
Aeri tersenyum lalu berjalan ke tempat yang kosong itu. “Kita disini saja ya?” ucapnya dengan tangan yang masih menggenggam tangan Edgar.
Edgar mengangguk sambil melihat ke arah luar. “Pemandangan yang indah.” Gumamnya.
Aeri sadar dengan genggamannya langsung di lepasnya. “Ma…maaf.”
Edgar menatap genggaman yang di lepas Aeri sambil tersenyum tipis karena melihat wajah Aeri terlihat sangat gugup, pipinya yang sedikit memerah.
Aeri pun duduk dan mulai melukis. Sementara Edar hanya diam saja di samping kanan Aeri, ia tidak begitu pandai melukis.
Edgar mendekatkan wajahnya dan menatap kanvas. “Memangnya kau mau melukis apa?”
Aeri menghentikan tangannya yang tadinya sudah mulai melukis lalu menatap Edgar, beberapa kali ia menelan saliva nya karena wajah Edgar yang sangat dekat dengannya. “A…Aku juga bingung mau melukis apa.”
Edgar menatap Aeri dengan serius, kini wajah mereka benar-benar sangat dekat. “Pantai? Gunung? Atau apa?”
Perlahan Aeri memundurkan wajahnya agar tidak terlalu dekat karena ia begitu gugup ketika merasakan hembusan nafas Edgar. “Sepertinya aku akan melukis pemandangan danau saja.” Mengalihkan pandangannya ke arah kanvas.
Edgar mengangguk dan kembali ke tempatnya. Ia hanya diam memperhatikan Aeri yang mulai melukis, sesekali matanya memandang wajah Aeri.
“Sepertinya kau begitu ahli dalam melukis.” Ucap Edgar di tengah-tengah keheningan.
“Tidak juga, aku masih banyak belajar.” Sahut Aeri yang masih fokus dengan lukisannya.
Edgar mengangguk-angguk. “Sejak kapan kau pandai melukis.”
“Beberapa tahun yang lalu karena ayahku dulu seorang pelukis.”
Mereka melanjutkan obrolan dengan santai.
Setengah jam sudah berlalu, kini lukisan Aeri sudah hampir selesai.
“Apa kau ingin melukis juga.” Aeri menawarkan kepada Edgar dengan pandangannya yang masih fokus ke depan.
Edgar menggelengkan kepalanya. “Tidak… Aku tidak bisa melukis.”
Aeri menoleh Edgar. “Apa kau mau mencobanya?”
Edgar tidak menjawab apapun dan masih menatap Aeri.
Aeri melambaikan tangannya di depan wajah Edgar. “Edgar?” panggilnya.
Membuat Edgar tersadar. “I..Iya?”
“Apa kau mau mencobanya?” Aeri menyodorkan kuas.
“Mencoba? Tidak…. Aku tidak ingin mengacaukan karya lukis mu.” Tolak Edgar sambil menatap lukisan Aeri yang sudah hampir selesai itu.
Pemandangan danau yang sangat indah, dari lukisan yang Edgar lihat Aeri begitu pandai melukis.
Aeri tidak menjawab apapun, diraihnya tangan kanan Edgar lalu meletakkan kuas di tangannya. “Pegang lah.” Mengarahkan tangan Edgar ke kanvas yang ada di depannya, membuat Edgar mendekat ke arahnya.
__ADS_1
“Ini sangat mudah.” Aeri tersenyum ke arah Edgar lalu menatap ke arah kanvasnya. “Mari kita mulai.” Gumamnya tanpa menoleh Edgar.
Edgar hanya bisa menatap Aeri yang saat ini sedang memegang tangan kanannya tanpa disadari bibirnya tersenyum. "Cantik." Tiba-tiba kata itu keluar dari mulutnya.
Aeri menoleh. "Hah?"
Edgar menggelengkan kepalanya. "Tidak ada."
Aeri mulai melukis kembali menggunakan tangan Edgar dengan perlahan ia mengarahkan tangannya.
Dengan pemandangan pepohonan yang besar kehijauan dan juga udara yang lumayan sejuk, membuat keduanya betah melukis.
Saat ini mereka berdua sedang asik melukis, tiba-tiba rintikan air hujan mulai terjatuh membasahi pepohonan yang di depan mereka. Terlihat dengan jelas air hujan yang jatuh dari dedaunan hijau yang ada di pohon besar itu.
Aeri menatap keluar. “Hujan? Ku rasa udara akan semakin sejuk.” Melanjutkan lagi lukisannya. Hingga tidak lama kemudian, lukisan mereka berdua pun sudah selesai.
“Ini sangat indah.” Gumam Aeri melihat lukisannya yang sudah selesai.
“Kau sangat pandai melukis.” Edgar memuji lukisan Aeri.
“Apa dia sedang memuji ku? Aku tidak salah dengar kan?” batin Aeri sambil menatap Edgar.
“Apa kau ingin membuat lukisan yang baru?” Edgar menawarkan.
“Hahaha tidak, ini sudah cukup.” Aeri mengambil lukisannya. “Kita pulang saja.” Ucap Aeri, Edgar hanya memberikan anggukan.
Mereka berdua beranjak dan meninggalkan tempat itu dan berjalan menuruni anak tangga sambil melihat beberapa lukisan yang menempel di samping dinding tangga itu.
“Apa kau ingin membawanya pulang?” Ucap Edgar, membuat Aeri melebarkan matanya.
“Hah? Tidak tidak…..” Aeri menolak. “Bagaimana bisa lukisan ini di bawa pulang.”
“Bagiku semuanya bisa saja jika kau memang menginginkan lukisan itu.” Jawab Edgar dengan santai.
Karena menurut Edgar apapun bisa di miliki dengan mudah.
Aeri melanjutkan langkahnya sambil tersenyum malu diikuti oleh Edgar. Mereka berdua sudah berada di lantai dasar dan berjalan keluar.
Mereka berdua berada di depan terlihat rintikan air hujan yang masih turun, membuat keduanya kebingungan untuk masuk ke dalam mobil karena posisinya tidak ada payung dan juga lumayan jauh parkiran mobil dari mereka berdiri saat ini.
Aeri melangkahkan kakinya tetapi tidak bisa karena tangannya di tahan oleh Edgar. “Kau mau kemana?”
Aeri menoleh. “Pulang kan……?”
“Apa kau tidak melihat air hujan masih turun?”
“I..Iya tahu, tapi kan ini hanya rintikan kecil.” Jelas Aeri.
“Tidak, kau tunggu saja disini!”
“Hah?” Aeri bingung.
“Aku yang akan menjemput mu disini.” Ucap Edgar. “Jangan kemana-mana.” Edgar beranjak pergi menuju parkiran mobil dan keadaan bajunya yang lumayan basah.
__ADS_1
Aeri menatap kepergian Edgar sambil tersenyum.
Saat ini Edgar sudah masuk ke dalam mobilnya lalu mencari baju kaos di bagian belakang untuk mengganti karena basah. Setelah selesai mengganti baju, Edgar menghidupkan mesin dan mulai menjalankan mobilnya ke tempat tadi untuk menjemput Aeri.
Mobil Edgar sudah meninggalkan tempat itu, selama perjalanan di dalam mobil begitu hening karena tidak ada percakapan sama sekali. Mereka hanya saling curi pandang satu sama lain. Beberapa menit kemudian Edgar berhenti di sebuah toko ATK yang besar.
“Ayo keluar.” Ucap Edgar sambil membuka seat belt.
Aeri menatap Edgar.
“Keluar!” Edgar membuka pintu mobil dan keluar dari dalam mobil.
Edgar meraih tangan Aeri dan berjalan masuk ke dalam toko. Pegawai yang ada di toko yang melihat kedatangan Edgar langsung mendekatinya.
“Ada yang bisa saya bantu Tuan?” tanya pegawai toko 1 tersenyum ramah.
“Saya pesan 5 set alat melukis yang paling berkualitas dan bagus.”
Aeri melebarkan matanya dan menatap Edgar dengan heran.
Edgar yang juga menatap Aeri hanya membalas dengan senyuman.
“Mau yang seperti apa Tuan? Karena kami menyediakan banyak pilihan.” Tanya pegawai toko 2.
“Pilih yang berkualitas.”
“Baik Tuan, tunggu sebentar saya akan mengambilkannya.” Pegawai toko 2 dan 1 beranjak pergi meninggalkan Edgar dan Aeri.
“Untuk apa kamu membeli sebanyak itu?” tanya Aeri. “Bukankah kamu tidak pandai melukis? Atau kau mau belajar melukis di rumah?"
Edgar mengangguk. “Tidak, aku memang tidak pandai melukis.” Melangkahkan kakinya.
“Lalu kenapa kau membelinya?” Aeri mengikuti langkah Edgar.
Edgar menghentikan langkahnya lalu menatap Aeri. “Aku membeli itu untuk mu.” Jawab Edgar.
“Hah? Aku?”
“Apa yang ada di pikirannya sehingga membelikan aku alat melukis sebanyak itu?” Batin Aeri.
Pegawai toko 1 berjalan ke arah mereka berdua yang sedang melihat-lihat sekitar. “Maaf Tuan…. Jika Tuan dan Nona kelamaan menunggu bisa tunggu di ruang khusus terlebih dahulu.”
“Iya mbak, terimakasih.” Aeri tersenyum.
Edgar memberi kode kepada pegawai itu untuk pergi meninggalkan mereka.
...- First time saya membuat cerita seperti ini, maaf jika dalam penulisan masih banyak kekurangan...
...- Jika suka dengan ceritanya, jangan lupa dukung terus karya ini dengan cara like, vote, gift dan favorit. Terimakasih...
...Bersambung………...
__ADS_1