Takdir Cinta Mafia

Takdir Cinta Mafia
Dak galbi


__ADS_3

Pagi dengan sinar matahari yang begitu cerah memasuki celah-celah jendela kamar. Seorang wanita yang tidur di sofa perlahan-lahan mulai membuka matanya, di lihatnya langit-langit kamar yang berbeda dari kamar sebelumnya.


“Huuuaaaaaaaaa.” Aeri menguap lalu bangun dan duduk sambil menoleh ke arah ranjang yang tidak jauh dari sofanya.


Terlihat Edgar belum bangun dan masih tidur dengan nyenyak di balik selimut tebalnya.


“Ku pikir dia sudah bangun.” Aeri beranjak dari sofa lalu berjalan ke arah kaca besar yang tertutup oleh gorden besar.


Aeri mulai menarik gorden yang besar itu untuk membiarkan matahari masuk ke dalam kamar. Tampak jelas cahaya matahari masuk dan membuat matanya silau akibat cahayanya yang begitu terang.


Sejenak Aeri menatap langit sambil tersenyum. “Sepertinya tadi malam aku tidur dengan nyenyak.” Aeri menoleh ke belakang lalu menatap Edgar. “Kenapa dia tiba-tiba mengajakku tidur di dalam kamarnya?” tersenyum malu sambil membuka gorden yang terakhir. “Apa seterusnya dia akan bersikap seperti itu kepadaku? Jika ia, sungguh aku begitu bahagia.” Menghela nafas. “Ah tidak tidak, aku selalu berharap lebih kepadanya."


Setelah semua gorden yang besar itu terbuka, Aeri pun berjalan ke arah ranjang Edgar untuk mematikan lampu tidurnya. Aeri melihat selimut Edgar yang terjadi ke lantai, segera di ambilnya selimut itu lalu menyelimuti Edgar kembali dengan posisi wajah mereka yang sangat dekat.


Tiba-tiba Edgar menggerakkan tubuhnya lalu memeluk Aeri membuat Aeri terjatuh ke dalam pelukannya.


Aeri mematung dan menahan nafas agar Edgar tidak terbangun dari alam mimpinya.


“Kenapa dia harus memeluk ku seperti ini, duh aku takut dia terbangun.”


Aeri menatap sejenak wajah Edgar yang masih tidur, di rasakan nya hembusan nafas Edgar yang keluar. Kini membuat jantungnya berdetak dengan kencang, beberapa saat Aeri tersadar dari lamunannya.


"Wajahnya sangat tampan, tapi sayang sikapnya kejam dan kasar." Bergumam dalam hati.


“Syukurlah dia masih tidur, ku kira dia akan bangun.” Ucap Aeri.


Perlahan Aeri melepaskan pelukan Edgar setelah itu beranjak pergi menuju kamar mandi.


Setengah jam kemudian Aeri sudah selesai, dan ia memutuskan untuk pergi keluar kamar.


Beberapa menit Aeri keluar dari kamar, Edgar pun bangun.


“Huuuaaaaa.” Edgar menguap sambil membuka matanya lalu menatap ke arah sofa. “Kemana dia? Apa dia sudah bangun?” Edgar menatap heran ke arah selimutnya yang masih rapi seperti orang yang baru mau tidur, ia bergegas pergi ke kamar mandi.


Setengah jam lebih Edgar menghabiskan waktunya di dalam kamar mandi, akhirnya dia keluar juga dan berjalan ke arah lemari baju. 20 menit kemudian Edgar selesai, ia pun keluar dari kamar.


Kini Edgar sedang menuruni anak tangga, terlihat jelas dari pandangannya para bodyguard masih berjaga secara bergantian sesuai perintahnya. Edgar berjalan ke ruang tamu dan duduk disana.


“Kemana dia?” gumam Edgar. “Apa dia……” Melihat Aeri yang sedang berjalan ke arahnya.


“Sebelum melakukan aktivitas mu, lebih baik sarapan terlebih dahulu.” Aeri berdiri di dekat Edgar duduk.


Edgar menatap Aeri tanpa menjawab apapun.


“Aku sudah menyiapkan beberapa sarapan di meja makan untuk mu.” Ucap Aeri.


“Kau memasak untuk ku?” tanya Edgar.

__ADS_1


Aeri mengangguk.


“Apa kau bisa memasak?”


“Tentu saja, kemarin juga aku yang memasak untuk mu, tapi kau tidak menghabiskannya.” Jawab Aeri. “Apa kau meremehkan ku?” kesalnya.


Edgar menggelengkan kepalanya dengan pelan.


“Kenapa kau masih berdiam disini?” tanya Aeri. “Apa kau tidak ingin……..” Ucapan Aeri terpotong ketika melihat Edgar yang langsung saja beranjak dan pergi ke meja makan, ia pun menyusulnya.


Edgar dan Aeri sudah berada di ruang makan, kepala pelayan menarik kursi untuk Edgar dan juga untuk Aeri.


Aeri duduk di depan Edgar lalu mengambil beberapa lauk ke piring yang ada di tangannya dan meletakkan piring itu di depan Edgar.


Edgar menatap piring yang itu. “Aku mau makan…….”


“Makanlah yang itu.” Perintah Aeri sambil tersenyum.


Edgar mengambil sendok dan ketika ia ingin makan, tiba-tiba pandangannya tertuju kepada seseorang yang sedang berada di dapur.


"Siapa dia?" Batin Edgar bertanya-tanya tentang seseorang yang belum pernah ia lihat sebelumnya. "Aku tidak pernah melihatnya." Memperhatikan orang itu.


Pelayan baru yang sadar sedang di perhatikan oleh Edgar itu pun langsung memberikan senyuman lalu melanjutkan pekerjaannya.


Aeri menatap Edgar dan mengikuti pandangan Edgar yang tertuju kepada pelayan baru itu. “Apa yang sedang kau lihat?” tanya Aeri, karena ia mengira Edgar sudah tahu tentang pelayan baru itu.


“Ekhemmm.” Edgar berdehem membuat kepala pelayan mendekatinya.


“Siapa orang itu?” bisik Edgar kepada kepala pelayan sambil melihat pelayan baru.


“Dia pelayan baru Tuan, baru kemarin dia bekerja disini.” Jelas kepala pelayan yang ia tahu tentang pelayan baru.


“Siapa yang menyuruhnya?” tanya Edgar untuk memastikan lagi.


“Pelayan 6 (bi Fitri), katanya orang itu adalah temannya dan ingin bekerja di rumah ini.”


“Oh oke.” Edgar melanjutkan makannya, sementara kepala pelayan kembali ke tempatnya.


“Tapi kenapa aku melihatnya sedikit aneh?” Edgar bergumam dalam hati. “Ah tidak itu hanya perasaan ku saja.”


“Makanlah ini.” Aeri meletakkan dak galbi di piring Edgar.


“Tidak.”


“Cobalah… Sungguh ini makanan yang sangat enak.” Ucap Aeri. “Dan ini adalah salah satu makanan kesukaan ku.”


Edgar mengambil dak galbi itu lalu mengunyahnya.

__ADS_1


Aeri tersenyum ketika Edgar memakannya. “Sepertinya kau menikmati makanan yang ku masak tadi. Apa kau menyukainya?”


Edgar yang mendengar itu langsung tersedak dan segera mengambil gelas yang berisi air putih lalu meminumnya.


“Berhati-hatilah…. Jika kau menyukainya, aku akan memasakkan nya lagi untuk mu besok.”


Edgar tidak menjawab itu, ia kembali memakan dak galbi.


Aeri tersenyum ketika melihat Edgar makan dengan baik, bahkan sudah mau habis. "Aku rasa dia menyukainya." Batinnya. "Gengsinya sangat tinggi."


Ketika Edgar tengah asik makan, ia merasa Aeri sedang menatapnya. Ia pun mengangkat kepalanya lalu menatap Aeri. “Kenapa kau memperhatikan ku seperti itu? Apa aku hari ini terlihat sangat tampan?"


Aeri langsung mengambil gelasnya lalu minum. “Tidak, kata siapa aku memperhatikan mu? Tidak usah…..”


“Mengaku saja.” Goda Edgar. “Jika kau tidak memperhatikan ku, kenapa kau...."


"Diamlah!" pinta Aeri.


“Cepat habiskan makanan mu.” Perintah Edgar.


Aeri pun mengangguk dan melanjutkan makannya. Sementara Edgar mengambil lagi dak galbi yang masih ada lalu meletakkan di piringnya.


“Ekhem….” Edgar berdehem membuat kepala pelayan kembali mendekat.


“Iya Tuan?”


Mengamati meja. “Kenapa botol Wine tidak ada di atas meja?” tanya Edgar, biasanya botol Wine selalu berada di atas meja makan.


“Itu….” Ucap kepala pelayan terpotong.


“Aku yang membereskannya.” Sahut Aeri.


Edgar menatap Aeri dengan serius. “Kenapa kau membereskannya hah? Siapa yang menyuruhmu?”


“Aku melakukan itu untuk menjaga kesehatan mu.” Ucap Aeri.


Edgar langsung terdiam. "Apa dia juga memperhatikan kesehatan ku?"


“Tidak bagus jika terlalu banyak mengkonsumsi Alkohol.” Aeri tersenyum. “Mulai sekarang izinkan aku untuk mengatur makanan mu, kau harus menjaga kesehatan.” Memegang gelas. "Aku tidak menerima penolakan." Sambungnya.


Edgar yang mendengar itu sedikit tersentuh, ia hanya bisa mengangguk pelan.


...- First time saya membuat cerita seperti ini, maaf jika dalam penulisan masih banyak kekurangan...


...- Jika suka dengan ceritanya, jangan lupa dukung terus karya ini dengan cara like, vote, gift dan favorit. Terimakasih...


...Bersambung………....

__ADS_1


__ADS_2