, maaf jika dalam penulisan masih banyak kekurangan...


...- Jika suka dengan ceritanya, jangan lupa dukung terus karya ini dengan cara kasih like,vote, gift dan juga favorit. Terimakasih...

__ADS_1


...Bersambung...........


__ADS_2