
Mobil Edgar sudah terparkir di halaman markas HEREWOLF. Ia segera berjalan masuk ke dalam, ketika ia masuk tidak ada sama sekali batang hidung Ernest dan Bara.
“Kemana mereka berdua?” gumamnya lalu menghempaskan tubuhnya di atas sofa. Bawahan yang melihat Edgar datang, ia langsung membawa botol Alkohol dan gelas untuk Edgar.
“Kemana mereka?” tanya Edgar kepada bawahan yang sedang meletakkan botol alkohol itu.
“Katanya tadi mereka ke gudang belakang untuk memeriksa barang.” Jawabnya.
Edgar memberi kode dengan jari telunjuk agar bawahan itu meninggalkannya sendirian.
Beberapa saat kemudian suara langkahan kaki terdengar di telinga Edgar membuatnya menoleh. Terlihat Bara Ernest berjalan ke arahnya sambil membawa barang senjata dari kiriman kota K tadi malam untuk mereka.
Bara meletakkan barang itu di atas meja lalu duduk, begitu juga dengan Ernest.
“Apa barang ini yang mereka kirim?” Tanya Edgar meraih beberapa pistol dan melihatnya.
Bara mengangguk. “Iya.”
“Ku rasa senjata itu bagus.” Sahut Ernest.
Edgar masih mengamati barang yang ada di tangannya. “Menurut ku ini pistol yang jarang kita lihat, bentukannya yang sedang tetapi mematikan.” Mengarahkan pistol yang ada di tangannya kepada mereka berdua.
Bara dan Ernest reflek menghindar. “Jangan gila.” Ucap Bara.
“Apa kau ingin membunuh kami hah?” Ernest gugup karena takut Edgar kelepasan dan menembaknya.
Edgar menurunkan pistolnya. “Hahaha aku tidak mungkin membunuh kalian.” Meletakkan kembali di atas meja. “Letakkan saja di ruang khusus.”
Ernest meraih pistol itu dan membawanya ke ruang khusus.
“Bagaimana pengiriman? Apa masih banyak razia?” tanya Edgar, karena baru hari ini ia bisa datang ke markas dan menanyakan langsung soal pengiriman barang.
Beberapa minggu Edgar fokus untuk menemani Aeri hingga sembuh, karena Edgar ingin menepati janjinya untuk memperbaiki semuanya dan mulai membahagiakan Aeri. Jadi selam Edgar menemani Aeri, maka yang mengurus semuanya itu Bara dan Ernest. Ia sudah memberikan kepercayaan yang tinggi kepada mereka berdua.
“Aman dan sampai tujuan.” Jawab Bara.
Edgar menyandarkan tubuhnya. “Aku ingin membeli Vespa.” Ucapnya tiba-tiba.
Bara menoleh. “Ada apa dengan mu?”
Bara kebingungan karena Edgar memang tidak pernah membeli vespa ataupun motor yang lainnya, ia lebih sering membeli mobil.
“Ku pikir dengan keliling menggunakan Vespa bersama istriku itu menyenangkan.” Edgar membayangkan naik Vespa bersama istri tercinta.
Bara geleng-geleng. “Sepertinya kau sudah masuk ke dalam perbudakan.”
“Budak? Apa maksud mu hah?” Edgar duduk.
“Maksud ku budak cinta, karena apa-apa kau selalu mengaitkan sesuatu dengan istri mu itu.”
“Entahlah, yang pasti aku tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan bersamanya.” Jawab Edgar.
Ernest duduk kembali dengan botol Alkohol yang ada di tangannya.
“Ikut aku!” Edgar berdiri.
“Mau kemana kau?” tanya Ernest.
“Ke showroom vespa.” Edgar berjalan duluan keluar markas.
“Vespa? Apa dia ingin membeli vespa?” Ernest juga heran.
Bara menepuk bahu Ernest. “Iya, katanya ingin keliling-keliling dengan istrinya.” Berjalan menyusul Edgar.
“Wah kerasukan apa dia?” Ernest beranjak dan berjalan keluar.
__ADS_1
Mobil mereka sudah keluar dari kawasan markas dan mencari-cari showroom vespa yang bagus dan berkualitas.
“Aku tahu showroom yang bagus.” Ucap Ernest yang duduk di belakang.
“Dimana?” Tanya Edgar.
“Di dekat hotel Piramida. Disana ada showroom vespa yang besar, sepertinya akan banyak pilihan.” Jawab Ernest.
“Apa kita kesana?” Sesaat Bara menoleh lalu kembali fokus ke jalanan.
Edgar mengangguk. “Iya coba dulu.”
Bara melajukan mobilnya hingga tiba di parkiran. Mereka bertiga segera turun dari mobil dan masuk ke dalam.
Seseorang berpakaian jas hitam mendekati berjalan mendekati mereka. “Selamat datang di showroom kami.” Tersenyum.
“Apa disini ada vespa keluaran terbaru dan berkualitas.” Tanya Edgar sambil berjalan melihat-lihat.
“Untuk saat ini belum ada, tapi yang berkualitas saya bisa merekomendasikan vespa MP6.” Jawab sang manager.
“Yang mana?” tanya Bara penasaran.
“Silahkan ikut saya.” Manager berjalan duluan.
Mereka pun menaiki anak tangga terlihat berbagai macam merek vespa disana, dari yang paling murah dan yang paling mahal.
“Apa kau juga ingin membeli vespa?” Tanya Ernest berjalan di samping Bara.
“Sepertinya ia, aku tergoda karena Edgar.”
“Aku juga.” Sahut Ernest.
Mereka bertiga sudah berada di lantai atas, terlihat vespa-vespa mahal tersusun rapi disana.
Edgar berjalan mendekati vespa itu dan melihat-lihat yang lainnya juga.
“Apa ada selain ini?” tanya Ernest.
“Ada.” Manager berjalan mendekati vespa yang lainnya, letaknya tidak terlalu jauh dengan yang tadi. “Ini vespa Circuito 125.”
“Wow.” Ernest terkagum melihat vespa itu.
Sejenak mereka bertiga melihat-lihat vespa dan bertanya tentang yang lainnya berkaitan dengan vespa itu sendiri. Cukup lama mereka disana, akhirnya mereka sudah memutuskan ingin membeli vespa yang mana.
“Saya ingin yang ini.” Ernest menunjuk vespa Circuito 125.
“Warnanya?” Tanya Manager.
“Yang paling bagus.” Jawab Ernest.
“Saya sama dengan dia, tapi warna Merah.” Ucap Bara.
Manager mengangguk, pegawai yang berdiri di samping manager itu langsung mencatat.
“Ekhemm…” Edgar berdehem, membuat Manager itu langsung mendekatinya.
“Apa anda memilih vespa yang ini?” Manager menunjuk vespa MP6 Prototype.
Edgar mengangguk. “Warnanya abu-abu.”
Manager itu mengangguk.
Setelah itu, mereka kembali turun ke bawah untuk menyelesaikan administrasi. Menunggu selesai pembayaran, tiba-tiba pandangan Edgar terfokus pada vespa yang menurutnya cantik dan cocok untuk di pakai seorang wanita. Ia berjalan mendekati vespa itu, diikuti pegawai yang ada di sana.
__ADS_1
“Saya mau yang ini juga.” Edgar menunjuk vespa lx 125.
“Anda mau warna apa?” Tanya pegawai.
Edgar berpikir sejenak. “Kuning.”
Pegawai itu langsung mencatat lalu pergi ke administrasi. Beberapa saat kemudian administrasi pun selesai.
“Untuk vespa mereka berdua.” Edgar menunjuk Bara dan Ernest. “Kirim saja ke alamat ini.” Menyerahkan alamat markas. “Dan untuk yang punya saya, kirim saja ke alamat ini.” Menyerahkan alamat rumah.
Manager meraih kedua kertas itu dan mengangguk. “Secepatnya akan kami kirim ke alamat ini.”
Edgar mengangguk dan berjalan duluan keluar dari showroom. Diikuti Bara dan Ernest, hingga ke parkiran. Mobil mereka sudah keluar dari halaman showroom itu dan kembali lagi ke markas.
**
Sore ini Aeri sedang bersantai di balkon karena ia sedang bosan. Ia menikmati udara sore yang sejuk karena cuaca mendung, terlihat awan mulai menghitam.
Terlihat ada 2 buah mobil pick memasuki halaman rumah, Aeri bingung itu motor siapa, ia segera turun ke bawah untuk melihat.
Aeri berjalan ke teras rumah, terlihat orang-orang menurunkan motor vespa itu dan meletakkan di teras.
“Vespa siapa? Apa jangan-jangan Edgar yang membelinya?” gumam Aeri.
Dari kejauhan ada mobil Edgar yang baru memasuki halaman rumah, Edgar memarkir di belakang mobil pick up. Ia segera turun dan mendekati Aeri.
“Apa yang kamu lakukan disini sayang?” Edgar mencium kening Aeri.
“Ini?” mata Aeri melirik ke motor vespa yang ada di depannya.
Edgar tertawa. “Aku siang tadi ke showroom motor bersama Bara dan Ernest.”
“Dan kamu membeli motor 2?” Aeri heran.
Edgar tersenyum dan mengangguk.
“Untuk apa kamu membeli 2? Kamu juga jarang menggunakan motor.
Edgar mengelus kepala Aeri. “Vespa warna kuning itu punya kamu.”
Aeri melebarkan matanya. “Hah? Untuk ku?”
“Iya dan yang warna abu-abu punya kita.” Ucap Edgar.
“Kita?”
“Iya, aku membeli warna abu itu untuk kita keliling-keliling.” Edgar berjalan mendekati vespa itu.
Aeri berjalan mengikuti Edgar.
“Kami permisi dulu.” Ucap orang yang mengantar vespa.
Edgar mengangguk.
“Terima kasih.” Ucap Aeri tersenyum.
Orang itu masuk kembali ke dalam mobil pick up dan pergi meninggalkan rumah mereka.
“Masukkan ke dalam garasi.” Perintah Edgar kepada Bodyguard yang sedang berdiri di dekat mereka.
Bodyguard mengangguk. Edgar dan Aeri berjalan masuk ke dalam dengan tangan Edgar yang merangkul Aeri.
...- First time saya membuat cerita seperti ini, maaf jika dalam penulisan masih banyak kekurangan...
...- Jika suka dengan ceritanya, jangan lupa dukung terus karya ini. Terima kasih...
__ADS_1
...Bersambung……...