
Saat ini mereka sudah berada di teras rumah Edgar berjalan mendekati Aeri yang sedang berdiri dekat pintu masuk dengan tangannya yang melambai.
Edgar mengelus lembut rambut Aeri lalu mencium keningnya. “Aku berangkat dulu ya sayang.”
Aeri mengangguk. “Iya sayang.”
“Jangan kemana-mana, kalau mau pergi jangan sendiri minta temani kedua bawahanku atau hubungi aku. Apa kamu mengerti?”
Chuppp..
Aeri mengecup bibir Edgar. “Iya Daddy.”
“Grizella, ayo pamit dulu sama Mommy.”
Grizella berjalan mendekati Aeri. “Mommy, aku berangkat sekolah dulu ya.” Nyengir.
Aeri berjongkok lalu mencium pipi Grizella. “Iya my princess, semangat ya belajarnya, oke?” mengacungkan jempol.
Grizella menempelkan jempolnya ke jempol Aeri. “Oke Mommy.”
Terlihat supir berjalan mendekati mereka sambil tersenyum. “Permisi Tuan, hari ini Nona muda berangkat dengan siapa ke sekolah?”
“Grizella tidak mau di panggil Nona muda, maunya princess.” Sahut Grizella membuat supir, Edgar, dan Aeri terkekeh mendengarnya.
Supir tersenyum. “Baik maafkan saya ya, Nona princess.”
Grizella mengangguk sambil nyengir.
“Aku yang akan mengantarnya.” Jawab Edgar.
“Baik, saya permisi dulu.” Beranjak pergi.
Edgar meraih tangan Grizella lalu membawanya ke pintu bagian samping kursi kemudi. Edgar membuka pintu mobil lalu mendudukkan Grizella dan menutupnya kembali pintu itu.
Edgar berlari kecil ke arah kemudi lalu membuka pintu dan menutup kembali.
Aeri tersenyum sambil berjalan mendekati mobil Edgar.
Edgar pun memasang seat belt untuk Grizella dan juga untuk dirinya, setelah itu Edgar menurunkan kaca mobil. “Dahhhh sayang.” Tersenyum.
Grizella melambaikan tangannya. “Dadah Mommy.” Teriaknya.
“Hati-hati ya sayang, jangan ngebut nanti akan membahayakan kalian.” Melambaikan tangan.
Edgar menjalankan mobilnya dengan pelan meninggalkan mansion, Aeri berjalan masuk ke dalam sambil nguncir rambut.
Kini mobil Edgar masih dalam perjalanan menuju sekolah Grizella. Hingga tidak lama kemudian, mobil Edgar pun memasuki halaman sekolah yang lumayan luas.
Edgar melepaskan seat belt Grizella. “Ayo.” Membuka pintu, Grizella pun turun duluan dari dalam mobil.
__ADS_1
Tak…. Tak…. Tak…..
Terdengar suara langkahan kaki, terlihat seorang guru wanita yang masih muda berjalan mendekati Grizella sambil tersenyum.
“Selamat pagi cantik.” Ucap guru yang bernama Kayla. “Hari ini kamu terlihat sangat cantik dengan pita kupu-kupu yang menghiasi rambut kamu.”
Grizella hanya diam saja bahkan tidak membalas senyuman guru wanita yang ada didepannya.
Edgar berdiri di samping Grizella. “Saya titip Grizella, pastikan dia tidak kenapa-kenapa!”
Kayla meraih tangan Grizella lalu tersenyum manis. “Saya pasti menjaganya dengan baik, karena saya menganggap Grizella seperti anak sendiri.”
Edgar yang mendengar langsung tersedak lalu berjongkok. “Belajar yang pintar ya, Daddy mau pergi dulu.” Mengelus rambutnya. “Nanti Grizella pulangnya di jemput sama supir.”
“Iya Daddy.”
Edgar mencium pipi dan kening Grizella lalu beranjak pergi sambil melambaikan tangan.
“Siapa dia? Ayah mu?” tanya Kayla karena ia selalu melihat Grizella diantar supirnya.
Grizella mengangguk cuek.
Kayla melihat kepergian mobil Edgar. “Ayahnya terlihat sangat tampan sekali, aku baru melihat ayah Grizella. Apa dia seorang duda?” bergumam dalam hati.
Grizella melepaskan tangan Kayla lalu berlari masuk ke dalam meninggalkan Kayla disana.
“Grizella jangan berlari, nanti tersandung.” Berjalan dengan cepat menyusul Grizella sesaat menoleh ke belakang sambil tersenyum.
Edgar melajukan mobilnya dengan cepat menuju markas sambil mendengar musik favoritnya.
Markas dengan tempat loakasi yang sama tetapi yang membedaka hanya lebih mewah dan juga besar dari sebelumnya.
Cittt…
Edgar menginjak rem lalu memarkir mobilnya diantara mobil sport yang lainnya.
Tak…. Tak… Tak….
Edgar berjalan masuk ke dalam markas sambil bersiul. Sesampai di ruang tengah, terlihat tidak ada siapapun disana.
“Apa mereka belum bangun?” berjalan menaiki anak tangga menuju kamar Bara.
Klekk…
Edgar membuka pintu kamar Bara tetapi tidak bisa karena dikunci, begitu juga dengan kamar Ernest yang ada di seberangnya.
“Benar saja, mereka pasti belum bangun.” Berjalan menuju kamarnya yang ada diujung.
Klekkkk….
__ADS_1
Edgar masuk ke dalam lalu menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang.
Edgar menatap langit-langit kamar. “Apa pengirima barang kemarin masih tertunda?” merubah posisi menjadi duduk lalu berjalan keluar kamar menuju ruang khusus.
Saat ini Edgar sudah berada di ruang kusus, ia duduk sendirian di temani 1 botol Wine yang ada di tangannya.
Edgar mengeluarkan ponselnya dari dalam saku lalu menelpon salah satu bawahan yang bertugas mengirim barang Ilegar. “Bagaimana pengirimannya?”
“Maaf bos belum bisa mengirim berang ke kota G karena banyaknya polisi yang berjaga. Tapi bos tenang saja, saya usahakan secepatnya sampai tujuan.”
“Berhati-hatilah, jangan sampai lengah karena yang kau bawa itu nilainya tidak sedikit.”
“Baik bos."
Edgar mematikan telpon lalu memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku. “Kapan mereka berdua bangun? Atau jangan-jangan mati?” meneguk minumannya.
Hampir 15 menit Edgar duduk di ruang khusus, ia pun memutuskan beranjak darisana menuju dapur.
Edgar membuka kulkas lalu mengambil satu gelas minuman soda dan meminumnya.
Terlihat Bara berjalan mendekati Edgar yang masih berdiri di dekat kulkas. “Apa kau sudah lama disini?”
“Tidak juga.”
Bara melihat ke arah meja makan. “Apa kau tidak membawa makanan?”
“Tidak.” Edgar berjalan keluar meninggalkan Bara.
“Argh makan apa hari ini?” Bara membuka penyimpanan makanan.
Saat ini Edgar duduk di ruang tengah sambil memainkan ponselnya bahkan menerima telpon yang entah dari siapa.
Ernest duduk di samping Edgar sambil membuka kaleng soda. “Aku dan Bara malam ini ingin pergi ke bar, apa kau ingin ikut?” meminum soda itu.
“Tidak, untuk apa aku pergi kesana?”
“Ya bersenang-senang, minum-minum. Kau sudah lama tidak pergi kesana.”
“Aku sudah ada istri dan anak, bagaimana bisa aku bersenang-senang di tempat seperti itu.” Berdehem. “Kalau kau datang kesana hanya untuk minum-minum, disini juga bisa.” Menghabiskan minumannya.
Ernest menyentuh bahu Edgar. “Tapi di bar itu rasanya sangat berbeda.”
“Iya karena ada para wanita.” Sahut Bara lalu duduk di sofa dan mulai memakan sesuatu yang ada di tangannya. “Edgar?” panggilnya setelah selesia mengunyah.
Edgar menatap Bara dengan serius.
“Apa pengirimannya masih tertunda? Mr.Z selalu menelpon ku dan menanyakan kapan akan sampai barang itu. Padahal sudah ku jelaskan beberapa kali, tetapi ia sangat bodoh tidak mengerti juga maksud ku.”
“Disana ada razia besar-besaran, jadi tidak tahu kapan bisa terkirim barang itu.” Jelas Edgar. “Jelaskan saja lagi padanya atau tidak suruh dia menelpon ku.”
__ADS_1
Bersambung…..